VIENIDMY Masuk Mulai latihan

Beranda › Materi › Manajemen Operasi Produksi Kelas 3 生産管理オペレーション (BC検定)

Dasar Manajemen Kerja (Sistem Produksi, IE, 5S)

Manajemen Operasi Produksi Kelas 3 生産管理オペレーション (BC検定) · ビジネス・キャリア検定 生産管理オペレーション3級 · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

1. Sistem Produksi dan Tujuan Manajemen Produksi (QCD, PQCDSME)

Dalam industri manufaktur, "sistem produksi" adalah mekanisme yang memberikan proses transformasi seperti pemesinan dan perakitan pada sumber daya manajemen yang dimasukkan dari luar (Input) untuk menghasilkan produk atau layanan bernilai tambah tinggi (Output).

Sumber daya input yang utama adalah "3M" yaitu Manusia (Man), Mesin/peralatan (Machine), dan Bahan baku/komponen (Material), yang dikelola bersama Metode kerja (Method), Modal (Money), serta Informasi (Information).

Tujuan dasar manajemen produksi adalah mengoptimalkan "QCD": memasok produk dengan "Kualitas (Quality: Q)" yang diminta pelanggan, pada "Biaya (Cost: C)" serendah mungkin, dan tepat pada "Waktu pengiriman (Delivery: D)" yang dijanjikan.

Lebih lanjut, operasional pabrik modern menuntut peningkatan menyeluruh pada "PQCDSME" dengan menambahkan Produktivitas (Productivity: P), Keselamatan (Safety: S), Semangat kerja (Morale: M), dan Pelestarian lingkungan (Environment: E) ke dalam tiga pilar QCD.

Poin penting


  • Sistem produksi adalah mekanisme yang mengubah input seperti 3M (Manusia, Mesin, Material) dan informasi menjadi produk bernilai tambah (output).

  • Tiga tujuan utama manajemen produksi adalah menjaga dan meningkatkan "Kualitas (Q), Biaya (C), dan Pengiriman (D)" dengan menyeimbangkan hubungan tarik-ulur di antaranya.

  • Pengawas lapangan mengelola tempat kerja dengan kesadaran PQCDSME, yaitu menambahkan Produktivitas (P), Keselamatan (S), Semangat kerja (M), dan Lingkungan (E) pada QCD.
KosakataArti
sistem produksi
3M (Manusia, Mesin, Material)
QCD (Kualitas, Biaya, Pengiriman)
nilai tambah

2. Konsep Produktivitas (Produktivitas Tenaga Kerja Fisik & Nilai Tambah) serta Standardisasi Kerja

Indikator yang menyatakan efisiensi proses produksi adalah "produktivitas", yang didefinisikan dengan rumus dasar: "Produktivitas = Jumlah Output ÷ Jumlah Input". Semakin sedikit sumber daya input untuk menghasilkan semakin banyak output, semakin tinggi produktivitasnya.

Indikator yang menggunakan jumlah tenaga kerja (jumlah personel atau total jam kerja) sebagai penyebut dinamakan "produktivitas tenaga kerja". Ada dua jenis: "produktivitas tenaga kerja fisik" yang memakai kuantitas fisik (jumlah unit atau berat) sebagai pembilang, dan "produktivitas tenaga kerja nilai tambah" yang memakai nilai tambah (penjualan dikurangi nilai pembelian luar) sebagai pembilang.

Manajemen kerja adalah kegiatan mencari "metode kerja terbaik" agar pekerja dapat bekerja dengan aman, pasti, cepat, dan ringan untuk ditetapkan sebagai kerja standar, lalu membimbing serta melatih pekerja guna mempertahankan dan memperbaikinya.

Menyusun dokumen "Lembar Standar Kerja (SOP)" yang memuat prosedur standar, alat bantu (jig) yang digunakan, serta poin penting pemeriksaan kualitas akan mencegah ketergantungan pada individu maupun variasi kualitas, sekaligus membangun fondasi dari pemeliharaan (SDCA) menuju perbaikan (PDCA).

Poin penting


  • Produktivitas = Output ÷ Input; indikator yang menggunakan input tenaga kerja sebagai penyebut disebut produktivitas tenaga kerja.

  • Produktivitas tenaga kerja fisik = Volume produksi ÷ Input tenaga kerja; Produktivitas tenaga kerja nilai tambah = Nilai tambah ÷ Input tenaga kerja.

  • Manajemen kerja menetapkan metode kerja terbaik (kerja standar) dan waktu standar, serta melakukan pembimbingan melalui lembar standar kerja dan perbaikan berkelanjutan.

  • Contoh: 5 pekerja bekerja masing-masing 8 jam (total 40 jam-orang), menghasilkan 800 unit produk dengan penjualan 1.000.000 yen dan nilai pembelian eksternal 400.000 yen → Produktivitas tenaga kerja fisik = 800 ÷ 40 = 20 unit/jam-orang, Nilai tambah = 1.000.000 − 400.000 = 600.000 yen, Produktivitas tenaga kerja nilai tambah = 600.000 ÷ 5 = 120.000 yen/orang
KosakataArti
produktivitas tenaga kerja fisik
produktivitas tenaga kerja nilai tambah
kerja standar / operasi standar
lembar standar kerja (SOP)

3. Struktur Waktu Standar serta Perhitungan Metode Luar (Sotogake) dan Metode Dalam (Uchigake)

"Waktu Standar (Standard Time / ST)" adalah waktu yang diperlukan ketika seorang pekerja rata-rata yang memiliki kecocokan dan keterampilan memadai melaksanakan pekerjaan pada kecepatan kerja standar di bawah kondisi kerja yang ditentukan sambil menjaga tingkat kualitas yang ditetapkan.

Waktu standar dibagi menjadi "waktu persiapan/setup" yang hanya muncul sekali per lot, dan "waktu kerja utama" yang berulang untuk setiap unit produk. Masing-masing terdiri atas penjumlahan "waktu bersih (net time)" dan "waktu kelonggaran (allowance time)" (Waktu Standar = Waktu Bersih + Waktu Kelonggaran).

Waktu kelonggaran mencakup "kelonggaran pribadi (kelonggaran kebutuhan fisiologis dan pemulihan kelelahan)" serta "kelonggaran tempat kerja (kelonggaran operasi)" yang muncul tidak teratur seperti pelumasan mesin, pembersihan, menunggu bahan, atau apel pagi.

Terdapat dua metode perhitungan rasio kelonggaran. "Metode luar (Sotogake)" mendefinisikan "Rasio Kelonggaran = Waktu Kelonggaran ÷ Waktu Bersih" dan menghitung "Waktu Standar = Waktu Bersih × (1 + Rasio Kelonggaran Luar)" (Contoh: waktu bersih 20 menit dan kelonggaran luar 15%, maka 20 × 1,15 = 23 menit).

Sebaliknya, "Metode dalam (Uchigake)" mendefinisikan "Rasio Kelonggaran = Waktu Kelonggaran ÷ Waktu Standar" dan menghitung "Waktu Standar = Waktu Bersih ÷ (1 - Rasio Kelonggaran Dalam)" (Contoh: waktu bersih 16 menit dan kelonggaran dalam 20%, maka 16 ÷ (1 - 0,20) = 20 menit).

Poin penting


  • Waktu Standar = Waktu Bersih + Waktu Kelonggaran; terbagi menjadi "waktu persiapan/setup" per lot dan "waktu kerja utama" per unit produk.

  • Metode luar (Sotogake): Rasio Kelonggaran = Waktu Kelonggaran ÷ Waktu Bersih ⇒ Waktu Standar = Waktu Bersih × (1 + Rasio Kelonggaran Luar).

  • Metode dalam (Uchigake): Rasio Kelonggaran = Waktu Kelonggaran ÷ Waktu Standar ⇒ Waktu Standar = Waktu Bersih ÷ (1 - Rasio Kelonggaran Dalam).

  • Contoh: Waktu bersih kerja utama 2 menit/unit, kelonggaran metode luar (external) 10%, waktu standar persiapan 1 lot (100 unit) 15 menit → Waktu standar per unit = 2 × (1 + 0,10) = 2,2 menit, Total waktu standar 1 lot = 15 + 2,2 × 100 = 235 menit

  • Contoh: Waktu bersih per unit 45 detik, rasio kelonggaran metode dalam (internal) 10% (waktu kelonggaran 5 detik) → Waktu standar = 45 ÷ (1 − 0,10) = 50 detik (rasio kelonggaran dalam = 5 ÷ 50 × 100 = 10%)
KosakataArti
Waktu Standar (Standard Time)
waktu bersih dan waktu kelonggaran
metode kelonggaran luar (Sotogake)
metode kelonggaran dalam (Uchigake)
waktu persiapan dan pergantian cetakan (setup)

4. Sistem Industrial Engineering (IE) dan Analisis Proses (Simbol Peta JIS)

IE (Industrial Engineering) berakar dari penelitian Frederick Taylor (pencetus Manajemen Ilmiah dan Studi Waktu) serta Frank Gilbreth (pencetus Studi Gerakan dan Analisis Therblig), yang terdiri atas dua pilar: "Rekayasa Metode (Method Engineering)" untuk memperbaiki cara kerja dan "Pengukuran Kerja (Work Measurement)" untuk mengukur waktu.

Langkah pertama rekayasa metode, yaitu "analisis proses", menggambarkan tahapan dari bahan baku hingga produk jadi menggunakan empat simbol dasar menurut JIS Z 8206 guna memvisualisasikan aliran proses secara keseluruhan beserta pemborosan akibat penumpukan dan pengangkutan.

Empat elemen dasar dan simbolnya adalah: ① "Operasi/Pengerjaan" = lingkaran besar (○: mengubah bentuk/sifat atau merakit), ② "Transportasi/Pengangkutan" = lingkaran kecil atau panah (〇 / →: memindahkan posisi), ③ "Inspeksi/Pemeriksaan" = persegi (□: pemeriksaan kuantitas) dan belah ketupat (◇: pemeriksaan kualitas), ④ "Menunggu/Penyimpanan" = segitiga terbalik (▽: penyimpanan terencana) dan bentuk huruf D (D: tertahan sementara antarproses).

Berdasarkan objek analisisnya, metode ini dibagi menjadi "analisis proses produk" yang mengikuti aliran barang (4 tipe: sederhana, lurus, bergabung, bercabang), "analisis proses pekerja" yang mengikuti gerakan manusia, dan "analisis proses gabungan" yang mengikuti keterkaitan antara manusia dan mesin.

Poin penting


  • Sejarah IE: Taylor mempelopori "Studi Waktu (metode stopwatch)", sedangkan Gilbreth mempelopori "Studi Gerakan (analisis Therblig)".

  • Simbol peta proses (JIS Z 8206): Operasi = lingkaran besar (○), Transportasi = lingkaran kecil (〇) atau panah (→), Inspeksi kuantitas = persegi (□), Inspeksi kualitas = belah ketupat (◇).

  • Simbol penahanan: Penyimpanan terencana "Storage" = segitiga terbalik (▽); penumpukan sementara menunggu proses berikutnya "Delay" = huruf D (D).
KosakataArti
Industrial Engineering (IE)
rekayasa metode dan pengukuran kerja
analisis proses
penyimpanan (▽) dan penumpukan/tertahan (D)

5. Studi Gerakan (18 Gerakan Dasar Therblig) dan Studi Waktu (Rating)

"Analisis Therblig" yang digagas Gilbreth menguraikan gerakan tangan dan mata pekerja menjadi 18 gerakan dasar (elemen gerak) yang dikelompokkan ke dalam Kelas 1 hingga Kelas 3 untuk menghilangkan gerakan sia-sia.

"Kelas 1" berisi 9 gerakan efektif yang diperlukan untuk memajukan pekerjaan (menjangkau, memegang, membawa, mengarahkan posisi, merakit, memakai, membongkar, melepas, memeriksa), yang diefisienkan dengan memperpendek jarak atau memakai alat bantu (jig).

"Kelas 2" berisi 5 gerakan yang menghambat Kelas 1 akibat berpikir atau mencari (mencari, menemukan, memilih, merencanakan, menempatkan awal), yang dihilangkan melalui 5S (Seiton / penataan posisi tetap).

"Kelas 3" berisi 4 gerakan tidak produktif yang sama sekali tidak memajukan pekerjaan (memegang/menahan benda, istirahat, kelambatan tak terhindarkan, kelambatan yang dapat dihindari); khususnya gerakan "Menahan (Hold)" dengan satu tangan harus diprioritaskan untuk dihapus menggunakan alat penjepit (fixture).

Sementara itu, dalam "Studi Waktu (metode stopwatch)", waktu aktual (waktu pengamatan) tiap elemen kerja diukur lalu dilakukan "Rating (evaluasi kecepatan kerja)" terhadap kecepatan standar (= 100). Waktu bersih dihitung dengan: "Waktu Bersih = Waktu Pengamatan × (Faktor Rating ÷ 100)" (Contoh: pengamatan 50 detik dengan faktor 110 menghasilkan 55 detik).

Poin penting


  • Therblig Kelas 1 = gerakan dasar yang memajukan pekerjaan (memegang, membawa, merakit, memakai, dll.).

  • Therblig Kelas 2 = gerakan yang memperlambat (mencari, memilih, berpikir → hilangkan dengan Seiton); Kelas 3 = gerakan sia-sia yang tidak memajukan kerja (menahan benda, terlambat, istirahat → hilangkan dengan jig).

  • Waktu Bersih dalam studi waktu = Waktu Pengamatan × (Nilai Rating ÷ 100).

  • Contoh: Waktu pengamatan stopwatch 40 detik, faktor rating 120 (standar kecepatan normal = 100) → Waktu normal (bersih) = 40 × (120 ÷ 100) = 48 detik
KosakataArti
analisis gerakan Therblig
menahan benda / Hold (Kelas 3)
studi waktu (Time Study)
Rating (evaluasi kecepatan kerja)

6. Analisis Operasi (Work Sampling) dan Analisis Kerja Gabungan (Man-Machine Chart)

Metode untuk menyelidiki berapa persen waktu yang dihabiskan pekerja dan mesin pada tiap kondisi (beroperasi, menunggu, setup, berhenti rusak, dll.) disebut "analisis operasi", yang terdiri atas "metode pengamatan kontinu" sepanjang hari dan "metode pengamatan sesaat (Work Sampling)" pada waktu-waktu acak.

Berdasarkan teori probabilitas statistik, metode Work Sampling memiliki keunggulan besar karena satu pengamat dapat meneliti banyak pekerja atau mesin sekaligus dengan sedikit tenaga serta tidak menimbulkan tekanan psikologis pada orang yang diamati.

Bila total pengamatan adalah N dan jumlah pengamatan kejadian yang diamati adalah n, rasio kemunculan adalah "p = n ÷ N". Pada tingkat kepercayaan 95% (faktor 2), jumlah pengamatan yang diperlukan agar berada dalam batas kesalahan absolut E adalah "N = 4 × p × (1 - p) ÷ E²" (atau "N = 4 × (1 - p) ÷ (S² × p)" untuk kesalahan relatif S; contoh: bila p = 0,2 dan E = 0,04 maka diperlukan 400 kali).

Selain itu, metode menggambar diagram batang deret waktu untuk pekerjaan kolaborasi antara 1 pekerja dan 1 (atau beberapa) mesin disebut "analisis kerja gabungan (Man-Machine Chart)". Aktivitas pekerja dibagi menjadi "kerja mandiri, kerja gabungan, menunggu" dan mesin dibagi menjadi "jalan otomatis, kerja gabungan, menganggur (idle)" guna mengurangi waktu tunggu dan menerapkan penanganan banyak mesin.

Poin penting


  • Metode Work Sampling melakukan pengamatan sesaat pada waktu acak sehingga satu orang dapat menghitung rasio operasi dan rasio kelonggaran banyak objek secara efisien.

  • Rumus jumlah pengamatan N pada kepercayaan 95%: untuk kesalahan absolut E adalah N = 4 × p × (1 - p) ÷ E²; untuk kesalahan relatif S adalah N = 4 × (1 - p) ÷ (S² × p).

  • Man-Machine Chart memvisualisasikan waktu "menunggu" pekerja dan "menganggur" mesin untuk mempersingkat waktu siklus atau mengkaji pengoperasian banyak mesin.

  • Contoh: Pengamatan awal work sampling menemukan 25 kali tidak beroperasi dari 100 pengamatan (proporsi kejadian p = 0,25), tingkat kepercayaan 95% dengan batas galat mutlak E = 0,05 → Jumlah pengamatan yang diperlukan N = 4 × 0,25 × (1 − 0,25) ÷ 0,05² = 300 kali (jika galat relatif S = 0,10 maka N = 4 × (1 − 0,25) ÷ (0,10² × 0,25) = 1.200 kali)

  • Contoh: Pada peta manusia-mesin (man-machine chart), pasang/lepas bahan (kerja gabungan) 15 detik + pemesinan otomatis 65 detik (di mana kerja mandiri operator 45 detik) → Waktu siklus = 15 + 65 = 80 detik, Waktu menunggu operator = 65 − 45 = 20 detik (rasio menunggu = 20 ÷ 80 × 100 = 25%)
KosakataArti
metode Work Sampling
rasio kemunculan kejadian (p)
Man-Machine Chart (Peta Manusia-Mesin)
waktu tunggu pekerja dan waktu menganggur mesin
penanganan banyak mesin sekaligus

7. Prinsip Dasar Perbaikan Kerja (Prinsip ECRS, 4 Prinsip Ekonomi Gerakan, Poka-yoke)

"Prinsip ECRS" menunjukkan urutan prioritas perbaikan: ① Eliminate (Eliminasi: bisakah ditiadakan?) → ② Combine (Kombinasi: bisakah digabung sekaligus?) → ③ Rearrange ( Tata ulang: bisakah urutan atau pelaksananya ditukar?) → ④ Simplify (Simplifikasi: bisakah disederhanakan?).

Dampak terbesar berada pada langkah pertama yaitu "E (Eliminasi)"; jangan pernah langsung melakukan otomatisasi atau penyederhanaan (S) dengan membiarkan pekerjaan yang sebenarnya tidak perlu.

Selain itu, "4 Prinsip Ekonomi Gerakan" meliputi: ① Gunakan kedua tangan secara bersamaan (bergerak simetris kiri-kanan), ② Kurangi jumlah gerakan (hilangkan gerakan tak perlu), ③ Perpendek jarak gerakan (letakkan kotak komponen membentuk kipas di dalam area kerja normal), ④ Buat gerakan menjadi ringan (gunakan luncuran gravitasi dan alat penjepit untuk menghilangkan gerakan "menahan").

Lebih lanjut, mekanisme pencegahan salah pasang atau lupa secara fisik dan mekanis disebut "Poka-yoke (Foolproof)", yang terdiri atas "metode penghentian" (menghentikan mesin saat abnormal), "metode kendali" (memakai pin asimetris agar tidak mungkin dipasang terbalik), dan "metode peringatan" (memberi tahu lewat suara atau lampu).

7. Prinsip Dasar Perbaikan Kerja (Prinsip ECRS, 4 Prinsip Ekonomi Gerakan, Poka-yoke)

Poin penting


  • Terapkan prinsip ECRS sesuai urutan prioritas "E (Eliminasi) → C (Kombinasi) → R (Tata ulang urutan) → S (Simplifikasi)", dengan selalu memikirkan E terlebih dahulu.

  • 4 Prinsip Ekonomi Gerakan: ① Gunakan kedua tangan bersamaan, ② Hemat jumlah gerakan, ③ Perpendek jarak gerakan, ④ Ringankan gerakan (manfaatkan gravitasi dan jig).

  • Poka-yoke (anti-salah) mencakup "metode penghentian, metode kendali, dan metode peringatan" untuk mewujudkan nol cacat tanpa hanya bergantung pada kewaspadaan manusia.
KosakataArti
prinsip perbaikan ECRS
4 Prinsip Ekonomi Gerakan
area kerja normal
Poka-yoke (Foolproof / mekanisme anti-salah)

8. Kegiatan 5S (Seiri, Seiton, Seisou, Seiketsu, Shitsuke), Strategi Label Merah, dan Manajemen Jejak

Fondasi manajemen dan perbaikan tempat kerja adalah kegiatan "5S" yang diambil dari huruf awal "Seiri (Ringkas), Seiton (Rapi), Seisou (Resik), Seiketsu (Rawat), dan Shitsuke (Rajin)"; ini bukan sekadar gerakan keindahan, melainkan dasar keselamatan, peningkatan kualitas, dan penghapusan pemborosan.

"Seiri (Ringkas/Sortir)" adalah memisahkan secara tegas barang di tempat kerja menjadi "yang diperlukan dan yang tidak diperlukan", lalu membuang (menyingkirkan) barang yang tidak diperlukan. "Strategi Label Merah" (menempelkan label merah pada barang yang sulit ditentukan perlu tidaknya untuk diputuskan pembuangannya dalam batas waktu) sangatlah efektif.

"Seiton (Rapi)" adalah "menentukan lokasi penyimpanan, cara peletakan, dan penandaan (jumlah maksimum dan minimum) untuk barang diperlukan yang tersisa setelah Seiri agar siapa pun dapat segera mengambil dan mengembalikannya dengan mudah". Praktiknya meliputi "Strategi Papan Nama" yang memuat lokasi, nama barang, serta jumlah, dan "manajemen jejak/bayangan (shadow board)" yang menggambar siluet alat agar kekurangan alat langsung terlihat sekilas.

"Seisou (Resik)" adalah membersihkan sampah, kotoran, dan serbuk logam sekaligus memeriksa kelonggaran atau kebocoran oli mesin yang disebut "pembersihan sambil inspeksi". "Seiketsu (Rawat)" berarti kondisi di mana 3S pertama (Seiri, Seiton, Seisou) dipertahankan secara konsisten, sedangkan "Shitsuke (Rajin)" adalah membiasakan diri mematuhi aturan dan prosedur yang telah ditetapkan dengan benar.

8. Kegiatan 5S (Seiri, Seiton, Seisou, Seiketsu, Shitsuke), Strategi Label Merah, dan Manajemen Jejak

Poin penting


  • Seiri (Ringkas) = memilah barang yang perlu dan tidak perlu, lalu membuang yang tidak perlu (Strategi Label Merah).

  • Seiton (Rapi) = menetapkan lokasi tetap, barang tetap, dan jumlah tetap disertai label jelas agar mudah diambil segera (Strategi Papan Nama, manajemen bayangan/siluet).

  • Seisou (Resik) = memeriksa peralatan melalui pembersihan; Seiketsu (Rawat) = kondisi terjaganya 3S; Shitsuke (Rajin) = pembiasaan mematuhi aturan.
KosakataArti
Seiri (Ringkas) dan Seiton (Rapi)
Seiketsu (Rawat) dan Shitsuke (Rajin)
Strategi Label Merah (untuk Seiri)
manajemen jejak / papan bayangan alat (untuk Seiton)

Poin yang Sering Keluar di Ujian & Cara Mengingat

Ujian sangat sering menukar definisi antara "Seiri - Ringkas (membuang barang yang tidak perlu)" dengan "Seiton - Rapi (menentukan lokasi dan memberi label agar cepat diambil)", serta menukar antara "Seisou - Resik" dengan "Seiketsu - Rawat (kondisi terjaganya 3S)".

Saat menghitung Waktu Standar (ST), pastikan apakah soal meminta "Metode luar: ST = Waktu Bersih × (1 + Rasio Kelonggaran)" atau "Metode dalam: ST = Waktu Bersih ÷ (1 - Rasio Kelonggaran)". Perhatikan pula bahwa waktu persiapan (setup) hanya ditambahkan 1 kali untuk keseluruhan lot.

Selain itu, hafalkan simbol pemeriksaan pada analisis proses: "Inspeksi kuantitas = persegi (□), Inspeksi kualitas = belah ketupat (◇)", simbol penahanan "Penyimpanan = segitiga terbalik (▽), Tertahan/Delay = D", serta pengelompokan Therblig Kelas 2 (mencari, memilih, berpikir) dan Kelas 3 (menahan, terlambat, istirahat).

Poin penting


  • Perhitungan Waktu Standar: Metode luar = Bersih × (1 + Rasio Kelonggaran) / Metode dalam = Bersih ÷ (1 - Rasio Kelonggaran) / Waktu Bersih = Waktu Pengamatan × (Rating ÷ 100).

  • Jumlah pengamatan Work Sampling (kepercayaan 95%): N = 4 × p × (1 - p) ÷ E² (E adalah batas kesalahan absolut, p adalah rasio kemunculan).

  • Simbol peta proses: Operasi = ○, Transportasi = 〇 atau →, Inspeksi kuantitas = □, Inspeksi kualitas = ◇, Penyimpanan = ▽, Tertahan (Delay) = D.

  • Klasifikasi Therblig: Kelas 1 = gerakan efektif (memegang, merakit, dll.), Kelas 2 = gerakan penghambat (mencari, memilih, berpikir), Kelas 3 = gerakan sia-sia (menahan, terlambat, istirahat).

  • Urutan prioritas ECRS: E (Eliminasi) → C (Kombinasi) → R (Tata ulang) → S (Simplifikasi) / 5S: Seiri (buang = Label Merah) dan Seiton (penandaan letak = Papan Nama & Papan Bayangan).
KosakataArti
rasio kelonggaran luar dan kelonggaran dalam
inspeksi kuantitas (□) dan inspeksi kualitas (◇)
Therblig Kelas 1 hingga Kelas 3
ECRS (Eliminasi, Kombinasi, Tata Ulang, Simplifikasi)

Manajemen Kerja (IE, Waktu Standar, 5S)

Latihan soal bab ini di aplikasi

Referensi resmi

Zalo