VIENIDMY Masuk Mulai latihan

Beranda › Materi › Perhotelan

Dasar Pelayanan Tamu (Salam, Postur & Membungkuk, Keigo, Memandu & Penanganan Keluhan)

Perhotelan · 宿泊分野 · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

Dasar-Dasar Salam, Ungkapan Pelayanan Tamu, dan Etika Antar-Karyawan

Salam (Aisatsu) adalah dasar dari pelayanan tamu: menyapa tamu dengan baik membuat tamu merasa nyaman selama menginap dan membuat staf bekerja dengan perasaan positif. Saat menyapa, lakukan 'dengan senyum cerah dan bersemangat', 'dengan suara yang terdengar oleh lawan bicara', 'menatap mata lawan bicara', dan 'dengan sepenuh hati'.

Ungkapan salam pelayanan yang wajib diingat meliputi: 'Irasshaimase (Selamat datang)' saat tamu tiba di hotel, ryokan, atau restoran; 'Arigato gozaimashita (Terima kasih banyak)' saat tamu pulang; 'Hai, kashikomarimashita (Baik, saya mengerti)' saat menyanggupi permintaan tamu; dan 'Shitsurei shimasu (Permisi)' saat mendatangi atau meninggalkan kamar maupun meja makan tamu.

Gunakan 'Osoreirimasu ga... (Maaf mengganggu, tetapi...)' saat meminta sesuatu kepada tamu; 'Shosho omachi kudasai(mase) (Mohon tunggu sebentar)' saat meminta tamu menunggu; 'Omatase itashimashita (Terima kasih telah menunggu)' setelah membuat tamu menunggu; dan 'Moshiwake gozaimasen (Mohon maaf sebesar-besarnya)' saat meminta maaf atau menerima keluhan—ucapkan maaf terlebih dahulu lalu segera laporkan kepada penanggung jawab tim.

Untuk salam antar-karyawan di tempat kerja: ucapkan 'Ohayo gozaimasu' saat masuk kerja, 'Osaki ni shitsurei shimasu' saat pulang kerja lebih dulu, 'Otsukaresama deshita' kepada rekan yang pulang kerja, dan 'Kyukei ni hairimasu' sebelum mulai istirahat. Saat memanggil rekan kerja, tambahkan '-san' di belakang nama keluarga mereka ('... san').

Poin penting


  • Sapa tamu dengan senyum cerah dan bersemangat, suara yang jelas terdengar, kontak mata, dan ketulusan hati.

  • Gunakan 'Hai, kashikomarimashita' saat menerima permintaan, 'Osoreirimasu ga' saat memohon sesuatu, dan 'Moshiwake gozaimasen' saat meminta maaf.

  • Antar-karyawan gunakan salam kerja standar saat datang, pulang, dan istirahat, serta panggil rekan dengan 'Nama Keluarga + san'.
KosakataArti
Baik, saya mengerti (Kashikomarimashita)
Maaf mengganggu, tetapi... (Osoreirimasu ga)
Mohon maaf sebesar-besarnya (Moshiwake gozaimasen)
Terima kasih telah menunggu (Omatase itashimashita)
salam saat pulang kerja (Osaki ni shitsurei shimasu / Otsukaresama deshita)

3 Prinsip Penampilan Diri dan Postur Berdiri Dasar dalam Pelayanan Tamu

Staf hotel dan ryokan wajib mematuhi 3 prinsip penampilan diri (Midashinami) demi memberikan rasa aman dan kesan baik kepada tamu: 'Kebersihan (Seiketsu)', 'Kerapian (Tansei — mengenakan seragam dengan benar)', dan 'Fungsional & Harmonis (Kinoteki / Chowa — mudah bergerak dan selaras dengan suasana fasilitas)'.

Dalam postur berdiri dasar pelayanan tamu (Kihon shisei), poin utamanya adalah 'meluruskan punggung (Sesuji o nobasu)', serta 'menarik perut ke dalam dan menarik dagu sedikit ke belakang (Onaka o hiki, ago wa karuku hiku)'.

Untuk posisi bahu dan tangan: 'rilekskan bahu, lalu tumpukkan kedua tangan dengan lembut sedikit di bawah perut dengan tangan kanan berada di bawah (dan tangan kiri di atas)'. Bagi karyawan pria, diperbolehkan menurunkan kedua tangan secara alami di samping tubuh.

Rapatkan kedua tumit kaki dengan ujung jari kaki sedikit terbuka, dan selalu bersiaga 'dengan ekspresi wajah alami serta tidak melupakan senyuman kepada tamu'. Jangan pernah bersandar pada dinding atau meja konter maupun melipat tangan.

Poin penting


  • 3 prinsip penampilan diri adalah Kebersihan (Seiketsu), Kerapian (Tansei), serta Fungsional dan Harmonis.

  • Postur berdiri dasar: luruskan punggung, tarik perut, tarik dagu sedikit, dan pertahankan ekspresi alami serta senyuman.

  • Rilekskan bahu dan tumpukkan tangan dengan lembut sedikit di bawah perut dengan tangan kanan di bawah (pria boleh menurunkan tangan di samping).
KosakataArti
3 prinsip penampilan diri (Midashinami no sangensoku)
postur berdiri dasar (Kihon shisei)
meluruskan punggung dan menarik dagu sedikit
ekspresi wajah alami dan senyuman (Egao)

3 Jenis Membungkuk (Eshaku 15°, Keirei 30°, Saikeirei 45°) dan Penggunaannya

Membungkuk (Ojigi) adalah gerakan untuk menunjukkan rasa hormat kepada tamu. Tatap wajah (mata) tamu terlebih dahulu saat melayani, baru kemudian membungkukkan badan dari pinggang. Gunakan ketiga jenis ojigi secara tepat sesuai situasi.

Jenis pertama adalah 'Eshaku (Membungkuk Ringan)', yaitu mencondongkan tubuh bagian atas sekitar 15 derajat ke depan. Digunakan saat berpapasan dengan tamu di koridor, saat menghampiri meja tamu yang sedang makan, atau saat meninggalkan meja.

Jenis kedua adalah 'Keirei / Futsurei (Membungkuk Normal)', yaitu mencondongkan tubuh bagian atas sekitar 30 derajat ke depan. Ini adalah ojigi yang paling sering digunakan dalam berbagai situasi pelayanan, terutama saat menyambut kedatangan tamu ('Irasshaimase').

Jenis ketiga adalah 'Saikeirei (Membungkuk Paling Hormat)', yaitu mencondongkan tubuh bagian atas sekitar 45 derajat ke depan. Digunakan saat mengantar kepulangan tamu (ungkapan terima kasih mendalam) atau saat meminta maaf kepada tamu.

3 Jenis Membungkuk (Eshaku 15°, Keirei 30°, Saikeirei 45°) dan Penggunaannya

Poin penting


  • Tatap wajah tamu terlebih dahulu (kontak mata), lalu membungkuklah dari pinggang dengan punggung tetap lurus.

  • 'Eshaku (sekitar 15°)' digunakan saat berpapasan dengan tamu atau saat menghampiri/meninggalkan meja makan tamu.

  • 'Keirei / Futsurei (sekitar 30°)' paling sering dipakai seperti saat menyambut tamu; 'Saikeirei (sekitar 45°)' dipakai saat mengantar pulang atau meminta maaf.
KosakataArti
membungkuk ringan sekitar 15 derajat (Eshaku)
membungkuk normal sekitar 30 derajat (Keirei / Futsurei)
membungkuk paling hormat sekitar 45 derajat (Saikeirei)
rasa hormat dan kontak mata (Eye contact)

Cara Berbicara Saat Melayani Tamu dan 3 Jenis Bahasa Hormat (Sonkeigo, Kenjogo, Teineigo)

Saat berbicara dengan tamu, tatap mata tamu, tersenyumlah, dan berbicaralah dengan suara cerah serta jelas. Apabila tamu mengajukan permintaan mendadak, jangan langsung menolak, melainkan pikirkan bagaimana cara memenuhi permintaan tersebut; jika tidak bisa memutuskan sendiri di tempat, konsultasikan kepada atasan.

Dalam bahasa Jepang terdapat 3 jenis bahasa hormat (Keigo)—yaitu 'Sonkeigo', 'Kenjogo', dan 'Teineigo'—yang wajib dibedakan penggunaannya. 'Sonkeigo (Bahasa Hormat)' digunakan untuk menghormati atasan atau tamu dengan meninggikan tindakan atau keadaan lawan bicara (contoh: Irassharu, Meshiagaru, Ossharu).

'Kenjogo (Bahasa Merendah)' menunjukkan rasa hormat dengan merendahkan tindakan diri sendiri untuk meninggikan lawan bicara (contoh: Ukagau, Moshiageru, Haiken suru, Itasu). Berhati-hatilah agar tidak menggunakan Kenjogo untuk tindakan tamu.

'Teineigo (Bahasa Sopan)' memperhalus kalimat dengan menambahkan akhiran 'desu', 'masu', atau 'gozaimasu', maupun menambahkan awalan 'o-' atau 'go-' pada kata benda seperti 'o-ryori (hidangan)' dan 'go-shukuhaku (menginap)'. Gunakan pula kata pengantar halus (Cushion kotoba) seperti 'Osoreirimasu ga'.

Poin penting


  • Jangan langsung menolak permintaan mendadak tamu; pikirkan cara memenuhinya dan konsultasikan ke atasan jika ragu.

  • 'Sonkeigo' meninggikan tindakan tamu, sedangkan 'Kenjogo' merendahkan tindakan diri sendiri untuk menghormati tamu.

  • 'Teineigo' menggunakan akhiran 'desu / masu / gozaimasu' atau awalan 'o- / go-' agar tutur kata terdengar sopan.
KosakataArti
bahasa hormat yang meninggikan tamu (Sonkeigo)
bahasa merendah untuk tindakan diri sendiri (Kenjogo)
bahasa sopan (Teineigo — desu, masu, gozaimasu)
kata pengantar penghalus kalimat (Cushion kotoba)

Tata Krama Memandu Tamu di Gedung, Menunjuk Arah, Berpapasan, dan Lift

Di fasilitas penginapan, pelayanan tulus sepenuh hati yang disebut 'Omotenashi (Hospitality)' sangat penting agar tamu merasa puas telah menginap. Jika melihat tamu tampak mencari sesuatu di dalam gedung, sapalah terlebih dahulu dengan 'Nani ka osagashi desho ka (Apakah ada yang sedang Anda cari?)'.

Saat memandu tamu di dalam fasilitas, berjalanlah '2 hingga 3 langkah di depan sebelah kiri tamu (Hidarizenpo)' sambil menyesuaikan kecepatan langkah kaki tamu. Saat menunjukkan arah menggunakan peta, tunjuklah 'dengan telapak tangan menghadap ke atas dan 4 jari dirapatkan'.

Saat berpapasan dengan tamu di koridor, jangan membungkuk sambil berjalan, melainkan 'berhentilah sejenak dan lakukan Eshaku sampai tamu lewat di depan Anda'. Saat dipanggil oleh tamu, jawablah dengan 'Oyobi de gozaimasu ka (Apakah Anda memanggil saya?)'.

Bawalah barang bawaan tamu yang dititipkan dengan hati-hati hingga ke dalam kamar tamu. Saat menyerahkan kunci kamar, arahkan sisi depan menghadap tamu dan serahkan dengan kedua tangan. Saat terpaksa menggunakan lift gedung, selalu dahulukan tamu.

Poin penting


  • Saat memandu tamu di dalam gedung, berjalanlah '2–3 langkah di depan sebelah kiri tamu' sesuai kecepatan jalan tamu.

  • Tunjuk arah 'dengan telapak tangan menghadap atas dan 4 jari rapat'; saat berpapasan, 'berhenti sejenak dan lakukan Eshaku'.

  • Serahkan kunci kamar dengan kedua tangan menghadap tamu, dan selalu prioritaskan tamu saat menggunakan lift.
KosakataArti
keramahtamahan khas Jepang (Omotenashi / Hospitality)
memandu 2–3 langkah di depan sebelah kiri tamu
berhenti sejenak dan membungkuk ringan (Tachidomatte eshaku)
menunjuk arah dengan telapak tangan menghadap atas dan 4 jari rapat

Memandu ke Kamar Gaya Jepang (Washitsu), Menata Sepatu, serta Kamiza dan Shimoza

Saat memandu tamu ke kamar gaya Jepang (Washitsu berlantai tatami) di ryokan, persilakan tamu melepas alas kaki di area pintu masuk ('Fumikomi'). Setelah tamu naik ke kamar, putar ujung sepatu tamu agar menghadap ke arah pintu keluar (luar) dan rapikan di tepi.

Saat membuka atau menutup pintu geser 'Fusuma' atau 'Shoji', jangan membukanya sambil berdiri, melainkan duduk berlutut dan gunakan kedua tangan dengan tenang. Jangan menginjak tepi batas tatami (Heri) maupun ambang pintu (Shikii).

Di dalam kamar Jepang, ruang jamuan, maupun lift terdapat kursi kehormatan ('Kamiza') untuk tamu utama dan kursi bawah ('Shimoza'). Di Washitsu, posisi terdalam yang paling dekat dengan ceruk hiasan 'Tokonoma' adalah Kamiza, sedangkan posisi dekat pintu masuk adalah Shimoza.

Sajikan handuk hangat (Oshibori), teh, dan kue tradisional dimulai dari tamu yang duduk di Kamiza. Saat masuk ke kamar pada malam hari untuk menggelar kasur Futon, konfirmasikan waktu yang nyaman bagi tamu terlebih dahulu dan ketuk pintu meminta izin.

Memandu ke Kamar Gaya Jepang (Washitsu), Menata Sepatu, serta Kamiza dan Shimoza

Poin penting


  • Sepatu tamu yang dilepas di area Fumikomi kamar Jepang harus ditata dengan ujung sepatu menghadap ke pintu keluar.

  • Di kamar Jepang, posisi dekat ceruk 'Tokonoma' adalah kursi kehormatan (Kamiza) dan dekat pintu masuk adalah Shimoza.

  • Jangan menginjak tepi tatami atau ambang pintu, serta sajikan teh dan hidangan mulai dari tamu di posisi Kamiza.
KosakataArti
area lepas sepatu (Fumikomi) dan arah ujung sepatu
ceruk hiasan di kamar tradisional Jepang (Tokonoma)
kursi kehormatan (Kamiza) dan kursi bawah (Shimoza)
pintu geser Fusuma/Shoji dan ambang pintu (Shikii)

Melayani Tamu yang Memerlukan Perhatian Khusus (Kursi Roda, Tunanetra, Tongkat, Anjing Pemandu)

Bagi tamu lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, atau keluarga dengan anak kecil, berikan pelayanan bebas hambatan (Barrier-free) yang penuh perhatian sesuai kondisi masing-masing tamu.

Saat berkomunikasi dengan 'tamu pengguna kursi roda', jangan berbicara sambil berdiri menatap ke bawah, melainkan berlutut atau membungkuklah untuk 'menyamakan tinggi pandangan mata dengan mata tamu (Me no takasa o awasete)'.

Saat 'tamu tunanetra (gangguan penglihatan)' tiba di fasilitas, jangan langsung menyentuh tubuhnya secara tiba-tiba, melainkan sapalah dengan sopan untuk menanyakan 'apakah ada hal yang dapat dibantu'. Jika tamu membawa anjing pemandu (Modoken), wajib diterima dan dilarang keras menolak.

Saat 'tamu pengguna tongkat yang kesulitan berjalan' datang ke restoran, apabila tamu menginginkannya, arahkan ke 'kursi yang dekat dengan pintu keluar-masuk (Deiriguchi ni chikai seki)' agar mudah berpindah. Untuk tamu tunarungu, gunakan komunikasi tertulis (Hitsudan) atau bahasa isyarat.

Melayani Tamu yang Memerlukan Perhatian Khusus (Kursi Roda, Tunanetra, Tongkat, Anjing Pemandu)

Poin penting


  • Saat berbicara dengan tamu pengguna kursi roda, sejajarkan 'tinggi mata Anda dengan tinggi mata tamu'.

  • Bagi tamu tunanetra, sapalah untuk menawarkan bantuan dan jangan pernah menolak anjing pemandu (Modoken).

  • Bagi tamu pengguna tongkat di restoran, pandu ke 'kursi dekat pintu keluar-masuk' apabila tamu menginginkannya.
KosakataArti
menyamakan tinggi pandangan mata dengan tamu
penyandang tunanetra dan anjing pemandu (Modoken)
memandu ke kursi dekat pintu keluar-masuk
pelayanan Barrier-free dan komunikasi tertulis (Hitsudan)

4 Poin Penanganan Telepon dan 3 Prinsip Penanganan Keluhan (Komplain)

Saat bekerja di fasilitas penginapan, berbagai panggilan telepon termasuk reservasi akan masuk. 4 poin penting penanganan telepon adalah: (1) 'Siapkan kertas memo dan alat tulis sebelum mengangkat telepon'; dan (2) 'Saat mengangkat telepon, sebutkan nama fasilitas dan nama diri terlebih dahulu'.

(3) 'Saat menyambungkan telepon (Toritsugi) ke staf lain, konfirmasikan nama penelepon (atau nama perusahaan)'; dan (4) 'Khususnya untuk telepon dari tamu, pastikan lawan bicara telah meletakkan gagang telepon terlebih dahulu sebelum Anda menutup telepon'.

Meskipun fasilitas telah melayani dengan sepenuh hati, keluhan (Kujo / Claim) pasti dapat terjadi. 3 poin utama penanganan keluhan adalah: (1) 'Pertama-tama, minta maaf karena telah membuat tamu merasa tidak nyaman'; (2) 'Konfirmasikan penyebab keluhan dengan saksama'; dan (3) 'Laporkan kepada penanggung jawab (atasan)'.

Hal terpenting yang harus diingat: 'meskipun jelas-jelas kesalahan Anda sendiri yang menjadi penyebabnya', jangan pernah berusaha menyelesaikan semuanya sendirian. Menyelesaikannya sendiri akan membuat ketidakpuasan tamu menumpuk dan memicu keluhan lebih besar, sehingga wajib dilaporkan kepada penanggung jawab.

Poin penting


  • 4 poin telepon: Siapkan memo & pena -> Sebutkan nama saat mengangkat -> Konfirmasi nama penelepon saat menyambungkan -> Tunggu tamu menutup telepon dulu.

  • 3 langkah penanganan keluhan: (1) Minta maaf atas ketidaknyamanan -> (2) Konfirmasi penyebab dengan saksama -> (3) Laporkan ke penanggung jawab.

  • Meskipun penyebab keluhan jelas merupakan kesalahan sendiri, jangan selesaikan sendirian melainkan wajib lapor ke penanggung jawab.
KosakataArti
menyambungkan panggilan telepon (Toritsugi)
gagang telepon (Juwaki)
penanganan keluhan / komplain (Claim taio)
melaporkan kepada penanggung jawab (Sekininsha)

Poin yang Sering Keluar di Ujian dan Cara Mengingatnya

Sudut membungkuk (ojigi) dan situasinya adalah soal yang paling sering keluar: 'Eshaku = sekitar 15° (saat berpapasan, menghampiri/meninggalkan meja makan)', 'Keirei / Futsurei = sekitar 30° (menyambut tamu dan paling umum digunakan)', 'Saikeirei = sekitar 45° (mengantar tamu pulang atau meminta maaf)'.

Angka dan arah saat memandu juga sering diujikan: 'Berjalan 2–3 langkah di depan sebelah kiri tamu (Hidarizenpo) sesuai langkah tamu', 'Saat berpapasan, berhenti sejenak lalu lakukan Eshaku', 'Menunjuk peta dengan telapak tangan menghadap atas dan 4 jari rapat', serta 'Serahkan kunci kamar dengan kedua tangan menghadap depan tamu'.

Untuk tamu berkebutuhan khusus: 'Kursi roda = Samakan tinggi mata', 'Tamu bertongkat di restoran = Arahkan ke kursi dekat pintu keluar-masuk jika diinginkan', dan 'Anjing pemandu (Modoken) = Dilarang keras menolak'.

Untuk keluhan: hafalkan urutan 'Minta maaf dulu -> Konfirmasi penyebab -> Lapor penanggung jawab', dan waspadai jebakan soal: 'Meskipun jelas kesalahan sendiri, JANGAN selesaikan sendirian melainkan laporkan ke penanggung jawab'.

Poin penting


  • 3 Ojigi: Eshaku 15° (berpapasan, meja makan); Keirei 30° (menyambut, paling umum); Saikeirei 45° (mengantar pulang, minta maaf).

  • Postur berdiri: Punggung lurus, dagu ditarik sedikit, tangan ditumpuk di bawah perut dengan tangan kanan di bawah (pria boleh di samping).

  • Memandu & gerak: Jalan '2–3 langkah di depan kiri tamu'; 'berhenti dan Eshaku' saat berpapasan; tunjuk dengan 'telapak tangan ke atas & 4 jari rapat'.

  • Dukungan khusus: Kursi roda = Samakan tinggi mata; Tongkat = Kursi dekat pintu; Anjing pemandu = Dilarang menolak.

  • Keluhan & Telepon: Walau salah sendiri jangan atasi sendiri (wajib lapor atasan); tunggu tamu menutup telepon lebih dulu.
KosakataArti
Eshaku (15°), Keirei (30°), dan Saikeirei (45°)
memandu 2–3 langkah di depan sebelah kiri tamu
Sonkeigo, Kenjogo, dan Teineigo
3 langkah penanganan keluhan

Referensi resmi

💬

Zalo