VIENID Mulai latihan

Beranda › Materi › Konstruksi – Bangunan (Tokutei 2)

Tugas Mandor (Shokuchou) & Manajemen Proyek (QCDSE)

Konstruksi – Bangunan (Tokutei 2) · 建設分野(2号・建築区分) · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

Peran Mandor, Teori Kepemimpinan PM, dan Sistem CCUS

Mandor (Shokuchou) adalah penghubung utama antara kepala proyek / insinyur utama kontraktor utama dan para pekerja terampil, memahami rencana pelaksanaan dan kebijakan keselamatan untuk memimpin langsung demi keselamatan dan kualitas.

Mandor yang merangkap sebagai 'Penanggung Jawab K3 (Anzen eisei sekininsha)' subkontraktor bertugas menghubungi Penanggung Jawab K3 Umum kontraktor utama serta menyampaikan dan mengelola arahan tersebut kepada anggota timnya.

Dalam 'Teori Kepemimpinan PM', tindakan menunjukkan prosedur dan memberi instruksi demi mencapai target mutu dan jadwal disebut 'Fungsi P (Pencapaian Target)', sedangkan mendengarkan pendapat dan keluhan pekerja agar tercipta suasana kerja sama disebut 'Fungsi M (Pemeliharaan Kelompok)'.

Dalam Construction Career Up System (CCUS), pekerja inti setingkat mandor/kepala regu mendapat 'Kartu Perak (Level 3)'. Mandor wajib memberi teladan kepatuhan hukum (compliance) dan dilarang keras berkata kasar atau membimbing secara intimidatif (pelecehan kekuasaan).

Peran Mandor, Teori Kepemimpinan PM, dan Sistem CCUS

Poin penting


  • Dalam teori PM, 'Fungsi P' adalah instruksi pencapaian target, sedangkan 'Fungsi M' adalah menjaga keharmonisan dan kerja sama tim.

  • Pada sistem CCUS, kartu Level 3 untuk pekerja inti setingkat mandor adalah 'Kartu Perak (Silver card)'.

  • Melapor ke kontraktor utama harus 'memisahkan fakta dan dugaan serta menyampaikan kesimpulan lebih dulu secara singkat'.
KosakataArti
Teori Kepemimpinan PM (Fungsi P & Fungsi M)
Penanggung Jawab K3 Subkontraktor (Anzen eisei sekininsha)
Kartu Perak Level 3 CCUS (Tingkat Mandor)

Instruksi Kerja (5W1H), 4 Tahap OJT, Bimbingan Pekerja Asing, dan Patroli

Prosedur kerja tertulis harus membagi pekerjaan menjadi langkah-langkah disertai 'poin kunci dan alasannya'; segera setelah apel pagi, mandor mengadakan 'Tool Box Meeting (TBM)' per regu di dekat lokasi kerja dan memberi instruksi jelas dengan '5W1H (Kapan, Di mana, Siapa, Apa, Mengapa, Bagaimana)'.

Empat tahap pelatihan kerja 'OJT (On-the-Job Training)' yang benar adalah: '① Memberi contoh (memperagakan) → ② Menjelaskan dan menguraikan alasan → ③ Meminta mencoba melakukan → ④ Memeriksa dan memberi bimbingan tambahan (memuji/mengoreksi)'.

Kepada pekerja asing yang bahasa Jepangnya belum lancar, gunakan bahasa sederhana, benda asli atau gambar, dan minta mereka 'mengulangi ucapan (Fukushou)' untuk memastikan pemahaman. Dengarkan keluhan bawahan sampai selesai sebelum memberi saran, dan tegur tindakan tidak aman dengan menunjukkan fakta, alasan, serta cara yang benar.

Saat 'patroli tempat kerja (Shokuba junshi)', periksa kepatuhan prosedur dan pemakaian APD, lalu perbaiki titik tidak aman di tempat. Setelah pekerjaan api seperti pengelasan, jangan langsung mengunci dan pulang hanya karena sudah menyiram air, melainkan awasi sisa bara api selama waktu tertentu.

Poin penting


  • Urutan 4 tahap OJT: Peragakan → Jelaskan → Minta mencoba → Periksa dan beri bimbingan tambahan.

  • Adakan TBM setelah apel pagi dengan instruksi 5W1H; gunakan benda asli/gambar dan pengulangan (Fukushou) bagi pekerja asing.

  • Koreksi tindakan tidak aman di tempat saat patroli, dan pantau sisa bara api setelah pekerjaan las sebelum meninggalkan lokasi.
KosakataArti
Pelatihan di tempat kerja (OJT)
Metode instruksi 5W1H
Patroli tempat kerja (Shokuba junshi)

Lima Manajemen Utama (QCDSE), Siklus PDCA, dan Tujuh Alat QC

Dalam 5 manajemen utama (QCDSE), memastikan bangunan dibuat sesuai ukuran, kekuatan, dan ketelitian pada gambar dan spesifikasi disebut 'Manajemen Kualitas', sedangkan membandingkan biaya aktual dengan 'anggaran pelaksanaan (Jikkou yosan)' untuk mencari penyebab selisih disebut 'Manajemen Biaya'.

Lima unsur produksi '5M' adalah Men (Tenaga kerja), Materials (Material), Machinery (Mesin), Methods (Metode), dan Money (Dana), sedangkan siklus perbaikan berkelanjutan adalah 'P (Plan) → D (Do) → C (Check) → A (Act)'.

Dalam 'Tujuh Alat QC', grafik yang menampilkan jumlah cacat per kategori dengan diagram batang menurun dan garis rasio kumulatif untuk memfokuskan masalah utama adalah 'Diagram Pareto', sedangkan diagram berbentuk tulang ikan untuk menyusun faktor penyebab adalah 'Diagram Sebab-Akibat (Tokusei youinzu)'.

Diagram yang memplot titik dua data berpasangan (misalnya suhu dan kuat tekan beton) pada sumbu vertikal dan horizontal untuk melihat korelasi adalah 'Diagram Pencar (Scatter diagram)', sedangkan grafik batang frekuensi per interval untuk melihat sebaran variasi adalah 'Histogram'.

Poin penting


  • 5M adalah Men, Materials, Machinery, Methods, Money; siklus PDCA adalah Plan → Do → Check → Act.

  • Memfokuskan masalah utama dengan grafik batang dan garis kumulatif adalah 'Diagram Pareto'; diagram tulang ikan adalah 'Diagram Sebab-Akibat'.

  • Melihat korelasi 2 data memakai 'Diagram Pencar (Sanpuzu)', dan melihat distribusi variasi memakai 'Histogram'.
KosakataArti
Diagram Pareto
Diagram Sebab-Akibat / Tulang Ikan (Tokusei youinzu)
Diagram Pencar (Sanpuzu) & Histogram

Manajemen Jadwal, Indeks Tenaga Kerja (Bugakari), Kerja Tumpang Tindih & Cuaca Buruk

Tabel jadwal dengan jenis pekerjaan pada sumbu vertikal, tanggal pada sumbu horizontal, dan garis batang mendatar sebagai durasi disebut 'Jadwal Bar Chart'; indeks jumlah hari-orang (Ninku) yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu satuan volume pekerjaan disebut 'Bugakari'.

Perhitungan hari kerja: Total 240 hari-orang (Ninku) selesai dalam 20 hari butuh 12 orang/hari; bekisting 480 m² dengan kapasitas 6 m²/orang/hari oleh 8 orang (48 m²/hari) butuh 10 hari. Pekerjaan 60 Ninku oleh 6 orang selama 3 hari (18 Ninku) lalu ditambah menjadi 8 orang (sisa 42 ÷ 8 = 5,25 → 6 hari) selesai pada hari ke-9.

Jika pekerjaan A (3 hari) diikuti B (4 hari) dan C (6 hari) secara bersamaan, lalu D (2 hari) setelah B dan C selesai, durasi tercepat adalah 3 + 6 + 2 = 11 hari. Saat jadwal terlambat akibat cuaca, hindari kerja kebut-kebutan (Tokkan sagyou) dan tinjau ulang rencana dalam batas aman dan bermutu.

Saat terjadi 'pekerjaan tumpang tindih (Konzai sagyou)' antarbidang di lokasi yang sama, ikuti rapat koordinasi kontraktor utama untuk mengatur jam dan area kerja; saat diprediksi topan atau hujan badai, amankan perancah/material agar tidak terbang dan segera hentikan kerja bila cuaca melewati batas.

Poin penting


  • Jumlah hari-orang per satuan volume kerja disebut 'Bugakari', dan tabel jadwal batang mendatar disebut 'Bar chart'.

  • 60 Ninku (6 orang × 3 hari = 18; sisa 42 ÷ 8 = 6 hari) selesai pada 'hari ke-9'; jalur A(3h)→B(4h)//C(6h)→D(2h) butuh '11 hari'.

  • Koordinasikan waktu dan tempat pada pekerjaan tumpang tindih, serta cegah material terbang dan hentikan kerja saat cuaca ekstrem.
KosakataArti
Indeks kebutuhan tenaga kerja per satuan volume (Bugakari)
Tabel jadwal Bar Chart (Bar chart kouteihyou)
Pekerjaan campuran / tumpang tindih (Konzai sagyou)

Tugas Mandor dan Manajemen Lokasi

Latihan soal bab ini di aplikasi

Referensi resmi