VIENID Mulai latihan

Beranda › Materi › Ujian Nasional 介護福祉士 (Care Worker Bersertifikat)

Teknik Dukungan Kehidupan (Seikatsu Shien Gijutsu)

Ujian Nasional 介護福祉士 (Care Worker Bersertifikat) · 介護福祉士国家試験(筆記) · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

Prinsip Dukungan Kehidupan, Lingkungan Ruangan, dan Rekreasi

Dasar Teknik Dukungan Kehidupan adalah memahami 'gambaran utuh' (Zentaizou) pengguna—termasuk fungsi fisik/mental, riwayat hidup, dan nilai-nilai—serta memanfaatkan fungsi tersisa guna mendukung kemandirian dan QOL.

Untuk lingkungan ruangan yang nyaman, atur suhu ruangan pada 25–28°C di musim panas dan 18–22°C di musim dingin dengan kelembapan 40–60%, serta pastikan hembusan AC tidak mengenai tubuh pengguna secara langsung.

Saat ventilasi, membuka dua jendela yang berseberangan secara diagonal akan mengalirkan udara secara efisien. Pencahayaan harus memperhatikan penurunan penglihatan lansia sekaligus mencegah silau langsung (Glare) menggunakan lampu tidak langsung.

Dalam kegiatan kelompok dan rekreasi, gunakan 'ice-breaking' (permainan tangan atau sapaan sederhana) di awal acara untuk mencairkan ketegangan, sambil menghormati keputusan sendiri tanpa memaksakan partisipasi.

Poin penting


  • Lingkungan ruang: Ventilasi diagonal 2 jendela dan tata cahaya yang mencegah silau (Glare)

  • Gunakan 'ice-breaking' untuk mencairkan suasana di awal rekreasi dan hormati keputusan mandiri pengguna
KosakataArti
Memahami gambaran utuh dan memanfaatkan fungsi tersisa
Pencegahan silau (Glare)
Ventilasi diagonal dan pengaturan suhu/kelembapan
Ice-breaking (pencair suasana)

Penataan Lingkungan Hunian dan Modifikasi Rumah Sesuai Penyakit / Disabilitas

Dalam penataan hunian untuk mencegah jatuh dan mendukung kemandirian, langkah efektif meliputi penghilangan undakan lantai (ramp), penggantian lantai anti-selip, serta penggantian pintu ayun menjadi 'pintu geser' (Hikido) yang ringan dan mudah dilalui kursi roda.

Pegangan tangan (handrail) terdiri atas 'pegangan horizontal' (tinggi 75–80 cm dari lantai, setinggi trokanter mayor untuk membantu berjalan) dan 'pegangan vertikal' (membantu berdiri, duduk, dan melangkahi ambang).

Bagi penderita penyakit Parkinson dengan gejala 'kaki membeku' (Sukumi-ashi — sulit melangkahkan kaki pertama), menempelkan pita penanda garis melintang secara berkala di lantai memanfaatkan 'gerak paradoksal' lewat rangsangan visual agar kaki mudah melangkah.

Bagi penderita 'artritis reumatoid' dengan deformitas dan nyeri sendi jari tangan, pilih 'pegangan datar' (Hiratesuri — ditumpu dengan lengan bawah tanpa perlu menggenggam) serta gagang pintu atau keran model tuas (lever).

Poin penting


  • Pegangan horizontal membantu berjalan (setinggi trokanter mayor); pegangan vertikal membantu gerakan berdiri/duduk

  • Pita penanda di lantai efektif untuk Sukumi-ashi pada Parkinson; pegangan datar dan keran tuas efektif untuk artritis reumatoid
KosakataArti
Pegangan horizontal (setinggi trokanter mayor) dan Pegangan vertikal
Pintu geser (Hikido) dan penghilangan undakan
Pita penanda lantai untuk Sukumi-ashi (stimulus visual)
Artritis reumatoid dengan pegangan datar dan gagang tuas

Mekanika Tubuh (Body Mechanics), No-Lifting Care, dan Perubahan Posisi di Tempat Tidur

Untuk mencegah nyeri punggung staf dan memberi bantuan yang aman, terapkan 'prinsip Mekanika Tubuh': buka kaki depan-belakang dan kiri-kanan agar 'bidang tumpu luas', tekuk lutut untuk 'merendahkan titik berat', dan 'dekatkan titik berat' ke pengguna.

Silangkan lengan dan tekuk lutut pengguna untuk 'memperkecil/merapatkan tubuh', 'geser secara horizontal' di atas kasur alih-alih mengangkat, arahkan ujung kaki ke arah gerak tanpa memilin pinggang, serta gunakan prinsip tuas dan otot besar.

Dalam 'No-Lifting Care' (tidak mengangkat manual dengan tenaga manusia semata), gunakan 'sliding sheet' pengurang gesekan, 'sliding board' untuk pindah duduk, serta lift lantai secara aktif.

Saat menaikkan sandaran punggung (posisi Fowler) pada Gatch bed, 'naikkan bagian lutut terlebih dahulu sebelum menaikkan punggung' guna mencegah tubuh merosot ke arah kaki, lalu lakukan 'pembebasan tekanan punggung' (Atsunuki) setelahnya.

Poin penting


  • Mekanika Tubuh: Bidang tumpu luas, titik berat rendah dan dekat, tubuh pengguna dirapatkan, geser horizontal tanpa memilin pinggang

  • Menaikkan sandaran Gatch bed dilakukan dengan urutan 'Naikkan lutut → Naikkan punggung', diakhiri 'pembebasan tekanan punggung'
KosakataArti
Bidang tumpu (Shiji Kiteimen) dan Titik berat
8 Prinsip Mekanika Tubuh (Body Mechanics)
No-Lifting Care (Sliding board dan Sliding sheet)
Menaikkan lutut lebih dulu dan Pembebasan tekanan punggung pada Gatch bed

Bangun & Pindah Posisi pada Hemiplegia serta Kursi Roda, Jalan Tongkat, dan Panduan Tunanetra

Saat penyandang hemiplegia bangun dari posisi telentang, miringkan tubuh dengan 'sisi sehat di bawah', lalu dorong kasur menggunakan siku dan tangan sisi sehat hingga duduk di tepi ranjang. Saat pindah ke kursi roda, letakkan kursi roda di 'sisi sehat dengan sudut 20–30 derajat.'

Saat membantu berdiri, tarik 'kaki sisi sehat sedikit ke belakang', tahan 'lutut sisi lumpuh agar tidak menekuk jatuh', dan arahkan pengguna membungkuk ke depan untuk memindahkan titik berat.

Dalam penggunaan kursi roda, jalan maju saat menanjak dan 'jalan mundur saat menuruni tanjakan curam'; saat naik undakan, injak tipping lever untuk mengangkat roda depan; saat turun undakan juga mundur dengan menurunkan roda belakang lebih dulu.

Berjalan 3 langkah dengan tongkat di jalan datar mengikuti urutan: '(1) Tongkat → (2) Kaki sakit/lumpuh → (3) Kaki sehat.' Saat 'naik tangga' urutannya 'Tongkat → Kaki sehat → Kaki sakit'; saat 'turun tangga' urutannya 'Tongkat → Kaki sakit → Kaki sehat.'

Saat memandu jalan penyandang tunanetra, staf berdiri 'setengah langkah di depan' pada sisi yang tidak memegang tongkat putih, dan pengguna memegang ringan sedikit di atas siku staf.

Bangun & Pindah Posisi pada Hemiplegia serta Kursi Roda, Jalan Tongkat, dan Panduan Tunanetra

Poin penting


  • Letakkan kursi roda di 'sisi sehat'; bergerak 'mundur' saat menuruni lereng curam atau menuruni undakan dengan kursi roda

  • Jalan tongkat: Jalan datar dan turun tangga 'Tongkat → Sakit → Sehat', naik tangga 'Tongkat → Sehat → Sakit'; panduan tunanetra 'setengah langkah di depan'
KosakataArti
Berpindah dari sisi sehat dan mencegah lutut sisi lumpuh menekuk
Tipping lever dan bergerak mundur di turunan
Jalan tongkat 3 langkah (Tongkat → Sakit → Sehat) dan naik-turun tangga
Panduan setengah langkah di depan bagi penyandang tunanetra

Merapikan Diri, Perawatan Mulut, dan Mengenakan Pakaian (Dakken Chakkan)

'Merapikan diri' (cuci muka, menata rambut, bercukur, merias wajah) tidak hanya menjaga kebersihan tetapi juga meningkatkan semangat hidup dan partisipasi sosial. Gerakkan alat cukur listrik berlawanan arah tumbuh rambut sambil meregangkan kulit.

Potong kuku setelah mandi saat kuku lunak dengan metode 'Square Cut' (potong lurus lalu kikir sudutnya) guna mencegah kuku tumbuh ke dalam. Jika ada kemerahan, bengkak, nanah, atau kelainan berat di sekitar kuku, jangan dipotong sendiri melainkan hubungkan ke tenaga medis.

Dalam perawatan mulut, ambil 'posisi agak condong ke depan dengan dagu ditarik ringan' untuk mencegah aspirasi, pegang sikat gigi seperti memegang pena (pen grip) dan sikat 1–2 gigi sekaligus. Gerakkan sikat lidah perlahan 'dari dalam ke arah depan' agar tidak memicu refleks muntah.

Gigi palsu penuh (full denture) 'dilepas dari rahang bawah lebih dulu dan dipasang dari rahang atas lebih dulu', serta wajib disimpan 'di dalam air' (atau cairan pembersih) agar tidak melengkung akibat kering (dilarang menyiram air mendidih).

Saat melepas dan mengenakan pakaian pada penyandang hemiplegia, aturan utamanya adalah 'Dakken Chakkan'—'melepas dari sisi sehat lebih dulu, dan mengenakan dari sisi sakit/lumpuh lebih dulu.'

Poin penting


  • Potong kuku dengan Square Cut, sikat lidah 'dari dalam ke depan', dan simpan gigi palsu 'di dalam air'

  • Melepas dan memakai pakaian mengikuti prinsip 'Dakken Chakkan' (lepas dari sisi sehat, pakai dari sisi lumpuh)
KosakataArti
Square Cut (cara memotong kuku)
Pen grip dan menyikat lidah (dari dalam ke depan)
Melepas/memasang gigi palsu penuh dan menyimpan di dalam air
Dakken Chakkan (prinsip melepas dari sisi sehat, memakai dari sisi lumpuh)

Bantuan Makan, Pencegahan Aspirasi, dan Nutrisi / Hidrasi Sesuai Penyakit

Posisi makan yang aman adalah duduk dalam di kursi dengan 'kedua telapak kaki menapak rata di lantai', batang tubuh agak condong ke depan, dan 'dagu ditarik ringan'. Jika dagu mendongak, jalan napas terbuka sehingga mudah tersedak.

Duduklah sejajar pandangan mata pengguna, basahi mulut terlebih dahulu dengan teh atau sup, suapkan sekitar 1 sendok teh ke 'atas lidah sisi sehat', dan pastikan makanan sudah tertelan sempurna sebelum memberi suapan berikutnya.

Untuk camilan pengguna dengan penurunan fungsi menelan, hindari kue bolu kering atau mochi, wafer monaka, dan jeli konjak yang lengket; pilih makanan lembut dan mudah menyatu seperti 'puding, mousse, atau jeli lunak.'

Berdasarkan penyakit: pasien 'hemodialisis' (cuci darah) harus membatasi air, garam, kalium (banyak pada sayur mentah/buah; kurangi dengan merebus sayur lalu membuang air rebusannya), dan fosfor; pasien 'refluks gastroesofageal' menghindari lemak tinggi dan tidak langsung berbaring setelah makan.

Bagi pengguna dengan 'pengabaian ruang sisi kiri' (left spatial neglect), letakkan piring agak ke kanan atau beri sapaan agar memperhatikan sisi kiri; saat berkeringat, diare, atau demam, berikan 'cairan rehidrasi oral' (oralit/ORS) atau air hangat secara berkala.

Poin penting


  • Posisi makan: 'Telapak kaki menapak lantai, condong ke depan, dagu ditarik'; masukkan makanan ke 'sisi sehat' dan pastikan sudah menelan

  • Hemodialisis membatasi air, garam, kalium (rebus buang air), dan fosfor; refluks esofagus tidak langsung berbaring sehabis makan
KosakataArti
Posisi makan (telapak kaki menapak dan dagu ditarik)
Menyuapkan makanan ke sisi sehat dan memastikan penelanan
Diet hemodialisis (pembatasan kalium, fosfor, garam, dan cairan)
Penataan nampan untuk pengabaian ruang kiri dan Cairan Rehidrasi Oral (ORS)

Bantuan Mandi, Mandi Sebagian, Seka Seluruh Tubuh, dan Membasuh Area Genital

Mandi memiliki efek termal, tekanan hidrostatik, dan gaya apung; untuk mencegah lonjakan tekanan darah akibat perbedaan suhu (heat shock) dan gangguan pencernaan, hangatkan ruang ganti serta kamar mandi sebelumnya dan hindari mandi dalam 1 jam setelah makan.

Saat penyandang hemiplegia melangkahi tepi bak mandi, demi menopang titik berat dengan aman, aturan dasarnya adalah 'baik saat masuk maupun keluar bak mandi selalu melangkah dengan kaki sehat lebih dulu' (penggunaan bath board juga efektif).

Bila mandi biasa sulit dilakukan, gunakan 'bak mandi mekanis khusus' (stretcher bath), 'rendam kaki / tangan' untuk memperlancar sirkulasi dan tidur, keramas di tempat tidur dengan Kelly pad, atau 'seka seluruh tubuh di tempat tidur' (Zenshin Seishiki).

Pada seka seluruh tubuh, peras handuk dalam air panas 50–55°C (sekitar 40°C saat menyentuh kulit), minimalkan bagian tubuh yang terbuka, dan seka dengan urutan: 'Wajah → Lengan → Dada/Perut → Punggung → Tungkai → Area genital.'

Seka mata satu arah 'dari sudut mata dalam ke sudut mata luar', seka anggota gerak 'dari ujung (distal) ke arah jantung (proksimal)' untuk membantu aliran balik vena, dan seka perut 'searah jarum jam membentuk huruf の mengelilingi pusar' mengikuti jalannya usus besar.

Pada pembasuhan area genital (Inbu Senjou), gunakan air hangat 38–39°C dan basuh satu arah 'dari depan (sisi tulang kemaluan/uretra) ke belakang (sisi anus)' guna mencegah infeksi saluran kemih.

Bantuan Mandi, Mandi Sebagian, Seka Seluruh Tubuh, dan Membasuh Area Genital

Poin penting


  • Keluar-masuk bak mandi pada hemiplegia: 'Masuk maupun keluar selalu dengan kaki sehat lebih dulu', hindari mandi tepat sehabis makan

  • Seka tubuh: Mata 'sudut dalam ke luar', perut 'searah jarum jam', tungkai 'ujung ke pusat', area genital 'depan ke belakang'
KosakataArti
3 efek fisiologis mandi dan pencegahan Heat shock
Masuk dan keluar bak mandi pada hemiplegia (kaki sehat lebih dulu)
Arah seka seluruh tubuh (mata dalam ke luar, perut searah jarum jam, tungkai ujung ke pusat)
Pembasuhan area genital (38–39°C, dari depan ke belakang)

Perawatan Ekskresi, Supositoria, Enema Gliserin, dan Perawatan Stoma

Dalam perawatan ekskresi, utamakan privasi dan kepekaan terhadap rasa malu; manfaatkan 'refleks gastrokolik' setelah sarapan dan dorong buang air besar alami dengan posisi condong ke depan di toilet atau toilet portabel.

Saat mengganti popok, menumpuk beberapa lapis popok akan menciptakan celah yang memicu kebocoran, lembap, dan luka tekan; pilih ukuran dan daya serap pad yang sesuai serta tegakkan kerutan pelindung di lipat paha.

Saat membantu memasukkan 'supositoria' (untuk obat selain pencahar, buang air besar terlebih dahulu), posisikan pengguna 'miring ke kiri' (posisi lateral kiri) dan masukkan dari 'ujung yang tebal (runcing) lebih dulu' saat pengguna menghembuskan napas lewat mulut.

Saat membantu 'enema gliserin' sekali pakai, hangatkan cairan hingga '39–40°C' dan ambil 'posisi miring kiri'; dilarang keras memasukkan enema dalam posisi berdiri karena berisiko melubangi rektum (perforasi rektum).

Karena 'stoma' saluran cerna (kolostomi) tidak memiliki otot sfingter, keinginan buang air besar tidak dapat ditahan; buang isi kantong (pouch) saat tinja terisi 'sepertiga hingga setengah kantong', dan lepaskan pelindung kulit perlahan sambil menekan kulit.

Poin penting


  • Dorong BAB alami dengan 'refleks gastrokolik' setelah sarapan dan posisi condong ke depan; jangan menumpuk popok berlapis-lapis

  • Enema gliserin: '39–40°C pada posisi miring kiri (dilarang posisi berdiri)'; kosongkan kantong stoma saat terisi 1/3 hingga 1/2
KosakataArti
Refleks gastrokolik dan posisi condong ke depan saat BAB
Pemasangan supositoria (dari ujung tebal/runcing lebih dulu)
Enema gliserin (39–40°C, posisi miring kiri)
Stoma (kolostomi / urostomi) dan penggantian kantong pouch

Bantuan Pekerjaan Rumah (Memasak 'Sa-Shi-Su-Se-So', Higiene Pangan, Mencuci, Perlindungan Konsumen)

Dalam bantuan memasak, urutan dasar bumbu 'Sa-Shi-Su-Se-So' adalah 'Sa = Gula, Shi = Garam, Su = Cuka, Se = Kecap asin (Shoyu), So = Miso'; masukkan gula sebelum garam karena molekul gula besar dan lambat meresap, sedangkan shoyu dan miso dimasukkan terakhir agar aromanya terjaga.

Pada label pangan, 'Tanggal Kedaluwarsa Konsumsi' (Shouhi Kigen) menunjukkan 'batas aman dikonsumsi' untuk makanan cepat rusak, sedangkan 'Tanggal Terbaik Sebelum' (Shoumi Kigen) menunjukkan 'batas rasa lezat' untuk makanan tahan lama.

3 prinsip pencegahan keracunan makanan adalah 'Jangan menempelkan, Jangan memperbanyak, Basmi'; kerang dua cangkang yang berisiko tercemar Norovirus wajib dipanaskan hingga suhu inti '85–90°C selama 90 detik atau lebih.'

Dalam perawatan pakaian, periksa simbol pencucian, lepaskan plastik pembungkus setelah dry cleaning agar tidak lembap dan menyisakan pelarut, serta letakkan 'kapur barus / obat antiserangga di bagian paling atas pakaian' karena gasnya lebih berat daripada udara.

Dalam dukungan belanja dan pengelolaan uang bagi lansia yang tinggal sendiri atau mengalami demensia, bila ditemukan kontrak penjualan langsung yang mencurigakan, segera hubungkan ke sistem cooling-off, Hotline Konsumen ('188'), atau Pusat Dukungan Komprehensif Masyarakat.

Poin penting


  • Urutan bumbu 'Sa-Shi-Su-Se-So (Gula → Garam → Cuka → Shoyu → Miso)' dan pemanasan Norovirus (85–90°C selama ≥90 detik)

  • Letakkan obat antiserangga 'di atas pakaian' (gas lebih berat dari udara), dan laporkan masalah konsumen ke Hotline '188'
KosakataArti
Urutan bumbu Sa-Shi-Su-Se-So
Shouhi Kigen (batas aman) dan Shoumi Kigen (batas kelezatan)
Penempatan obat antiserangga (di bagian paling atas pakaian)
Hotline Konsumen (188) dan Sistem Cooling-off

Dukungan Tidur Nyenyak, Perawatan Akhir Hayat, dan Pemanfaatan Alat Bantu Kesejahteraan

Untuk mendorong tidur berkualitas, berjemurlah di pagi hari guna mengatur ulang jam biologis, beraktivitas secukupnya di siang hari, dan mandi air hangat atau rendam kaki 1–2 jam sebelum tidur. Saat merapikan tempat tidur (bed-making), tarik seprai dengan kencang tanpa kerutan untuk mencegah luka tekan.

Dalam perawatan akhir hayat (terminal care), jelaskan dengan lembut kepada keluarga mengenai perubahan fisik alami—seperti penurunan asupan makan/minum, napas rahang bawah, dan 'pernapasan Cheyne-Stokes' (napas dalam bergantian dengan henti napas)—agar keluarga tenang.

Setelah dokter memastikan kematian, lakukan 'Angel Care' (perawatan jenazah demi menjaga martabat), 'Grief Care' (mendampingi duka keluarga), serta 'Death Conference' (refleksi tim untuk meningkatkan mutu perawatan ke depan).

Untuk alat bantu jalan, pilih 'kruk Lofstrand' (ditopang pada lengan bawah dan genggaman) bagi pengguna dengan kekuatan genggam lemah atau artritis reumatoid, 'tongkat banyak titik' (Taten-zue) yang stabil, atau walker sesuai fungsi tubuh.

Selain itu, manfaatkan alat bantu mandiri (Jijogu) seperti 'sock aid' (alat bantu pakai kaus kaki), 'button aid', alat bantu komunikasi portabel, serta alat tulis Braille, sambil terus memantau kesesuaiannya.

Dukungan Tidur Nyenyak, Perawatan Akhir Hayat, dan Pemanfaatan Alat Bantu Kesejahteraan

Poin penting


  • Memahami pernapasan Cheyne-Stokes di fase terminal serta makna Angel Care, Grief Care, dan Death Conference

  • Pemilihan alat bantu: kruk Lofstrand (penopang lengan bawah), tongkat banyak titik, bath board, dan sock aid
KosakataArti
Pernapasan Cheyne-Stokes dan Pernapasan rahang bawah
Angel Care, Grief Care, dan Death Conference
Kruk Lofstrand, Tongkat banyak titik, dan Walker
Alat bantu mandiri (Sock aid, Button aid)

Teknik Dukungan Kehidupan Sehari-hari

Latihan soal bab ini di aplikasi

Referensi resmi