VIENIDMY Masuk Mulai latihan

Beranda › Materi › Manajemen Operasi Produksi Kelas 3 生産管理オペレーション (BC検定)

Dasar Manajemen Biaya (Harga Pokok)

Manajemen Operasi Produksi Kelas 3 生産管理オペレーション (BC検定) · ビジネス・キャリア検定 生産管理オペレーション3級 · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

1. Sistem Manajemen Biaya (Perencanaan, Pemertahanan, Perbaikan Biaya) dan Tujuan Akuntansi Biaya

"Biaya / Harga Pokok (Genka / Cost)" adalah nilai ekonomi (barang maupun jasa) yang dikonsumsi perusahaan untuk memproduksi dan menjual produk yang dinyatakan dalam satuan uang.

"Manajemen Biaya" bukan sekadar menghitung biaya aktual masa lalu, melainkan rangkaian kegiatan siklus PDCA yang menetapkan "Biaya Standar (Biaya Target)", menganalisis selisihnya terhadap "Biaya Aktual", lalu menghilangkan pemborosan guna menurunkan biaya.

Manajemen biaya terpadu modern terdiri atas 3 tahap: ① "Perencanaan Biaya / Target Costing (Genka Kikaku)" yang merancang biaya sejak tahap perencanaan dan desain produk baru; ② "Pemertahanan Biaya (Genka Iji)" yang mencapai serta menjaga biaya standar pada tahap produksi massal; dan ③ "Perbaikan Biaya (Genka Kaizen)" yang merevisi dan menurunkan standar itu sendiri demi penghematan lebih lanjut.

Adapun "Lima Tujuan Akuntansi Biaya" adalah: ① Menyusun laporan keuangan (Laporan Laba Rugi dan Neraca), ② Menentukan harga jual, ③ Pengendalian biaya (cost control), ④ Penyusunan dan pengendalian anggaran, serta ⑤ Pengambilan keputusan rencana dasar manajemen (investasi peralatan, keputusan buat sendiri atau subkontrak).

Poin penting


  • Manajemen Biaya = kegiatan siklus PDCA yang menetapkan biaya standar (target), menganalisis selisih terhadap biaya aktual, dan mengambil tindakan perbaikan.

  • Tiga pilar Manajemen Biaya: ① Perencanaan Biaya (tahap desain & pengembangan) → ② Pemertahanan Biaya (pematuhan standar saat produksi massal) → ③ Perbaikan Biaya (penurunan standar saat produksi massal).

  • Karena sekitar 80% biaya produk ditentukan pada tahap perencanaan dan desain, "Perencanaan Biaya (Genka Kikaku)" di hulu dianggap paling penting.
KosakataArti
Perencanaan Biaya (Genka Kikaku), Pemertahanan Biaya, dan Perbaikan Biaya
Biaya Standar dan Biaya Aktual
Lima Tujuan Akuntansi Biaya

2. Klasifikasi Biaya (Biaya Bahan / Tenaga Kerja / Beban Lain, Langsung vs. Tak Langsung, Variabel vs. Tetap)

Biaya produksi menurut bentuk terjadinya (apa yang dikonsumsi) dibagi menjadi 3 unsur: "Biaya Bahan (konsumsi barang)", "Biaya Tenaga Kerja (konsumsi tenaga kerja: upah, bonus, tunjangan jaminan sosial wajib, dll.)", dan "Biaya Lain / Beban Pabrik (Keihi, selain bahan dan tenaga kerja: penyusutan/depresiasi, ongkos subkontrak luar, tarif listrik, premi asuransi, dll.)".

Menurut keterkaitannya dengan produk tertentu dibagi menjadi "Biaya Langsung" dan "Biaya Tak Langsung". Biaya yang jelas berapa banyak dikonsumsi untuk produk tertentu dan dapat dihitung langsung ke produk tersebut dinamakan "Biaya Langsung"; pembebanan langsung ini disebut "Pembebanan Langsung (Chokka / Fuka)".

Sebaliknya, biaya yang timbul bersama untuk berbagai jenis produk—seperti penyusutan gedung pabrik, gaji pengawas, dan barang habis pakai bersama—disebut "Biaya Tak Langsung (Overhead)". Biaya tak langsung dibagikan ke tiap produk menggunakan "Dasar Alokasi" seperti jam kerja langsung atau jam jalan mesin (disebut "Alokasi / Haifu").

Lebih lanjut, menurut hubungannya dengan naik-turunnya tingkat aktivitas (volume produksi), biaya dibagi menjadi "Biaya Variabel (biaya bahan langsung, ongkos subkontrak luar, dll.)" yang berubah sebanding dengan volume produksi, dan "Biaya Tetap (penyusutan metode garis lurus, gaji tetap, asuransi kebakaran, pajak bumi bangunan, dll.)" yang timbul dalam jumlah tetap tanpa dipengaruhi perubahan volume produksi.

Poin penting


  • Tiga unsur biaya menurut bentuk = Biaya Bahan, Biaya Tenaga Kerja, dan Biaya Lain / Keihi (ongkos subkontrak luar, penyusutan, serta listrik/air masuk ke dalam "Biaya Lain / Keihi").

  • Biaya Langsung dibebankan langsung ("Chokka / Fuka") ke produk spesifik, sedangkan Biaya Tak Langsung dibagi secara proporsional ("Alokasi / Haifu") ke tiap produk menurut dasar alokasi.

  • Biaya Variabel = berubah sebanding dengan jumlah produksi (bahan langsung, dll.) / Biaya Tetap = konstan tanpa terpengaruh jumlah produksi (penyusutan, asuransi, dll.).
KosakataArti
Biaya Bahan, Biaya Tenaga Kerja, dan Biaya Lain / Keihi (3 unsur biaya)
Biaya Langsung (pembebanan langsung) dan Biaya Tak Langsung (alokasi)
Biaya Variabel dan Biaya Tetap
biaya penyusutan (depresiasi) dan ongkos subkontrak luar

3. Hierarki Struktur Biaya (Biaya Produksi Langsung, Overhead Pabrik, Harga Pokok Produksi, Total Biaya, Harga Jual)

Apabila 3 unsur bentuk biaya digabungkan dengan sifat langsung dan tak langsung, struktur berjenjang biaya menjadi jelas. Pertama, penjumlahan "Biaya Bahan Langsung (bahan utama, komponen beli jadi) + Biaya Tenaga Kerja Langsung (upah operator langsung) + Biaya Langsung Lainnya (ongkos subkontrak luar, biaya cetakan/mold khusus, dll.)" adalah "Biaya Produksi Langsung".

Sementara itu, penjumlahan "Biaya Bahan Tak Langsung (bahan pembantu, barang habis pakai pabrik) + Biaya Tenaga Kerja Tak Langsung (upah pekerja tak langsung, upah waktu tunggu, gaji staf pabrik) + Biaya Tak Langsung Lainnya (penyusutan pabrik, listrik, asuransi pabrik, dll.)" adalah "Biaya Produksi Tak Langsung (Overhead Pabrik)".

Kemudian "Biaya Produksi Langsung + Biaya Produksi Tak Langsung" merupakan "Harga Pokok Produksi / Manufacturing Cost (Biaya Pabrik)" untuk membuat produk di pabrik. Unsur biaya selain biaya bahan langsung sering pula digabung dan disebut "Biaya Konversi (Biaya Pengolahan / Kakouhi)".

Selanjutnya, "Harga Pokok Produksi" ditambah "Beban Penjualan, Umum, dan Administrasi (SG&A: gaji staf sales, biaya iklan promosi, ongkos kirim pengiriman, gaji direksi kantor pusat, dll.)" menghasilkan "Total Biaya (Total Harga Pokok)", dan "Total Biaya + Laba" menjadi "Harga Jual".

3. Hierarki Struktur Biaya (Biaya Produksi Langsung, Overhead Pabrik, Harga Pokok Produksi, Total Biaya, Harga Jual)

Poin penting


  • Biaya Produksi Langsung = Biaya Bahan Langsung + Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Langsung Lainnya (ongkos subkontrak luar, royalti paten, dll.).

  • Harga Pokok Produksi (Manufacturing Cost) = Biaya Produksi Langsung + Biaya Produksi Tak Langsung (total biaya yang timbul di dalam pabrik).

  • Total Biaya = Harga Pokok Produksi + Beban Penjualan & Administrasi Umum (SG&A) / Harga Jual = Total Biaya + Laba (biaya iklan adalah SG&A, BUKAN Harga Pokok Produksi!).

  • Contoh: Biaya bahan langsung 500 yen, tenaga kerja langsung 300 yen, beban langsung 100 yen, overhead pabrik 200 yen, beban penjualan & admin 150 yen, laba 250 yen → Biaya produksi langsung = 900 yen, Harga pokok produksi = 1.100 yen, Total biaya = 1.250 yen, Harga jual = 1.500 yen
KosakataArti
Biaya Produksi Langsung dan Biaya Produksi Tak Langsung (Overhead)
Harga Pokok Produksi / Manufacturing Cost (Biaya Pabrik)
Beban Penjualan, Umum, dan Administrasi (SG&A / Hankanhi)
Total Biaya dan Harga Jual

4. Prosedur Perhitungan Biaya (Per Jenis → Per Departemen → Per Produk dan Metode Alokasi Langsung)

Perhitungan biaya dilakukan melalui 3 langkah. Langkah ke-1 adalah "Perhitungan Biaya per Jenis / Elemen (Rekapitulasi Tahap 1)", yang mengelompokkan serta menjumlahkan biaya yang timbul selama periode tertentu menurut pos biayanya seperti biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik.

Langkah ke-2 adalah "Perhitungan Biaya per Departemen (Rekapitulasi Tahap 2)", yang mengumpulkan biaya produksi tak langsung (overhead) menurut tempat terjadinya (departemen biaya). Departemen biaya terbagi atas "Departemen Produksi (pemesinan, perakitan, pengecatan, dll.)" yang langsung membuat produk, dan "Departemen Pembantu / Jasa (tenaga listrik/uap, pemeliharaan, pengangkutan, inspeksi, administrasi pabrik, dll.)" yang mendukungnya.

Biaya yang terkumpul di departemen pembantu pada akhirnya dialokasikan ke departemen produksi. Metode yang mengabaikan pemberian jasa antardepartemen pembantu dan langsung membagikan biaya departemen pembantu "hanya kepada departemen produksi" disebut "Metode Alokasi Langsung"—soal hitungan yang paling sering keluar dalam ujian.

Langkah ke-3 adalah "Perhitungan Biaya per Produk (Rekapitulasi Tahap 3)", yang mengalokasikan overhead pabrik dari tiap departemen produksi ke masing-masing produk, lalu menjumlahkannya dengan biaya produksi langsung untuk menghitung harga pokok produksi per unit produk.

Poin penting


  • Tiga langkah akuntansi biaya: ① Per Jenis Biaya → ② Per Departemen (pengumpulan overhead pabrik per departemen) → ③ Per Produk.

  • Departemen Produksi = bagian yang langsung memproduksi barang (mesin, perakitan) / Departemen Pembantu = bagian pendukung produksi (tenaga, bengkel reparasi, angkut, kantor pabrik).

  • Metode Alokasi Langsung biaya departemen pembantu = tidak melakukan alokasi antardepartemen pembantu, melainkan langsung mengalokasikannya ke departemen produksi sesuai rasio dasar alokasi departemen produksi.

  • Contoh: Alokasi biaya departemen daya 900.000 yen (Produksi 1: 4.000 kWh, Produksi 2: 2.000 kWh, Dept pembantu perbaikan: 1.000 kWh) dengan metode alokasi langsung → dibagi proporsional terhadap total departemen produksi 6.000 kWh: Produksi 1 = 600.000 yen, Produksi 2 = 300.000 yen
KosakataArti
perhitungan per jenis biaya, per departemen, dan per produk
Departemen Produksi dan Departemen Pembantu (Jasa)
Metode Alokasi Langsung (alokasi biaya departemen pembantu)

5. Perhitungan Biaya Pesanan (Job-Order) vs. Biaya Proses (Unit Ekuivalen Barang Dalam Proses Akhir Bulan)

Perhitungan biaya per produk terbagi menjadi dua menurut bentuk produksinya. Pada "produksi pesanan individual" banyak jenis sedikit jumlah (pembuatan kapal, mesin pesanan khusus, cetakan/mold, dll.) digunakan "Perhitungan Biaya Pesanan (Job-Order Costing / Kobetsu Genka Keisan)" yang mengumpulkan biaya per "Surat Perintah Produksi" untuk tiap pesanan.

Sebaliknya, pada "produksi massal kontinu untuk stok" sedikit jenis banyak jumlah (makanan, kimia, elektronik rumah tangga, dll.) digunakan "Perhitungan Biaya Proses (Process Costing / Sougou Genka Keisan)" yang membagi total biaya produksi selama periode tertentu (misal 1 bulan) dengan jumlah produk selesai pada periode tersebut guna mencari harga pokok rata-rata.

Dalam perhitungan biaya proses, bila di akhir bulan terdapat "Barang Dalam Proses (WIP) Akhir Bulan" yang belum selesai, maka "Biaya Bahan Langsung" yang dimasukkan seluruhnya di awal proses dibagi secara proporsional menurut "rasio jumlah fisik apa adanya" antara jumlah produk selesai dan jumlah WIP akhir bulan.

Sebaliknya, untuk "Biaya Konversi / Pengolahan (tenaga kerja + beban pabrik)" yang dikeluarkan bertahap sesuai kemajuan proses, digunakan "Unit Ekuivalen WIP Akhir Bulan = Jumlah WIP Akhir Bulan × Tingkat Penyelesaian (%)", lalu biaya konversi dibagi menurut rasio antara jumlah produk selesai dan unit ekuivalen WIP akhir bulan tersebut.

Poin penting


  • Job-Order Costing (Biaya Pesanan) = cocok untuk produksi berdasarkan pesanan / satuan (mengumpulkan biaya per surat perintah produksi).

  • Process Costing (Biaya Proses) = cocok untuk produksi massal kontinu (membagi biaya periode 1 bulan antara produk selesai dan WIP akhir bulan).

  • Biaya pengolahan (konversi) pada Process Costing dibagi menggunakan "Unit Ekuivalen WIP Akhir Bulan = Jumlah WIP Akhir Bulan × Tingkat Penyelesaian (%)".

  • Contoh: Produk jadi 400 unit, barang dalam proses (WIP) akhir bulan 200 unit (biaya bahan langsung masuk di awal 600.000 yen) → Biaya bahan WIP akhir bulan = 600.000 × 200 ÷ (400 + 200) = 200.000 yen (bagian produk jadi 400.000 yen)

  • Contoh: Produk jadi 400 unit, WIP akhir bulan 200 unit (tingkat penyelesaian konversi 50%), biaya konversi bulan berjalan 500.000 yen → Unit ekuivalen produk jadi = 200 × 0,5 = 100 unit, biaya konversi WIP akhir bulan = 500.000 × 100 ÷ (400 + 100) = 100.000 yen (bagian produk jadi 400.000 yen)
KosakataArti
Job-Order Costing / Perhitungan Biaya Pesanan (surat perintah produksi)
Process Costing / Perhitungan Biaya Proses (produksi massal)
Barang Dalam Proses (WIP) akhir bulan dan tingkat penyelesaian pengolahan
Unit Ekuivalen produk selesai (Equivalent Units)

6. Perhitungan Biaya Standar dan Analisis Selisih Biaya (Selisih Biaya Bahan & Tenaga Kerja)

Biaya target yang dihitung dari "Harga Satuan Standar × Kuantitas Pemakaian Standar" per produk berdasarkan kajian ilmiah dan statistik disebut "Biaya Standar"; selisihnya dengan "Biaya Aktual" yaitu "Selisih Biaya / Cost Variance (Biaya Standar - Biaya Aktual)" dianalisis menurut penyebabnya (bila biaya aktual lebih besar daripada standar disebut "Selisih Tidak Menguntungkan / Unfavorable = negatif").

"Selisih Biaya Bahan Langsung" diuraikan menjadi 2 penyebab. Pertama adalah "Selisih Harga = (Harga Satuan Standar - Harga Satuan Aktual) × Kuantitas Pemakaian Aktual" akibat kenaikan atau penurunan harga beli.

Kedua adalah "Selisih Kuantitas = (Kuantitas Standar - Kuantitas Aktual) × Harga Satuan Standar" akibat memburuknya rendemen atau pemakaian berlebih di lapangan.

Serupa dengan itu, "Selisih Biaya Tenaga Kerja Langsung" juga dibagi menjadi dua untuk memperjelas tanggung jawab: "Selisih Tarif Upah = (Tarif Upah Standar - Tarif Upah Aktual) × Jam Kerja Aktual" dan "Selisih Jam Kerja (Selisih Efisiensi) = (Jam Kerja Standar - Jam Kerja Aktual) × Tarif Upah Standar".

Poin penting


  • Bila biaya aktual melampaui biaya standar (biaya membengkak) disebut "Selisih Tidak Menguntungkan / Unfavorable (negatif)"; bila lebih hemat daripada standar disebut "Selisih Menguntungkan / Favorable (positif)".

  • Biaya Bahan Langsung: Selisih Harga = (Harga Standar - Harga Aktual) × Kuantitas Aktual / Selisih Kuantitas = (Kuantitas Standar - Kuantitas Aktual) × Harga Standar.

  • Biaya Tenaga Kerja Langsung: Selisih Tarif Upah = (Tarif Standar - Tarif Aktual) × Jam Aktual / Selisih Jam Kerja = (Jam Standar - Jam Aktual) × Tarif Standar.

  • Contoh: Biaya bahan langsung (harga standar 400 yen/kg, harga aktual 420 yen/kg; kuantitas standar 500 kg, kuantitas aktual 480 kg) → Selisih harga = (400 − 420) × 480 = −9.600 yen (tidak menguntungkan), Selisih kuantitas = (500 − 480) × 400 = +8.000 yen (menguntungkan)

  • Contoh: Biaya tenaga kerja langsung (tarif upah standar 1.500 yen/jam, tarif aktual 1.600 yen/jam; jam standar 200 jam, jam aktual 210 jam) → Selisih tarif upah = (1.500 − 1.600) × 210 = −21.000 yen (tidak menguntungkan), Selisih jam kerja = (200 − 210) × 1.500 = −15.000 yen (tidak menguntungkan)
KosakataArti
Perhitungan Biaya Standar dan Selisih Biaya (menguntungkan vs. tidak menguntungkan)
Selisih Harga dan Selisih Kuantitas (biaya bahan langsung)
Selisih Tarif Upah dan Selisih Jam Kerja (biaya tenaga kerja langsung)

7. Analisis CVP (Titik Impas / BEP, Margin Kontribusi) dan Tahapan Laba pada Laporan Laba Rugi

Metode menganalisis hubungan antara Biaya (Cost), Volume Penjualan (Volume), dan Laba (Profit) disebut "Analisis CVP (Analisis Titik Impas / Break-Even Point)". Pertama, Penjualan dikurangi Biaya Variabel saja menghasilkan "Margin Kontribusi (Laba Marjinal) = Penjualan - Biaya Variabel (= Biaya Tetap + Laba)".

Rasio margin kontribusi terhadap penjualan adalah "Rasio Margin Kontribusi = Margin Kontribusi ÷ Penjualan = 1 - Rasio Biaya Variabel (Biaya Variabel ÷ Penjualan)".

Nilai penjualan saat laba tepat sama dengan nol (Penjualan = Total Biaya, artinya Margin Kontribusi = Biaya Tetap) disebut "Penjualan Titik Impas (Break-Even Sales)", yang dihitung dengan rumus "Penjualan Titik Impas = Biaya Tetap ÷ Rasio Margin Kontribusi = Biaya Tetap ÷ (1 - Rasio Biaya Variabel)".

Selain itu, "Penjualan untuk Mencapai Target Laba" adalah "(Biaya Tetap + Target Laba) ÷ Rasio Margin Kontribusi".

Adapun dalam "Laporan Laba Rugi (P/L)" akuntansi keuangan, tahapan laba dihitung berurutan: ① "Laba Kotor (Gross Profit) = Penjualan - Harga Pokok Penjualan", ② keuntungan bisnis utama yaitu "Laba Usaha / Operasi (Operating Profit) = Laba Kotor - Beban Penjualan, Umum & Administrasi (SG&A)", dan ③ "Laba Biasa / Ordinary Profit (Keijou Rieki) = Laba Operasi + Pendapatan di Luar Usaha - Beban di Luar Usaha".

7. Analisis CVP (Titik Impas / BEP, Margin Kontribusi) dan Tahapan Laba pada Laporan Laba Rugi

Poin penting


  • Margin Kontribusi = Penjualan - Biaya Variabel / Rasio Margin Kontribusi = Margin Kontribusi ÷ Penjualan = 1 - Rasio Biaya Variabel.

  • Penjualan Titik Impas (BEP) = Biaya Tetap ÷ Rasio Margin Kontribusi / Penjualan Target Laba = (Biaya Tetap + Target Laba) ÷ Rasio Margin Kontribusi.

  • Laporan Laba Rugi: Laba Kotor = Penjualan - HPP / Laba Operasi = Laba Kotor - SG&A / Laba Biasa (Ordinary Profit) = Laba Operasi + Pendapatan Non-Operasi - Beban Non-Operasi.

  • Contoh: Penjualan 50 juta yen, biaya variabel 30 juta yen, biaya tetap 12 juta yen, target laba 4 juta yen → Laba kontribusi = 50 − 30 = 20 juta yen (rasio laba kontribusi = 20 ÷ 50 = 40%), Penjualan titik impas (BEP) = 12 ÷ 0,4 = 30 juta yen, Penjualan untuk target laba = (12 + 4) ÷ 0,4 = 40 juta yen

  • Contoh: Penjualan 40 juta yen, HPP 25 juta yen, beban penjualan & admin 8 juta yen, pendapatan non-operasional 0,5 juta yen, beban non-operasional 1,5 juta yen → Laba kotor = 40 − 25 = 15 juta yen, Laba usaha = 15 − 8 = 7 juta yen, Laba biasa = 7 + 0,5 − 1,5 = 6 juta yen
KosakataArti
Margin Kontribusi (laba marjinal) dan Rasio Margin Kontribusi
Penjualan Titik Impas / Break-Even Point (Analisis CVP)
Laba Kotor, Laba Operasi, dan Laba Biasa (Ordinary Profit)
rasio titik impas dan rasio batas keamanan (Margin of Safety)

8. Penetapan Biaya Target dalam Target Costing (Metode Pengurangan vs. Akumulasi) dan VA/VE

Dalam "Perencanaan Biaya (Target Costing)" pengembangan produk baru, terdapat 3 metode penetapan biaya target. Pertama, "Metode Pengurangan (Waritsuke-hou / Koujohou)" adalah pendekatan top-down yang mengurangi perkiraan harga jual pasar dengan target laba yang ingin diamankan perusahaan untuk mencari "Biaya yang Diizinkan (Allowable Cost) = Perkiraan Harga Jual - Target Laba" (mencerminkan daya saing pasar, meski terkadang berat secara teknis).

Kedua, "Metode Akumulasi / Penjumlahan (Tsumiage-hou)" adalah pendekatan bottom-up yang menjumlahkan biaya bahan dan pengolahan tiap komponen dari bawah berdasarkan gambar desain dan teknologi produksi saat ini untuk memperoleh "Biaya berjalan apa adanya (Drifting / Estimated Cost)" (mudah dicapai, namun berisiko melampaui harga pasar).

Ketiga, "Metode Kompromi (Metode Integrasi)" mempertemukan celah antara "Allowable Cost" dari metode pengurangan dan "Drifting Cost" dari metode akumulasi dari kedua sisi untuk menetapkan biaya target yang realistis.

Metode penurunan biaya yang ampuh untuk mencapai biaya target ini adalah "VA (Value Analysis: untuk produk yang sudah ada) / VE (Value Engineering: untuk tahap desain pengembangan)". Dengan mendefinisikan "Nilai (V) = Fungsi (F: kegunaan yang harus dijalankan) ÷ Biaya (C)", nilai V ditingkatkan dengan memangkas fungsi berlebih yang tidak perlu atau mewujudkan fungsi yang sama memakai bahan/struktur alternatif yang lebih murah.

Poin penting


  • Metode Pengurangan (Deduktif) = pendekatan top-down berorientasi pasar yang menghitung "Allowable Cost = Perkiraan Harga Jual - Target Laba".

  • Metode Akumulasi (Penjumlahan) = pendekatan bottom-up yang menjumlahkan unsur biaya dari teknologi desain & produksi saat ini untuk mencari "Drifting Cost".

  • VA/VE (Value Analysis / Value Engineering) = memandang "Nilai V = Fungsi F ÷ Biaya C", mempertahankan atau meningkatkan fungsi F yang diperlukan sembari menekan biaya C.

  • Contoh: Perkiraan harga jual 3.000 yen, target laba 600 yen, biaya berjalan (drifting cost) 2.650 yen → Biaya yang diizinkan = 3.000 − 600 = 2.400 yen (target pengurangan biaya = 2.650 − 2.400 = 250 yen)
KosakataArti
Metode Pengurangan (Allowable Cost / biaya yang diizinkan)
Metode Akumulasi / Penjumlahan (Drifting Cost / biaya estimasi)
Metode Kompromi (Metode Integrasi)
VA (Value Analysis) dan VE (Value Engineering: V = F ÷ C)

Poin yang Sering Keluar dalam Ujian dan Cara Mengingatnya

Bab Manajemen Biaya penuh dengan soal hitungan. ① Pada "Harga Pokok Produksi = Biaya Produksi Langsung + Overhead Pabrik", aturan mutlaknya adalah JANGAN memasukkan biaya iklan atau biaya penjualan (itu adalah SG&A!) ke dalam Harga Pokok Produksi; sebaliknya, ongkos subkontrak luar wajib dimasukkan ke Harga Pokok Produksi sebagai "Biaya Langsung Lainnya".

② Pada "Metode Alokasi Langsung Biaya Departemen Pembantu", abaikan angka pemakaian oleh sesama departemen pembantu, dan bagikan biaya departemen pembantu hanya dengan rasio antardepartemen produksi (Produksi 1, Produksi 2, dst.).

③ Pada "Perhitungan Biaya Proses (Process Costing)", saat membagi biaya pengolahan (konversi), wajib mengubah WIP akhir bulan menjadi "Unit Ekuivalen = Jumlah WIP Akhir Bulan × Tingkat Penyelesaian (%)" terlebih dahulu sebelum dibagi proporsional dengan produk selesai.

④ Kuasai rumus "Penjualan Titik Impas = Biaya Tetap ÷ (1 - Biaya Variabel ÷ Penjualan)", ⑤ rumus "Selisih Harga & Selisih Kuantitas Biaya Bahan", serta "Metode Pengurangan = Perkiraan Harga Jual - Target Laba (Allowable Cost)" untuk meraih nilai sempurna.

Poin penting


  • JANGAN masukkan "SG&A (biaya iklan, ongkos kirim penjualan, gaji kantor pusat)" ke dalam Harga Pokok Produksi! Ongkos subkontrak luar termasuk "Biaya Langsung Lainnya (bagian dari Harga Pokok Produksi)".

  • Process Costing: Biaya bahan langsung yang masuk di awal dibagi dengan "rasio jumlah fisik langsung"; Biaya pengolahan dibagi dengan "rasio Unit Ekuivalen yang sudah dikalikan % penyelesaian".

  • Penjualan BEP = Biaya Tetap ÷ Rasio Margin Kontribusi / Selisih Harga = Selisih Harga Satuan × Kuantitas Aktual; Selisih Kuantitas = Selisih Kuantitas × Harga Standar.
KosakataArti
perbedaan Harga Pokok Produksi dan Total Biaya
Metode Alokasi Langsung biaya departemen pembantu
pembagian biaya pengolahan dengan Unit Ekuivalen
Penjualan Titik Impas (BEP) dan Analisis Selisih Biaya

Referensi resmi

Zalo