VIENID Mulai latihan

Beranda › Materi › Ujian Nasional 介護福祉士 (Care Worker Bersertifikat)

Hubungan Manusia dan Komunikasi (Part A - Kelompok Mata Uji 3)

Ujian Nasional 介護福祉士 (Care Worker Bersertifikat) · 介護福祉士国家試験(筆記) · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

Pembentukan Hubungan Manusia, Kesadaran Diri (Jikokakuchi), dan Jendela Johari

Agar pekerja kesejahteraan perawatan dapat membangun hubungan saling percaya (rapport) dengan pengguna, penting untuk terlebih dahulu menyadari prasangka, bias, serta 'efek halo (halo effect)' di mana penilaian terhadap seseorang terpengaruh oleh satu ciri yang menonjol.

Melihat kembali dan memahami secara objektif kepribadian, nilai-nilai, kebiasaan emosi, serta prasangka diri sendiri disebut 'kesadaran diri (jikokakuchi)', yang menjadi titik awal bagi seorang profesional untuk menerima pengguna apa adanya.

'Jendela Johari (Johari Window)' yang digagas oleh psikolog Joseph Luft dan Harry Ingham adalah model yang menjelaskan pemahaman diri dan hubungan interpersonal melalui 4 area.

Keempat area tersebut adalah 'Jendela Terbuka' (diketahui diri sendiri dan orang lain), 'Jendela Buta' (tidak disadari diri sendiri tetapi diketahui orang lain), 'Jendela Rahasia' (hanya diketahui diri sendiri), dan 'Jendela Tak Dikenal' (tidak diketahui keduanya).

Dengan menyampaikan pikiran dan perasaan secara tepat ('pengungkapan diri / self-disclosure') untuk mempersempit Jendela Rahasia serta menerima masukan ('feedback') dari orang lain untuk mengurangi Jendela Buta, maka 'Jendela Terbuka' akan meluas dan kesadaran diri semakin mendalam.

Poin penting


  • Memahami nilai-nilai, kecenderungan emosi, dan prasangka diri sendiri secara objektif disebut 'kesadaran diri (jikokakuchi)'

  • 'Jendela Johari' terdiri atas 4 area: Jendela Terbuka, Jendela Buta, Jendela Rahasia, dan Jendela Tak Dikenal

  • Memperluas 'Jendela Terbuka' melalui pengungkapan diri yang tepat dan umpan balik dari orang lain akan membangun hubungan yang harmonis
KosakataArti
kesadaran diri (jikokakuchi)
Jendela Johari (Terbuka, Buta, Rahasia, Tak Dikenal)
efek halo (halo effect) dan prasangka
rapport (hubungan saling percaya)

Frustrasi, Mekanisme Pertahanan Diri, dan Stress Coping

Kondisi ketika keinginan terhalang dan tidak terpenuhi disebut 'frustrasi', sedangkan kondisi bimbang di antara dua atau lebih keinginan yang saling bertentangan disebut 'konflik batin (conflict)'.

Proses psikologis bawah sadar untuk melindungi kestabilan batin (ego) dari kecemasan atau frustrasi yang kuat disebut 'mekanisme pertahanan diri (defense mechanism)'. Contoh utamanya adalah 'rasionalisasi' (memberi alasan yang tampak masuk akal) dan 'pembentukan reaksi (reaction formation)' (bersikap berkebalikan dari perasaan sebenarnya).

Selain itu, sering pula diujikan 'represi' (menekan ingatan buruk ke alam bawah sadar), 'regresi' (kembali ke perilaku kekanak-kanakan), 'proyeksi' (menganggap orang lain yang memiliki perasaan buruk kita), dan 'sublimasi' (mengalihkan dorongan ke aktivitas yang bernilai sosial).

Cara mengatasi stres secara sadar yang disebut 'stress coping (Lazarus)' terbagi menjadi 'problem-focused coping' (menyelesaikan atau mengurangi sumber stres itu sendiri) dan 'emotion-focused coping' (bercerita kepada orang lain atau melakukan penyegaran untuk meredakan emosi).

Misalnya, ketika beban kerja terlalu banyak, berdiskusi dengan atasan untuk meninjau pembagian tugas adalah 'problem-focused coping', sedangkan mendengarkan musik saat libur atau bercerita kepada rekan kerja untuk menenangkan perasaan adalah 'emotion-focused coping'.

Poin penting


  • Mekanisme pertahanan diri bekerja tanpa sadar untuk melindungi ego, meliputi rasionalisasi, pembentukan reaksi, represi, regresi, proyeksi, dan sublimasi

  • Cara mengatasi stres dengan bertindak langsung menyelesaikan masalahnya disebut 'problem-focused coping'

  • Cara mengatasi stres dengan meluapkan emosi atau relaksasi untuk menenangkan perasaan disebut 'emotion-focused coping'
KosakataArti
mekanisme pertahanan diri (rasionalisasi, pembentukan reaksi, regresi, proyeksi, sublimasi)
frustrasi dan konflik
problem-focused coping (koping berfokus masalah)
emotion-focused coping (koping berfokus emosi)

Prinsip Pembentukan Hubungan Bantuan (7 Prinsip Biestek)

Pakar kesejahteraan sosial Amerika Felix Biestek merangkum sikap dasar bagi tenaga profesional dalam membangun hubungan bantuan yang baik dengan klien (pengguna) menjadi '7 Prinsip Biestek'.

Prinsip ke-1 'Individualisasi' adalah memandang pengguna sebagai pribadi yang unik; prinsip ke-2 'Pengungkapan perasaan secara bertujuan' adalah mendorong pengguna mengekspresikan perasaannya secara bebas termasuk emosi negatif seperti marah atau sedih.

Prinsip ke-3 'Keterlibatan emosional yang terkendali' adalah berempati secara sadar tanpa hanyut dalam emosi; prinsip ke-4 'Penerimaan (acceptance)' adalah menerima pengguna apa adanya; prinsip ke-5 'Sikap tidak menghakimi' adalah tidak menilai baik-buruk atau mengkritik.

Prinsip ke-6 'Penentuan nasib sendiri (self-determination)' mendukung hak pengguna memilih dan memutuskan sendiri, dan prinsip ke-7 'Menjaga kerahasiaan' menjaga rahasia yang diketahui dalam tugas. Ketujuh prinsip ini menjadi pedoman utama dalam praktik perawatan.

Khususnya dalam ujian sering ditanyakan penerapan 'Penerimaan' dan 'Sikap tidak menghakimi', yaitu tidak menegur secara moral atau langsung menyalahkan 'Anda salah', melainkan menerima alasan mengapa pengguna merasakan hal tersebut.

Poin penting


  • 7 Prinsip Biestek meliputi: Individualisasi, Pengungkapan perasaan bertujuan, Keterlibatan emosional terkendali, Penerimaan, Sikap tidak menghakimi, Penentuan nasib sendiri, dan Kerahasiaan

  • 'Sikap tidak menghakimi' berarti tidak menghakimi atau menyalahkan ucapan maupun perilaku pengguna secara sepihak

  • Dalam 'Keterlibatan emosional terkendali', tenaga profesional mengendalikan emosinya sendiri sambil merespons secara empatik
KosakataArti
7 Prinsip Biestek
pengungkapan perasaan secara bertujuan
keterlibatan emosional yang terkendali
sikap tidak menghakimi dan penerimaan

Komunikasi Verbal dan Nonverbal serta Jarak Interpersonal

Komunikasi dibagi menjadi 'komunikasi verbal' (menggunakan kata-kata lisan, tulisan, atau bahasa isyarat) dan 'komunikasi nonverbal' (melalui ekspresi wajah, kontak mata, postur, anggukan, gestur, nada dan kecepatan suara, serta sentuhan / touching).

Unsur nonverbal berperan sangat besar dalam menyampaikan perasaan dan sikap. Jika mulut berkata 'Silakan panggil kapan saja', tetapi tangan bersedekap dengan wajah ketus atau tampak terburu-buru, lawan bicara akan merasa cemas dan bingung ('ikatan ganda / double bind').

Saat berhadapan dengan pengguna yang baru pertama kali ditemui atau sedang tegang, perhatikanlah 'ruang personal (personal space / jarak interpersonal)' dan jaga jarak yang wajar tanpa mendekat secara mendadak.

Selain itu, terhadap pengguna di kursi roda atau tempat tidur, jangan berbicara sambil berdiri menatap ke bawah, melainkan rendahkan tubuh agar 'sejajar dengan garis pandang' sambil memberikan senyuman lembut dan anggukan.

Saat duduk berbicara di kursi, posisi duduk membentuk sudut 90 derajat mengapit sudut meja ('posisi siku-siku / diagonal') lebih mengurangi ketegangan dan memudahkan pengalihan pandangan secara alami dibandingkan duduk berhadapan lurus.

Komunikasi Verbal dan Nonverbal serta Jarak Interpersonal

Poin penting


  • Ekspresi wajah, kontak mata, anggukan, postur, nada suara, dan jarak interpersonal termasuk dalam 'komunikasi nonverbal'

  • Pesan yang ucapan dan sikap nonverbalnya saling bertentangan disebut 'double bind (ikatan ganda)' dan membingungkan lawan bicara

  • Saat berinteraksi dengan pengguna, perhatikan ruang personal, sejajarkan tinggi pandangan mata, dan dengarkan dengan ekspresi tenang
KosakataArti
komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal
double bind (ikatan ganda)
personal space (jarak interpersonal)
sentuhan (touching) dan posisi duduk siku-siku

Manajemen Tim, Kepemimpinan (Teori PM), dan Followership

Untuk memberikan layanan perawatan berkualitas tinggi, manajemen tim harus memperjelas tujuan organisasi serta garis komando (siapa memberi instruksi dan melapor kepada siapa) serta menjalankan 'Lapor - Hubungi - Konsultasi (Ho-Ren-So)' secara disiplin.

'Teori PM' yang digagas oleh psikolog sosial Juji Misumi memandang kepemimpinan dalam 2 sumbu: 'Fungsi P (Performance)' untuk mencapai target dan menyelesaikan tugas, serta 'Fungsi M (Maintenance)' untuk menjaga hubungan baik dan kekompakan kelompok.

Tipe pemimpin yang memiliki fungsi P dan fungsi M sama-sama tinggi ('Tipe PM') dianggap paling ideal. Selain itu, 'Teori SL (Situational Leadership)' yang menyesuaikan perilaku instruktif dan suportif sesuai tingkat kematangan anggota juga banyak diterapkan.

Lebih lanjut, dalam perawatan tim bukan hanya pemimpin yang penting, melainkan juga 'followership', yaitu sikap setiap anggota memahami tujuan organisasi dan secara proaktif memberikan pendapat serta saran perbaikan untuk mendukung pemimpin.

Saat menerima instruksi kerja, mematuhi 'prinsip kesatuan komando'—menerima instruksi dari atasan langsung dan melaporkan hasilnya kembali kepada atasan tersebut—akan mencegah kebingungan dan kecelakaan di lapangan.

Poin penting


  • Dalam 'Teori PM' Misumi Juji, pemimpin paling ideal adalah 'Tipe PM' yang unggul baik dalam pencapaian target (P) maupun pemeliharaan kelompok (M)

  • Organisasi harus memperjelas garis komando dan melaksanakan 'Lapor - Hubungi - Konsultasi (Ho-Ren-So)' secara cepat dan akurat

  • Peran aktif anggota dalam mengambil pertimbangan dan memberi usulan untuk mendukung pemimpin serta tim disebut 'followership'
KosakataArti
Teori PM (fungsi pencapaian target P dan pemeliharaan kelompok M)
garis komando dan prinsip kesatuan komando
kepemimpinan (leadership) dan followership
Lapor - Hubungi - Konsultasi (Ho-Ren-So)

Pengembangan SDM (OJT, Off-JT, SDS) dan Jalur Karier (Career Path)

Pengembangan SDM di tempat kerja perawatan berpusat pada 'OJT (On-the-Job Training: pelatihan di tempat kerja)', yaitu atasan atau staf senior memberikan bimbingan praktik secara terencana dan berkelanjutan melalui pekerjaan sehari-hari.

OJT dilakukan melalui tahapan 'mengajarkan → mencontohkan → meminta mencoba → memeriksa dan mengevaluasi', dengan keunggulan dapat memberikan bimbingan individual secara langsung sesuai tingkat penguasaan staf baru.

Sebaliknya, metode meninggalkan tempat kerja untuk mempelajari pengetahuan sistematis di pelatihan eksternal disebut 'Off-JT (pelatihan di luar pekerjaan)', sedangkan upaya belajar mandiri staf melalui buku atau kelompok belajar disebut 'SDS (pengembangan diri)'.

Selain itu, penyusunan 'sistem jalur karier (career path)' yang menampilkan jenjang jabatan dari staf pemula hingga menengah, pemimpin, dan manajer beserta kompetensi, kualifikasi, dan sistem gaji akan meningkatkan retensi dan kualitas staf.

Saat melaksanakan OJT, jangan membiarkan staf baru hanya 'melihat lalu menghafal sendiri', melainkan susunlah 'rencana pembinaan individual' dengan target dan daftar periksa yang jelas agar seluruh tempat kerja mendukung staf baru.

Poin penting


  • Metode bimbingan terencana oleh atasan atau senior melalui pekerjaan harian disebut 'OJT (pelatihan di tempat kerja)'

  • Metode mempelajari pengetahuan sistematis melalui pelatihan terpusat di luar tempat kerja disebut 'Off-JT'

  • Mengombinasikan 'SDS (pengembangan diri mandiri)' dan 'jalur karier (career path)' yang jelas mengenai promosi dan remunerasi sangatlah penting
KosakataArti
OJT (On-the-Job Training / pelatihan di tempat kerja)
Off-JT (Off-the-Job Training / pelatihan di luar tempat kerja)
SDS (Self-Development System / pengembangan diri)
sistem jalur karier (career path)

Supervisi, Coaching, Konsultasi, dan Sistem Mentor

'Supervisi (supervision)' adalah proses pendidikan dan dukungan berkelanjutan yang dilakukan oleh pembimbing berpengalaman (supervisor) kepada staf (supervisee) demi pertumbuhan profesional dan peningkatan mutu perawatan.

Menurut Kadushin, supervisi memiliki 3 fungsi: 'fungsi administratif/manajerial' (memastikan kepatuhan standar dan kebijakan), 'fungsi edukatif' (meningkatkan pengetahuan dan keterampilan), serta 'fungsi suportif' (menopang beban pikiran dan kecemasan).

'Coaching' adalah teknik pembinaan yang tidak mengajarkan jawaban secara sepihak, melainkan memancing kesadaran dan tindakan sukarela dari lawan bicara melalui dialog dan pertanyaan.

Selain itu, meminta saran profesional kepada pakar dari bidang keahlian berbeda (seperti dokter atau fisioterapis) dalam posisi setara disebut 'konsultasi (consultation)', sedangkan sistem di mana senior di luar atasan langsung menjadi teman diskusi bagi staf muda disebut 'sistem mentor'.

Lebih lanjut, 'peer supervision (supervisi sebaya)' di mana rekan sejawat dengan posisi atau profesi yang sama mendiskusikan kasus dalam hubungan setara untuk saling belajar juga efektif meningkatkan kemampuan di lapangan.

Supervisi, Coaching, Konsultasi, dan Sistem Mentor

Poin penting


  • 3 fungsi supervisi adalah: fungsi administratif, fungsi edukatif, dan fungsi suportif

  • Metode memancing kesadaran dan tindakan proaktif lawan bicara melalui dialog dan pertanyaan disebut 'coaching'

  • Memperoleh saran keahlian dalam kedudukan setara dari pakar bidang profesi lain disebut 'konsultasi (consultation)'
KosakataArti
supervisi (fungsi administratif, edukatif, dan suportif)
supervisor dan supervisee
coaching dan sistem mentor
konsultasi (konsultasi dengan pakar profesi lain)

Kepatuhan Hukum (Compliance), Penanganan Keluhan, dan Kesehatan Mental (Pencegahan Burnout)

'Compliance (kepatuhan)' di fasilitas perawatan bukan sekadar mematuhi undang-undang dan peraturan kerja, melainkan menjalankan tugas secara jujur sesuai etika profesi yang tinggi dan norma sosial.

'Keluhan (kujō)' dari pengguna atau keluarga adalah kesempatan berharga untuk memperbaiki mutu layanan. Staf harus mendengarkan fakta secara saksama dengan permohonan maaf dan empati, tidak menyimpannya sendiri, melainkan segera melapor kepada penanggung jawab penyelesaian keluhan atau atasan untuk ditangani secara organisasi.

Pedoman Kementerian Kesehatan, Ketenagakerjaan, dan Kesejahteraan Jepang menetapkan '4 Perawatan (4つのケア)' kesehatan mental kerja: (1) 'Self-care' oleh pekerja sendiri, (2) 'Line care' oleh atasan, (3) 'Perawatan oleh staf kesehatan kerja internal', dan (4) 'Perawatan oleh sumber daya eksternal'.

Selain itu, 3 gejala 'burnout (sindrom kejenuhan kerja - Maslach)' pada pekerja layanan manusia yang kehilangan motivasi akibat kelelahan ekstrem adalah 'kelelahan emosional', 'depersonalisasi', dan 'penurunan pencapaian diri', yang dicegah dengan konsultasi dini, istirahat, dan pembagian beban kerja.

Di samping itu, pengadu dijamin haknya secara hukum untuk mengajukan keluhan tidak hanya ke loket konsultasi fasilitas atau anggota komisi pihak ketiga, tetapi juga langsung ke 'Komite Kepatutan Operasional' tingkat prefektur atau 'Federasi Asuransi Kesehatan Nasional (Kokuho-ren)'.

Poin penting


  • Dengarkan keluhan secara tulus sebagai peluang perbaikan layanan dan segera laporkan kepada atasan untuk ditangani secara organisasi

  • Perawatan kesehatan mental di tempat kerja terdiri atas '4 Perawatan': self-care, line care, staf kesehatan internal, dan sumber daya eksternal

  • 3 gejala burnout adalah: kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan rasa pencapaian pribadi
KosakataArti
kepatuhan (compliance) dan sistem penyelesaian keluhan
4 perawatan kesehatan mental (self-care, line care, dll.)
sindrom burnout (kejenuhan kerja ekstrem)
kelelahan emosional dan depersonalisasi

Hubungan Antarmanusia & Komunikasi

Latihan soal bab ini di aplikasi

Referensi resmi