VIENID Mulai latihan

Beranda › Materi › Sertifikat Perakitan Peralatan Listrik – Panel 電気機器組立て (teori Kelas 2)

Metode Perakitan Panel Distribusi dan Panel Kontrol (Struktur, Busbar, Pengawatan Dalam Panel, Pengujian & Pemeriksaan)

Sertifikat Perakitan Peralatan Listrik – Panel 電気機器組立て (teori Kelas 2) · 技能検定「電気機器組立て」2級 学科(配電盤・制御盤組立て) · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

Klasifikasi Panel Distribusi dan Kontrol, Dimensi Standar, Warna Cat, dan Konstruksi Pelindung (Kode IP)

Panel distribusi dan panel kontrol dibagi menjadi tipe terbuka (bagian bertegangan terbuka) dan tipe tertutup yang seluruhnya dilindungi kabinet pelat baja. Di pabrik dan gedung banyak digunakan peralatan penerima daya tegangan tinggi tipe kubikel (JIS C 4620), panel kontrol daya tipe kabinet (JIS C 8480), serta Motor Control Center (MCC) yang menggabungkan banyak unit kontrol motor.

Menurut standar Asosiasi Industri Listrik Jepang (JEM 1425), urutan penyebutan dimensi luar panel ditetapkan sebagai 'Lebar (W) × Tinggi (H) × Kedalaman (D)' (tidak termasuk bagian menonjol seperti baut mata pengangkat atau tutup kipas ventilasi).

Tinggi standar H untuk panel berdiri bebas vertikal (VS) ditetapkan dalam 7 ukuran: '1400, 1600, 1700, 1900, 2000, 2100, dan 2300 mm', sedangkan sudut kemiringan meja operasi pada panel kontrol tipe meja (DE-1) ditetapkan sebesar '15°'.

Bodi kabinet menggunakan pelat baja canai dingin (SPCC dll., tebal 1,6 mm; 2,3 mm; 3,2 mm) atau pelat baja tahan karat (SUS304) dengan kekuatan mekanis yang mampu menahan berat peralatan di dalamnya. Warna cat standar panel serta bingkai alat ukur dan relai umumnya menggunakan kode Munsell '5Y7/1' (abu-abu terang kehijauan).

Tingkat perlindungan selungkup 'Kode IP' (JIS C 0920) memiliki angka karakteristik pertama (0–6) untuk 'perlindungan terhadap akses ke bagian berbahaya dan masuknya benda padat asing' (IP2X mencegah jari ≥ φ12,5 mm, IP5X tahan debu, IP6X kedap debu), dan angka kedua (0–8) untuk 'perlindungan terhadap masuknya air' (5 semprotan air, 6 semprotan air kuat); getaran tidak termasuk dalam kode IP.

Poin penting


  • Dalam JEM 1425, urutan dimensi luar panel adalah 'Lebar W × Tinggi H × Kedalaman D', dan warna cat standar umumnya menggunakan nilai Munsell '5Y7/1'

  • Tinggi standar panel berdiri vertikal terdiri dari 7 ukuran '1400, 1600, 1700, 1900, 2000, 2100, dan 2300 mm', dan sudut kemiringan meja tipe DE-1 adalah '15°'

  • Angka pertama Kode IP (0–6) menunjukkan perlindungan terhadap akses berbahaya dan benda padat, sedangkan angka kedua (0–8) menunjukkan perlindungan terhadap air
KosakataArti
peralatan penerima daya tegangan tinggi tipe kubikel (JIS C 4620)
dimensi luar (Lebar W, Tinggi H, Kedalaman D)
kode warna Munsell (5Y7/1)
Kode IP (tingkat perlindungan selungkup, JIS C 0920)

Pendinginan Dalam Panel, Pencegahan Kondensasi (Space Heater), serta Pemasangan Pintu, Pelat Nama, dan Bantalan Karet

Untuk membuang panas dari transformator dan inverter di dalam panel kontrol, sifat udara hangat yang naik dimanfaatkan dengan memasang louver hisap berfilter di bagian bawah panel dan kipas ventilasi buang di bagian atas. Pada panel luar ruangan yang terkena sinar matahari langsung, dipasang 'pelat penahan panas (Netsu-shaheiban)' untuk menekan kenaikan suhu.

Saat suhu dalam panel turun drastis pada malam hari atau saat berhenti beroperasi, uap air di udara akan mengembun menjadi titik air yang menurunkan isolasi dan memicu hubung singkat. Untuk mencegah 'kondensasi (pengembunan)' ini, dipasang 'pemanas ruang (Space heater)' di bagian bawah dalam panel yang dikombinasikan dengan termostat atau sensor kelembapan.

Pada pintu panel luar ruangan dipasang 'penahan pintu (door stopper)' agar pintu tidak tertutup mendadak tertiup angin saat pemeriksaan. Unit tipe tarik (draw-out) dilengkapi 'stopper tahan gempa' agar tidak terlempar keluar saat gempa, dan saat pengangkutan dengan truk dilakukan pengemasan tahan getaran serta air hujan.

Di bagian tengah atas mặt depan panel dipasang pelat nama utama panel, sedangkan tepat di atas (atau di bawah) setiap sakelar kontrol dan alat ukur dipasang 'pelat nama fungsi (Yōto meiban / card holder)' yang menunjukkan fungsi pengoperasian atau pengukuran.

Pelat nama akrilik berukuran besar harus dikencangkan dengan sekrup karena perekat saja dapat terkelupas. Selain itu, 'bantalan karet peredam kejut (Gomu-za)' saat memasang alat ukur presisi pada permukaan panel harus dipasang di 'sisi belakang (bagian dalam)' pelat panel sebelum mengencangkan mur, bukan di sisi depan panel.

Poin penting


  • Space heater dipasang untuk 'mencegah kondensasi (penurunan isolasi akibat lembap)' di dalam panel, sedangkan 'pelat penahan panas' melindungi panel luar ruangan dari radiasi matahari

  • Pelat nama yang menunjukkan fungsi alat ukur atau sakelar disebut 'pelat nama fungsi (Yōto meiban)', dan pelat nama akrilik besar harus dipasang dengan sekrup

  • Bantalan karet peredam (Gomu-za) saat memasang alat ukur harus diselipkan pada 'sisi belakang (sisi dalam)' panel, bukan di sisi depan
KosakataArti
space heater (pemanas pencegah kondensasi)
pelat penahan panas dan kipas ventilasi panel
pelat nama fungsi dan pelat nama utama panel
bantalan karet (dipasang di sisi dalam panel) dan stopper tahan gempa

Standar Tata Letak Peralatan pada Permukaan dan Dalam Panel, Ruang Busur Api, serta Pengikatan Sekrup pada Dudukan Resin

Tata letak peralatan di bagian depan panel (JEM 1425, JIS C 8480) diatur pada ketinggian yang mudah dibaca dan dioperasikan oleh pekerja sambil berdiri. Bagian atas ditempati lampu indikator dan alat ukur penunjuk (tinggi tengah sekitar 1500–1900 mm dari lantai), sedangkan bagian tengah ditempati sakelar kontrol dan tombol tekan (800–1600 mm) sesuai kelompok fungsinya.

Di bagian dalam panel, MCCB dan kontaktor magnetik (MC) pada prinsipnya dipasang 'vertikal (tegak)', dengan sisi atas sebagai sisi sumber daya (primer) dan sisi bawah sebagai sisi beban (sekunder). Peralatan dengan panas tinggi seperti transformator dan resistor pengereman ditempatkan di 'bagian atas' dalam panel.

Ketika pemutus tenaga (MCCB, ACB) memutus arus hubung singkat, gas terionisasi bersuhu tinggi (gas busur api) menyembur dari lubang pembuangannya. Oleh karena itu, di bagian atas sisi sumber pemutus tenaga wajib disediakan 'ruang busur api (Arc space)' agar gas tidak mengenai rangka logam atau dak kabel yang dapat memicu gangguan tanah atau hubung singkat.

Saat mengencangkan sekrup pemutus tenaga atau blok terminal yang memiliki kaki dudukan dari resin sintetis (cetakan) ke pelat dasar, wajib diselipkan 'ring datar (plain washer)' untuk menyebarkan tekanan pengencangan dan mencegah dudukan resin retak atau pecah.

Untuk memasang komponen kecil seperti relai kontrol dan blok terminal, digunakan rel standar JIS C 2812 yaitu 'DIN rail (lebar 35 mm dll.)' dan kedua ujungnya dikunci dengan 'penahan ujung (end bracket)' agar komponen tidak bergeser ke samping (baja kanal struktural biasa bukan standar rel).

Poin penting


  • Pada mặt depan panel, lampu indikator dan alat ukur dipasang di bagian atas, sakelar operasi di tengah; di dalam panel, peralatan penghasil panas dipasang di bagian atas

  • Di atas pemutus tenaga wajib disediakan 'ruang busur api (Arc space)' untuk mencegah hubung singkat akibat semburan gas saat pemutusan arus gangguan

  • Saat mengencangkan dudukan berbahan resin sintetis dengan sekrup, wajib menggunakan 'ring datar (plain washer)' agar dudukan tidak retak
KosakataArti
ruang busur api (Arc space di atas pemutus tenaga)
ring datar (pencegah pecahnya dudukan resin)
DIN rail (rel pemasangan peralatan JIS C 2812)
sisi sumber daya (sisi atas) dan sisi beban (sisi bawah)

Material, Urutan Fasa, Kode Warna Busbar Rangkaian Utama, serta Pengencangan Baut dan Manajemen Torsi

Konduktor rangkaian utama (busbar) pada panel distribusi menggunakan 'batang tembaga keras (tembaga tough-pitch C1100)' atau 'batang aluminium' yang memiliki konduktivitas listrik dan kekuatan mekanis tinggi. Karena busbar arus besar menerima gaya elektromagnetik yang kuat saat hubung singkat, busbar ditopang dengan kuat menggunakan 'isolator tumpu (Shiji-gaishi)'.

Menurut JEM 1134 dan JEM 1425, warna identifikasi fasa untuk busbar AC 3 fasa adalah: 'Fasa 1 (R/L1) = Merah', 'Fasa 2 (S/L2) = Putih', 'Fasa 3 (T/L3) = Biru', dan fasa Netral (N) = 'Hitam atau Putih'. Untuk 1 fasa 3 kawat: 'Fasa 1 = Merah, Netral = Putih (atau Hitam), Fasa 2 = Biru'; untuk arus searah DC: 'Kutub positif P = Merah, Kutub negatif N = Biru'.

Urutan penataan busbar bila dilihat dari depan panel (sisi perangkat operasi) ditetapkan: susunan kiri-kanan dimulai 'dari kiri', susunan atas-bawah dimulai 'dari atas', dan susunan dekat-jauh dimulai 'dari sisi terdekat (depan)' secara berurutan 'Fasa 1 (Merah) → Fasa 2 (Putih) → Fasa 3 (Biru) → Netral'. Pernyataan yang menyebut 'dari kanan' adalah salah.

Untuk mengurangi resistansi kontak pada sambungan busbar, permukaan sambungan diratakan dengan halus dan dilapisi 'pelapisan timah (tin plating)' atau 'pelapisan perak (silver plating)' (cat atau lapisan oksida pada bidang kontak dilarang), lalu ditumpuk sepanjang lebar busbar.

Pengikatan baut dilakukan dengan urutan 'Kepala baut → Ring datar → Busbar → Ring datar → Ring pegas → Mur' dan dikencangkan secara diagonal menggunakan kunci torsi (torque wrench) sesuai nilai torsi standar. Setelah itu kerapatan diperiksa dengan 'feeler gauge' dan diberi 'tanda keselarasan (Ai-mark)' dari mur ke permukaan busbar.

Material, Urutan Fasa, Kode Warna Busbar Rangkaian Utama, serta Pengencangan Baut dan Manajemen Torsi

Poin penting


  • Warna busbar 3 fasa adalah 'Fasa 1 = Merah, Fasa 2 = Putih, Fasa 3 = Biru' dan disusun berurutan 'dari kiri, dari atas, dan dari depan' dilihat dari sisi depan panel

  • Permukaan sambungan busbar harus diratakan dan 'dilapisi timah atau perak' untuk memperkecil resistansi kontak

  • Setelah dikencangkan dengan 'kunci torsi', periksa kerapatan dengan feeler gauge dan beri 'tanda keselarasan (Ai-mark)' untuk memantau kekenduran
KosakataArti
warna fasa busbar (Merah, Putih, Biru) dan urutan tata letak (kiri, atas, depan)
pengurangan resistansi kontak (pelapisan timah, pelapisan perak)
kunci torsi (torque wrench) dan tanda keselarasan (Ai-mark)
feeler gauge (pemeriksaan kerapatan bidang sambungan)

Kode Warna Kabel Tegangan Rendah Dalam Panel, Warna Kabel Berpelindung, dan Luas Penampang Minimum (JEM 1134)

JEM 1134 menetapkan warna standar isolasi kabel pengawatan dalam panel berdasarkan jenis rangkaian: (1) 'Rangkaian utama AC dan DC' berwarna 'Hitam', (2) 'Rangkaian kontrol AC' berwarna 'Kuning', (3) 'Rangkaian kontrol DC' berwarna 'Biru', dan (4) 'Rangkaian pembumian (konduktor_proteksi)' berwarna 'Hijau atau belang Hijau/Kuning'.

Pada rangkaian sekunder transformator instrumen, rangkaian arus sekunder transformator arus (CT) menggunakan warna 'Hitam', sedangkan rangkaian tegangan sekunder transformator tegangan (VT) menggunakan warna 'Merah'. Soal ujian sering menjebak dengan pilihan salah yang menyatakan rangkaian pembumian berwarna biru atau hitam.

Untuk 'kabel berpelindung (shielded wire)' pada rangkaian sinyal lemah, selubung luarnya berwarna 'Abu-abu atau Hitam', sedangkan warna isolasi inti di dalamnya ditetapkan: '1 inti (single-core) = Hitam', '2 inti = Hitam dan Putih', serta '3 inti = Hitam, Putih, dan Merah' (menyatakan isolasi inti tunggal berwarna abu-abu adalah salah).

Luas penampang nominal kabel dalam panel demi menjaga kekuatan mekanis pada prinsipnya ditetapkan '1,25 mm² atau lebih' untuk rangkaian kontrol umum, serta '2,0 mm² atau lebih' untuk rangkaian sekunder CT/VT dan kabel pembumian.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan 'pengecilan ukuran (miniaturisasi) dan pemasangan berkerapatan tinggi pada peralatan elektronik' seperti PLC, kabel berukuran 'kurang dari 1,25 mm²' (seperti 0,75 mm² atau 0,5 mm²) semakin banyak digunakan pada rangkaian kontrol elektronik 600 V ke bawah (bukan karena ukuran panel membesar).

Poin penting


  • Warna kabel menurut JEM 1134 adalah 'Rangkaian utama = Hitam', 'Kontrol AC = Kuning', 'Kontrol DC = Biru', dan 'Pembumian = Hijau (atau belang Hijau/Kuning)'

  • Selubung luar kabel berpelindung berwarna 'Abu-abu atau Hitam', sedangkan isolasi intinya '1 inti = Hitam, 2 inti = Hitam & Putih, 3 inti = Hitam, Putih & Merah'

  • Rangkaian kontrol pada prinsipnya '≥ 1,25 mm²' (sekunder CT/VT ≥ 2 mm²), tetapi kabel '< 1,25 mm²' juga dipakai karena 'miniaturisasi dan kepadatan tinggi komponen'
KosakataArti
kode warna pengawatan dalam panel (Hitam, Kuning, Biru, Hijau)
warna inti kabel berpelindung (1 inti = Hitam, 2 inti = Hitam & Putih)
kabel rangkaian kontrol (prinsipnya 1,25 mm² ke atas)
pengawatan sekunder transformator instrumen (2,0 mm² ke atas)

Sepatu Kabel / Terminal Crimp (JIS C 2805), Penggunaan Tang Crimping Manual, dan Penyolderan Bebas Timbal

Terminal crimp telanjang untuk kawat tembaga (JIS C 2805) meliputi 'tipe bulat 1 lubang (tipe R)', 'tipe bulat 2 lubang (tipe RD)' yang tidak mudah lepas meskipun sekrup agak kendur, dan 'tipe garpu (tipe Y)' yang dapat diselipkan saat sekrup dilonggarkan. Pada rangkaian utama, rangkaian sekunder CT, dan kabel pembumian wajib digunakan tipe bulat (tipe R atau RD).

Pada kode terminal 'R 5.5-4', angka '5.5' menunjukkan luas penampang nominal kabel 5,5 mm² (rentang 2,63–6,64 mm²) dan '4' menunjukkan ukuran sekrup 'M4 (diameter lubang 4,3 mm)'. Warna standar selongsong isolasi pada terminal crimp berisolasi adalah: 'ukuran 1,25 mm² = Merah', 'ukuran 2 mm² (misal 2-3.5 atau 2-4) = Biru', dan 'ukuran 3,5–5,5 mm² = Kuning'.

Kupas isolasi kabel menggunakan pengupas kabel (wire stripper) sesuai panjang standar tanpa melukai atau memutus serabut tembaga, lalu masukkan hingga ujung inti tembaga menonjol keluar 'sekitar 1 hingga 2 mm' dari selongsong terminal (tidak menonjol sama sekali atau terlalu panjang adalah cacat).

Gunakan tang crimping manual (JIS C 9711, gagang merah untuk terminal telanjang) dengan memilih cetakan (die) yang sesuai ukuran terminal, lalu tekan penuh hingga mekanisme ratchet terlepas. Setelah dicrimp, periksa 'tanda cetak (1.25 atau ○, 2, 5.5)' dan tinggi hasil press (crimp height).

Dibandingkan solder timah-timbal konvensional (titik leleh 183°C), 'solder bebas timbal (sistem Sn-Ag-Cu)' untuk konektor dan PCB memiliki karakteristik 'titik leleh lebih tinggi (sekitar 217–220°C), daya basah (wettability) sedikit lebih rendah, kurang mengilap, dan mudah timbul rongga penyusutan'. Fluks berfungsi menghilangkan lapisan oksida agar solder menyatu dengan baik.

Sepatu Kabel / Terminal Crimp (JIS C 2805), Penggunaan Tang Crimping Manual, dan Penyolderan Bebas Timbal

Poin penting


  • Terminal 'R 5.5-4' adalah terminal bulat untuk kabel 5,5 mm² dan sekrup M4; tipe bulat 2 lubang adalah 'RD'; warna selongsong isolasi standar '1,25 = Merah, 2 = Biru, 5,5 = Kuning'

  • Tekan penuh tang crimping ber-ratchet pada die yang sesuai, lalu periksa tonjolan ujung kawat (1–2 mm), tanda cetak, dan crimp height

  • Solder bebas timbal memiliki 'titik leleh lebih tinggi dan daya basah lebih rendah' dibanding solder bertimbal, sehingga memerlukan fluks untuk menghilangkan lapisan oksida
KosakataArti
terminal crimp bulat (tipe R, tipe RD) dan tipe garpu (tipe Y)
warna standar selongsong isolasi (Merah 1,25; Biru 2; Kuning 5,5)
mekanisme ratchet dan crimp height
solder bebas timbal dan fluks

Pengawatan Dak, Pengawatan Ikat, Sambungan Blok Terminal, Pengawatan Lintas Pintu, dan Pemisahan Noise

Metode pengawatan dalam panel mencakup 'metode pengawatan dak' yang menempatkan kabel di dalam dak resin beralur, dan 'metode pengawatan ikat (bundle)' yang merapikan serta mengikat kabel dengan pengikat kabel; kedua metode ini dapat dikombinasikan dalam satu panel. Dak kabel dipotong siku tanpa gerinda menggunakan 'pemotong dak (duct cutter)'.

Menurut aturan pengawatan dalam panel JEM: (1) dilarang menyambung kabel di tengah jalan, dan setiap pencabangan wajib dilakukan pada 'terminal peralatan atau blok terminal'; (2) dilarang menjepit kabel secara langsung dengan klem logam telanjang tanpa pelindung isolasi atau bantalan.

Pada satu sisi kutub blok terminal, jumlah terminal crimp yang boleh dipasang bersama di bawah 1 sekrup adalah 'maksimal 2 buah', dan saat menumpuk 2 terminal harus dipasang 'saling membelakangi (sisi rata belakang bertemu)' agar bidang kontak stabil. Huruf pada mark tube diarahkan agar terbaca dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah.

Pada 'pengawatan lintas pintu (Tobira-watari haisen)' dari rangka tetap ke pintu yang membuka-menutup, buatlah lengkungan longgar berbentuk U di dekat engsel agar berkas kabel menerima 'puntiran lembut' alih-alih tekukan tajam, ikat kedua ujungnya dengan mount base dan cable tie, lalu lindungi dengan 'spiral tube'. Pintu juga wajib dihubungkan dengan kabel grounding ke bodi kabinet.

Untuk mencegah masuknya noise elektromagnetik dari kabel output inverter atau rangkaian utama daya ke sinyal PLC dan sensor, 'rangkaian utama serta rangkaian kontrol/sinyal wajib dipisahkan jalurnya'. Jika terpaksa bersilangan, jangan dipasang sejajar melainkan harus 'bersilangan tegak lurus (90°)'.

Poin penting


  • Pencabangan kabel wajib dilakukan di 'blok terminal atau terminal peralatan', dan maksimal '2 terminal per sekrup (dipasang saling membelakangi)'

  • Jangan menjepit kabel langsung dengan klem logam; lindungi kabel lintas pintu dengan spiral tube dan beri kelonggaran di bagian engsel

  • Untuk mencegah noise, 'pisahkan jalur rangkaian utama dari rangkaian kontrol/sinyal' dan buat 'persilangan tegak lurus' bila harus bertemu
KosakataArti
metode pengawatan dak dan metode pengawatan ikat
pencabangan di blok terminal dan pengikatan saling membelakangi (maks 2)
pengawatan lintas pintu dan spiral tube
pemisahan jalur pengawatan rangkaian utama dan rangkaian kontrol

Metode Penyambungan Transformator Instrumen (CT, VT), Alat Ukur Panel, dan Sakelar Pemindah

Untuk mengukur dan melindungi rangkaian tegangan tinggi atau arus besar, digunakan 'transformator tegangan (VT)' yang menurunkan tegangan tinggi menjadi 110 V dan 'transformator arus (CT)' yang mengubah arus besar menjadi 5 A (atau 1 A). Untuk mengukur ketiga fasa dengan 1 alat ukur, digunakan sakelar pemindah voltmeter (VS) atau sakelar pemindah amperemeter (AS).

Saat sisi primer transformator arus (CT) sedang dialiri arus, rangkaian sisi sekundernya 'sama sekali tidak boleh dibuka (open circuit)'. Jika sisi sekunder terbuka, fluks magnet inti besi akan jenuh dan membangkitkan tegangan tinggi berbahaya hingga ribuan volt pada terminal sekunder, menyebabkan kerusakan isolasi, terbakar, atau sengatan listrik.

Oleh karena itu, pada rangkaian sekunder CT 'dilarang memasang sekring (fuse)', dan sakelar pemindah amperemeter (AS) harus menggunakan 'kontak hubung-sebelum-putus (shorting contact)' serta blok terminal uji berpelat hubung singkat (test terminal) agar rangkaian sekunder tidak pernah terbuka.

Sebaliknya, sisi sekunder transformator tegangan (VT) akan terbakar jika terhubung singkat sehingga harus dipasangi sekring pelindung. Selain itu, menurut Penafsiran Standar Teknis Peralatan Listrik untuk mencegah bahaya sentuh tegangan tinggi-rendah, 'rangkaian sekunder VT dan CT tegangan tinggi wajib diberi pembumian Kelas D', sedangkan 'untuk tegangan ekstra tinggi wajib diberi pembumian Kelas A'.

Pada alat ukur penunjuk di panel, amperemeter memiliki resistansi dalam yang sangat kecil sehingga dipasang 'seri' terhadap beban, sedangkan voltmeter memiliki resistansi dalam yang sangat besar sehingga dipasang 'paralel' terhadap beban. Pada wattmeter dan pengukur faktor daya, kumparan arus dipasang seri dan kumparan tegangan dipasang paralel.

Poin penting


  • Sisi sekunder CT yang terbuka saat berarus akan menghasilkan tegangan tinggi berbahaya, sehingga 'dilarang memasang sekring pada rangkaian sekunder CT'

  • Menurut Penafsiran Standar Teknis Peralatan Listrik, sisi sekunder VT/CT tegangan tinggi wajib 'pembumian Kelas D', dan tegangan ekstra tinggi wajib 'pembumian Kelas A'

  • Amperemeter memiliki resistansi dalam kecil dan dipasang 'seri', sedangkan voltmeter memiliki resistansi dalam besar dan dipasang 'paralel'
KosakataArti
larangan membuka rangkaian dan memasang sekring pada sekunder CT
transformator tegangan (VT) serta pembumian Kelas D dan Kelas A
sakelar pemindah amperemeter (AS) dan sakelar pemindah voltmeter (VS)
resistansi dalam amperemeter dan voltmeter

Pengujian dan Pemeriksaan Panel Distribusi & Kontrol (Kondisi Standar, Uji Serah Terima, Isolasi & Ketahanan Tegangan)

Dalam JEM 1425, 'kondisi standar lokasi pengujian pabrik' ditetapkan meliputi 3 item: (1) 'suhu sekitar 20 ± 15°C (5–35°C)', (2) 'kelembapan relatif 45–85%', dan (3) 'tekanan atmosfer 86–106 kPa' (pilihan soal yang memasukkan 'getaran' atau 'kebisingan', atau menyebut 'suhu 25 ± 2°C' adalah salah).

Pengujian panel terdiri dari 'uji tipe (Keishiki shiken)' pada produk representatif saat desain baru dan 'uji serah terima (Ukewatashi shiken)' pada seluruh panel sebelum dikirim. Empat item uji serah terima adalah: '(1) uji tampilan luar dan struktur', '(2) uji sekuens (fungsi operasi)', '(3) uji resistansi isolasi', dan '(4) uji ketahanan tegangan'; sedangkan 'uji kenaikan suhu' termasuk uji tipe dan tidak termasuk dalam uji serah terima.

Pada 'uji resistansi isolasi', digunakan alat ukur resistansi isolasi (Megger, umumnya Megger 500 V untuk panel tegangan rendah) antara seluruh bagian bertegangan yang disatukan terhadap bodi logam yang dibumikan. Karena PLC, inverter, dan komponen semikonduktor dapat rusak oleh tegangan tinggi, terminalnya harus 'dilepas atau dihubung-singkatkan bersama (jumper)' sebelum pengujian.

Pada 'uji ketahanan tegangan frekuensi jala-jala', tegangan uji AC standar diberikan selama '1 menit' untuk memastikan tidak terjadi tembus isolasi. Tegangan uji untuk rangkaian tegangan rendah dengan tegangan isolasi pengenal 'di atas 60 V hingga 250 V (rangkaian 100 V / 200 V) adalah 1500 V', dan 'di atas 250 V hingga 600 V (rangkaian 400 V) adalah 2000 V'.

Selain itu, untuk rangkaian utama tegangan tinggi (tegangan pengenal 7,2 kV) pada kubikel penerima daya tegangan tinggi 6,6 kV (JIS C 4620), tegangan uji terhadap tanah dan antar-fasa ditetapkan sebesar '16000 V (16 kV) selama 1 menit' untuk uji frekuensi jala-jala dan '60 kV' untuk uji ketahanan tegangan impuls petir.

Pengujian dan Pemeriksaan Panel Distribusi & Kontrol (Kondisi Standar, Uji Serah Terima, Isolasi & Ketahanan Tegangan)

Poin penting


  • Kondisi standar lokasi pengujian adalah 'suhu 20 ± 15°C, kelembapan relatif 45–85%, dan tekanan 86–106 kPa' (tidak termasuk getaran atau kebisingan)

  • Uji serah terima meliputi 4 pengujian: 'Tampilan/struktur, Sekuens, Resistansi isolasi, dan Ketahanan tegangan'; 'Uji kenaikan suhu' tidak termasuk

  • Uji ketahanan tegangan frekuensi jala-jala selama 1 menit dilakukan pada '1500 V untuk >60 V–250 V', '2000 V untuk >250 V–600 V', dan '16000 V untuk rangkaian utama kubikel 6,6 kV'
KosakataArti
kondisi standar lokasi pengujian (20±15°C, 45–85%, 86–106 kPa)
uji serah terima dan uji tipe (uji kenaikan suhu)
uji resistansi isolasi (Megger)
uji ketahanan tegangan frekuensi jala-jala (1500 V, 2000 V, 16000 V selama 1 menit)

Perakitan Panel Distribusi & Kontrol

Latihan soal bab ini di aplikasi

Referensi resmi

Zalo