VIENID Mulai latihan

Beranda › Materi › Pertanian

Manajemen Harian Kandang, Higienitas Pemerahan, Biosekuriti, dan Pengomposan

Pertanian · 農業 · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

Pengelolaan Lingkungan Kandang (Suhu, Ventilasi, Penanganan Panas, dan Pencahayaan)

Di dalam kandang, pernapasan dan kotoran ternak menghasilkan gas berbahaya (seperti amonia dan hidrogen sulfida), uap air, debu, serta panas. Gunakan kipas ventilasi atau bukaan jendela untuk memasukkan udara segar; di musim dingin tetap lakukan ventilasi minimum tanpa membiarkan angin dingin menerpa ternak secara langsung.

Suhu panas dan lembap di musim panas (stres panas) menurunkan produksi susu, produksi telur, pertambahan bobot, dan angka kebuntingan secara drastis. Lakukan penanganan panas dengan kipas angin besar, pendingin kabut (mist), penyiraman atap, jaring peneduh, serta air minum sejuk yang cukup.

Ayam petelur memiliki sifat penurunan produksi telur jika durasi terang harian memendek, sehingga diterapkan "manajemen pencahayaan" menggunakan lampu agar durasi terang terjaga sekitar 14–16 jam per hari.

Poin penting


  • Ventilasi membuang gas berbahaya seperti amonia dan kelembapan; tetap lakukan ventilasi di musim dingin tanpa angin celah.

  • Penanganan panas musim panas menggunakan kipas angin, pengabutan (mist), penyiraman atap, jaring peneduh, dan air segar.

  • Pertahankan pencahayaan 14–16 jam sehari pada ayam petelur untuk menjaga produksi telur.
KosakataArti
amonia / hidrogen sulfida
stres panas / pendinginan kabut (mist)
angin celah (hembusan angin dingin)
manajemen pencahayaan

Prosedur Higienitas Pemerahan dan Pencegahan Mastitis

Dalam pekerjaan pemerahan susu, pertama-tama lakukan "pemerahan awal (forestripping / maeshibori)" ke dalam wadah khusus (strip cup) untuk memeriksa adanya gumpalan, darah, atau kelainan pada susu. Dilarang membuang susu pancaran pertama ke lantai karena menyebarkan bakteri.

Selanjutnya, celupkan puting ke cairan antiseptik ("pre-dipping"), seka hingga kering dengan handuk bersih atau tisu terpisah untuk setiap ekor sapi, lalu pasang "mesin perah (milker)". Lepaskan milker segera setelah aliran susu berhenti untuk mencegah "pemerahan berlebih (overmilking)", lalu lakukan "post-dipping" agar bakteri tidak masuk ke lubang puting.

Susu segar segera didinginkan di dalam "tangki pendingin (bulk cooler)" hingga suhu 4℃ ke bawah untuk menekan bakteri. Untuk mencegah "radang ambing (mastitis)" akibat bakteri, perah sapi yang sehat terlebih dahulu dan perah sapi penderita mastitis atau yang sedang diberi antibiotik paling akhir secara terpisah.

Prosedur Higienitas Pemerahan dan Pencegahan Mastitis

Poin penting


  • Pemerahan awal (forestripping) wajib ditampung di strip cup dan dilarang dibuang ke lantai.

  • Gunakan satu handuk bersih untuk setiap ekor sapi, hindari overmilking, dan lakukan post-dipping setelah pemerahan.

  • Dinginkan susu segar segera di dalam bulk cooler, dan perah sapi yang terkena mastitis paling akhir secara terpisah.
KosakataArti
pemerahan awal / strip cup
mesin perah (milker) / pemerahan berlebih
pencelupan puting sebelum perah / sesudah perah
mastitis (radang ambing) / tangki pendingin susu

Pencegahan Penyakit Menular Ternak dan Zona Manajemen Sanitasi (Biosekuriti)

Untuk mencegah penyakit menular berbahaya seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK pada sapi dan babi), Classical Swine Fever (CSF), African Swine Fever (ASF), dan Flu Burung Patogenisitas Tinggi, peternakan menerapkan biosekuriti ketat sesuai "Standar Manajemen Kesehatan Pemeliharaan Ternak".

Agar patogen tidak terbawa masuk, batas "Zona Manajemen Sanitasi" di sekitar kandang harus jelas dan dilarang dimasuki orang luar. Kendaraan yang masuk wajib didisinfeksi, sedangkan pekerja wajib mensterilkan tangan, berganti pakaian kerja dan sepatu bot khusus kandang, serta menginjak "bak disinfeksi kaki (footbath)".

Pasang pula jaring penangkal burung dan pagar untuk mencegah masuknya burung liar, babi hutan, dan tikus. Sistem "All-in All-out"—mengosongkan seluruh kandang setelah panen untuk dicuci, didisinfeksi, dan dikeringkan sebelum memasukkan ternak baru—juga sangat efektif.

Pencegahan Penyakit Menular Ternak dan Zona Manajemen Sanitasi (Biosekuriti)

Poin penting


  • Cegah masuknya patogen ke Zona Manajemen Sanitasi untuk menangkal PMK, Swine Fever, dan Flu Burung.

  • Saat masuk kandang, ganti pakaian dan sepatu bot khusus serta gunakan bak disinfeksi kaki (footbath).

  • Metode mengeluarkan seluruh kelompok ternak sekaligus agar kandang kosong dapat dicuci, didisinfeksi, dan dikeringkan disebut "All-in All-out".
KosakataArti
Penyakit Mulut dan Kuku / Swine Fever / Flu Burung
Zona Manajemen Sanitasi (area biosekuriti)
bak celup disinfeksi sepatu bot (footbath)
sistem All-in All-out

Perawatan Rutin (Pemotongan Kuku dan Tanduk) serta Identifikasi Sapi (Tag Telinga)

Sapi yang dipelihara di dalam kandang kurang bergerak sehingga kukunya cepat memanjang; jika dibiarkan akan merusak postur berdiri dan memicu penyakit kuku yang menurunkan produksi susu serta bobot badan. Lakukan "pemotongan kuku (sakutei)" secara berkala dan perendaman kuku dengan disinfektan ("footbath kuku / teiyoku").

Untuk mencegah luka akibat saling menanduk antarsapi dan melindungi pekerja dari kecelakaan diseruduk, dilakukan "pemotongan/penghilangan tanduk (dehorning / jokaku)" saat masih pedet. Pedet jantan dan anak babi jantan potong juga "dikebiri (kastrasi / kyosei)" agar lebih jinak, mutu daging meningkat, dan tidak berbau prengus.

Berdasarkan Undang-Undang Ketertelusuran Sapi di Jepang, setiap sapi wajib dipasangi "tag telinga (ear tag / jihyou)" berwarna kuning pada kedua telinganya yang memuat "10 digit nomor identifikasi individu" segera setelah lahir.

Poin penting


  • Lakukan "pemotongan kuku (sakutei)" dan "pencelupan kuku (teiyoku)" secara rutin untuk mencegah penyakit kuku.

  • Lakukan "penghilangan tanduk (jokaku)" pada pedet demi keselamatan, serta "kastrasi (kyosei)" pada jantan potong.

  • Semua sapi wajib mengenakan "tag telinga (jihyou)" di kedua telinga dengan 10 digit nomor identifikasi individu.
KosakataArti
pemotongan kuku / perendaman disinfeksi kuku
penghilangan tanduk (dehorning) / pengebirian (kastrasi)
tag telinga (ear tag)
nomor identifikasi individu (10 digit)

Pengolahan Limbah Ternak yang Tepat dan Pembuatan Kompos Berkualitas

Menumpuk kotoran ternak langsung di atas tanah terbuka ("nozumi") atau membuangnya ke lubang tanah tanpa lapisan kedap ("subori") menyebabkan bau busuk dan pencemaran air tanah sehingga dilarang oleh "Undang-Undang Pengelolaan Ekskreta Ternak". Kotoran wajib dikelola di rumah kompos beratap dengan lantai dan dinding beton kedap air.

Untuk membuat kompos berkualitas baik, campurkan kotoran dengan "bahan campuran pengatur kelembapan (fukushizai)" seperti serbuk gergaji, sekam padi, atau jerami hingga kadar air sekitar 60–65% (bila dikepal kuat membentuk gumpalan tanpa air menetes di sela jari).

Selanjutnya, berikan cukup oksigen melalui "pembalikan tumpukan (kirikaeshi)" atau hembusan udara blower agar "mikroba aerob" memicu fermentasi suhu tinggi di atas 60℃. Proses ini menghilangkan bau busuk serta mematikan bakteri patogen dan biji gulma hingga menghasilkan kompos matang.

Poin penting


  • Penumpukan terbuka (nozumi) dan lubang tanah tanpa alas kedap (subori) dilarang oleh UU Pengelolaan Ekskreta Ternak.

  • Campurkan bahan pengatur kelembapan (serbuk gergaji, sekam, dll.) agar kadar air campuran kompos sekitar 60–65%.

  • Pasok oksigen melalui pembalikan atau aerasi untuk mencapai fermentasi aerob di atas 60℃ yang mematikan patogen dan biji gulma.
KosakataArti
UU Pengelolaan Ekskreta Ternak (larangan tumpukan terbuka/lubang tanah)
bahan campuran kompos (serbuk gergaji, sekam padi)
pembalikan kompos / fermentasi aerob
kompos matang sempurna

Perawatan Harian dan Pengamatan Ternak

Latihan soal bab ini di aplikasi

Referensi resmi