VIENIDMY Masuk Mulai latihan

Beranda › Materi › Teknisi Listrik Kelas 2 第二種電気工事士 (ujian tertulis)

Teori Dasar Kelistrikan

Teknisi Listrik Kelas 2 第二種電気工事士 (ujian tertulis) · 第二種電気工事士(学科試験) · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

Hukum Ohm, Rangkaian Seri-Paralel DC, Pembagian Tegangan dan Arus

Dalam ujian teori Teknisi Listrik Kelas 2 (Dai-ni-shu Denki Kojishi), Soal 1 sampai Soal 5 pada Bagian 1 merupakan soal hitungan teori dasar kelistrikan. Kalkulator dilarang digunakan, tetapi jika menguasai rumus dasar dan pola perbandingan bilangan bulat, bagian ini pasti menjadi ladang poin.

Ketika tegangan V (V) diberikan pada resistor R (Ω), arus I (A) yang mengalir dinyatakan dengan "I = V ÷ R", tegangan dengan "V = I × R", dan hambatan dengan "R = V ÷ I". Ini disebut Hukum Ohm dan menjadi titik awal dari seluruh perhitungan rangkaian listrik.

Pada hubungan seri yang menyambung beberapa resistor dalam satu jalur tunggal, arus I yang sama mengalir melalui setiap resistor, dan hambatan totalnya adalah penjumlahan biasa "R = R1 + R2". Tegangan sumber V dibagi ke setiap resistor sebanding dengan nilai hambatannya.

Sebaliknya, pada hubungan paralel yang bercabang, tegangan V pada setiap cabang bernilai sama. Hambatan pengganti dari 2 resistor paralel dapat dihitung cepat dengan rumus "hasil kali dibagi jumlah: R = (R1 × R2) ÷ (R1 + R2)".

Khususnya, sifat bahwa "menyambung n buah resistor identik bernilai R secara paralel menghasilkan hambatan total R ÷ n" sangat sering keluar. Selain itu, arus pada rangkaian paralel terbagi berbanding terbalik dengan nilai hambatan, sehingga cabang berhambatan lebih kecil dialiri arus lebih besar.

Poin penting


  • Ubah secara luwes ketiga bentuk Hukum Ohm: "V = I × R", "I = V ÷ R", dan "R = V ÷ I".

  • Hubungan seri memiliki arus yang sama, hambatan total "R1 + R2", dan pembagian tegangan yang sebanding dengan hambatan.

  • Hambatan pengganti 2 resistor paralel adalah "(R1 × R2) ÷ (R1 + R2)"; jika n resistor R identik dipasang paralel maka nilainya "R ÷ n".

  • Contoh: Rangkaian seri R1 = 8Ω dan R2 = 12Ω diberi tegangan 100V → Hambatan total R = 8 + 12 = 20Ω, arus I = 100 ÷ 20 = 5A, tegangan pada R1 adalah V1 = 5 × 8 = 40V

  • Contoh: Rangkaian paralel 20Ω dan 30Ω dialiri arus total 10A → Hambatan pengganti R = (20 × 30) ÷ (20 + 30) = 12Ω, arus pada cabang 20Ω adalah I1 = 10 × 30 ÷ (20 + 30) = 6A
KosakataArti
Hukum Ohm
hubungan seri dan hubungan paralel
hambatan total (hambatan pengganti)
pembagian tegangan dan pembagian arus

Hukum Kirchhoff dan Syarat Keseimbangan Jembatan Wheatstone

Untuk mencari arus atau tegangan pada rangkaian DC yang rumit, digunakan Hukum Kirchhoff. Hukum ke-1 (Hukum Arus) menetapkan bahwa "pada setiap titik cabang dalam rangkaian, jumlah arus yang masuk sama dengan jumlah arus yang keluar".

Hukum ke-2 (Hukum Tegangan) menetapkan bahwa "ketika menyusuri satu rangkaian tertutup (loop) penuh, jumlah gaya gerak listrik sumber sama dengan jumlah penurunan tegangan (I × R) pada setiap resistor". Kedua hukum ini sangat berguna untuk menyelesaikan rangkaian campuran pada Soal 1.

Selain itu, "rangkaian jembatan Wheatstone" untuk mengukur nilai hambatan yang belum diketahui secara presisi juga merupakan soal langganan. Rangkaian ini terdiri atas 4 resistor R1, R2, R3, dan R4 berbentuk belah ketupat dengan galvanometer G di bagian tengah.

Keadaan ketika galvanometer G di tengah sama sekali tidak dialiri arus (menjadi 0 A) disebut "keadaan seimbang"; saat itu hasil kali hambatan pada dua sisi yang berhadapan adalah sama: "R1 × R4 = R2 × R3".

Ketika jembatan berada dalam keadaan seimbang, cabang galvanometer G di tengah tidak dialiri arus. Oleh karena itu, saat menghitung hambatan pengganti seluruh rangkaian, lepaskan saja galvanometer G di tengah dan hitung sebagai 2 jalur seri yang terhubung paralel.

Poin penting


  • Hukum Kirchhoff 1: Jumlah arus yang masuk ke titik cabang sama dengan jumlah arus yang keluar.

  • Syarat seimbang jembatan Wheatstone (arus galvanometer G = 0 A): Hasil kali sisi berhadapan sama besar, "R1 × R4 = R2 × R3".

  • Saat seimbang, abaikan kawat galvanometer G di tengah untuk menghitung hambatan seri-paralel seluruh jembatan.

  • Contoh: Jembatan Wheatstone seimbang dengan R1 = 4Ω, R2 = 8Ω, R3 = 6Ω → R4 = 8 × 6 ÷ 4 = 12Ω; hambatan total antara cabang atas (4 + 6 = 10Ω) dan bawah (8 + 12 = 20Ω) adalah R = (10 × 20) ÷ (10 + 20) ≈ 6,7Ω

  • Contoh: Jika 9A masuk ke titik cabang dan 4A keluar ke satu sisi → Arus sisi lainnya I = 9 − 4 = 5A (pada rangkaian tertutup 30V dengan arus 9A melewati resistor 2Ω, jatuh tegangan sisa adalah V = 30 − 2 × 9 = 12V)
KosakataArti
Hukum Kirchhoff
rangkaian jembatan Wheatstone
galvanometer
keadaan seimbang

Hambatan Listrik Penghantar (Panjang, Luas Penampang, Diameter) dan Perubahan Suhu

Soal yang selalu muncul di nomor 2 adalah perhitungan hambatan listrik R dari kawat penghantar seperti kawat tembaga. Hambatan penghantar R (Ω) berbanding lurus dengan "hambatan jenis ρ (rho)" bahan dan "panjang L (m)", serta berbanding terbalik dengan "luas penampang A (mm²)" (R = ρ × L ÷ A).

Apabila ukuran kawat tunggal bulat diberikan dalam "diameter D (mm)", karena luas lingkaran adalah "A = π × D² ÷ 4", maka rumus hambatannya menjadi "R = (4 × ρ × L) ÷ (π × D²)".

Aturan emas terpenting di sini adalah: "Hambatan kawat R berbanding lurus dengan panjang L dan berbanding terbalik dengan kuadrat diameter D (D²)". Jika diameter D menjadi 2 kali lipat, luas penampang menjadi 4 kali lipat, sehingga untuk panjang yang sama hambatannya turun menjadi "seperempat (1/4)".

Oleh sebab itu, pada soal memilih kawat tembaga yang memiliki "nilai hambatan persis sama" dengan kawat berdiameter d dan panjang l, carilah pilihan dengan rasio "panjang ÷ kuadrat diameter" yang sama. Jika diameter 2 kali lipat (2d), panjangnya harus 4 kali lipat (4l) agar hambatannya sama.

Sebagai tambahan, penghantar logam seperti tembaga dan aluminium memiliki sifat hambatan listrik yang meningkat sedikit demi sedikit saat suhu naik (koefisien suhu hambatan positif). Konduktivitas kawat dinyatakan dalam persentase terhadap standar tembaga lunak (sekitar 100%).

Hambatan Listrik Penghantar (Panjang, Luas Penampang, Diameter) dan Perubahan Suhu

Poin penting


  • Hambatan kawat menurut luas penampang A (mm²) adalah "R = ρ × L ÷ A", sebanding dengan panjang L dan berbanding terbalik dengan luas A.

  • Hambatan kawat menurut diameter D (mm) adalah "R = (4 × ρ × L) ÷ (π × D²)", berbanding terbalik dengan kuadrat diameter D².

  • Diameter 2 kali lipat membuat luas penampang 4 kali lipat dan hambatan menjadi 1/4, sehingga panjang harus 4 kali lipat agar hambatan tetap sama.

  • Contoh: Kawat tembaga berpenampang A = 5,5mm² dan panjang L = 110m (hambatan jenis ρ = 0,0172 Ω·mm²/m) → Hambatan kawat R = 0,0172 × 110 ÷ 5,5 = 0,344Ω

  • Contoh: Kawat sejenis dengan kawat 1,2Ω namun berdiameter 2 kali lipat dan panjang 2 kali lipat → Karena luas penampang menjadi 2 × 2 = 4 kali lipat, hambatan R = 1,2 × 2 ÷ 4 = 0,6Ω
KosakataArti
hambatan jenis (ρ)
luas penampang (mm²) dan diameter (mm)
konduktivitas listrik
koefisien suhu hambatan

Daya Listrik, Energi Listrik, Hukum Joule dan Perhitungan Pemanasan Air

Pada Soal 3 sering keluar perhitungan kalor yang dihasilkan arus listrik atau energi listrik. Laju kerja listrik yang dikonsumsi tiap 1 detik disebut "daya listrik P (satuan: W)", yang dihitung dengan 3 rumus: "P = V × I = I² × R = V² ÷ R".

Mengalikan daya P (W) dengan waktu pemakaian t (h: jam) menghasilkan "energi listrik W (satuan: Wh atau kWh)". Sementara itu, mengalikan daya P (W) dengan "jumlah detik t (s: detik)" menghasilkan jumlah kalor (kalor Joule) Q (satuan: J), yaitu "Q = P × t = I² × R × t (J)".

Konversi satuan waktu adalah kunci utama: 1 jam adalah "60 menit = 3.600 detik". Maka "1 Wh = 3.600 W·s = 3.600 J = 3,6 kJ", dan menghafal nilai konversi "1 kWh = 3.600 kJ" akan mempercepat hitungan secara drastis.

Saat pemanas air listrik menaikkan suhu air bermassa m (kg; 1 L air = 1 kg) sebesar Δt (°C atau K), kalor Q (kJ) yang dibutuhkan dihitung memakai kalor jenis air "c = 4,2 kJ/(kg·K)" dengan rumus "Q = 4,2 × m × Δt (kJ)".

Jika efisiensi termal 100% (mengabaikan rugi panas), samakan "kalor pemanas P × t = kalor yang diterima air 4,2 × m × Δt" untuk menghitung balik waktu pemanasan atau energi listrik. Bila efisiensi termal (eta) diketahui, hanya kalor pemanas dikali yang memanaskan air.

Poin penting


  • Daya listrik adalah "P = V × I = I² × R = V² ÷ R (W)", sedangkan kalor diperoleh dengan mengalikan detik: "Q = I² × R × t (J)".

  • Karena 1 jam = 3.600 detik, wajib hafalkan konversi "1 Wh = 3,6 kJ" dan "1 kWh = 3.600 kJ".

  • Kalor untuk memanaskan m (kg) air sebesar Δt (K) adalah "Q = 4,2 × m × Δt (kJ)"; dibagi 3.600 akan menjadi energi listrik (kWh).

  • Contoh: Menggunakan pemanas listrik 100V, 1.500W selama 20 menit (1.200 detik) → Kalor yang dihasilkan Q = 1.500 × 1.200 = 1.800.000J = 1.800kJ (energi listrik W = 1.800 ÷ 3.600 = 0,5kWh)

  • Contoh: Kalor dan energi listrik untuk menaikkan suhu 30kg air sebesar 20K (20℃, efisiensi 100%) → Q = 4,2 × 30 × 20 = 2.520kJ, energi listrik W = 2.520 ÷ 3.600 = 0,7kWh
KosakataArti
daya listrik (W) dan energi listrik (Wh, kWh)
Hukum Joule dan jumlah kalor (J, kJ)
kalor jenis air (4,2 kJ/kg·K)
efisiensi termal

Elektrostatika, Hubungan Seri-Paralel Kapasitor dan Dasar Elektromagnetisme

Komponen yang menyimpan muatan listrik di antara 2 pelat logam (elektroda) yang berhadapan disebut kapasitor, dan kemampuannya menyimpan listrik disebut "kapasitansi C (satuan: F atau μF)". Muatan Q (C) yang tersimpan dinyatakan sebagai "Q = C × V".

Kapasitansi C dari kapasitor pelat sejajar berbanding lurus dengan luas pelat S dan permitivitas ε bahan isolator di antaranya, serta berbanding terbalik dengan jarak antar-pelat d. Semakin luas pelat dan semakin sempit celahnya, semakin banyak muatan yang tersimpan.

Rumus kapasitansi gabungan "berkebalikan dengan rumus seri-paralel resistor". Pada hubungan paralel, luas pelat bertambah sehingga dijumlahkan biasa "C = C1 + C2", sedangkan pada hubungan seri digunakan hasil kali dibagi jumlah "C = (C1 × C2) ÷ (C1 + C2)".

Di bidang elektromagnetisme, bila arus I (A) mengalir melalui kawat sepanjang L (m) di dalam medan magnet berkerapatan fluks B (T), bekerja gaya elektromagnetik "F = B × I × L (N)" sesuai arah Kaidah Tangan Kiri Fleming (prinsip berputarnya motor listrik).

Sebaliknya, apabila fluks magnet yang menembus kumparan berubah terhadap waktu, timbul gaya gerak listrik induksi ke arah yang menentang perubahan tersebut (Hukum Lenz). Ini disebut Hukum Induksi Elektromagnetik Faraday yang menjadi prinsip dasar generator dan transformator.

Poin penting


  • Muatan kapasitor adalah "Q = C × V"; kapasitansi C sebanding dengan luas pelat dan berbanding terbalik dengan jarak antar-pelat.

  • Kapasitansi gabungan berkebalikan dengan resistor: paralel dijumlahkan "C1 + C2", dan 2 kapasitor seri memakai "(C1 × C2) ÷ (C1 + C2)".

  • Gaya elektromagnetik pada arus di medan magnet adalah "F = B × I × L (N)"; kaidah tangan kiri untuk motor dan tangan kanan untuk generator.

  • Contoh: Dua kapasitor 10μF dan 40μF → Kapasitansi paralel 10 + 40 = 50μF, kapasitansi seri (10 × 40) ÷ (10 + 40) = 8μF (diberi 100V pada 8μF menghasilkan muatan Q = 8 × 100 = 800μC)

  • Contoh: Penghantar sepanjang L = 0,5m diletakkan tegak lurus di medan magnet berkerapatan fluks B = 0,4T dan dialiri arus I = 15A → Gaya elektromagnetik F = 0,4 × 15 × 0,5 = 3N
KosakataArti
kapasitansi (F, μF)
permitivitas (konstanta dielektrik)
gaya elektromagnetik (Kaidah Tangan Kiri Fleming)
hukum induksi elektromagnetik

Dasar Rangkaian AC 1 Fasa (Nilai Efektif, Nilai Maksimum, Frekuensi, Reaktansi)

Listrik yang disalurkan ke rumah dan pabrik adalah arus bolak-balik (AC) yang arah dan besarnya berubah mengikuti gelombang sinus terhadap waktu. Angka sehari-hari seperti AC 100 V atau 200 V menyatakan "nilai efektif (RMS) V" yang menghasilkan kerja setara dengan arus searah (DC).

Puncak gelombang sinus yang disebut "nilai maksimum Vm" besarnya "√2 kali (sekitar 1,41 kali)" dari nilai efektif V (Vm = √2 × V). Misalnya tegangan AC bernilai efektif 100 V memiliki nilai maksimum sekitar 141 V, dan efektif 200 V mencapai sekitar 283 V.

Jumlah pengulangan gelombang dalam 1 detik disebut "frekuensi f (satuan: Hz)", yang berkebalikan dengan waktu 1 gelombang "periode T (detik)" melalui rumus "T = 1 ÷ f". Frekuensi listrik komersial di Jepang Timur adalah 50 Hz (T = 0,02 detik) dan Jepang Barat 60 Hz.

Menyambungkan kumparan (induktansi L dalam H) ke rangkaian AC menimbulkan hambatan terhadap perubahan arus yang disebut "reaktansi induktif XL (Ω)". Rumusnya "XL = 2πfL", membesar sebanding frekuensi f, dan membuat fase arus tertinggal 90 derajat dari tegangan.

Sebaliknya, menyambungkan kapasitor (kapasitansi C dalam F) menimbulkan "reaktansi kapasitif XC = 1 ÷ (2πfC) (Ω)". XC berbanding terbalik dengan frekuensi f, dan membuat fase arus mendahului tegangan sebesar 90 derajat.

Dasar Rangkaian AC 1 Fasa (Nilai Efektif, Nilai Maksimum, Frekuensi, Reaktansi)

Poin penting


  • Nilai maksimum gelombang sinus AC adalah "Vm = √2 × nilai efektif V" (efektif 100 V memiliki puncak sekitar 141 V), dan periode "T = 1 ÷ f".

  • Reaktansi induktif kumparan adalah "XL = 2πfL (Ω)", sebanding frekuensi f, dan arus tertinggal 90 derajat dari tegangan.

  • Reaktansi kapasitif kapasitor adalah "XC = 1 ÷ (2πfC) (Ω)", berbanding terbalik dengan frekuensi f, dan arus mendahului tegangan 90 derajat.

  • Contoh: Sumber AC dengan nilai efektif 200V dan frekuensi 60Hz → Tegangan maksimum Vm = 1,41 × 200 = 282V, periode T = 1 ÷ 60 ≈ 0,0167 detik (reaktansi induktif kumparan L = 0,05H adalah XL = 2 × 3,14 × 60 × 0,05 = 18,84Ω)

  • Contoh: Menghubungkan kapasitor C = 0,0001F (100μF) ke rangkaian AC 50Hz, 100V → Reaktansi kapasitif XC = 1 ÷ (2 × 3,14 × 50 × 0,0001) ≈ 31,8Ω, arus IC = 100 ÷ 31,8 ≈ 3,14A
KosakataArti
nilai efektif dan nilai maksimum (Vm = √2V)
frekuensi (Hz) dan periode (T = 1 ÷ f)
reaktansi induktif (XL = 2πfL)
reaktansi kapasitif (XC)

Rangkaian Seri-Paralel AC 1 Fasa, Impedansi, Daya dan Faktor Daya

Pada rangkaian AC 1 fasa yang selalu keluar di Soal 4, karena arus dan tegangan antara resistor R dan reaktansi X (kumparan XL atau kapasitor XC) berbeda fase 90 derajat, nilainya tidak dijumlahkan biasa melainkan digabung dengan "segitiga siku-siku (teorema Pythagoras)".

Pada rangkaian R dan X "seri", hambatan total terhadap arus yang disebut "impedansi Z (Ω)" adalah "Z = √(R² + X²)", arus "I = V ÷ Z", dan faktor daya "cosφ = R ÷ Z".

Sebaliknya, pada rangkaian R dan X "paralel", karena tegangan sumber V langsung bekerja pada tiap cabang, hitung dahulu arus resistor "IR = V ÷ R" dan arus reaktansi "IX = V ÷ X" secara terpisah. Arus total adalah "I = √(IR² + IX²)", dan faktor daya "cosφ = IR ÷ I".

Hampir 100% angka di ujian dibuat mengikuti segitiga siku-siku "3 : 4 : 5" atau "6 : 8 : 10". Misalnya rangkaian seri dengan R = 8 Ω dan XL = 6 Ω tanpa dihitung pun langsung diketahui impedansi Z = 10 Ω dan faktor daya cosφ = 8 ÷ 10 = 0,8 (80%).

Selain itu, daya yang benar-benar dikonsumsi menjadi panas atau kerja pada rangkaian AC disebut "daya konsumsi (daya aktif) P (satuan: W)" sebesar "P = V × I × cosφ"; yang mengonsumsi energi "hanyalah resistor R (P = IR² × R)", sedangkan daya konsumsi kumparan dan kapasitor adalah 0 W.

Poin penting


  • Rangkaian seri R dan X: Impedansi "Z = √(R² + X²)", arus "I = V ÷ Z", dan faktor daya "cosφ = R ÷ Z".

  • Rangkaian paralel R dan X: Dari arus cabang "IR = V ÷ R" dan "IX = V ÷ X", diperoleh arus total "I = √(IR² + IX²)" dan faktor daya "cosφ = IR ÷ I".

  • Gunakan rasio emas segitiga siku-siku "3 : 4 : 5 (6 : 8 : 10)", dan hitung daya aktif dengan "P = V × I × cosφ = IR² × R (W)".

  • Contoh: Rangkaian seri hambatan R = 8Ω dan reaktansi X = 6Ω diberi 200V → Impedansi Z = 10Ω (8:6:10), arus I = 200 ÷ 10 = 20A, faktor daya cosφ = 8 ÷ 10 = 0,8, daya konsumsi P = 200 × 20 × 0,8 = 3.200W

  • Contoh: Menghubungkan paralel R = 20Ω dan X = 15Ω pada sumber 1 fasa 120V → Arus cabang IR = 120 ÷ 20 = 6A, IX = 120 ÷ 15 = 8A, arus total I = 10A (6:8:10), faktor daya cosφ = 6 ÷ 10 = 0,6
KosakataArti
impedansi (Z)
faktor daya (cosφ)
daya aktif (W) dan daya semu (VA)
daya reaktif (var)

Rangkaian AC 3 Fasa 3 Kawat (Tegangan, Arus dan Daya 3 Fasa Hubungan Y dan Δ)

Pada Soal 5 diujikan "rangkaian AC 3 fasa 3 kawat seimbang" untuk beban tenaga motor (200 V) di pabrik dan toko. Ada 2 cara menyambung 3 beban fasa, yaitu "hubungan Bintang (Y-kessen)" dan "hubungan Segitiga / Delta (Δ-kessen)".

Tegangan antar-kawat luar disebut "tegangan saluran (antarfasa) Vl" dan arus pada kawat saluran disebut "arus saluran Il"; sedangkan tegangan pada 1 beban fasa disebut "tegangan fasa Vp" dan arus melalui 1 beban fasa disebut "arus fasa Ip".

Pada "hubungan Y (Bintang)", kawat saluran langsung terhubung ke beban 1 fasa sehingga arus saluran sama dengan arus fasa (Il = Ip), dan tegangan saluran adalah √3 kali tegangan fasa (Vl = √3 × Vp, sehingga Vp = Vl ÷ √3).

Sebaliknya, pada "hubungan Δ (Delta)", tegangan saluran langsung diberikan pada beban 1 fasa sehingga tegangannya sama (Vl = Vp), dan arus saluran adalah √3 kali arus fasa (Il = √3 × Ip). Dalam ujian selalu gunakan "√3 = 1,73".

Daya konsumsi total P (W) seluruh rangkaian 3 fasa, baik hubungan Y maupun Δ, dihitung mudah dengan rumus "P = √3 × Vl × Il × cosφ" atau "3 kali daya konsumsi resistor 1 fasa: P = 3 × Ip² × R".

Rangkaian AC 3 Fasa 3 Kawat (Tegangan, Arus dan Daya 3 Fasa Hubungan Y dan Δ)

Poin penting


  • Hubungan Y (Bintang): Arus sama besar "Il = Ip", dan tegangan saluran √3 kali tegangan fasa "Vl = √3 × Vp".

  • Hubungan Δ (Delta): Tegangan sama besar "Vl = Vp", dan arus saluran √3 kali arus fasa "Il = √3 × Ip" (gunakan √3 = 1,73).

  • Daya konsumsi 3 fasa dihitung dengan "P = √3 × Vl × Il × cosφ" atau 3 kali daya 1 fasa "P = 3 × Ip² × R (W)".

  • Contoh: Memberikan tegangan saluran 200V ke beban hubungan Δ berimpedansi fasa Z = 8Ω (R = 6,4Ω, faktor daya cosφ = 0,8) → Arus fasa Ip = 200 ÷ 8 = 25A, arus saluran Il = 1,73 × 25 = 43,25A, daya 3 fasa P = 3 × 25 × 25 × 6,4 = 12.000W (12kW)

  • Contoh: Hubungan Y dengan tegangan fasa Vp = 100V dan impedansi fasa Z = 5Ω (faktor daya cosφ = 0,8) → Tegangan saluran Vl = 1,73 × 100 = 173V, arus saluran Il = 100 ÷ 5 = 20A, daya 3 fasa P = 3 × 100 × 20 × 0,8 = 4.800W
KosakataArti
hubungan Bintang (hubungan Y)
hubungan Segitiga (hubungan Δ)
tegangan saluran dan tegangan fasa
arus saluran dan arus fasa

Poin yang Sering Keluar di Ujian & Cara Mengingat

Pada Soal 2 tentang hambatan kawat, pastikan apakah soal menyebutkan "luas penampang A (mm²) atau diameter D (mm)". Jika diameter D menjadi 2 kali lipat, luas penampang menjadi 2² = 4 kali lipat, sehingga hambatan turun menjadi "1/4" (bukan 1/2).

Pada Soal 3 hitungan kalor, cukup hafalkan "1 kWh = 3.600 kJ" dan kalor jenis air "4,2 kJ/(kg·K)" lalu masukkan angkanya. Pada Soal 4 rangkaian AC, gambar segitiga siku-siku "3 : 4 : 5" atau "6 : 8 : 10" untuk mencongak impedansi dan faktor daya.

Pada Soal 5 AC 3 fasa, ingat lewat bentuk gambarnya: "Hubungan Y satu jalur lurus sehingga Arus sama (Il = Ip, tegangan × √3); hubungan Δ menjepit beban di antara 2 kawat sehingga Tegangan sama (Vl = Vp, arus × √3)".

Poin penting


  • Hambatan paralel: 2 resistor gunakan "hasil kali dibagi jumlah (R1 × R2) ÷ (R1 + R2)"; n resistor R identik menjadi "R ÷ n".

  • Keseimbangan jembatan Wheatstone (arus galvanometer 0 A): Hasil kali sisi berhadapan sama, "R1 × R4 = R2 × R3".

  • Hambatan kawat bulat: Sebanding panjang L, berbanding terbalik dengan D² (diameter 2× dan panjang 4× menghasilkan hambatan sama).

  • Kalor & Energi Listrik: 1 kWh = 3.600 kJ; kalor pemanasan air "Q = 4,2 × massa m × kenaikan suhu Δt (kJ)".

  • AC & 3 Fasa: Gabungan 6 Ω dan 8 Ω adalah 10 Ω / Hubungan Y: "Vl = √3Vp, Il = Ip"; Hubungan Δ: "Vl = Vp, Il = √3Ip" (√3 = 1,73).
KosakataArti
aturan hasil kali dibagi jumlah
segitiga siku-siku 3 : 4 : 5
konversi 1 kWh = 3.600 kJ
daya tiga fasa (P = √3VlIlcosφ)

Teori Dasar Kelistrikan

Latihan soal bab ini di aplikasi

Referensi resmi

Zalo