VIENID Mulai latihan

Beranda › Materi › Ujian Nasional 介護福祉士 (Care Worker Bersertifikat)

Pemahaman tentang Disabilitas

Ujian Nasional 介護福祉士 (Care Worker Bersertifikat) · 介護福祉士国家試験(筆記) · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

Klasifikasi Internasional tentang Fungsi (ICF), Filosofi Disabilitas, dan Akomodasi yang Layak

Klasifikasi Internasional tentang Hendaya, Disabilitas, dan Kecacatan (ICIDH) yang diterbitkan WHO pada tahun 1980 memandang sisi negatif satu arah (model medis): Penyakit -> Gangguan Fungsi/Struktur -> Penurunan Kemampuan -> Kerugian Sosial.

Sebaliknya, Klasifikasi Internasional tentang Fungsi, Disabilitas, dan Kesehatan (ICF) yang diadopsi tahun 2001 memasukkan sudut pandang positif tentang gambaran utuh kehidupan, dengan interaksi dua arah antara 6 elemen: Kondisi Kesehatan, Fungsi Kehidupan (Fungsi & Struktur Tubuh / Aktivitas / Partisipasi), serta Faktor Kontekstual (Faktor Lingkungan / Faktor Personal).

Dalam sejarah kesejahteraan disabilitas, tonggak penting meliputi Normalisasi yang digagas Bank-Mikkelsen di Denmark (1959), Gerakan Hidup Mandiri (IL) yang dimulai Ed Roberts di AS (1970-an), serta tema Partisipasi Penuh dan Kesetaraan pada Tahun Internasional Penyandang Disabilitas (1981).

Konvensi PBB tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas tahun 2006 mengusung semboyan Nothing About Us Without Us dan menetapkan Model Sosial: disabilitas bukan cacat individu melainkan timbul dari interaksi dengan hambatan sosial.

Dalam UU Penghapusan Diskriminasi Penyandang Disabilitas di Jepang, melalui pemberlakuan revisi April 2024 (Reiwa 6), Penyediaan Akomodasi yang Layak (dalam batas tidak menimbulkan beban berlebihan) diperkuat dari kewajiban berusaha menjadi Kewajiban Hukum bagi Pelaku Usaha Swasta maupun instansi pemerintah.

Klasifikasi Internasional tentang Fungsi (ICF), Filosofi Disabilitas, dan Akomodasi yang Layak

Poin penting


  • ICF menangkap interaksi dua arah antara Fungsi & Struktur Tubuh (kehidupan), Aktivitas (keseharian), Partisipasi (sosial), serta Faktor Lingkungan dan Personal

  • Gerakan Hidup Mandiri (IL) Ed Roberts menunjukkan bahwa kemandirian berarti mengambil keputusan sendiri meskipun menerima bantuan asuhan

  • Sejak April 2024, revisi UU Penghapusan Diskriminasi Disabilitas menjadikan penyediaan akomodasi yang layak sebagai kewajiban hukum bagi pelaku usaha swasta
KosakataArti
Klasifikasi Internasional tentang Fungsi, Disabilitas, dan Kesehatan (ICF)
Gerakan Hidup Mandiri (Independent Living - IL)
Model sosial disabilitas
Kewajiban hukum penyediaan akomodasi yang layak

Proses Psikologis Penerimaan Disabilitas, Pemberdayaan (Empowerment), dan Perspektif Kekuatan (Strengths)

Mengenai proses psikologis seseorang yang mengalami disabilitas di tengah perjalanan hidup dalam menerima kondisinya, dokter rehabilitasi medis Satoshi Ueda mengemukakan Teori Tahapan Penerimaan Disabilitas yang terdiri dari 5 tahap.

Kelima tahap tersebut adalah: (1) Tahap Syok (mati rasa fisik dan mental) -> (2) Tahap Penyangkalan (tidak mengakui disabilitas dan yakin akan sembuh) -> (3) Tahap Kebingungan (menghadapi kenyataan tidak pulih lalu jatuh dalam kemarahan/depresi) -> (4) Tahap Usaha Penyelesaian (mulai berusaha positif) -> (5) Tahap Penerimaan (membangun nilai-nilai baru).

Penerimaan disabilitas bukanlah sikap pasrah atau menyerah, melainkan Transformasi Nilai (mengakui kembali nilai diri yang memiliki disabilitas), dan prosesnya tidak hanya berjalan lurus tetapi sering maju-mundur.

Terhadap pengguna yang berada pada tahap kebingungan atau penyangkalan, staf perawatan tidak memberikan semangat dangkal atau bujukan paksa, melainkan mendampingi penderitaan dan konflik batin mereka secara empatik sambil menata lingkungan yang aman dan nyaman.

Dalam pemberian dukungan, alih-alih hanya melihat apa yang tidak bisa dilakukan (kekurangan), ditekankan Perspektif Kekuatan (Strengths perspective—berfokus pada kelebihan, kesukaan, dan sumber daya lingkungan) serta Pemberdayaan (Empowerment—menggali potensi asli penyandang).

Poin penting


  • 5 tahap penerimaan disabilitas Satoshi Ueda: Syok -> Penyangkalan -> Kebingungan -> Usaha Penyelesaian -> Penerimaan

  • Penerimaan disabilitas bukan pasrah melainkan Transformasi Nilai; dampingi fluktuasi emosi dengan empati

  • Perspektif Kekuatan (Strengths) yang berfokus pada kelebihan/potensi penyandang dan Pemberdayaan (Empowerment) adalah dasar dukungan
KosakataArti
5 Tahap Penerimaan Disabilitas Satoshi Ueda
Transformasi nilai
Perspektif kekuatan (Strengths perspective)
Pemberdayaan (Empowerment)

Karakteristik Medis dan Dukungan untuk Disabilitas Netra, Rungu/Wicara, serta Daksa (Fisik)

Penyakit penyebab utama Disabilitas Netra meliputi Glaukoma (penyempitan lapang pandang akibat peningkatan tekanan bola mata, penyebab kebutaan didapat nomor 1 di Jepang), Retinitis Pigmentosa (penyakit genetik dengan rabun senja dan penyempitan lapang pandang konsentris/skotoma cincin), serta Retinopati Diabetik.

Disabilitas Rungu dibagi menjadi Tuli Konduktif (gangguan telinga luar hingga tengah; alat bantu dengar sangat efektif memperbesar suara), Tuli Sensorineural (gangguan telinga dalam / koklea hingga saraf pendengaran/otak; suara terdistorsi dan kejelasan kata menurun), dan Tuli Campuran, yang didukung melalui bahasa isyarat, komunikasi tulis, catatan ringkas, serta anjing pemandu dengar.

Pada Disabilitas Daksa, Cedera Saraf Tulang Belakang (Medula Spinalis) menyebabkan kelumpuhan motorik dan sensorik, gangguan kandung kemih/rektum, serta gangguan saraf otonom (gangguan pengatur suhu tubuh, hipotensi ortostatik) di bawah titik cedera: cedera servikal (leher) menyebabkan Tetraplegia (kelumpuhan keempat anggota gerak), sedangkan cedera torakal/lumbal menyebabkan Paraplegia kedua tungkai bawah.

Pada cedera medula spinalis (terutama setinggi torakal 6 ke atas), harus diwaspadai Disrefleksia Otonom (hipertensi berat mendadak, sakit kepala, berkeringat, dan bradikardia akibat rangsangan seperti kandung kemih penuh) serta Dekubitus (luka tekan) berat akibat hilangnya sensasi.

Selain itu, Cerebral Palsy (akibat lesi otak masa perinatal) memiliki Tipe Spastik (peningkatan tonus otot, paling banyak) dan Tipe Atetoid (gerakan tak terkendali, rentan mengalami komplikasi sekunder mielopati servikal), sehingga diperlukan pengaturan posisi nyaman yang meredakan ketegangan otot.

Poin penting


  • Penyebab kebutaan didapat nomor 1 adalah Glaukoma; Retinitis Pigmentosa ditandai rabun senja dan penyempitan lapang pandang konsentris

  • Cedera servikal menyebabkan tetraplegia dan cedera torakal-lumbal menyebabkan paraplegia; waspadai dekubitus, gangguan suhu tubuh, dan disrefleksia otonom

  • Cerebral palsy terdiri dari tipe spastik dan atetoid, perlu pencegahan disabilitas sekunder (seperti gangguan tulang leher)
KosakataArti
Retinitis pigmentosa (rabun senja, penyempitan lapang pandang)
Tuli sensorineural dan Tuli konduktif
Cedera medula spinalis (tetraplegia, paraplegia)
Cerebral palsy (tipe spastik, tipe atetoid)

Pemahaman Penyakit Saraf Langka/Sulit Sembuh (ALS, Parkinson, Degenerasi Spinoserebelar, Distrofi Otot)

Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) adalah penyakit langka terindikasi di mana hanya saraf motorik (neuron motorik atas dan bawah) yang mengalami degenerasi selektif, menyebabkan atrofi dan kelemahan otot seluruh tubuh, kelumpuhan bulbar (disartria, disfagia), serta kelumpuhan otot pernapasan secara progresif.

Pada ALS, sangat penting mengingat 4 Tanda Negatif (fungsi yang tetap terjaga hingga akhir): (1) Gerakan bola mata (dapat berkomunikasi lewat kedipan atau alat input tatapan mata), (2) Fungsi kandung kemih dan rektum, (3) Saraf sensorik (rasa nyeri dan perabaan normal), serta (4) Jarang mengalami dekubitus (ditambah kesadaran dan kecerdasan tetap normal).

Penyakit Parkinson timbul akibat berkurangnya sel saraf dopamin di substansia nigra otak tengah, dengan 4 Gejala Motorik Utama: (1) Tremor saat istirahat, (2) Rigiditas/kekakuan otot (kekakuan roda gigi), (3) Akinesia/Bradikinesia (wajah topeng, suara kecil), dan (4) Gangguan refleks postural (postur membungkuk, langkah pendek-pendek, freezing of gait/kaki membeku, propulsi).

Tingkat keparahan Parkinson dievaluasi dengan Klasifikasi Hoehn & Yahr (Stadium I–V: gangguan refleks postural muncul sejak Stadium III); perhatikan Fenomena Wearing-Off (memendeknya durasi kerja obat L-dopa), sembelit, hipotensi ortostatik, serta pasang penanda garis (pita) di lantai untuk mengatasi kaki membeku saat melangkah.

Selain itu, Degenerasi Spinoserebelar (gejala utama Ataksia seperti jalan sempoyongan dan bicara pelo akibat degenerasi serebelum) serta Distrofi Otot (nekrosis/degenerasi serat otot rangka akibat mutasi gen yang menyebabkan kelemahan otot progresif, seperti tipe Duchenne dan Becker) juga merupakan penyakit langka utama.

Pemahaman Penyakit Saraf Langka/Sulit Sembuh (ALS, Parkinson, Degenerasi Spinoserebelar, Distrofi Otot)

Poin penting


  • 4 Tanda Negatif (fungsi terjaga) pada ALS: gerakan bola mata, fungsi kandung kemih/rektum, sensasi, dan jarang mengalami dekubitus

  • 4 gejala utama Parkinson: tremor istirahat, rigiditas otot, akinesia/bradikinesia, gangguan refleks postural; perhatikan fenomena wearing-off

  • Degenerasi spinoserebelar ditandai ataksia motorik, sedangkan distrofi otot ditandai kelemahan otot progresif akibat degenerasi serat otot
KosakataArti
Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS dan 4 tanda negatif)
Penyakit Parkinson (Klasifikasi Hoehn & Yahr)
Fenomena wearing-off dan Freezing of gait (kaki membeku)
Degenerasi spinoserebelar dan Distrofi otot

Disabilitas Organ Dalam (Jantung, Ginjal, Pernapasan, Stoma, dll.) dan Penyakit Pencernaan Langka

Disabilitas Organ Dalam menurut UU Kesejahteraan Penyandang Disabilitas Fisik mencakup 7 jenis: gangguan fungsi jantung, fungsi ginjal, fungsi pernapasan, fungsi kandung kemih atau rektum, fungsi usus halus, fungsi imun akibat HIV, dan fungsi hati.

Karena disabilitas organ dalam sulit terlihat dari luar, penyandang kerap mengalami kurangnya pemahaman masyarakat; diperlukan perhatian bagi pengguna alat pacu jantung serta manajemen keselamatan ketat (dilarang keras menyalakan api, jarak >2m dari api) bagi pengguna Terapi Oksigen Rumah (HOT) akibat PPOK.

Bagi pasien gagal ginjal kronis yang menjalani Hemodialisis (cuci darah 3 kali/minggu, ~4 jam/sesi), hindari pengukuran tekanan darah, pemakaian jam tangan, membawa beban, atau penekanan pada lengan Shunt (fistula arteri-vena), serta patuhi pembatasan air, garam, kalium (sayur mentah/buah), dan fosfor.

Anus buatan (kolostomi, ileostomi) atau kandung kemih buatan (urostomi) yang dibuat pada dinding perut akibat kanker usus besar atau kandung kemih disebut Stoma; karena stoma tidak memiliki otot sfingter maupun rasa nyeri, pengelolaannya menggunakan kantong (pouch) sambil mengamati iritasi kulit di sekitarnya.

Sifat feses berbeda menurut lokasi stoma: pada stoma ileum atau kolon asendens feses bersifat cair hingga lembek seperti lumpur (waspadai iritasi kulit akibat enzim pencernaan), sedangkan pada stoma kolon desendens atau kolon sigmoid feses bersifat padat biasa.

Poin penting


  • Disabilitas organ dalam terdiri dari 7 jenis (jantung, ginjal, pernapasan, kandung kemih/rektum, usus halus, imun HIV, hati) yang tidak tampak dari luar

  • Bagi pasien hemodialisis: dilarang menekan/mengukur tensi pada sisi lengan Shunt serta batasi asupan air, garam, kalium, dan fosfor

  • Stoma pada ileum/kolon asendens menghasilkan feses cair-lembek, sedangkan stoma kolon sigmoid menghasilkan feses padat
KosakataArti
Disabilitas organ dalam (7 jenis)
Terapi Oksigen Rumah (HOT - dilarang keras api)
Hemodialisis dan manajemen Shunt
Stoma (anus buatan, kandung kemih buatan)

Gejala Utama Gangguan Fungsi Otak Tingkat Tinggi (Atensi, Eksekutif, Pengabaian Spasial Unilateral) dan Asuhan

Gangguan Fungsi Otak Tingkat Tinggi adalah kondisi kerusakan otak pasca penyakit serebrovaskular (infark otak, perdarahan otak) atau cedera kepala akibat kecelakaan lalu lintas yang menyisakan gangguan fungsi kognitif seperti memori, atensi, fungsi eksekutif, dan perilaku sosial.

Empat gejala utamanya meliputi: (1) Gangguan Memori (lupa tempat menaruh barang atau janji—dikompensasi dengan buku catatan dan alarm), serta (2) Gangguan Atensi/Perhatian (mudah terdistraksi, tidak bisa melakukan dua hal sekaligus—sampaikan satu per satu di lingkungan tenang).

Selanjutnya adalah: (3) Gangguan Fungsi Eksekutif (tidak mampu menyusun rencana dan bertindak berurutan—tunjukkan panduan langkah demi langkah dan daftar periksa), serta (4) Gangguan Perilaku Sosial (sulit mengendalikan emosi, mudah marah, atau penurunan motivasi).

Pada Pengabaian Spasial Unilateral Kiri (Left Unilateral Spatial Neglect) yang sering terjadi akibat kerusakan hemisfer otak kanan (lobus parietal), penyandang tidak menyadari separuh ruang sebelah kiri meskipun penglihatannya normal, sehingga menyisakan lauk di sisi kiri nampan atau menabrakkan bahu kiri ke dinding.

Bagi penyandang pengabaian spasial kiri, staf menyapa dari sisi kanan yang mudah dikenali, memutar nampan makanan, atau memberi sapaan spesifik agar menoleh ke kiri. Pada Apraksia Berpakaian (bingung arah memasukkan lengan baju meski tidak lumpuh), berikan tanda warna pada bagian atas-bawah dan luar-dalam pakaian.

Poin penting


  • 4 gejala utama gangguan fungsi otak tingkat tinggi: Gangguan Memori, Gangguan Atensi, Gangguan Fungsi Eksekutif, dan Gangguan Perilaku Sosial

  • Pada Pengabaian Spasial Unilateral Kiri (akibat cedera otak kanan), perhatikan makanan sisi kiri yang terlewat dan benturan dengan penghalang

  • Pada Apraksia Berpakaian, penyandang bingung atas-bawah dan depan-belakang pakaian sehingga perlu diberi tanda warna di kerah dan panduan suara
KosakataArti
Gangguan fungsi otak tingkat tinggi
Gangguan atensi dan Gangguan perilaku sosial
Pengabaian spasial unilateral kiri
Apraksia berpakaian dan Apraksia ideasional

Pemahaman Disabilitas Intelektual, Disabilitas Perkembangan (ASD, ADHD, LD), dan Disabilitas Mental

Disabilitas Intelektual muncul pada Masa Perkembangan (umumnya di bawah usia 18 tahun) yang ditandai keterlambatan fungsi intelektual (IQ umumnya di bawah 70) sekaligus Kesulitan Perilaku Adaptif dalam kehidupan sehari-hari dan sosial; gubernur prefektur menerbitkan Buku Pegangan Ryoiku.

Dalam UU Dukungan Penyandang Disabilitas Perkembangan, disabilitas perkembangan mencakup: (1) Gangguan Spektrum Autisme (ASD) yang ditandai kesulitan interaksi sosial/komunikasi, keterpakuan kuat (minat terbatas, perilaku stereotipik), dan hipersensitivitas sensorik.

Karena penyandang ASD mudah mengalami kecemasan hebat (panik) akibat instruksi lisan yang ambigu atau perubahan jadwal mendadak, dukungan dilakukan melalui Strukturisasi Visual (seperti program TEACCH) menggunakan foto, kartu gambar, dan tabel jadwal agar alur kegiatan dapat diprediksi.

Disabilitas perkembangan juga mencakup: (2) ADHD (ditandai kurang perhatian/inattention, hiperaktivitas, dan impulsivitas), serta (3) Gangguan Belajar (LD / Specific Learning Disorder, di mana perkembangan intelektual umum normal namun mengalami kesulitan khusus pada membaca, menulis, atau berhitung).

Pada Skizofrenia sebagai representasi Disabilitas Mental, fase akut menampilkan Gejala Positif (halusinasi pendengaran, waham) dan fase kronis/pemulihan menampilkan Gejala Negatif (afek tumpul, penurunan motivasi, menarik diri), yang didukung melalui kepatuhan minum obat dan dukungan hidup komunitas (Buku Kesehatan dan Kesejahteraan Penyandang Disabilitas Mental).

Poin penting


  • Disabilitas intelektual muncul pada masa perkembangan (<18 tahun) dan membutuhkan dukungan baik fungsi intelektual maupun perilaku adaptif

  • Bagi ASD (Gangguan Spektrum Autisme), Strukturisasi Visual dengan kartu gambar/jadwal serta kalimat konkret dan afirmatif sangat efektif

  • Skizofrenia terbagi menjadi Gejala Positif (halusinasi, waham) dan Gejala Negatif (penurunan motivasi, penumpulan emosi)
KosakataArti
Disabilitas intelektual (Buku Pegangan Ryoiku)
Gangguan Spektrum Autisme (ASD dan strukturisasi visual)
ADHD dan Gangguan Belajar (LD)
Skizofrenia (gejala positif dan gejala negatif)

Sistem Dukungan Hidup Komunitas, Alat Bantu Prostetik/Ortotik, dan Dukungan Keluarga (Saudara Kandung)

Saat menggunakan layanan kesejahteraan disabilitas berdasarkan UU Dukungan Komprehensif Penyandang Disabilitas, Spesialis Dukungan Konsultasi di kantor konsultasi terindikasi menyusun Rencana Penggunaan Layanan berdasarkan harapan penyandang dan asesmen.

Di setiap penyedia layanan kesejahteraan (perawatan hidup, dukungan kelanjutan kerja, group home, dll.), Penanggung Jawab Manajemen Layanan menyusun Rencana Dukungan Individual sesuai rencana penggunaan layanan dan melakukan pemantauan berkala.

Peralatan penunjang fungsi tubuh terbagi menjadi Alat Bantu Prostetik dan Ortotik (kaki/tangan palsu, brace/ortosis, kursi roda, kursi roda listrik, walker, tongkat putih, alat bantu dengar, alat bantu komunikasi disabilitas berat) serta Alat Kehidupan Sehari-hari (tempat tidur khusus, kantong stoma, alat braille) dari proyek dukungan hidup komunitas kotamadya.

Saat membuat dan menyesuaikan Alat Bantu Mandiri (Self-help devices seperti sendok bergagang tebal, sock aid, button aid), sangat tepat berkolaborasi dengan Terapis Okupasi (OT) yang merupakan spesialis pelatihan gerak aplikatif.

Lebih lanjut dalam dukungan keluarga, perhatikan Masalah 8050 (orang tua usia 80-an merawat anak usia 50-an), persiapan Setelah Orang Tua Tiada, serta perasaan Saudara Kandung Penyandang Disabilitas (Kyodai-ji: isu young carer dan kecemasan beban perawatan masa depan), dengan menghubungkan ke layanan rawat inap pendek (respite) dan transisi komunitas.

Poin penting


  • Spesialis Dukungan Konsultasi menyusun Rencana Penggunaan Layanan; Penanggung Jawab Manajemen Layanan menyusun Rencana Dukungan Individual

  • Bedakan Alat Prostetik/Ortotik (anggota gerak palsu, kursi roda, alat bantu dengar), Alat Kehidupan Sehari-hari, dan Alat Bantu Mandiri (bersama OT)

  • Dukungan keluarga mencakup respite care, persiapan Setelah Orang Tua Tiada, dan dukungan bagi Saudara Kandung (Kyodai-ji)
KosakataArti
Spesialis Dukungan Konsultasi (Rencana Penggunaan Layanan)
Penanggung Jawab Manajemen Layanan (Rencana Dukungan Individual)
Alat Prostetik/Ortotik dan Alat Kehidupan Sehari-hari
Alat bantu mandiri (Terapis Okupasi: OT)

Referensi resmi