VIENID Mulai latihan

Beranda › Materi › Ujian Nasional 介護福祉士 (Care Worker Bersertifikat)

Pemahaman Perkembangan dan Penuaan

Ujian Nasional 介護福祉士 (Care Worker Bersertifikat) · 介護福祉士国家試験(筆記) · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

Prinsip Pertumbuhan & Perkembangan Manusia serta Gerak dan Kelekatan Bayi

Perkembangan manusia merujuk pada proses perubahan kualitatif dan kuantitatif fisik maupun mental sepanjang hayat sejak pembuahan hingga kematian, dengan menekankan perspektif Perkembangan Sepanjang Hayat yang berlanjut hingga usia lanjut.

Perkembangan fisik bayi memiliki arah tertentu: Hukum Sefalokaudal (berkembang dari kepala ke arah kaki) dan Hukum Proksimodistal (berkembang dari pusat tubuh ke ujung anggota gerak).

Tonggak perkembangan motorik kasar bayi meliputi: leher tegak sekitar usia 3–4 bulan, tengkurap/berguling sekitar 5–6 bulan, duduk sendiri sekitar 7–8 bulan, berdiri berpegangan sekitar 9–10 bulan, dan berjalan sendiri sekitar usia 1 tahun.

Psikolog Bowlby menyebut ikatan emosional yang dibangun antara bayi dan pengasuh sebagai Attachment (Kelekatan), yang berfungsi sebagai Pangkalan Aman (Secure Base) bagi hubungan interpersonal dan perilaku eksplorasi di masa depan.

Piaget mengemukakan teori tahapan perkembangan kognitif, menyatakan bahwa pada tahap sensorimotor (0–2 tahun) anak memperoleh Permanensi Objek (memahami benda tetap ada meski tidak terlihat), dan pada tahap praoperasional (2–7 tahun) muncul egosentrisme serta animisme.

Poin penting


  • Perkembangan motorik bayi berjalan berurutan: Leher tegak -> Tengkurap -> Duduk sendiri -> Berdiri berpegangan -> Berjalan sendiri

  • Bowlby mengemukakan Attachment (Kelekatan) sebagai ikatan emosional dengan pengasuh

  • Piaget menunjukkan bahwa Permanensi Objek terbentuk pada tahap sensorimotor
KosakataArti
Perkembangan sepanjang hayat
Leher tegak (usia 3–4 bulan)
Attachment (Kelekatan)
Permanensi objek

Tahap dan Tugas Perkembangan Erikson serta Havighurst

Psikolog Erikson mengemukakan Teori Siklus Hidup yang membagi kehidupan menjadi 8 tahap serta menunjukkan krisis psikososial (tugas perkembangan) yang harus dilalui dan kekuatan (kebajikan) yang diperoleh pada tiap tahap.

Tema masa bayi adalah Kepercayaan Dasar vs Ketidakpercayaan, masa kanak-kanak awal adalah Otonomi vs Rasa Malu/Ragu, masa prasekolah adalah Inisiatif vs Rasa Bersalah, dan masa sekolah adalah Ketekunan vs Rasa Rendah Diri.

Selanjutnya, tugas masa remaja adalah Identitas vs Kebingungan Identitas, masa dewasa awal adalah Keintiman vs Isolasi, dan masa dewasa madya adalah Generativitas (membimbing generasi berikutnya) vs Stagnasi.

Pada tahap akhir yaitu masa lansia, tugasnya adalah Integritas Ego vs Keputusasaan; menerima perjalanan hidup diri sendiri sebagai sesuatu yang tak tergantikan akan menghasilkan Kebijaksanaan.

Tokoh pendidikan Havighurst juga mengemukakan tugas perkembangan dalam 6 tahap, dengan tugas masa lansia meliputi penyesuaian terhadap penurunan kekuatan fisik dan kesehatan, penyesuaian terhadap pensiun dan penurunan pendapatan, serta penyesuaian terhadap kematian pasangan.

Tahap dan Tugas Perkembangan Erikson serta Havighurst

Poin penting


  • Dalam teori Erikson, tugas masa remaja adalah Identitas dan masa dewasa madya adalah Generativitas

  • Tahap lansia menurut Erikson adalah Integritas Ego vs Keputusasaan, dengan kekuatan berupa Kebijaksanaan

  • Havighurst menyebutkan penyesuaian terhadap penurunan kesehatan, pensiun, dan kematian pasangan sebagai tugas lansia
KosakataArti
Identitas (Identity)
Generativitas (Generativity)
Integritas Ego vs Keputusasaan
Tugas perkembangan Havighurst

Perubahan Fungsi Intelektual & Psikologis Seiring Penuaan serta Pengalaman Kehilangan

Psikolog Cattell dan Horn membagi kecerdasan manusia menjadi Kecerdasan Cair (Fluid Intelligence) dan Kecerdasan Kristal (Crystallized Intelligence) untuk menjelaskan perubahan akibat penuaan.

Kecerdasan Cair yang berkaitan dengan kemampuan adaptasi terhadap situasi baru serta kecepatan berhitung dan menghafal mencapai puncaknya pada usia 20-an dan cenderung menurun seiring bertambahnya usia.

Sebaliknya, Kecerdasan Kristal yang didasarkan pada pembelajaran bertahun-tahun, pengalaman hidup, pengetahuan bahasa, dan daya penilaian memiliki keunggulan besar karena tetap terjaga atau bahkan terus meningkat secara perlahan setelah usia 60-an.

Pada masa lansia juga sering bertumpuk Empat Kehilangan (4 penderitaan masa tua): kehilangan kesehatan fisik-mental, kehilangan kemandirian ekonomi, kehilangan ikatan dengan keluarga dan masyarakat, serta kehilangan tujuan hidup.

Karena pengalaman kehilangan ini mudah memicu kondisi depresi atau mengurung diri di rumah, pekerja perawatan mendukung Life Review (reminiscence/mengenang masa lalu) untuk meninjau kembali perjalanan hidup serta menjaga peran saat ini dan harga diri.

Poin penting


  • Kecerdasan Cair (pemrosesan informasi baru dan kecepatan menghafal) mudah menurun seiring usia

  • Kecerdasan Kristal (pengalaman hidup, pengetahuan, penilaian) tetap terjaga dengan baik di usia lanjut

  • Pada masa lansia, dukungan psikologis terhadap Empat Kehilangan (kesehatan, ekonomi, ikatan, tujuan hidup) sangat penting
KosakataArti
Kecerdasan cair (Fluid intelligence)
Kecerdasan kristal (Crystallized intelligence)
Pengalaman kehilangan
Life review (mengenang kembali kehidupan)

Perubahan Organ Indera (Penglihatan, Pendengaran, Pengecapan, dll.) Seiring Penuaan

Perubahan penglihatan seiring usia meliputi Presbiopia (mata tua: berkurangnya elastisitas lensa sehingga sulit fokus jarak dekat) dan Katarak Senilis (lensa mata keruh memutih sehingga menimbulkan silau/glare dan pandangan kabur).

Lansia juga mengalami penurunan adaptasi terang-gelap (terutama adaptasi gelap saat masuk dari tempat terang ke tempat gelap), penurunan ketajaman penglihatan dinamis dan lapang pandang, serta menguningnya lensa yang menyulitkan pembedaan warna dingin atau senada seperti biru dengan hitam atau putih dengan kuning.

Pada pendengaran, degenerasi sel rambut di koklea telinga dalam menyebabkan Presbikusis (gangguan dengar terkait usia), dengan ciri khas tahap awal berupa sulit mendengar suara frekuensi tinggi (nada tinggi) terlebih dahulu.

Selain itu muncul Fenomena Recruitment (suara pelan sulit terdengar, tetapi begitu melewati batas volume tertentu mendadak terdengar sangat bising dan tidak nyaman) serta penurunan kemampuan membedakan bunyi kata (mendengar suara tetapi sulit menangkap arti kata).

Kepekaan indera pengecap, penciuman, sensasi suhu/nyeri kulit, dan pusat rasa haus juga menumpul seiring usia, sehingga perlu mewaspadai konsumsi garam berlebih, luka bakar suhu rendah (akibat bantal pemanas dll.), dan dehidrasi karena kurang menyadari rasa haus.

Poin penting


  • Penglihatan lansia rentan mengalami penurunan adaptasi gelap, peningkatan silau (glare), dan sulit membedakan warna biru/kuning

  • Presbikusis menurun mulai dari frekuensi tinggi dan disertai Fenomena Recruitment (suara keras terasa memekakkan)

  • Penurunan rasa haus dan sensasi suhu/nyeri membuat lansia rentan mengalami dehidrasi tanpa gejala dan luka bakar suhu rendah
KosakataArti
Katarak senilis
Adaptasi gelap
Presbikusis (penurunan pendengaran nada tinggi)
Fenomena Recruitment

Perubahan Fungsi Fisik (Pernapasan, Sirkulasi, Pencernaan, Ginjal, dll.) Seiring Penuaan

Ciri umum perubahan fisiologis akibat penuaan meliputi penurunan daya cadangan organ, penurunan daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan, penurunan fungsi pemeliharaan homeostasis, serta perbedaan individu yang sangat besar.

Pada sistem pernapasan, penurunan elastisitas alveolus dan kekuatan otot napas menurunkan Kapasitas Vital dan rasio FEV1, sedangkan Volume Residu (udara yang tersisa di paru-paru setelah mengembuskan napas maksimal) justru meningkat.

Pada sistem peredaran darah, arteriosklerosis yang menghilangkan elastisitas dinding pembuluh darah meningkatkan resistensi pembuluh darah tepi, sehingga tekanan darah sistolik naik dan Tekanan Nadi (selisih sistolik dan diastolik) membesar.

Pada sistem pencernaan, sekresi air liur, cairan lambung, dan gerak peristaltik usus menurun, sehingga mudah terjadi penyakit refluks gastroesofagus (akibat mengendurnya sfingter esofagus bawah) dan konstipasi atonik.

Pada ginjal, aliran darah ginjal, Laju Filtrasi Glomerulus (GFR), dan daya pemekatan urin menurun, sehingga Nokturia (sering berkemih di malam hari) meningkat dan ekskresi obat melambat sehingga efek samping obat mudah muncul.

Poin penting


  • Seiring usia, kapasitas vital paru menurun sedangkan Volume Residu yang tersisa di paru meningkat

  • Arteriosklerosis menaikkan tekanan darah sistolik dan memperbesar Tekanan Nadi

  • Penurunan fungsi ginjal dan hati membuat obat mudah bekerja berlebihan atau menimbulkan efek samping
KosakataArti
Homeostasis
Peningkatan volume residu paru
Pelebaran tekanan nadi
Laju Filtrasi Glomerulus (GFR)

Pemahaman dan Pencegahan Frailty (Kerentaan), Sarkopenia, dan Sindrom Lokomotif

Frailty (Kerentaan) merujuk pada tahap peralihan di antara kondisi sehat dan kondisi membutuhkan perawatan, ketika vitalitas fisik dan mental (kekuatan otot, fungsi kognitif, hubungan sosial, dll.) menurun seiring usia.

Ciri terpenting dari Frailty adalah memiliki Reversibilitas—yakni dapat kembali ke kondisi sehat melalui intervensi yang tepat seperti asupan gizi yang baik, olahraga, dan partisipasi sosial.

Frailty memiliki keterkaitan berantai antara 3 aspek: Frailty Fisik (penurunan berat badan, melambatnya kecepatan jalan), Frailty Mental/Psikologis (depresi, gangguan kognitif ringan), dan Frailty Sosial (tinggal sendiri, terisolasi, jarang keluar rumah).

Inti dari frailty fisik adalah Sarkopenia, yaitu kondisi berkurangnya massa otot rangka disertai penurunan kekuatan genggam (kekuatan otot) atau kecepatan berjalan (fungsi fisik) akibat penuaan, kurang gizi, atau kurang aktivitas.

Sementara itu, kondisi menurunnya fungsi mobilitas (berdiri dan berjalan) akibat gangguan alat gerak seperti osteoporosis, osteoartritis, atau sarkopenia disebut Sindrom Lokomotif (Locomotive Syndrome), di mana asupan protein dan kebiasaan olahraga menjadi kunci pencegahan.

Pemahaman dan Pencegahan Frailty (Kerentaan), Sarkopenia, dan Sindrom Lokomotif

Poin penting


  • Frailty adalah tahap tengah antara sehat dan butuh perawatan, serta bersifat Reversibel (dapat pulih dengan dukungan tepat)

  • Frailty mencakup 3 aspek: Fisik, Mental/Psikologis, dan Sosial

  • Sarkopenia adalah penurunan massa dan kekuatan otot rangka; Sindrom Lokomotif adalah penurunan mobilitas akibat gangguan alat gerak
KosakataArti
Frailty (Kerentaan)
Reversibilitas (dapat pulih kembali)
Sarkopenia (penurunan massa otot)
Sindrom Lokomotif

Ciri Penyakit Lansia dan Penyakit Utama (Serebrovaskular, Penyakit Jantung, Diabetes, dll.)

Penyakit pada lansia memiliki ciri: satu orang menderita banyak penyakit kronis sekaligus (multimorbiditas), gejala tidak khas (infark miokard tanpa nyeri dada, pneumonia tanpa demam), mudah mengalami gangguan cairan/elektrolit (dehidrasi), serta rentan mengalami efek samping akibat Polifarmasi (konsumsi banyak obat).

Penyakit serebrovaskular (stroke) terbagi menjadi Infark Serebral akibat sumbatan pembuluh darah otak (aterotrombotik, emboli kardiogenik, infark lakunar) dan perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah yaitu Perdarahan Otak (banyak karena hipertensi) serta Perdarahan Subaraknoid (sakit kepala hebat mendadak akibat pecahnya aneurisma otak).

Di antara penyakit jantung iskemik, Angina Pektoris menimbulkan nyeri dada sementara selama beberapa menit hingga 15 menit akibat penyempitan arteri koroner dan merespons nitrogliserin, sedangkan Infark Miokard menyebabkan nekrosis otot jantung akibat sumbatan koroner dengan nyeri dada hebat selama 30 menit atau lebih.

Pada Diabetes Melitus Tipe 2 yang banyak dialami lansia, kondisi hiperglikemia kronis memicu berkembangnya Tiga Komplikasi Utama (retinopati diabetik, nefropati diabetik, dan neuropati diabetik) serta arteriosklerosis.

Selain itu, bila lansia pengguna obat diabetes atau insulin makan lebih sedikit atau beraktivitas lebih banyak, mudah muncul Gejala Hipoglikemia (keringat dingin, berdebar, tangan gemetar, gangguan kesadaran) sehingga memerlukan pemberian glukosa segera dan koordinasi medis.

Poin penting


  • Penyakit lansia bercirikan multimorbiditas, gejala tidak khas, dan risiko efek samping dari Polifarmasi

  • Angina pektoris adalah iskemia sementara (beberapa~15 menit, nitrogliserin efektif); Infark miokard adalah nekrosis (30+ menit)

  • Tiga komplikasi utama diabetes adalah Retinopati, Nefropati, dan Neuropati; waspadai pula gejala hipoglikemia
KosakataArti
Polifarmasi (penggunaan banyak jenis obat)
Stroke emboli kardiogenik
Penyakit jantung iskemik
Tiga komplikasi utama diabetes

Pencegahan dan Perawatan Jatuh, Patah Tulang, Dehidrasi, serta Edema pada Lansia

Lansia mudah mengalami jatuh dan patah tulang akibat penurunan kekuatan otot, keseimbangan, dan penglihatan serta osteoporosis, yang menjadi penyebab utama kondisi butuh perawatan bersama demensia, stroke, dan kelemahan usia lanjut.

Empat Lokasi Patah Tulang Tersering saat lansia terjatuh adalah Leher Tulang Paha/Femur (dekat sendi panggul), Badan Ruas Tulang Belakang (fraktur kompresi), Ujung Bawah Tulang Pengumpil/Radius (pergelangan tangan), dan Ujung Atas Tulang Lengan Atas/Humerus (pangkal bahu).

Lansia juga mudah mengalami Dehidrasi akibat berkurangnya massa otot penyimpan air tubuh (kadar air tubuh dewasa ~60% turun menjadi ~50–55% pada lansia), penurunan kepekaan pusat haus, serta membatasi minum karena enggan ke toilet.

Saat dehidrasi berlanjut, muncul kekeringan mukosa mulut, lidah, dan ketiak (aksila), penurunan turgor (elastisitas) kulit, urin pekat, demam ringan, hingga delirium, sehingga pemberian cairan dan elektrolit secara rutin sangat penting.

Selain itu, gagal jantung, gagal ginjal, hipoalbuminemia, duduk terlalu lama, atau kurangnya gerak pada sisi lumpuh dapat menyebabkan penumpukan cairan di ruang antar-sel yang disebut Edema (bengkak), sehingga dilakukan peninggian tungkai bawah dan koordinasi medis sesuai penyakit penyebabnya.

Poin penting


  • 4 lokasi fraktur tersering lansia: Leher femur, Badan vertebra, Radius distal, dan Humerus proksimal

  • Lansia rentan dehidrasi akibat penurunan massa otot (air tubuh ~50–55%) dan penurunan rasa haus

  • Saat dehidrasi, perhatikan kekeringan ketiak/mulut, penurunan turgor kulit, dan delirium
KosakataArti
Fraktur leher femur (tulang paha)
Fraktur radius distal (pergelangan tangan)
Turgor kulit (elastisitas kulit)
Edema (pembengkakan)

Perkembangan & Penuaan

Latihan soal bab ini di aplikasi

Referensi resmi