VIENID Mulai latihan

Beranda › Materi › Ujian Nasional 介護福祉士 (Care Worker Bersertifikat)

Mekanisme Pikiran dan Tubuh

Ujian Nasional 介護福祉士 (Care Worker Bersertifikat) · 介護福祉士国家試験(筆記) · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

Mekanisme Pikiran: Memori, Kebutuhan, dan Tidur

Memori manusia terbentuk melalui tiga proses: Pengodean/Kimei (memasukkan informasi), Penyimpanan/Hoji (mempertahankan di dalam otak), dan Pemanggilan/Soki (mengambil kembali saat dibutuhkan).

Dalam memori jangka panjang, Memori Episodik mengenai pengalaman dan peristiwa pribadi mudah menurun akibat penuaan dan demensia, sedangkan Memori Semantik (pengetahuan kata) dan Memori Prosedural (keterampilan yang diingat tubuh) cenderung tetap terjaga.

Psikolog Amerika Maslow menjelaskan kebutuhan manusia dalam piramida 5 tingkat, yang diklasifikasikan dari bawah ke atas menjadi Kebutuhan Fisiologis, Kebutuhan Rasa Aman, Kebutuhan Kasih Sayang dan Kepemilikan, Kebutuhan Penghargaan, serta Kebutuhan Aktualisasi Diri.

Empat tingkat di bawah disebut Kebutuhan Kekurangan (muncul untuk memenuhi kekurangan), sedangkan tingkat tertinggi yaitu Aktualisasi Diri disebut Kebutuhan Pertumbuhan untuk mengembangkan kemampuan dan potensi diri.

Selain itu, tidur berulang dalam siklus sekitar 90 menit antara Tidur Non-REM (otak beristirahat dan tidur nyenyak) dan Tidur REM (tubuh beristirahat tetapi bola mata bergerak cepat dan mudah bermimpi); pada lansia, tidur Non-REM dalam berkurang dan sering terbangun di tengah malam meningkat.

Poin penting


  • 3 proses memori adalah Pengodean, Penyimpanan, dan Pemanggilan; memori episodik mudah menurun seiring usia

  • Hierarki kebutuhan Maslow memiliki 5 tingkat: Fisiologis, Rasa Aman, Kasih Sayang, Penghargaan, dan Aktualisasi Diri

  • Tidur Non-REM dan REM bergantian dalam siklus ~90 menit; tidur nyenyak berkurang pada lansia
KosakataArti
Memori episodik
Memori prosedural
Teori hierarki kebutuhan Maslow
Tidur Non-REM

Struktur Sistem Saraf, Indera, Alat Gerak, dan Sindrom Disuse

Otak yang merupakan sistem saraf pusat terdiri atas Otak Besar/Serebrum (mengatur pikiran dan bahasa), Otak Kecil/Serebelum (mengatur keseimbangan dan koordinasi gerak), serta Batang Otak yang mencakup Medula Oblongata (tempat pusat pernapasan, peredaran darah, dan menelan).

Perlu diperhatikan bahwa pusat pengaturan suhu tubuh, pusat makan/minum, dan pusat tertinggi saraf otonom berada di Hipotalamus pada diensefalon, sehingga penting untuk membedakannya agar tidak tertukar dengan fungsi Medula Oblongata.

Saraf otonom bekerja secara antagonis antara Saraf Simpatis (dominan saat beraktivitas atau tegang, menaikkan denyut jantung, melebarkan bronkus, dan menghambat gerak saluran cerna) dan Saraf Parasimpatis (dominan saat istirahat, menurunkan denyut jantung dan memacu gerak saluran cerna).

Tulang sebagai alat gerak terus-menerus mengalami penyerapan tulang oleh osteoklas dan pembentukan tulang oleh osteoblas; penurunan hormon wanita (estrogen) atau kekurangan vitamin D mempermudah terjadinya osteoporosis.

Tirah baring berlebihan atau penurunan aktivitas yang berkepanjangan menyebabkan Sindrom Disuse (penyakit kurang gerak) di seluruh tubuh seperti atrofi otot, kontraktur sendi, atrofi tulang, hipotensi ortostatik, pneumonia aspirasi, dan dekubitus, sehingga mobilisasi dini sangat penting.

Poin penting


  • Pusat pernapasan, sirkulasi, dan menelan ada di Medula Oblongata; pusat suhu tubuh ada di Hipotalamus

  • Saraf simpatis dominan saat aktivitas (detak jantung naik, cerna dihambat); parasimpatis dominan saat istirahat

  • Penting mencegah Sindrom Disuse (atrofi otot, kontraktur sendi, hipotensi ortostatik, dll.) akibat tirah baring lama
KosakataArti
Medula oblongata (sumsum sambung)
Hipotalamus
Saraf otonom
Sindrom disuse (sindrom kurang gerak)

Sistem Peredaran Darah, Pernapasan, dan Observasi Tanda-Tanda Vital

Sirkulasi darah yang dipompa dari jantung terdiri atas Sirkulasi Sistemik (bilik kiri -> aorta -> seluruh tubuh -> serambi kanan) dan Sirkulasi Paru (bilik kanan -> arteri pulmonalis yang membawa darah vena -> pertukaran gas di paru-paru -> serambi kiri).

Empat Tanda Vital (Vital Signs) dasar adalah Suhu Tubuh, Denyut Nadi, Pernapasan, dan Tekanan Darah, ditambah tingkat kesadaran serta saturasi oksigen darah arteri perkutan (SpO2) untuk mengevaluasi kondisi seluruh tubuh.

Pada lansia, kekakuan pembuluh darah membuat tekanan darah sistolik (atas) mudah naik sehingga Tekanan Nadi (selisih tekanan sistolik dan diastolik) membesar, serta mudah mengalami penurunan tekanan darah mendadak setelah makan atau saat berdiri.

Selain itu, lansia sering kali tidak menunjukkan demam tinggi yang khas meskipun terkena infeksi, sehingga pekerja perawatan dituntut memahami suhu normal harian dan mendeteksi dini perubahan halus seperti penurunan nafsu makan atau kurang bersemangat.

Ketika oksigen dalam darah kurang dan hemoglobin tereduksi meningkat, muncul Sianosis (bibir dan dasar kuku berwarna biru keunguan), yang harus diobservasi bersama kondisi pernapasan dan segera dilaporkan kepada tenaga medis.

Sistem Peredaran Darah, Pernapasan, dan Observasi Tanda-Tanda Vital

Poin penting


  • Sirkulasi sistemik: Bilik kiri -> Aorta -> Seluruh tubuh -> Serambi kanan; arteri pulmonalis dialiri darah vena

  • Tanda vital dasar adalah Suhu, Nadi, Pernapasan, dan Tekanan Darah; perbandingan dengan nilai harian sangat penting

  • Sianosis (bibir dan kuku berwarna biru keunguan) adalah tanda penting yang menunjukkan kondisi hipoksia
KosakataArti
Sirkulasi sistemik (peredaran darah besar)
Sirkulasi paru (peredaran darah kecil)
Tanda-tanda vital (Vital signs)
Sianosis

Sistem Pencernaan dan Model 5 Tahap Makan dan Menelan

Proses mengenali makanan, memasukkannya ke mulut, hingga mendorongnya ke lambung (makan dan menelan) dibagi menjadi 5 tahap: Tahap Antisipatif (kognitif), Tahap Persiapan (mengunyah), Tahap Rongga Mulut, Tahap Faring (tenggorokan), dan Tahap Esofagus (kerongkongan).

Tahap Antisipatif adalah tahap mengenali bentuk, aroma, dan suhu makanan melalui penglihatan serta penciuman lalu membawanya ke mulut; Tahap Persiapan adalah tahap mengunyah makanan dengan gigi dan mencampurnya dengan air liur untuk membentuk bolus yang mudah ditelan.

Tahap Rongga Mulut adalah gerakan sadar menggunakan lidah untuk mendorong bolus dari rongga mulut ke faring; pada Tahap Faring berikutnya, langit-langit lunak terangkat menutup rongga hidung, epiglotis menutup pintu masuk trakea, dan refleks menelan mengirim bolus ke esofagus.

Pada Tahap Esofagus terakhir, gerakan peristaltik esofagus membawa bolus menuju lambung, dan kardia (batas antara esofagus dan lambung) mencegah aliran balik isi lambung.

Jika refleks menelan dan refleks batuk (tersedak) menurun, makanan atau air liur mudah masuk ke trakea (Aspirasi); khususnya Aspirasi Senyap tanpa tersedak yang sering terjadi saat tidur malam merupakan penyebab utama pneumonia aspirasi.

Sistem Pencernaan dan Model 5 Tahap Makan dan Menelan

Poin penting


  • 5 tahap makan-menelan: Antisipatif, Persiapan (pembentukan bolus), Rongga Mulut, Faring, dan Esofagus

  • Pada Tahap Faring, epiglotis menutup pintu trakea, napas berhenti sejenak, dan terjadi refleks menelan

  • Aspirasi senyap tanpa batuk/tersedak merupakan risiko serius penyebab pneumonia aspirasi
KosakataArti
Tahap antisipatif (tahap pengenalan makanan)
Pembentukan bolus makanan
Epiglotis (katup pangkal tenggorokan)
Aspirasi senyap (silent aspiration)

Sistem Kemih, Mekanisme Ekskresi, serta Klasifikasi Inkontinensia Urin dan Konstipasi

Urin yang dibuat di ginjal melewati ureter untuk disimpan di kandung kemih; saat terkumpul sekitar 150–300 mL, sinyal dikirim ke sumsum tulang kelangkang dan otak besar sehingga timbul rasa ingin berkemih, lalu dikeluarkan melalui uretra lewat refleks berkemih.

Inkontinensia urin meliputi Inkontinensia Stres (mengompol saat batuk atau bersin akibat melemahnya otot dasar panggul), Inkontinensia Urgensi (keinginan berkemih mendadak dan kuat hingga tak tertahankan), dan Inkontinensia Luapan/Overflow (urin sulit keluar akibat pembesaran prostat dll. sehingga meluap sedikit-sedikit).

Selain itu terdapat Inkontinensia Fungsional (fungsi berkemih normal tetapi tidak sempat ke toilet karena gangguan jalan atau demensia) dan Inkontinensia Refleks (keluar tanpa sadar dan tanpa rasa ingin berkemih akibat cedera tulang belakang dll.), yang memerlukan perawatan sesuai penyebabnya.

Sementara itu, konstipasi fungsional tanpa penyakit organik dibagi menjadi 3: Konstipasi Atonik (akibat penurunan peristaltik usus besar, paling banyak pada lansia), Konstipasi Spastik (usus terlalu tegang akibat stres sehingga feses bulat kecil seperti kotoran kelinci), dan Konstipasi Rektal (refleks buang air besar tumpul akibat sering menahan BAB).

Evaluasi bentuk feses menggunakan Skala Feses Bristol 7 tingkat: Tipe 1 (bulat keras) hingga Tipe 2 adalah feses keras, Tipe 3–5 (khususnya Tipe 4 berbentuk pisang) adalah feses normal, dan Tipe 6–7 (cair) adalah diare.

Poin penting


  • Bedakan 5 jenis inkontinensia urin: Stres, Urgensi, Luapan (Overflow), Fungsional, dan Refleks

  • Lansia banyak mengalami Konstipasi Atonik (penurunan peristaltik) dan Konstipasi Rektal (penurunan refleks BAB)

  • Skala Bristol: Tipe 1 paling keras bulat-bulat, Tipe 4 normal berbentuk pisang, Tipe 7 feses cair
KosakataArti
Inkontinensia urin stres (tekanan perut)
Inkontinensia urin fungsional
Konstipasi atonik (kelemahan gerak usus)
Skala Bentuk Feses Bristol

Struktur Kulit serta Lokasi Rawan dan Pencegahan Luka Tekan (Dekubitus)

Kulit terdiri atas 3 lapisan dari luar yaitu Epidermis, Dermis, dan Jaringan Subkutan; permukaan kulit sehat dipertahankan asam lemah (pH sekitar 4,5–6,0) oleh lapisan sebum yang berfungsi sebagai pelindung terhadap masuknya bakteri.

Seiring bertambahnya usia, sekresi sebum dan keringat serta kadar air lapisan tanduk menurun sehingga kulit menjadi kering dan mudah mengalami gatal (pruritus senilis) maupun pengelupasan epidermis (skin tear), sehingga pemberian pelembap dan perawatan lembut sangat penting.

Luka Tekan (Dekubitus) adalah kondisi terganggunya aliran darah akibat tekanan terus-menerus, gaya geser, atau gesekan pada bagian tonjolan tulang sehingga kulit dan jaringan subkutan mengalami nekrosis.

Lokasi rawan dekubitus berbeda menurut posisi tubuh: posisi telentang pada tulang kelangkang (sakrum), tumit, kepala belakang, dan tulang belikat; posisi miring pada trokanter mayor, krista iliaka, dan daun telinga; posisi duduk pada tuberositas iskia dan tulang ekor.

Prediksi risiko dekubitus menggunakan Skala Braden 6 item (persepsi sensorik, kelembapan, aktivitas, mobilitas, status gizi, gesekan dan pergeseran), sedangkan pencegahannya dilakukan dengan kasur distribusi tekanan, perubahan posisi berkala, perawatan kulit, dan manajemen gizi.

Struktur Kulit serta Lokasi Rawan dan Pencegahan Luka Tekan (Dekubitus)

Poin penting


  • Kulit terdiri atas 3 lapisan (Epidermis, Dermis, Jaringan Subkutan) dan permukaannya dijaga asam lemah

  • Lokasi rawan dekubitus: telentang di sakrum/tumit, miring di trokanter mayor, duduk di tuberositas iskia

  • Penilaian risiko memakai Skala Braden; pencegahan dengan distribusi tekanan, kurangi geseran, pelembap, dan perbaikan gizi
KosakataArti
Pengelupasan epidermis (skin tear)
Luka tekan (dekubitus)
Bagian tulang kelangkang (sakrum)
Skala Braden

Proses Psikologis Akhir Hayat, ACP (Konferensi Kehidupan), dan Grief Care

Psikiater Kübler-Ross mengemukakan 5 tahap psikologis orang yang mendekati kematian: Tahap 1: Penolakan dan Isolasi, Tahap 2: Kemarahan, Tahap 3: Tawar-menawar, Tahap 4: Depresi, dan Tahap 5: Penerimaan.

Tahapan ini tidak selalu berjalan berurutan dan dapat kembali ke tahap sebelumnya atau berubah-ubah, sehingga pekerja perawatan harus mendampingi secara suportif tanpa menyangkal emosi pada tahap mana pun.

Selain itu, penderitaan pada tahap akhir hayat dipahami sebagai Total Pain (nyeri holistik) yang saling terkait antara 4 aspek: Nyeri Fisik, Nyeri Psikologis, Nyeri Sosial, dan Nyeri Spiritual (kehilangan makna hidup, dll.).

Proses diskusi berulang sejak dini mengenai perawatan medis dan asuhan masa depan dengan menempatkan individu sebagai subjek utama bersama keluarga serta tenaga medis/perawatan disebut Advance Care Planning (ACP / Konferensi Kehidupan), dan dapat ditinjau ulang kapan saja sesuai perubahan keinginan individu.

Lebih lanjut, Grief Care—mendukungungkapan emosi dan pemulihan bagi keluarga yang mengalami duka mendalam (grief) setelah kehilangan orang tercinta—juga merupakan peran penting pekerja perawatan.

Poin penting


  • 5 tahap Kübler-Ross adalah Penolakan -> Kemarahan -> Tawar-menawar -> Depresi -> Penerimaan

  • Total Pain (nyeri holistik) mencakup 4 aspek: Fisik, Psikologis, Sosial, dan Spiritual

  • ACP (Konferensi Kehidupan) adalah proses diskusi berulang yang berpusat pada individu bersama keluarga dan profesional
KosakataArti
Kübler-Ross
Total Pain (nyeri menyeluruh/holistik)
Advance Care Planning (ACP)
Perawatan duka cita (Grief care)

Perubahan Fisik Menjelang Ajal, Tiga Tanda Kematian, dan Angel Care

Pada masa menjelang ajal ketika kematian sudah dekat, muncul tanda-tanda seperti tangan dan kaki terasa dingin, sianosis, penurunan tekanan darah, penurunan jumlah urin (oliguria/anuria), serta suara napas berderak di tenggorokan (death rattle).

Pola pernapasan juga berubah, muncul Pernapasan Cheyne-Stokes (napas dangkal yang berangsur menjadi dalam lalu diikuti henti napas secara berulang) atau Pernapasan Mandibula (bernapas dengan menggerakkan rahang bawah), hingga akhirnya berhenti bernapas.

Tiga Tanda Kematian saat dokter menetapkan diagnosis kematian adalah Berhentinya Pernapasan Spontan, Berhentinya Detak Jantung, serta Pelebaran Pupil disertai Hilangnya Refleks Cahaya; konfirmasi kematian hanya dapat dilakukan oleh dokter (atau dokter gigi).

Pada tubuh setelah kematian terjadi perubahan berupa Algor Mortis (suhu tubuh turun mengikuti suhu ruangan), Livor Mortis/Lebam Mayat (darah mengumpul di bagian bawah akibat gravitasi membentuk bercak merah keunguan), dan Rigor Mortis/Kaku Mayat (otot mengeras mulai dari sendi rahang ke seluruh tubuh).

Setelah dokter mengonfirmasi kematian, pekerja perawatan bersama perawat dan keluarga melakukan perawatan jenazah (Angel Care) seperti menyeka tubuh, mengganti pakaian, dan merias wajah dengan penuh hormat untuk menjaga martabat almarhum serta mendampingi duka keluarga.

Poin penting


  • Menjelang ajal terlihat suara derak tenggorokan, napas Cheyne-Stokes, napas rahang bawah, dan penurunan jumlah urin

  • Tiga Tanda Kematian: henti napas spontan, henti detak jantung, serta pelebaran pupil dan hilangnya refleks cahaya

  • Diagnosis kematian dilakukan oleh dokter, kemudian dilanjutkan dengan Angel Care bersama keluarga dan perawat
KosakataArti
Pernapasan Cheyne-Stokes
Pernapasan mandibula (rahang bawah)
Tiga tanda kematian
Angel care (perawatan jenazah)

Mekanisme Pikiran & Tubuh

Latihan soal bab ini di aplikasi

Referensi resmi