VIENID Mulai latihan

Beranda › Materi › Sertifikat Perakitan Peralatan Listrik – Panel 電気機器組立て (teori Kelas 2)

Gambar Teknik Mesin, Simbol Gambar Listrik, Nomor Perangkat Kontrol, dan Diagram Sekuens (Standar JIS / JEM)

Sertifikat Perakitan Peralatan Listrik – Panel 電気機器組立て (teori Kelas 2) · 技能検定「電気機器組立て」2級 学科(配電盤・制御盤組立て) · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

Proyeksi Sudut Ketiga, Jenis Garis, dan Aturan Pencantuman Dimensi pada Gambar Mesin (JIS B 0001)

Dalam gambar mesin menurut Standar Industri Jepang (JIS B 0001), pada prinsipnya digunakan "proyeksi sudut ketiga". Dengan "pandangan depan" sebagai acuan utama, di bagian atasnya ditempatkan "pandangan atas (denah)", di sebelah kanannya "pandangan samping kanan", di sebelah kirinya "pandangan samping kiri", dan di bagian bawahnya "pandangan bawah".

Jenis garis yang digunakan dalam gambar ditetapkan sebagai: "garis tepi tampak = garis kontinu tebal" untuk bentuk luar yang terlihat, "garis tersembunyi = garis putus-putus" untuk bagian yang tidak terlihat, "garis sumbu = garis strip-titik tipis" untuk pusat lingkaran/simetri, "garis imajiner = garis strip-dua-titik tipis" untuk posisi gerak bagian bergerak, dan "garis kontinu tipis" untuk garis dimensi serta garis penunjuk.

Simbol yang dicantumkan di depan angka dimensi adalah: diameter "φ (maru)", jari-jari "R", sisi bujur sangkar "□ (kaku)", diameter dan jari-jari bola "Sφ, SR", tebal pelat "t", serta chamfer 45° "C (contoh: C2 berarti 2mm × 45°)".

Dalam aturan dimensi JIS, "garis dimensi sudut" digambar sebagai "busur lingkaran" yang berpusat pada titik potong (titik puncak) dua sisi pembentuk sudut tersebut, dan bila sudut pusat busur juring berukuran besar maka garis bantu dimensi ditarik secara radial menuju pusat (menggambar garis lurus untuk sudut atau menarik garis bantu sejajar adalah salah).

Selain itu, pada garis dimensi yang menunjukkan jari-jari R suatu busur, tanda panah hanya diberikan pada sisi busur dan tidak diberikan pada sisi pusat. Jika terdapat beberapa lubang berukuran sama, jumlahnya ditulis di depan seperti "4−φ9 (4 buah lubang berdiameter 9mm)".

Poin penting


  • Pada proyeksi sudut ketiga, pandangan atas ditempatkan di atas dan pandangan samping kanan di kanan pandangan depan; garis tampak memakai garis kontinu tebal, garis tersembunyi memakai garis putus-putus, dan garis sumbu memakai garis strip-titik tipis

  • Simbol bantu dimensi adalah "φ" untuk diameter, "R" untuk jari-jari, "□" untuk sisi persegi, "t" untuk tebal pelat, dan "C" untuk chamfer 45°

  • Garis dimensi sudut digambar berupa busur lingkaran berpusat di titik puncak, sedangkan garis dimensi jari-jari R hanya diberi panah di sisi busur
KosakataArti
Proyeksi sudut ketiga (pandangan depan, pandangan atas, pandangan samping kanan)
Garis tepi tampak (kontinu tebal), garis tersembunyi (putus-putus), garis sumbu (strip-titik)
Simbol bantu dimensi (φ, R, □, t, C)
Aturan pencantuman dimensi sudut, busur, dan jari-jari menurut JIS

Sistem Suaian (Suaian Longgar, Suaian Pas, Suaian Sesak), Toleransi Bentuk/Posisi, dan Kekasaran Permukaan

Hubungan kekencangan (atau kelonggaran) saat memasangkan poros dan lubang disebut "suaian (hameai)", yang oleh JIS diklasifikasikan menjadi 3 jenis berdasarkan hubungan posisi daerah toleransi lubang dan poros: "suaian longgar", "suaian sesak", dan "suaian pas (transisi)".

"Suaian longgar (clearance fit)" memiliki ukuran batas minimum lubang lebih besar daripada ukuran batas maksimum poros, sehingga selalu menghasilkan "celah (clearance)" saat dirakit. Sebaliknya, "suaian sesak (interference fit)" memiliki ukuran poros yang selalu lebih besar daripada lubang sehingga selalu menghasilkan "kesesakan (interference)".

"Suaian pas (transition fit)" memiliki daerah toleransi lubang dan poros yang saling tumpang tindih, sehingga tergantung ukuran aktual lubang dan poros setelah pengerjaan, "terdapat kemungkinan menghasilkan celah maupun kesesakan". Umumnya banyak digunakan "suaian sistem lubang dasar" yang menjadikan daerah toleransi lubang (seperti H7) sebagai acuan dan mengubah ukuran poros.

"Toleransi bentuk dan posisi (JIS B 0021)" yang menentukan ketelitian bentuk, orientasi, dan posisi komponen meliputi "kerataan (flatness)" yang menunjukkan kerataan bidang, serta "kesejajaran, ketegaklurusan, kesumbuan (koaksialitas), dan posisi" terhadap bidang acuan (datum).

"Tekstur permukaan (kekasaran permukaan: JIS B 0601)" yang menunjukkan kehalusan permukaan hasil pemesinan menggunakan kekasaran rata-rata aritmatika "Ra (satuan: μm)" dan kekasaran tinggi maksimum "Rz", di mana nilai yang semakin kecil menunjukkan permukaan akhir yang semakin halus.

Poin penting


  • Suaian terdiri dari "suaian longgar" yang selalu bercelah, "suaian sesak" yang selalu sesak, dan "suaian pas" yang dapat bercelah atau sesak tergantung ukuran aktual

  • Dalam pemesinan, "suaian sistem lubang dasar" yang menjaga daerah toleransi lubang (H) tetap dan mengubah daerah toleransi poros digunakan secara luas

  • Kekasaran permukaan menggunakan "kekasaran rata-rata aritmatika (Ra)" dan "kekasaran tinggi maksimum (Rz)"
KosakataArti
Suaian longgar, suaian pas (transisi), dan suaian sesak
Suaian sistem lubang dasar dan toleransi ukuran
Toleransi bentuk dan posisi (kerataan, kesejajaran, ketegaklurusan) serta datum
Tekstur permukaan (kekasaran rata-rata aritmatika Ra, tinggi maksimum Rz)

Diagram Pengawatan Panel Distribusi dan Kontrol (Diagram Satu Garis, Diagram Sekuens, dan Diagram Pengawatan Belakang)

Gambar yang digunakan dalam perancangan, pembuatan, dan pemeliharaan panel distribusi dan panel kontrol selain "gambar bentuk luar (gambar konstruksi)" yang menunjukkan dimensi luar dan tata letak komponen, meliputi "diagram koneksi satu garis", "diagram koneksi bentang (diagram sekuens)", dan "diagram koneksi sisi belakang (diagram koneksi internal)".

"Diagram koneksi satu garis (skeleton diagram)" mewakili rangkaian banyak fasa seperti 3 fasa 3 kawat hanya dengan "1 garis tunggal", menggunakan simbol gambar listrik, nomor perangkat kontrol, dan simbol huruf agar konfigurasi keseluruhan serta hubungan sambungan peralatan rangkaian utama, alat ukur, dan relai proteksi dapat dipahami dalam sekali pandang.

"Diagram koneksi bentang (diagram sekuens)" tidak terikat pada posisi pemasangan fisik atau bentuk luar peralatan, melainkan memisahkan "koil kerja" dan "tiap kontak" dari kontaktor magnetik maupun relai menurut fungsinya, lalu membentangkannya agar aliran arus dan urutan operasi kontrol (sekuens) paling mudah dipahami.

Pada diagram sekuens, pada prinsipnya rangkaian disusun sesuai urutan kerja dari rel sumber atas atau kiri menuju ke bawah atau kanan, dan semua kontak digambar dalam "kondisi tanpa eksitasi (kondisi normal/kembali) saat sumber daya mati dan tanpa gaya luar".

"Diagram koneksi sisi belakang (diagram koneksi internal / diagram pengawatan fisik)" digambar sesuai tata letak peralatan dan posisi blok terminal aktual sebagaimana dilihat dari "sisi belakang (sisi kerja pengawatan)" panel, menunjukkan secara langsung terminal mana dihubungkan ke terminal mana dengan kabel apa untuk pekerjaan produksi dan pengawatan.

Diagram Pengawatan Panel Distribusi dan Kontrol (Diagram Satu Garis, Diagram Sekuens, dan Diagram Pengawatan Belakang)

Poin penting


  • "Diagram koneksi satu garis" menggunakan simbol gambar dan nomor perangkat kontrol untuk menyatakan konfigurasi peralatan dan hubungan sambungan seluruh rangkaian utama multi-fasa dengan satu garis

  • "Diagram koneksi bentang (diagram sekuens)" memisahkan koil dan kontak berdasarkan fungsi tanpa memandang tata letak fisik agar urutan kerja kontrol mudah dipahami

  • "Diagram koneksi sisi belakang" menunjukkan sambungan kabel sesuai posisi komponen dan susunan terminal aktual dilihat dari belakang panel untuk pekerjaan pengawatan
KosakataArti
Diagram koneksi satu garis (skeleton diagram / diagram konfigurasi total)
Diagram koneksi bentang (diagram sekuens / tata letak fungsional)
Diagram koneksi sisi belakang (diagram koneksi internal / untuk kerja pengawatan)
Gambar bentuk luar (gambar konstruksi) dan gambar tata letak peralatan

Simbol Gambar Listrik (JIS C 0617): Kontak-a, Kontak-b, Sakelar Operasi, dan Kontak tunda Timer

Dalam JIS C 0617 (Simbol Gambar untuk Teknik Listrik), kontak yang terbuka pada kondisi normal saat tidak dioperasikan (tanpa eksitasi) dan menutup menghantarkan arus saat dioperasikan disebut "kontak Make (kontak-a: normally open NO)". Pada gambar vertikal, bilah kontak gerak digambar di "sisi kanan" kontak diam, dan pada gambar horizontal di "sisi atas".

Sebaliknya, kontak yang tertutup pada kondisi normal saat tidak dioperasikan dan membuka memutus rangkaian saat dioperasikan disebut "kontak Break (kontak-b: normally closed NC)". Pada gambar vertikal digambar di "sisi kiri", dan pada gambar horizontal di "sisi bawah". Adapun kontak pindah dengan terminal bersama disebut "kontak-c (kontak transfer)".

Pada simbol gambar yang menunjukkan metode operasi kontak, simbol operasi digambar di sisi yang sama dengan arah gerak bilah kontak. Ujung bagian operasi berbentuk "huruf T (palang datar)" menyatakan "sakelar operasi manual" umum, bentuk "tutup huruf U siku" menyatakan "sakelar tombol tekan (pushbutton switch)", dan bentuk panah tarik menyatakan "sakelar tarik (pull switch)".

Selain itu, "limit switch (sakelar pendeteksi posisi)" yang bekerja karena sentuhan mekanis (nok atau dog) diberi tanda segitiga pada bilah kontaknya, sedangkan "sakelar suhu (thermal switch)" yang bekerja karena suhu dibedakan dengan tanda persegi atau simbol suhu.

Pada "kontak tunda waktu" dari timer (relai tunda waktu), "kontak on-delay (kerja tunda waktu, kembali seketika)"—yang bekerja setelah waktu tunda tertentu sejak koil diberi daya dan kembali seketika saat daya diputus—digambar dengan busur setengah lingkaran (tanda payung parasut) yang menggembung ke arah kerja (arah bergeraknya kontak).

Poin penting


  • Kontak yang menutup saat bekerja disebut "kontak Make (kontak-a)", sedangkan kontak yang membuka saat bekerja disebut "kontak Break (kontak-b)"

  • Pada simbol JIS, garis operasi berujung huruf T menunjukkan "sakelar operasi manual" umum, sedangkan ujung huruf U siku menunjukkan "sakelar tombol tekan"

  • Kontak on-delay (kerja tunda waktu, kembali seketika) pada timer dinyatakan dengan simbol setengah lingkaran yang membuka ke arah gerak kerja kontak
KosakataArti
Kontak Make (kontak-a) dan kontak Break (kontak-b)
Simbol gambar sakelar operasi manual dan sakelar tombol tekan
Simbol gambar limit switch dan sakelar suhu
Kontak tunda waktu on-delay dan kontak tunda waktu off-delay

Nomor Perangkat Kontrol JEM (27, 49, 51, 52, 59, 72, 88) dan Simbol Huruf (RSC, X, Y, W)

Standar Asosiasi Industri Manufaktur Listrik Jepang (JEM 1090) menetapkan "nomor perangkat dasar (nomor perangkat kontrol)" berdasarkan fungsi untuk setiap peralatan di panel distribusi dan kontrol. Untuk kelompok tegangan: "27 = Relai tegangan kurang AC (UVR)", "59 = Relai tegangan lebih AC (OVR)", dan "64 = Relai tegangan lebih gangguan tanah (OVGR)".

Untuk kelompok arus, panas, dan sinkronisasi ditetapkan: "49 = Relai termal AC (thermal relay THR)", "51 = Relai arus lebih AC (OCR)", "67 = Relai arus lebih terarah AC (relai gangguan tanah terarah DGR)", "25 = Perangkat deteksi sinkron atau penutup sinkron", dan "30 = Relai penunjuk (indikator gangguan)".

Untuk kelompok sakelar dan pemutus sirkuit: "52 = Pemutus sirkuit AC (CB)", "72 = Pemutus sirkuit DC (DCCB)", "42 = Pemutus sirkuit atau kontaktor operasi", "43 = Sakelar pemindah kontrol manual", "88 = Motor bantu atau kontaktor magnetik motor", dan "89 = Sakelar pemisah (disconnector DS)" (pernyataan bahwa 72 adalah relai arus lebih DC adalah salah).

Selain itu, simbol huruf JEM yang menyatakan metode kontrol ditetapkan sebagai: "AMC = Kontrol otomatis", "SQC = Kontrol sekuens", "PMC = Kontrol program", dan "RSC = Kontrol pengawasan jarak jauh (remote supervisory control)" (menyebut RSC sebagai kontrol pengikut / follow-up control adalah jebakan ujian yang sering keluar).

Selanjutnya dalam simbol huruf JEM untuk perangkat bantu pemutus sirkuit: "CC = Koil penutup (closing coil)", "TC = Koil pelepas (trip coil)", "X = Relai bantu penutup", "Y = Relai pencegah pemompaan (anti-pumping relay)", dan "W = Sakelar bantu (auxiliary switch)" (pilihan yang menyebut W sebagai relai bebas trip adalah salah).

Poin penting


  • Nomor perangkat kontrol JEM adalah "27 = Relai tegangan kurang AC, 49 = Thermal relay, 51 = Relai arus lebih AC, 52 = Pemutus sirkuit AC, 59 = Relai tegangan lebih AC"

  • Nomor perangkat "25" adalah perangkat penutup sinkron (deteksi sinkron) dan "72" adalah pemutus sirkuit DC; menyebut 72 sebagai relai arus lebih DC adalah salah

  • Dalam simbol huruf JEM, "RSC = Kontrol pengawasan jarak jauh (bukan kontrol pengikut)", serta "X = Relai bantu penutup, Y = Relai anti-pumping, W = Sakelar bantu"
KosakataArti
Nomor perangkat dasar (27: UVR, 51: OCR, 59: OVR)
Nomor perangkat 25 (sinkronisasi), 52 (CB AC), dan 72 (CB DC)
Simbol huruf metode kontrol (AMC, SQC, PMC, RSC = kontrol pengawasan jarak jauh)
Simbol perangkat bantu CB (X: bantu penutup, Y: anti-pumping, W: sakelar bantu)

Rangkaian Sekuens Dasar (AND, OR, Rangkaian Pengunci Diri / Self-Holding, dan Prioritas Berhenti)

Dalam rangkaian dasar kontrol sekuens, rangkaian yang menghubungkan 2 kontak-a secara "seri" sehingga lampu atau relai bekerja hanya bila keduanya ditekan adalah "rangkaian AND (perkalian logika)", sedangkan menghubungkan 2 kontak-a secara "paralel" sehingga bekerja cukup dengan menekan salah satu adalah "rangkaian OR (penjumlahan logika)".

Sakelar tombol tekan start tipe kembali otomatis BS1 (kontak-a) akan membuka kembali begitu jari dilepas. Oleh karena itu, rangkaian yang disusun untuk mempertahankan kondisi kerja kontaktor magnetik MC meskipun jari telah dilepas disebut "rangkaian pengunci diri (self-holding circuit)".

Rangkaian pengunci diri dibuat dengan menghubungkan "kontak bantu-a (MC-a)" milik kontaktor magnetik itu sendiri secara "paralel" dengan tombol tekan start BS1 (kontak-a). Begitu koil MC tereksitasi, MC-a menutup sehingga arus tetap mengalir melalui MC-a walaupun jari dilepas dari BS1.

Untuk melepas penguncian diri dan menghentikan operasi, tombol tekan stop BS2 (kontak-b) serta kontak thermal relay pelindung beban lebih (THR-b) dihubungkan secara "seri" terhadap bagian paralel pengunci diri dan koil.

Dengan demikian, seandainya tombol start BS1 dan tombol stop BS2 ditekan bersamaan, atau saat thermal relay THR bekerja akibat beban lebih, arus koil akan terputus dengan pasti untuk berhenti secara aman, membentuk "rangkaian prioritas berhenti (prioritas putus)".

Rangkaian Sekuens Dasar (AND, OR, Rangkaian Pengunci Diri / Self-Holding, dan Prioritas Berhenti)

Poin penting


  • Rangkaian pengunci diri (self-holding) dibentuk dengan menghubungkan "kontak bantu-a" milik kontaktor magnetik atau relai itu sendiri secara "paralel" dengan tombol tekan start (kontak-a)

  • Tombol tekan stop (kontak-b) dan kontak-b thermal relay dihubungkan secara "seri" dengan koil rangkaian pengunci diri

  • Menempatkan kontak-b stop secara seri di sisi sumber membentuk "rangkaian prioritas putus (prioritas berhenti)" yang berhenti dengan aman meskipun tombol start dan stop ditekan bersamaan
KosakataArti
Rangkaian AND (seri) dan rangkaian OR (paralel) dengan kontak
Rangkaian pengunci diri / self-holding (kontak bantu-a paralel dengan kontak-a start)
Rangkaian prioritas berhenti (prioritas putus: kontak-b stop dihubungkan seri)
Pemutusan beban lebih melalui kontak-b thermal relay (THR)

Rangkaian Interlock dan Rangkaian Utama Putar Maju/Mundur Motor Induksi Tiga Fasa

Pada operasi putar maju dan mundur (operasi bolak-balik / reversible) motor induksi tiga fasa, digunakan 2 buah kontaktor magnetik yaitu kontaktor maju MCF dan kontaktor mundur MCR. Jika MCF dan MCR menutup secara bersamaan, antar fasa sumber di rangkaian utama akan terhubung langsung dan menimbulkan "kecelakaan hubung singkat sumber daya" yang hebat.

Oleh sebab itu, pada rangkaian utama tiga fasa (R, S, T atau L1, L2, L3), sambungan antara MCF dan MCR dilakukan dengan "menghubungkan langsung 1 dari 3 kabel (misalnya fasa S di tengah) ke fasa yang sama, dan hanya menukar posisi 2 kabel sisanya (misalnya fasa R dan fasa T)".

Dalam soal ujian gambar rangkaian utama putar maju-mundur, gambar yang "menghubungkan ke-3 kabel dengan urutan fasa tetap sama (tidak berbalik arah)", "menggeser urutan ke-3 fasa secara berurutan (R→S, S→T, T→R: urutan putaran fasa tidak berubah sehingga tidak berbalik arah)", atau "terjadi hubung singkat antar fasa" sering dimunculkan sebagai pilihan yang salah.

Selain itu pada rangkaian kontrol, rangkaian yang mengunci agar selama salah satu bekerja maka pihak lainnya sama sekali tidak dapat bekerja disebut "rangkaian interlock (rangkaian pencegah penutupan bersamaan)".

Pada interlock elektrik, "kontak bantu-b sisi mundur (MCR-b) dipasang seri dengan koil maju MCF, dan kontak bantu-b sisi maju (MCF-b) dipasang seri dengan koil mundur MCR" agar saling mencegah penutupan lawan, serta dikombinasikan dengan interlock tombol tekan atau interlock mekanis.

Poin penting


  • Pada rangkaian utama putar maju-mundur motor induksi tiga fasa, "hanya 2 dari 3 fasa yang ditukar" di antara kontaktor magnetik maju dan mundur

  • Menggeser ketiga kabel secara berurutan (R→S→T→R) tidak mengubah arah medan magnet putar sehingga motor tidak berbalik arah

  • Untuk mencegah hubung singkat akibat penutupan maju dan mundur bersamaan, disusun rangkaian interlock dengan memasang "kontak bantu-b" lawan secara seri pada masing-masing koil
KosakataArti
Rangkaian utama putar maju-mundur (rangkaian reversibel: menukar 2 dari 3 kabel)
Rangkaian interlock (pencegah penutupan bersamaan / rangkaian pengunci)
Interlock elektrik menggunakan kontak bantu-b pihak lawan
Interlock tombol tekan dan interlock mekanis

Rangkaian Timer (Sekuens Pengasutan Y-△), Time Chart, dan Diagram Ladder PLC

Pada "rangkaian pengasutan bintang-delta (Y-△)" yang merupakan rangkaian utama yang menggunakan timer (relai tunda waktu TLR), saat tombol start ditekan maka kontaktor magnetik utama MCM, kontaktor bintang MCY, dan timer TLR menyala (ON) bersamaan, mengasut motor dengan tegangan rendah pada hubungan Y.

Setelah waktu setelan timer terlampaui, kontak-b tunda waktu timer membuka untuk mematikan (OFF) MCY, dan kontak-a tunda waktu menutup untuk menyalakan (ON) kontaktor delta MCD, beralih ke operasi normal hubungan △. Pada saat itu di antara MCY dan MCD juga wajib dipasang rangkaian interlock.

Gambar yang menyajikan status ON/OFF setiap peralatan, kontak, dan lampu indikator sepanjang berjalannya waktu (sumbu mendatar) dalam bentuk pita atau grafik garis patah disebut "time chart (diagram waktu kerja)", digunakan untuk memeriksa dan merancang operasi beda waktu yang rumit.

Selain itu, "diagram ladder (diagram tangga)" yang paling banyak digunakan sebagai bahasa pemrograman PLC menuliskan logika di antara rel vertikal kiri dan kanan dengan simbol yang sangat mirip diagram sekuens. Instruksi dasarnya meliputi kontak-a awal baris "LD", kontak-b awal baris "LDI", sambungan seri "AND / ANI", sambungan paralel "OR / ORI", dan output koil "OUT".

Apabila tombol darurat eksternal (kontak-b fisik) dihubungkan ke terminal input PLC (misalnya X1), pada keadaan normal input X1 selalu ON; oleh karena itu di dalam diagram ladder dipasang "kontak-a" X1 secara seri sehingga saat tombol ditekan (atau kabel putus) sinyal menjadi OFF dan menghentikan mesin secara fail-safe.

Poin penting


  • Dalam sekuens pengasutan Y-△, kontak tunda waktu timer secara otomatis mengalihkan kontaktor magnetik bintang (MCY) ke delta (MCD), dengan interlock di antara keduanya

  • Gambar yang menampilkan status ON/OFF peralatan dan kontak sepanjang sumbu waktu disebut "time chart"

  • Dalam diagram ladder PLC, kontrol sekuens ditulis menggunakan instruksi seperti LD (mulai dengan kontak-a), AND (seri), OR (paralel), dan OUT (output)
KosakataArti
Rangkaian sekuens pengasutan bintang-delta (Y-△)
Time chart (diagram waktu kerja)
Diagram ladder PLC (instruksi LD, AND, OR, OUT)
Input kontak-b eksternal dan desain fail-safe

Gambar, Simbol & Diagram Sekuensial

Latihan soal bab ini di aplikasi

Referensi resmi

Zalo