VIENID Mulai latihan

Beranda › Materi › Sertifikat Besi Tulangan 鉄筋技能士 (teori Kelas 1/2)

Gambar Teknik Bangunan (Aturan Gambar, Simbol Gambar Struktur, Perhitungan Panjang Potong & Massa)

Sertifikat Besi Tulangan 鉄筋技能士 (teori Kelas 1/2) · 技能検定「鉄筋施工」1級・2級 学科 · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

Aturan Umum Gambar Bangunan (JIS A 0150): Skala, Arah Utara, Ukuran, dan Jenis Garis

Menurut JIS A 0150, satuan ukuran gambar adalah 'milimeter (mm)' tanpa menuliskan simbol mm. Angka ukuran pada gambar selalu menunjukkan 'ukuran sebenarnya' tanpa bergantung pada skala gambar.

Contohnya, pada gambar berskala 1/100, dinding yang digambar sepanjang 45 mm memiliki panjang asli '45 mm × 100 = 4500 mm (4,5 m)'. Gambar situasi dan denah lantai pada prinsipnya digambar dengan 'arah Utara berada di bagian atas gambar'.

Jenis garis meliputi 'garis tegas/kontinu (jissen)', 'garis putus-putus (hasen)', 'garis strip-titik (itten sasen)', dan 'garis strip-dua titik (niten sasen)', yang dibedakan atas garis tebal, sedang, dan tipis.

Garis tepi potongan memakai 'garis kontinu tebal', garis tampak memakai 'garis kontinu sedang', garis ukur dan garis penunjuk memakai 'garis kontinu tipis', garis terhalang memakai 'garis putus-putus', sedangkan 'garis as (tōrishin) dan garis sumbu' memakai 'garis strip-titik tipis'.

Poin penting


  • Satuan ukuran gambar adalah 'mm' (simbol mm tidak ditulis), dan denah menempatkan arah Utara di bagian atas

  • Garis tersembunyi memakai 'garis putus-putus (hasen)', sedangkan garis as dan garis sumbu memakai 'garis strip-titik (itten sasen)'

  • Garis potongan memakai garis kontinu tebal, garis tampak memakai garis sedang, dan garis ukur memakai garis tipis
KosakataArti
Aturan Umum Gambar Teknik Bangunan (JIS A 0150)
garis kontinu, garis putus-putus, garis strip-titik, dan strip-dua titik
garis as kolom/dinding (tōrishin) dan garis sumbu
garis ukur, garis bantu ukur, dan garis penunjuk

Jenis Gambar Rencana (Situasi, Denah, Tampak, Potongan, dan Gambar Struktur)

Dokumen gambar konstruksi terdiri atas gambar arsitektur umum, 'gambar struktur (kōzōzu)' yang memuat ukuran rangka dan tulangan, gambar utilitas, serta 'spesifikasi teknis (shiyōsho)' yang memuat syarat mutu secara tertulis.

'Gambar situasi / site plan (haichizu)' menunjukkan tapak lahan, jalan, batas tanah, dan posisi bangunan. 'Gambar denah (heimenzu)' adalah potongan mendatar tiap lantai setinggi jendela (sekitar 1,2–1,5 m dari lantai) dilihat dari atas.

'Gambar tampak (ritsumenzu)' memperlihatkan tampilan luar bangunan dari 4 arah mata angin. 'Gambar potongan (danmenzu)' adalah potongan vertikal bangunan yang menunjukkan tinggi tingkat dan tinggi plafon; potongan detail skala besar (1/20–1/30) dari fondasi hingga atap disebut 'kanabakarizu'.

'Gambar struktur' meliputi 'denah pembalokan/fondasi (kōzō fusezu)', 'gambar portal rangka vertikal (jikugumizu)' sepanjang garis as, dan 'daftar tabel penampang komponen (buzai danmen list)'.

Poin penting


  • Denah (heimenzu) adalah potongan mendatar dilihat dari atas; tampak (ritsumenzu) adalah tampilan luar bangunan dari samping

  • Potongan (danmenzu) adalah irisan vertikal yang menunjukkan tinggi lantai; potongan detail skala besar disebut kanabakarizu

  • Gambar struktur terdiri dari denah pembalokan (fusezu), gambar portal (jikugumizu), dan tabel penampang komponen
KosakataArti
site plan, denah, tampak, dan potongan
potongan detail (kanabakarizu) dan spesifikasi teknis
denah struktur (denah fondasi dan denah pembalokan)
gambar portal rangka (jikugumizu) dan daftar penampang komponen

Simbol Penampang Material, Simbol Pintu/Jendela, dan Simbol Ukuran (JIS A 0150)

Berdasarkan simbol penampang material JIS A 0150, beton tanpa tulangan digambar dengan kelompok 3 garis miring dan titik-titik, sedangkan 'beton bertulang (RC)' digambar dengan selang-seling kelompok 3 garis miring tipis dan 1 garis miring tebal.

'Tanah dasar (ground)' digambar di bawah garis tanah dengan kelompok 3 garis miring yang arahnya saling bersilangan; 'batu belah fondasi (wariguri-ishi)' digambar berupa deretan lonjong, dan 'kerikil' berupa butiran bulat kecil.

Pada simbol pintu dan jendela di denah: 1 daun pintu berputar menunjukkan 'pintu ayun tunggal (katabirakido)', 2 daun pintu simetris menunjukkan 'pintu ayun ganda (ryōbirakido)', 2 garis sejajar bergeser menunjukkan 'jendela/pintu geser ganda (hikichigai)', dan 'jendela mati (FIX)' diberi garis tegak pendek di tengah.

Simbol ukuran: 'φ' menyatakan diameter lingkaran, 'D' ukuran besi ulir, 'R' jari-jari (radius) lengkungan, '□' ukuran sisi persegi, 't' tebal pelat/dinding, '@' jarak pemasangan tulangan (pitch), dan 'L' panjang.

Simbol Penampang Material, Simbol Pintu/Jendela, dan Simbol Ukuran (JIS A 0150)

Poin penting


  • Pada JIS A 0150: 3 garis miring + 1 garis tebal adalah beton bertulang (RC); arsiran 3 garis bersilangan di bawah garis tanah adalah tanah dasar

  • 1 daun berputar = pintu ayun tunggal, 2 daun simetris = pintu ayun ganda, 2 garis geser sejajar = jendela/pintu geser ganda

  • Simbol ukuran: φ = diameter, R = jari-jari, □ = sisi persegi, t = tebal, @ = jarak tulangan (pitch)
KosakataArti
simbol penampang beton bertulang dan tanah dasar
pintu ayun tunggal, pintu ayun ganda, dan jendela geser ganda
diameter (φ), jari-jari (R), dan sisi persegi (□)
tebal pelat (t) dan jarak tulangan (@: pitch)

Simbol Komponen Struktur, Elevasi Acuan, dan Cara Membaca Simbol Pelat

Simbol komponen pada gambar struktur meliputi: 'C' = Kolom (Column), 'G' = Balok Induk (Girder), 'B' = Balok Anak (Beam), 'S' = Pelat Lantai (Slab), 'W' = Dinding (Wall), 'SW' = Dinding Geser (Shear Wall), dan 'F' = Fondasi (Footing).

Simbol gabungan meliputi: 'FG' = Balok Fondasi Induk (Foundation Girder), 'FB' = Balok Fondasi Anak, 'FS' = Pelat Fondasi, 'CS' = Pelat Lantai Kantilever (Cantilever Slab), 'CG' = Balok Induk Kantilever, dan 'CB' = Balok Anak Kantilever.

Untuk acuan ketinggian (elevasi), titik tetap pengukuran tinggi di lokasi proyek disebut 'BM (Benchmark)'; 'GL' adalah muka tanah rencana, 'FL' adalah muka lantai selesai, 'SL' adalah muka atas pelat beton struktur, dan '▽' adalah tanda elevasi.

Di dalam simbol lingkaran pelat pada denah pembalokan lantai, kedua angka yang tertulis menunjukkan 'tebal pelat lantai (misal 150 = tebal 150 mm)' dan 'penurunan elevasi (drop) permukaan atas pelat dari acuan balok (misal -50 = turun 50 mm)'.

Poin penting


  • Simbol komponen: C = kolom, G = balok induk, B = balok anak, FG = balok fondasi, S = pelat, CS = pelat kantilever, F = fondasi, W = dinding

  • Simbol elevasi: BM = titik tetap benchmark, GL = muka tanah, FL = muka lantai selesai, SL = muka atas pelat struktur

  • Simbol lingkaran pelat pada denah struktur menunjukkan 'tebal pelat' dan 'selisih tinggi / penurunan muka pelat'
KosakataArti
simbol komponen struktur (C, G, B, S, W, F)
balok fondasi (FG), pelat fondasi (FS), dan pelat kantilever (CS)
benchmark (BM) serta GL, FL, SL
notasi tebal pelat dan penurunan elevasi pelat pada denah struktur

Membaca Tabel Penampang Kolom/Balok, Gambar Kerja Pembesian, dan Daftar Potong Besi

Pada 'daftar tabel penampang komponen (tabel kolom dan tabel balok)' di gambar struktur, ukuran penampang (lebar × tinggi) serta diameter, jumlah, dan jarak tulangan utama, sengkang, serta tulangan pinggang disajikan per lantai dan kode komponen.

Pada tabel penampang balok, penampang balok induk ditampilkan terpisah antara 'tumpuan ujung (end)' dan 'lapangan tengah (midspan)' karena jumlah tulangan atas dan bawahnya berbeda sesuai bidang tarik. Ukuran '400×750' berarti 'lebar balok 400 mm × tinggi balok 750 mm'.

Berdasarkan gambar struktur, gambar detail yang dibuat agar pekerja dapat memotong dan merakit besi secara akurat—memuat lokasi sambungan, panjang angkur, detail pertemuan, dan selimut beton—disebut 'gambar kerja pembesian (shop drawing / tekkin sekōzu)'.

Daftar rekapitulasi yang memuat bentuk bengkokan, mutu baja, diameter, ukuran tiap sisi, panjang potong per batang (kirisun), jumlah batang, dan berat total disebut 'daftar potong/bengkok besi (bar list / kakōchō)'. Setiap ikatan besi yang selesai dipabrikasi diberi 'label pabrikasi (kakō efu)'.

Poin penting


  • Tabel balok memisahkan penampang 'ujung (tumpuan)' dan 'tengah bentang (lapangan)'; '400×750' berarti lebar 400 mm × tinggi 750 mm

  • Gambar detail pelaksanaan yang memuat posisi sambungan dan detail pertemuan disebut gambar kerja pembesian (tekkin sekōzu)

  • Tabel rekapitulasi bentuk, panjang potong, jumlah, dan berat besi disebut bar list (kakōchō)
KosakataArti
tabel penampang komponen (lebar balok × tinggi balok)
penampang ujung balok dan penampang tengah bentang
gambar kerja pembesian (shop drawing)
daftar potong besi (bar list / kakōchō) dan label besi (efu)

Perhitungan Panjang Potong Besi (Kirisun), Kait, dan Perpanjangan Bengkokan

Saat besi tulangan dibengkokkan, sisi luarnya memanjang sehingga jumlah ukuran luar (gaisun) lebih besar daripada panjang potong lurus sebenarnya (kirisun). Untuk menghitung panjang potong digunakan rumus konversi dari ukuran luar.

Untuk setiap 'bengkokan siku 90° di tengah batang', jumlah ukuran luar dikurangi '2d': untuk 1 bengkokan 90° dengan sisi luar A dan B maka 'Panjang potong L = A + B − 2d'; untuk bentuk U dengan 2 bengkokan 90° (sisi luar A, B, C) dikurangi 4d menjadi 'L = A + B + C − 4d'.

Untuk 'kait di ujung batang', panjang tambahan terhadap ukuran luar per 1 kait adalah: ① Kait 180° (ekor 4d, diameter dalam 3d) ditambah '+5d'; ② Kait 135° ditambah '+7d (atau standar +6d s/d +8d)'; ③ Kait 90° ditambah '+8d (atau +10d untuk angkur 12d)'.

Pada 'tulangan miring 45° (bent-up bar)' setinggi H, panjang sisi miringnya adalah 1,414H (sekitar 1,4H) sedangkan proyeksi mendatarnya 1,0H, sehingga ditambahkan '+0,4H' untuk setiap 1 bengkokan 45° (+0,8H untuk 2 bengkokan) terhadap panjang mendatar total.

Perhitungan Panjang Potong Besi (Kirisun), Kait, dan Perpanjangan Bengkokan

Poin penting


  • Panjang potong dari ukuran luar: 1 sudut 90° adalah 'L = A + B − 2d'; 2 sudut 90° adalah 'L = A + B + C − 4d'

  • Kait 180° (ekor ≥ 4d), kait 135° (ekor ≥ 6d), dan kait 90° (ekor ≥ 8d atau 12d) wajib memenuhi syarat diameter lengkung dalam D dan panjang ekor lurus

  • Tulangan bengkok 45° setinggi H memiliki sisi miring 1,4H sehingga menambah '+0,4H' per 1 bengkokan terhadap panjang mendatar
KosakataArti
panjang potong (kirisun) dan ukuran luar (gaisun)
pengurangan bengkokan 90° (−2d per sudut)
panjang potong sengkang persegi tertutup (4A + 8d)
pertambahan panjang bengkokan 45° (+0,4H per bengkokan)

Perhitungan Jumlah Batang Tulangan Berdasarkan Jarak (Pitch) dan Berat Total

Saat menyusun besi tulangan pelat, dinding, sengkang kolom, atau sengkang balok dengan jarak (pitch) P sepanjang bentang L, karena besi dipasang di ujung awal sekaligus ujung akhir, maka jumlah batang N adalah 'jumlah spasi + 1 batang'.

Rumusnya adalah 'Jumlah batang N = (Panjang bentang L ÷ Jarak P) + 1'. Bila hasil bagi L ÷ P berupa pecahan, bulatkan ke ATAS terlebih dahulu lalu ditambah 1. Contohnya, memasang besi @200 (jarak 200 mm) sepanjang 4000 mm membutuhkan (4000 ÷ 200) + 1 = 20 + 1 = '21 batang'.

Jika dipasang @200 sepanjang 3500 mm, maka 3500 ÷ 200 = 17,5 → dibulatkan ke atas menjadi 18 spasi, lalu 18 + 1 = '19 batang'. Lupa menambahkan '+1' adalah kesalahan paling sering dalam ujian.

Massa total besi tulangan (kg atau ton) dihitung dengan rumus: 'Panjang potong 1 batang (m) × Jumlah batang × Massa satuan (kg/m)'. Misalnya 40 batang besi D16 (1,56 kg/m) dengan panjang masing-masing 5,0 m memiliki panjang total 200 m dan berat total 200 × 1,56 = '312 kg (0,312 ton)'.

Poin penting


  • Jumlah batang sepanjang L dengan jarak P adalah 'N = (L ÷ P) + 1'; hasil bagi pecahan dibulatkan ke atas sebelum ditambah 1

  • Pemasangan tulangan @200 sepanjang 4000 mm membutuhkan 4000 ÷ 200 + 1 = 21 batang (bukan 20 batang)

  • Berat total besi (kg) = Panjang 1 batang (m) × Jumlah batang × Massa satuan (kg/m)
KosakataArti
rumus jumlah batang (panjang bentang ÷ pitch + 1)
pembulatan ke atas pada sisa pecahan
panjang total tulangan (panjang potong × jumlah batang)
massa total tulangan (panjang total × massa satuan)

Menghitung Ukuran Luar Sengkang dan Aplikasi Perhitungan Gambar Kerja

Untuk mencari 'ukuran luar pabrikasi (kakō gaisun)' sengkang kolom atau sengkang balok dari ukuran penampang beton pada gambar struktur, kurangi ukuran penampang beton dengan '2 kali tebal selimut beton (sisi kiri-kanan atau atas-bawah)'.

Contohnya, pada kolom persegi berukuran 600 mm × 600 mm dengan tebal selimut beton 40 mm di keempat sisi luar sengkang, ukuran luar sisi sengkang A adalah '600 − 40 × 2 = 520 mm' (jangan hanya mengurangi satu sisi saja).

Demikian pula pada balok induk berukuran lebar 400 mm × tinggi 700 mm dengan selimut beton 40 mm, lebar luar sengkang adalah '400 − 40 × 2 = 320 mm' dan tinggi luar sengkang adalah '700 − 40 × 2 = 620 mm'.

Apabila jarak antar as kolom (bentang as ke as) adalah 6000 mm dan ukuran kolom 600 mm × 600 mm sentris pada garis as, maka 'bentang bersih antar muka kolom L0' adalah '6000 − 300 − 300 = 5400 mm'. Dari bentang bersih L0 ini ditambahkan panjang penjangkaran kedua ujung untuk memperoleh panjang potong tulangan utama.

Poin penting


  • Ukuran luar sengkang kolom/balok = Ukuran penampang beton − 2 × Tebal selimut beton

  • Kolom 600×600 mm dengan selimut 40 mm memiliki ukuran luar sengkang 520×520 mm; balok 400×700 mm dengan selimut 40 mm memiliki ukuran luar sengkang 320×620 mm

  • Bentang bersih antar muka kolom L0 = Jarak as ke as kolom − Jarak dari as ke muka kolom di kedua ujung
KosakataArti
ukuran luar sengkang (ukuran penampang − 2 × selimut beton)
jarak as kolom (span) dan bentang bersih (L0)
garis as kolom dan muka kolom
perhitungan panjang potong tulangan utama (bentang bersih + angkur ujung)

Gambar Arsitektur & Gambar Kerja

Latihan soal bab ini di aplikasi

Referensi resmi

💬