VIENIDMY Masuk Mulai latihan

Beranda › Materi › Perawatan Otomotif (Tokutei 2)

Diagnosis Kerusakan, Pengukuran, dan Pemeriksaan Akhir (Praktik)

Perawatan Otomotif (Tokutei 2) · 自動車整備分野(2号) · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

Cara Membaca Circuit Tester dan Diagnosis Jatuh Tegangan Rangkaian Lampu (Praktik - Tugas 1)

Pada 'Diagnosis Jatuh Tegangan Rangkaian Lampu' yang muncul di Tugas 1 ujian praktik tingkat 2 (2号), dalam kondisi sakelar ON sehingga arus mengalir di rangkaian (kondisi berbeban), pasang tetap kabel ukur hitam circuit tester digital ke 'terminal negatif (−) baterai (massa)', lalu tempelkan kabel ukur merah ke tiap titik ukur (V1–V7) untuk membaca tegangan.

【Cara Membaca Circuit Tester Digital】 (1) Pastikan sakelar putar berada pada rentang tegangan DC 'V'. (2) Jangan hanya membaca angka pada layar LCD, tetapi pastikan selalu melihat satuan di ujung kanan layar apakah 'V (volt)' atau 'mV (milivolt: 1.000 mV = 1 V)' (misalnya '0.0 mV' berarti '0 V').

Pada rangkaian lampu 12 V yang normal (saat sakelar ON), seluruh titik ukur dari sumber daya hingga tepat sebelum lampu (V1–V4) menunjukkan 'sekitar 12,00 V', dan karena seluruh 12 V dikonsumsi (jatuh tegangan) pada lampu, titik ukur sisi massa setelah lampu (V5–V7) semuanya menunjukkan 'sekitar 0 V (0,0 mV)'.

Misalkan saat terjadi masalah 'lampu redup', titik V1–V4 sebelum lampu semuanya menunjukkan '12,00 V (Baik / 良)', namun tepat setelah lampu di sisi massa pada 'V5 menunjukkan 6,00 V (Tidak Baik / 否)', sedangkan titik berikutnya 'V6 dan V7 menunjukkan 0,0 mV (Baik / 良)'.

Hasil pengukuran ini berarti pada V5 yang seharusnya 0 V masih tersisa 6,00 V, dan terjadi jatuh tegangan tidak normal sebesar 6,00 V di antara V5 (6,00 V) dan V6 (0 V); sehingga lokasi kerusakan dapat dipastikan berada 'di antara V5 dan V6 (kontak buruk / resistansi kontak berlebih pada konektor atau harness)'.

Cara Membaca Circuit Tester dan Diagnosis Jatuh Tegangan Rangkaian Lampu (Praktik - Tugas 1)

Poin penting


  • Saat membaca circuit tester digital, pastikan selalu memeriksa perbedaan satuan 'V' dan 'mV (0,0 mV = 0 V)' di ujung kanan layar.

  • Nilai normal saat sakelar ON adalah 'sekitar 12 V' di sisi sumber sebelum lampu (V1–V4) dan 'sekitar 0 V (0,0 mV)' di sisi massa setelah lampu (V5–V7).

  • Bila di sisi massa pada V5 terbaca '6,00 V (Tidak Baik / 否)' dan pada V6 terbaca '0,0 mV (Baik / 良)', maka lokasi masalah dengan resistansi kontak tidak normal berada 'di antara V5 dan V6'.

  • Contoh: Bila V4 di hulu lampu adalah 12,00V, V5 di hilir lampu adalah 6,00V, dan V6 adalah 0,0mV (0V) → Tegangan pada lampu = 12,00 − 6,00 = 6,00V; jatuh tegangan tidak normal antara V5 dan V6 = 6,00 − 0 = 6,00V
KosakataArti
circuit tester (rentang V dan tampilan mV)
jatuh tegangan (voltage drop)
kontak buruk dan resistansi kontak
penilaian baik/tidak baik (Baik 良 / Tidak Baik 否)

Prosedur Pengukuran Resistansi, Kontinuitas, dan Arus dengan Circuit Tester

Saat mengukur 'resistansi (Ω)' atau 'kontinuitas (hubungan singkat)' komponen maupun kabel menggunakan circuit tester, tester mengalirkan arus ukur dari baterai internalnya; apabila masih ada tegangan baterai kendaraan pada rangkaian yang diukur, pengukuran tidak dapat akurat dan berisiko merusak tester.

Oleh karena itu sebelum mengukur resistansi atau kontinuitas, aturan mutlaknya adalah 'wajib mematikan sakelar rangkaian ke OFF (atau melepas terminal negatif baterai maupun mencabut konektor komponen yang diukur)'.

Selain itu, saat mengukur resistansi menggunakan 'circuit tester analog (jarum)', sebelum mengukur dan setiap kali mengubah rentang ukur resistansi (×1, ×10, ×1k, dll.), sentuhkan (hubung-singkatkan) ujung kabel ukur merah dan hitam lalu putar 'knop penyetel 0Ω (0Ω adjustment)' untuk menepatkan jarum ke angka '0Ω' di ujung kanan (penyetelan titik nol).

Saat mengukur 'arus (A)' yang mengalir di rangkaian dengan circuit tester, hubungkan tester secara 'seri' terhadap rangkaian (jika salah dihubungkan paralel ke sumber daya, arus besar akan mengalir dan memutuskan sekring di dalam tester).

Perlu dicatat, saat mengukur arus besar seperti arus starter atau arus pengisian alternator maupun arus gelap (dark current) tanpa melepas kabel, digunakan 'clamp meter (tang ampere)' yang mendeteksi medan magnet di sekeliling kabel.

Poin penting


  • Saat mengukur resistansi (Ω) atau kontinuitas, wajib mematikan daya rangkaian ke 'OFF' dan mencabut konektor untuk mengukur komponen secara terpisah.

  • Setiap kali mengubah rentang resistansi pada tester analog, sentuhkan kabel ukur merah dan hitam lalu wajib lakukan 'penyetelan 0Ω'.

  • Hubungkan voltmeter secara 'paralel' terhadap rangkaian, dan hubungkan amperemeter secara 'seri' terhadap rangkaian.
KosakataArti
pengukuran resistansi (rentang Ω) dan pemeriksaan kontinuitas
penyetelan 0Ω (zero-ohm adjustment)
hubungan paralel (tegangan) dan hubungan seri (arus)
clamp meter (tang ampere) dan arus gelap (dark current)

Cara Membaca Compression Gauge dan Pengukuran Tekanan Kompresi (Praktik - Tugas 2)

Pada 'Pengukuran Tekanan Kompresi Menggunakan Compression Gauge' (Tugas 2 ujian praktik tingkat 2), '4 syarat persiapan dan pengukuran' agar pengukuran akurat dan aman adalah materi yang paling sering keluar.

【4 Syarat Pengukuran Tekanan Kompresi】 (1) 'Panaskan mesin hingga cukup (suhu air pendingin 80–90℃)' dan pastikan baterai terisi penuh. (2) Cabut konektor injektor dll. untuk 'menghentikan injeksi bahan bakar' selama cranking serta hentikan pengapian. (3) 'Lepas busi dari SELURUH silinder' untuk mengurangi tahanan putar. (4) Injak penuh pedal akselerator untuk 'membuka penuh katup throttle (throttle valve)', putar mesin (cranking) dengan starter pada putaran spesifikasi, lalu baca nilai simpangan maksimum jarum.

【Cara Membaca Compression Gauge & Prosedur Penilaian】 (1) Pastikan satuan pada papan skala (MPa) dan nilai 1 garis skala terkecil (misalnya bila 0,1 MPa dibagi 5 maka 1 skala = 0,02 MPa; bila dibagi 2 maka 0,05 MPa) lalu baca jarumnya. (2) Bandingkan nilai ukur tiap silinder dengan 'nilai batas/limit (misalnya 1,05 MPa)'; silinder yang kurang dari nilai limit dinilai 'Tidak Baik (否)'.

Selanjutnya, (3) hitung 'Nilai tertinggi − Nilai terendah' dari seluruh silinder untuk mencari 'selisih antar-silinder'; apabila selisihnya melebihi standar (misalnya maksimal 0,10 MPa), maka selisih antar-silinder juga dinilai 'Tidak Baik (否)'.

Perlu dicatat, apabila sedikit oli mesin dimasukkan melalui lubang busi pada silinder yang bertekanan kompresi rendah lalu diukur ulang, jika tekanan naik drastis maka didiagnosis 'keausan ring piston atau dinding silinder', sedangkan jika hampir tidak berubah maka didiagnosis 'ketidakrapatan katup (valve) atau kebocoran paking kepala silinder (head gasket)'.

Poin penting


  • 4 syarat pengukuran tekanan kompresi: (1) Setelah pemanasan mesin, (2) Hentikan injeksi bahan bakar, (3) Lepas busi 'seluruh silinder', (4) Cranking dengan katup throttle 'terbuka penuh'.

  • Selisih antar-silinder = 'Tekanan kompresi silinder tertinggi − Tekanan kompresi silinder terendah', lalu dibandingkan dengan nilai limit.

  • Jika diberi oli lewat lubang busi lalu tekanan naik berarti 'aus ring/silinder', jika tidak berubah berarti 'katup kurang rapat atau bocor head gasket'.

  • Contoh: Silinder #1 = 1,30MPa, #2 = 0,85MPa, #3 = 1,25MPa, #4 = 1,30MPa (limit 1,05MPa, selisih ≤ 0,10MPa) → Silinder #2 'Tidak Baik (否)' karena 0,85MPa, selisih maksimum antar-silinder = 1,30 − 0,85 = 0,45MPa ('Tidak Baik / 否')
KosakataArti
compression gauge (alat ukur tekanan kompresi)
katup throttle terbuka penuh dan penghentian injeksi bahan bakar
selisih antar-silinder (nilai tertinggi − nilai terendah)
ketidakrapatan katup dan keausan ring piston

Cara Membaca Dial Gauge dan PengukuranKeolengan / Kebengkokan Poros (Praktik - Tugas 3)

Pada 'Pengukuran Kebengkokan Poros Menggunakan Dial Gauge' (Tugas 3 ujian praktik tingkat 2), pertama-tama sebagai persiapan 'bersihkan kotoran dan oli pada poros serta V-block', lalu tumpu kedua ujung jurnal poros pada V-block kiri dan kanan di atas meja rata (surface plate).

Selanjutnya, pasang tetap dial gauge dengan magnetic stand, tempelkan spindle (ujung pengukur) 'tegak lurus (90°) terhadap bagian tengah poros', tekan masuk spindle sedikit terlebih dahulu agar dapat bergerak naik maupun turun, lalu putar bezel luar untuk menepatkan jarum panjang ke angka '0'.

【Cara Membaca Dial Gauge (skala terkecil 0,01 mm)】 (1) Baca nilai 'satuan 1 mm' pada 'jarum pendek' kecil di bagian dalam. (2) Baca nilai 'satuan 0,01 mm (1 garis = 0,01 mm, 1 putaran 100 garis = 1,00 mm)' pada 'jarum panjang' besar di bagian luar. (3) Putar poros perlahan 1 putaran penuh dengan tangan; selisih antara skala maksimum dan skala minimum jarum panjang (lebar simpangan) adalah 'keolengan / runout (振れ)'.

Aturan perhitungan paling penting di sini adalah: saat poros diputar 1 putaran, puncak bukit (+ ) dan dasar lembah (−) dari lengkungan ikut terukur keduanya, sehingga 'kebengkokan (bend / 曲がり)' poros adalah 'setengah dari keolengan dial gauge (Kebengkokan = Keolengan ÷ 2)'.

Oleh karena itu, jangan langsung membandingkan nilai 'keolengan (runout)' yang terbaca pada dial gauge dengan nilai limit, melainkan wajib dibagi 2 terlebih dahulu untuk menghitung 'kebengkokan (bend)' baru dibandingkan dengan 'limit kebengkokan' guna menilai Baik (良) atau Tidak Baik (否) (bedakan dengan keolengan piringan cakram rem atau flywheel yang dibaca langsung sebagai keolengan).

Cara Membaca Dial Gauge dan PengukuranKeolengan / Kebengkokan Poros (Praktik - Tugas 3)

Poin penting


  • Bersihkan poros dan V-block sebelum mengukur, serta tempelkan ujung ukur dial gauge 'tegak lurus (90°)' terhadap benda ukur.

  • Pada dial gauge berskala terkecil 0,01 mm, jarum pendek menunjukkan 'satuan 1 mm' dan jarum panjang menunjukkan 'satuan 0,01 mm (1 putaran = 1,00 mm)'.

  • 'Kebengkokan poros = Keolengan dial gauge ÷ 2'; bandingkan nilai setelah dibagi 2 dengan limit kebengkokan untuk menilai baik/tidak baik.

  • Contoh: Bila saat poros diputar 1 putaran jarum panjang dial gauge bergerak dari '0' ke '8 (0,08mm)' dan limit kebengkokan 0,03mm → Keolengan = 0,08mm; Kebengkokan poros = 0,08 ÷ 2 = 0,04mm (melebihi limit 0,03mm sehingga 'Tidak Baik / 否')

  • Contoh: Bila jarum panjang menyimpang melewati 0 sejauh 2 garis ke kiri (−0,02mm) dan 4 garis ke kanan (+0,04mm) → Keolengan = 0,02 + 0,04 = 0,06mm; Kebengkokan poros = 0,06 ÷ 2 = 0,03mm
KosakataArti
dial gauge (jarum panjang 0,01 mm, jarum pendek 1 mm)
magnetic stand, V-block, dan meja rata (surface plate)
keolengan (runout) dan kebengkokan (bend) poros (Kebengkokan = Keolengan ÷ 2)
penempelan ujung ukur tegak lurus (90°) dan setel titik 0

Cara Membaca Jangka Sorong (Vernier Caliper), Mikrometer, Cylinder Gauge, dan Plastigage

【Cara Membaca Jangka Sorong / Vernier Caliper (bacaan terkecil 0,05 mm)】 (1) Pertama, baca 'skala utama (main scale)' tepat di sebelah kiri (sebelum) posisi yang ditunjuk oleh garis skala '0' pada skala nonius/geser (vernier scale) dalam 'satuan 1 mm'. (2) Selanjutnya, cari garis skala nonius yang 'berimpit lurus sempurna' dengan salah satu garis skala utama, lalu baca angka pada skala nonius dalam 'satuan 0,05 mm'. (3) Terakhir, jumlahkan 'Nilai skala utama + Nilai skala nonius'.

【Cara Membaca Mikrometer Luar / Outside Micrometer (bacaan terkecil 0,01 mm)】 Sebelum mengukur, lakukan penyetelan titik 0 dengan batang standar (standard bar), dan saat mengukur putar ratchet stop hingga berbunyi klik agar menjepit dengan tekanan konstan. (1) Baca 'satuan 1 mm' yang terlihat di sebelah kiri tepi thimble pada 'skala sleeve bagian atas'. (2) Sebagai perhatian paling penting, periksa apakah 'garis skala 0,5 mm pada sleeve bagian bawah' sudah terlihat! Jika terlihat tambahkan '0,50 mm', jika tidak terlihat tambahkan '0,00 mm'.

(3) Berikutnya, baca 'skala keliling thimble (1 garis = 0,01 mm, 1 putaran 50 garis = 0,50 mm)' yang berimpit dengan garis dasar horizontal sleeve. (4) Terakhir, jumlahkan 'Sleeve atas (1 mm) + Sleeve bawah (ada/tidaknya 0,50 mm) + Thimble (0,01 mm)'.

Selain itu, 'cylinder gauge' adalah alat pengukur diameter dalam silinder: selisih diameter arah vertikal (atas, tengah, bawah) disebut 'keausan tirus (taper wear)', sedangkan selisih diameter antara arah pena piston dan arah gaya samping (thrust) disebut 'keausan oval (oval wear)'.

'Plastigage' untuk mengukur 'oil clearance (celah oli)' poros engkol digunakan dengan meletakkan benang plastik gauge pada jurnal, mengencangkan bearing cap sesuai torsi spesifikasi (saat ini poros sama sekali tidak boleh diputar), melepasnya kembali, lalu mencocokkan 'bagian paling lebar' dari gauge yang tergencet dengan skala kertas (semakin lebar gencetannya, semakin kecil celah olinya).

Cara Membaca Jangka Sorong (Vernier Caliper), Mikrometer, Cylinder Gauge, dan Plastigage

Poin penting


  • Hasil ukur jangka sorong = 'Skala utama sebelum garis 0 nonius (satuan 1 mm) + Skala nonius yang berimpit lurus dengan skala utama (satuan 0,05 mm)'.

  • Hasil ukur mikrometer = 'Sleeve atas (1 mm) + Sleeve bawah (pastikan selalu cek apakah 0,50 mm terlihat!) + Skala thimble (0,01 mm)'.

  • Plastigage dibaca pada 'bagian tergencet yang paling lebar'; semakin lebar berarti celah oli semakin 'kecil' (dilarang memutar poros selama pengukuran).

  • Contoh: Bila angka '0' nonius jangka sorong berada di antara 24mm dan 25mm skala utama, serta garis '3.5 (0,35mm)' nonius berimpit dengan skala utama → 24,00 + 0,35 = 24,35mm

  • Contoh: Pada mikrometer 0–25mm, bila sleeve atas menunjukkan '6mm', 'garis 0,5mm' bawah terlihat, dan thimble menunjuk '28 (0,28mm)' → 6,00 + 0,50 + 0,28 = 6,78mm
KosakataArti
jangka sorong / vernier caliper (skala utama dan nonius / 0,05 mm)
mikrometer (skala 0,5 mm sleeve dan skala 0,01 mm thimble)
cylinder gauge (keausan tirus dan keausan oval)
Plastigage (pengukuran celah oli / oil clearance)

Prosedur Dasar Diagnosis Kerusakan dan Alat Uji Pemeriksaan Akhir (Gas Buang, Lampu, Rem)

Prosedur dasar diagnosis kerusakan (troubleshooting) mobil yang efisien terdiri atas 5 langkah: (1) 'Wawancara pelanggan dan konfirmasi gejala (kapan dan pada kondisi apa terjadi)', (2) 'Pembacaan DTC serta Freeze Frame Data dengan scan tool eksternal dan pemeriksaan dasar', (3) 'Penyempitan penyebab kerusakan dan pengukuran komponen', (4) 'Perbaikan dan penggantian suku cadang', serta (5) 'Penghapusan DTC dan tes konfirmasi pasca-perbaikan'.

Pada 'CO/HC tester (alat ukur karbon monoksida / hidrokarbon)' yang digunakan dalam pemeriksaan akhir: setelah memanaskan mesin hingga cukup, memanaskan tester, memeriksa kebocoran, dan melakukan 'penyetelan titik nol (zero) dan span' dengan udara bersih, masukkan probe pengambil sampel ke dalam pipa knalpot sedalam sekitar 60 cm lalu ukur pada 'kondisi putaran stasioner (idling)'.

'Opacimeter (alat ukur asap hitam tipe transmisi cahaya)' yang mengukur asap hitam (partikulat) mobil diesel menyinari gas buang saat akselerasi cepat tanpa beban, lalu mengukur tingkat terhalangnya cahaya oleh asap yaitu 'koefisien absorbsi cahaya (satuan: m⁻¹)'.

Saat memeriksa dengan 'headlight tester (alat uji lampu kepala)', setel tekanan udara ban ke nilai spesifikasi, hadapkan kendaraan lurus ke arah tester dalam kondisi kosong dengan '1 orang pengemudi duduk di dalam', lalu ukur 'intensitas cahaya (cd: candela)' dan 'penyimpangan sumbu cahaya utama (titik elbow) arah atas-bawah serta kiri-kanan'.

Pada 'brake tester', diukur apakah jumlah gaya pengereman tiap poros depan dan belakang, selisih gaya pengereman roda kiri-kanan, serta gaya rem parkir memenuhi Standar Keamanan.

Poin penting


  • Diagnosis kerusakan dimulai dari 'wawancara pelanggan dan konfirmasi gejala masalah', dan setelah selesai perbaikan hapus DTC dengan scan tool lalu pastikan tidak kambuh.

  • CO/HC tester mengukur pada 'kondisi idling' setelah pemanasan dan penyetelan titik nol dengan udara bersih, sedangkan opacimeter diesel mengukur 'koefisien absorbsi cahaya (m⁻¹)'.

  • Headlight tester mengukur intensitas cahaya (cd) dan sumbu cahaya dengan tekanan ban sesuai spesifikasi serta '1 orang pengemudi di atas kendaraan'.
KosakataArti
wawancara pelanggan dan konfirmasi gejala
CO/HC tester dan penyetelan titik nol
opacimeter (koefisien absorbsi cahaya m⁻¹)
headlight tester dan brake tester

Poin yang Sering Keluar di Ujian dan Cara Mengingatnya

Pada ujian praktik tingkat 2 (3 tugas 21 soal) serta soal pemeriksaan dan pengukuran di ujian teori, 'cara membaca skala alat ukur' dan 'perhitungan serta penilaian Baik (良) / Tidak Baik (否)' secara langsung menentukan lulus atau tidaknya Anda.

Untuk Tugas 1 (Jatuh Tegangan Circuit Tester), siapkan jawaban cepat: 'Jangan lewatkan satuan V dan mV (0,0 mV = 0 V) di kanan layar', 'Sebelum lampu = 12 V, setelah lampu = 0 V adalah normal', 'Bila V5 setelah lampu adalah 6,00 V (Tidak Baik) dan V6 adalah 0,0 mV (Baik), maka kontak buruk berada di antara V5 dan V6'.

Untuk Tugas 2 (Compression Gauge), hafalkan: '4 syarat = Panaskan mesin, Hentikan injeksi BBM, Lepas busi SELURUH silinder, Buka penuh throttle' dan 'Selisih antar-silinder = Nilai tertinggi − Nilai terendah'. Untuk Tugas 3 (Dial Gauge), yang paling krusial adalah: 'Bersihkan & tempelkan ujung ukur tegak lurus 90° di tengah poros' serta 'Kebengkokan poros = Keolengan ÷ 2 (wajib dibagi dua!)'.

Untuk Jangka Sorong dan Mikrometer, kuasai dengan sempurna: 'Jangka sorong = Skala utama sebelum 0 nonius (1 mm) + Skala nonius yang berimpit (0,05 mm)', 'Mikrometer = Sleeve atas (1 mm) + Cek apakah garis 0,50 mm sleeve bawah terlihat + Thimble (0,01 mm)', 'Plastigage = semakin lebar gencetan semakin kecil celah oli'.

Poin penting


  • Circuit tester: bedakan 'V' dan 'mV (0,0 mV = 0 V)', dan tentukan bagian di antara 2 titik ukur yang tegangannya berubah drastis (misalnya antara V5 = 6,00 V dan V6 = 0,0 mV) sebagai lokasi rusak.

  • Pengukuran tekanan kompresi: ukur dengan 4 syarat 'Panaskan, Hentikan BBM, Lepas seluruh busi, Throttle buka penuh'; Selisih antar-silinder = Tertinggi − Terendah.

  • Dial gauge: tempelkan ujung ukur tegak lurus (90°), dan hitung 'Kebengkokan poros = Keolengan ÷ 2' sebelum dibandingkan dengan nilai limit.

  • Jangka sorong & mikrometer: baca skala utama sebelum '0' nonius pada jangka sorong, dan hati-hati jangan melewatkan 'garis skala 0,5 mm di sleeve bawah' pada mikrometer.
KosakataArti
diagnosis jatuh tegangan (membedakan V dan mV)
4 syarat pengukuran tekanan kompresi dan selisih antar-silinder
kebengkokan poros (Keolengan ÷ 2)
skala 0,5 mm sleeve dan skala nonius

Praktik: Diagnosis, Pengukuran & Inspeksi Akhir

Latihan soal bab ini di aplikasi

Referensi resmi

💬

Zalo