VIENID Mulai latihan

Beranda › Materi › Restoran (Tokutei 2)

Manajemen Operasional Restoran, Perhitungan Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Keselamatan

Restoran (Tokutei 2) · 外食業(2号) · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

3 Karakteristik Industri Restoran, Prioritas QSCA, dan Siklus PDCA

Dibandingkan industri manufaktur atau ritel, industri jasa boga memiliki 3 karakteristik utama: 'industri berbasis lokasi', 'industri padat karya', dan 'keserentakan produksi dan konsumsi'.

Dalam indikator dasar QSCA, huruf 'Q (Kualitas hidangan/produk)' diprioritaskan dengan urutan: (1) penyeragaman kualitas produk (kepatuhan resep), (2) suhu yang tepat, dan (3) penyajian cepat.

Untuk perbaikan kerja berkelanjutan, putar siklus manajemen PDCA secara berurutan: Plan (Rencana) → Do (Pelaksanaan) → Check (Evaluasi/Verifikasi) → Action (Perbaikan/Tindakan).

Demi menjaga produktivitas kerja toko, tolok ukur penjualan bulanan per karyawan tetap minimal adalah 700.000 yen (70 man yen) atau lebih.

Poin penting


  • 3 karakteristik industri jasa boga: berbasis lokasi, padat karya, serta produksi dan konsumsi berlangsung bersamaan

  • Urutan prioritas Q (Kualitas): ke-1 konsistensi kualitas (patuh resep), ke-2 suhu yang tepat, ke-3 kecepatan saji

  • Putar PDCA dengan urutan Plan → Do → Check → Action; standar penjualan bulanan per karyawan tetap minimal 700.000 yen
KosakataArti
Industri berbasis lokasi
Industri padat karya
Keserentakan (produksi dan konsumsi)
Kepatuhan terhadap resep

Rumus Harga Pokok & Rasio Harga Pokok serta Pengendalian Selisih (Loss)

Pada laporan laba rugi (P/L), Harga Pokok Penjualan (HPP) = Persediaan Awal + Pembelian Periode Ini − Persediaan Akhir, sedangkan Laba Kotor = Penjualan − HPP.

Rasio Harga Pokok (%) = HPP ÷ Penjualan × 100. Contohnya jika penjualan bulanan 500 man yen, stok awal 30 man, pembelian 140 man, dan stok akhir 20 man, maka HPP adalah 150 man yen dan rasio harga pokok 30,0%.

Demikian pula jika penjualan 800 man yen, stok awal 50 man, pembelian 230 man, dan stok akhir 40 man, maka HPP = 50 + 230 − 40 = 240 man yen, dan rasio harga pokok = 240 ÷ 800 × 100 = 30,0%.

Penyebab utama selisih (loss) antara rasio harga pokok teoretis (standar) dan aktual adalah takaran berlebih (over-portion), pembuangan akibat salah masak/kedaluwarsa, serta salah hitung stok opname.

Poin penting


  • HPP = Stok Awal + Pembelian − Stok Akhir; Rasio Harga Pokok = HPP ÷ Penjualan × 100

  • Laba Kotor = Penjualan − Harga Pokok Penjualan (jika rasio harga pokok 30% maka margin laba kotor 70%)

  • Perbaiki selisih harga pokok teoretis dan aktual melalui kepatuhan takaran resep serta akurasi manajemen stok opname
KosakataArti
Harga pokok penjualan (biaya bahan makanan)
Laba kotor
Rasio harga pokok standar (teoretis)
Over-portion (takaran melebihi resep)

Perhitungan Biaya FL, Penjualan/Produktivitas Jam Kerja, dan Titik Impas

Biaya FL = Biaya Bahan (F) + Biaya Tenaga Kerja (L), dan Rasio FL = (F + L) ÷ Penjualan × 100. Contohnya jika omzet bulanan 600 man yen (atau 1.000 man yen) dengan rasio bahan 30% dan target FL ≤55%, maka rasio biaya tenaga kerja harus ≤25% (maksimal 150 man / 250 man yen).

Penjualan per Jam Kerja Orang = Penjualan ÷ Total Jam Kerja; Produktivitas Jam Kerja Orang = Laba Kotor ÷ Total Jam Kerja; Rasio Distribusi Tenaga Kerja = Biaya Tenaga Kerja ÷ Laba Kotor × 100.

Contohnya jika penjualan harian 450.000 yen, laba kotor 315.000 yen, dan total jam kerja 90 jam, maka Penjualan per Jam Kerja = 450.000 ÷ 90 = 5.000 yen dan Produktivitas Jam Kerja = 3.500 yen (untuk laba kotor bulanan 700 man ÷ 1.400 jam, produktivitasnya 5.000 yen).

Penjualan Titik Impas / Break-Even Point (saat laba usaha nol) = Biaya Tetap ÷ (1 − Rasio Biaya Variabel). Contohnya jika biaya tetap 180 man yen dan rasio biaya variabel 40% (0,4), maka titik impas = 180 man ÷ 0,6 = 300 man yen (atau 400 man yen jika biaya tetap 240 man yen).

Perhitungan Biaya FL, Penjualan/Produktivitas Jam Kerja, dan Titik Impas

Poin penting


  • Rasio FL = Rasio Bahan (F) + Rasio Tenaga Kerja (L); Rasio Distribusi Tenaga Kerja = Biaya Tenaga Kerja ÷ Laba Kotor × 100

  • Penjualan Jam Kerja = Penjualan ÷ Total Jam Kerja; Produktivitas Jam Kerja = Laba Kotor ÷ Total Jam Kerja

  • Penjualan Titik Impas = Biaya Tetap ÷ (1 − Rasio Biaya Variabel); menurunkan biaya tetap atau variabel akan menurunkan titik impas
KosakataArti
Rasio FL (rasio biaya bahan + tenaga kerja)
Rasio distribusi tenaga kerja
Produktivitas jam kerja orang (man-hour)
Penjualan titik impas (break-even sales)

Pemesanan, Penerimaan Barang, Stok Opname, Analisis Menu, dan Promosi

Metode pemesanan meliputi 'pemesanan kuantitas tetap' (memesan jumlah tetap saat stok menyentuh titik pesan kembali) dan 'pemesanan berkala' (menghitung kebutuhan pada hari terjadwal); menjelang libur panjang, hitung berdasarkan tabel pemesanan berbasis penjualan dan stok pengaman.

Saat penerimaan barang, tolak dan kembalikan bahan jika suhu abnormal atau berbau busuk; saat penyimpanan, terapkan prinsip Masuk Pertama Keluar Pertama (FIFO) dan 5S.

Dalam penghitungan stok fisik (stock opname), singkirkan barang rusak dan kardus kosong sebelumnya, hitung berpasangan 2 orang (1 penghitung dan 1 pencatat) dengan konfirmasi ulang suara, lalu ditandatangani penanggung jawab.

Menu engineering menganalisis menu dengan 2 sumbu: 'jumlah terjual (popularitas)' dan 'jumlah laba kotor'. Promosi menggunakan diskon paket (set) untuk menaikkan perputaran kursi serta sistem poin/kupon untuk mengikat pelanggan tetap.

Poin penting


  • Pemesanan kuantitas tetap memesan jumlah tetap pada reorder point; pemesanan berkala menghitung kebutuhan pada hari tetap

  • Lakukan stok opname fisik secara berpasangan (penghitung dan pencatat) dengan konfirmasi ulang dan hitung seluruh stok nyata

  • 2 indikator analisis menu (Menu Engineering) adalah 'jumlah porsi terjual (popularitas)' dan 'jumlah laba kotor'
KosakataArti
Metode pemesanan kuantitas tetap
Masuk pertama keluar pertama (FIFO)
Penghitungan stok fisik (stock opname)
Jumlah porsi terjual (volume penjualan)

Manajemen Ketenagakerjaan, OJT, Keamanan, Pencegahan Kebakaran, dan Lingkungan

Serahkan Surat Pemberitahuan Syarat Kerja secara tertulis saat merekrut staf. Jam kerja menurut UU adalah 8 jam/hari dan 40 jam/minggu (pengecualian 44 jam/minggu bagi restoran <10 pekerja); waktu istirahat ≥45 menit untuk kerja >6 jam dan ≥1 jam untuk kerja >8 jam.

Patuhi 5 Prinsip Pembayaran Upah (mata uang resmi, langsung, penuh, ≥1 kali sebulan, tanggal tetap), upah lembur/malam (masing-masing ≥25%, menjadi ≥50% jika bersamaan), pemeriksaan kesehatan berkala (1 kali/tahun, atau tiap 6 bulan bagi pekerja malam), dan Asuransi Kecelakaan Kerja.

Jalankan OJT dalam 4 tahap: (1) Show (peragakan) → (2) Tell (jelaskan) → (3) Do (minta mencoba) → (4) Check (evaluasi dan bimbing) memakai panduan visual bergambar/bahasa Jepang mudah, serta cegah pelecehan (harassment) dan kebocoran SNS.

Jika terjadi selisih kas kasir, periksa struk dan laporkan secara akurat; simpan uang penjualan di brankas tahan api terkunci. Jangan siram air ke kebakaran minyak goreng melainkan gunakan APAR; pilah sampah menjadi limbah umum usaha dan limbah industri untuk diserahkan ke perusahaan berizin.

Poin penting


  • Jam kerja UU 8 jam/hari & 40 jam/minggu (pengecualian <10 orang: 44 jam/minggu); libur minimal 1 hari/minggu atau 4 hari/4 minggu

  • 4 tahap OJT: Peragakan (Show) → Jelaskan (Tell) → Biarkan mencoba (Do) → Evaluasi dan bimbing (Check)

  • Gunakan APAR saat minyak terbakar, bersihkan lemak pada fire damper, basmi hama di panel listrik, dan bebaskan jalur evakuasi dari barang
KosakataArti
Jam kerja menurut undang-undang
Upah tambahan (upah lembur/kerja malam)
Pelatihan di tempat kerja (OJT)
Limbah industri

Referensi resmi