VIENIDMY Masuk Mulai latihan

Beranda › Materi › Manajemen Operasi Produksi Kelas 3 生産管理オペレーション (BC検定)

Dasar Manajemen Proses (Bentuk Produksi, Penjadwalan, Pengendalian Produksi)

Manajemen Operasi Produksi Kelas 3 生産管理オペレーション (BC検定) · ビジネス・キャリア検定 生産管理オペレーション3級 · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

1. Tujuan Manajemen Proses serta Siklus Perencanaan dan Pengendalian Produksi

"Manajemen proses" adalah kegiatan manajemen untuk memanfaatkan secara efisien faktor-faktor produksi di pabrik—tenaga kerja, mesin/peralatan, dan bahan baku—guna mencapai tanggal pengiriman dan jumlah produksi yang dijanjikan secara pasti di bawah standar kualitas dan biaya yang ditetapkan.

Tujuan utama manajemen proses dirangkum dalam empat poin: ① Memastikan (mematuhi) batas waktu pengiriman, ② Mempersingkat waktu produksi (Manufacturing Lead Time), ③ Mengurangi persediaan barang setengah jadi (WIP) antarproses, dan ④ Meningkatkan rasio operasi peralatan serta pekerja (mengurangi waktu menganggur dan menunggu).

Fungsi manajemen proses terdiri atas dua bagian: "Perencanaan Produksi (penjadwalan, perencanaan jam kerja, dll.)" yang menetapkan terlebih dahulu "kapan, di mana, apa, dan berapa banyak yang dibuat", serta "Pengendalian Produksi (instruksi kerja, pengendalian progres, pengendalian barang fisik, pengendalian kapasitas)" yang mengarahkan, memantau, dan menyesuaikan agar produksi berjalan sesuai rencana.

Selain itu, pada produksi berdasarkan pesanan (Make-to-Order), apabila menunggu desain selesai akan membuat pengiriman terlambat, tindakan memesan lebih awal bahan khusus atau komponen beli yang memiliki waktu tunggu pengadaan (lead time) panjang sebelum gambar resmi selesai disebut "pemesanan/penyiapan awal (Senkou Tehai)".

Poin penting


  • 4 tujuan manajemen proses: ① Memastikan tanggal pengiriman, ② Mempersingkat manufacturing lead time, ③ Mengurangi barang setengah jadi (WIP), ④ Meningkatkan rasio operasi mesin dan pekerja.

  • Manajemen proses berputar dalam siklus "Perencanaan Produksi (P)" dan "Pengendalian Produksi (D-C-A: dispatching, progres, barang fisik, dan kapasitas sisa)".

  • Memesan material atau komponen ber-lead time panjang lebih awal sebelum desain rinci selesai disebut "penyiapan awal (Senkou Tehai)".
KosakataArti
manajemen proses
perencanaan produksi dan pengendalian produksi
barang setengah jadi (Work In Process - WIP)
penyiapan/pemesanan awal (Senkou Tehai)

2. Klasifikasi Bentuk Produksi 1 (Make-to-Stock vs. Make-to-Order, Decoupling Point)

Berdasarkan hubungan antara pesanan dan waktu mulai produksi, bentuk produksi dibagi menjadi "Make-to-Stock (produksi perkiraan)" dan "Make-to-Order (produksi pesanan)". "Make-to-Stock (Mikomi Seisan)" adalah metode memproduksi barang terlebih dahulu berdasarkan peramalan permintaan pasar dan mengirimkannya dari stok barang jadi.

Make-to-Stock (seperti barang kebutuhan sehari-hari, peralatan rumah tangga) memiliki lead time pengiriman yang singkat sejak pesanan diterima dan mudah menekan biaya melalui produksi massal terencana, namun berisiko menimbulkan kelebihan stok atau barang tak terjual jika ramalan meleset.

Sebaliknya, "Make-to-Order (Juchuu Seisan)" adalah metode yang baru memulai desain, pengadaan bahan, dan pembuatan setelah menerima pesanan pelanggan serta memastikan spesifikasi, jumlah, dan tanggal pengiriman. Meski bebas dari risiko stok barang jadi, waktu dari pesanan hingga pengiriman menjadi panjang dan fluktuasi beban antarproses besar.

Ada pula metode yang memproduksi komponen umum atau barang setengah jadi (modul) secara "Make-to-Stock" berdasarkan ramalan, lalu melakukan perakitan akhir secara "Make-to-Order (BTO)" setelah pesanan pelanggan masuk; titik percabangan (titik simpan stok) peralihan dari produksi ramalan ke produksi pesanan ini disebut "Decoupling Point".

Poin penting


  • Make-to-Stock = memproduksi berdasarkan ramalan permintaan dan mengirim dari stok barang jadi (waktu kirim singkat, tetapi berisiko stok berlebih atau usang).

  • Make-to-Order = memulai produksi setelah pesanan pelanggan pasti (tidak menyimpan stok barang jadi, tetapi lead time pengiriman panjang dan fluktuasi beban besar).

  • Decoupling point = titik percabangan pada rantai pasok tempat beralihnya Make-to-Stock (stok barang setengah jadi) menjadi Make-to-Order (perakitan akhir).
KosakataArti
produksi perkiraan / Make-to-Stock (Mikomi Seisan)
produksi berdasarkan pesanan / Make-to-Order (Juchuu Seisan)
peramalan permintaan
Decoupling Point (titik pisah pesanan)

3. Klasifikasi Bentuk Produksi 2 (Variasi-Volume, Aliran Kerja, Produksi Lini vs. Sel)

Dari hubungan jumlah jenis produk dan volume produksi, dibedakan menjadi "produksi sedikit jenis banyak volume" (cocok dengan tata letak produk / flow shop yang menyusun mesin khusus sesuai urutan proses) dan "produksi banyak jenis sedikit volume" (cocok dengan tata letak fungsional / job shop yang mengelompokkan mesin serbaguna menurut jenisnya).

Dari cara mengalirkan pekerjaan (kontinuitas), diklasifikasikan menjadi tiga: ① "Produksi individual (job)" yang membuat produk berbeda satu per satu tiap pesanan, ② "Produksi lot (batch)" yang membuat secara berkelompok dalam jumlah tertentu disertai pergantian cetakan/setup pada peralatan yang sama, dan ③ "Produksi kontinu" yang mengalirkan produk yang sama tanpa henti dalam jangka panjang.

Pada produksi lot, memperbesar ukuran lot akan mengurangi frekuensi setup tetapi meningkatkan biaya simpan stok, sedangkan memperkecil lot akan mengurangi stok tetapi memperbanyak setup; karena itu "Single Setup (SMED)"—mempersingkat pergantian cetakan menjadi di bawah 10 menit dengan mengalihkan persiapan ke luar saat mesin masih jalan—sangatlah penting.

Lebih lanjut di bagian perakitan, dibandingkan "metode produksi lini" yang membagi proses tunggal di atas konveyor, "metode produksi sel (cellular manufacturing)"—di mana 1 atau beberapa pekerja multi-keterampilan (Tanoukou) merakit banyak proses hingga tuntas di stan berbentuk huruf U—sangat unggul dalam fleksibilitas menghadapi variasi jenis/volume serta meningkatkan kepuasan kerja.

3. Klasifikasi Bentuk Produksi 2 (Variasi-Volume, Aliran Kerja, Produksi Lini vs. Sel)

Poin penting


  • Sedikit jenis banyak volume = mesin khusus, tata letak produk (flow shop); Banyak jenis sedikit volume = mesin serbaguna, tata letak fungsional (job shop).

  • Klasifikasi menurut aliran kerja: Produksi individual, Produksi lot (disertai pergantian setup), dan Produksi kontinu.

  • Metode produksi sel (lini bentuk U, dll.) menugaskan pekerja multi-keterampilan menangani banyak proses sehingga fleksibel terhadap banyak jenis sedikit volume dan fluktuasi permintaan.

  • Contoh: Waktu operasi harian 24.000 detik (400 menit) dengan kebutuhan produksi 960 unit, waktu kerja 4 stasiun masing-masing 18 dtk, 22 dtk, 20 dtk, 20 dtk (total 80 dtk) → Waktu siklus = 24.000 ÷ 960 = 25 dtk, Efisiensi keseimbangan lintasan = 80 ÷ (4 × 25) × 100 = 80%
KosakataArti
produksi sedikit jenis banyak volume & banyak jenis sedikit volume
produksi individual, produksi lot, dan produksi kontinu
metode produksi sel (cell production)
pekerja multi-keterampilan (Tanoukou)
Single Setup (pergantian setup di bawah 10 menit)

4. Perencanaan Jadwal (Jadwal Standar, Penjadwalan Maju/Mundur, Aturan Dispatching)

"Perencanaan jadwal" dibagi menurut rentang waktunya menjadi "jadwal induk/besar" (tahunan–semester), "jadwal menengah" (bulanan: 1–3 bulan), dan "jadwal kecil" (mingguan–harian). Jumlah hari standar yang menjumlahkan waktu proses standar tiap tahapan dengan waktu inspeksi, angkut, dan tunggu disebut "jadwal standar (manufacturing lead time)", sedangkan nomor urut yang dihitung mundur dari hari selesai disebut "nomor urut penyiapan".

Ada dua metode penjadwalan untuk menentukan hari mulai dan selesai. "Forward scheduling (penjadwalan maju)" merencanakan maju dari proses pertama sejak tanggal paling awal pekerjaan dapat dimulai (seperti tanggal bahan tiba) guna mencari tanggal selesai paling cepat (cocok untuk barang darurat namun stok setengah jadi cenderung naik).

Sebaliknya, "Backward scheduling (penjadwalan mundur)" bertolak dari tanggal pengiriman pelanggan lalu mengurangi jadwal standar secara mundur dari proses terakhir ke depan guna mencari "batas tanggal paling lambat harus mulai kerja", yang menjadi dasar Just-In-Time (JIT) dan MRP.

Sementara itu, aturan prioritas untuk menentukan pekerjaan mana yang diproses lebih dulu saat ada beberapa pekerjaan mengantre di lapangan disebut "aturan dispatching (aturan penentuan urutan kerja)".

Contoh utamanya meliputi: ① Urutan datang pertama (FCFS), ② Urutan waktu proses terpendek (SPT: meminimalkan rata-rata waktu tinggal dan stok WIP), ③ Urutan tanggal jatuh tempo paling awal (EDD: meminimalkan keterlambatan maksimum), dan ④ Urutan Slack terkecil (Slack = sisa waktu hingga jatuh tempo - sisa waktu proses).

Poin penting


  • Forward scheduling = menghitung maju dari tanggal bisa mulai untuk mencari tanggal selesai tercepat / Backward scheduling = menghitung mundur dari tanggal kirim untuk mencari tanggal mulai paling lambat (meminimalkan WIP).

  • Aturan dispatching: SPT (waktu proses terpendek) meminimalkan rata-rata waktu tinggal dan WIP; EDD (jatuh tempo terawal) meminimalkan keterlambatan pengiriman maksimum.

  • Slack (kelonggaran) = (Sisa waktu hingga tanggal pengiriman) - (Sisa waktu proses yang diperlukan); semakin kecil (atau negatif) nilainya, semakin tinggi tingkat daruratnya.

  • Contoh: Pekerjaan A sisa 10 hari ke tenggat dan sisa waktu proses 7 hari; Pekerjaan B sisa 6 hari dan sisa waktu proses 5 hari → Slack: A = 10 − 7 = 3 hari, B = 6 − 5 = 1 hari (prioritaskan B dengan slack terkecil)
KosakataArti
jadwal standar (manufacturing lead time)
Forward Scheduling (penjadwalan maju)
Backward Scheduling (penjadwalan mundur)
aturan dispatching (SPT, EDD)

5. Perencanaan Jam Kerja (Beban), Metode Yamazumi & Yamakuzushi, serta Pengendalian Kapasitas Sisa

Sejajar pentingnya dengan penjadwalan adalah "perencanaan jam kerja (perencanaan beban)", yaitu membandingkan "jam kerja beban" (volume pekerjaan yang diperlukan untuk memenuhi pesanan atau rencana produksi) dengan "jam kerja kapasitas tersedia" dari pekerja dan mesin per periode serta per proses guna menyeimbangkan keduanya.

"Jam kerja beban" dihitung dari "Jumlah produksi × Waktu standar per unit + Waktu persiapan/setup", sedangkan "jam kerja kapasitas tersedia" dihitung dari "Jumlah pekerja (atau mesin) × Jam kerja aktual per hari × Jumlah hari kerja × Perkiraan rasio operasi (atau efisiensi)".

Menumpuk jam kerja beban tiap pekerjaan apa adanya per periode ke dalam grafik tanpa memikirkan batas kapasitas disebut "metode tumpukan (Yamazumi)". Setelah ditumpuk, pekerjaan memangkas puncak gunung yang melewati garis kapasitas tersedia (kekurangan kapasitas = beban berlebih) untuk diratakan ke lembah (kelebihan kapasitas) disebut "metode perataan beban (Yamakuzushi)".

Apabila dalam perataan beban dan "pengendalian kapasitas sisa (Yoryoku Kanri)" terjadi Beban > Kapasitas (kurang kapasitas), langkah penanganannya meliputi: ① Menambah kapasitas (lembur, masuk hari libur, menerima bantuan personel dari bagian lain, menambah shift) dan ② Mengurangi atau menggeser beban (subkontrak/outsourcing, memajukan atau mengundurkan jadwal ke periode longgar, memecah lot).

Poin penting


  • Jam kerja beban = Jumlah produksi × Waktu standar per unit + Waktu setup / Kapasitas sisa (Yoryoku) = Jam kerja kapasitas tersedia - Jam kerja beban.

  • Menumpuk beban kerja per periode tanpa melihat batas kapasitas disebut "Yamazumi (penumpukan)"; meratakan beban yang melampaui garis kapasitas disebut "Yamakuzushi (perataan beban)".

  • Solusi saat kurang kapasitas: lembur atau bantuan personel (tambah kapasitas); subkontrak luar atau geser jadwal maju/mundur (penyesuaian beban).

  • Contoh: Memproduksi 600 unit produk dengan waktu standar 0,5 jam/unit dan waktu setup 20 jam → Jam kerja beban (load) = 600 × 0,5 + 20 = 320 jam

  • Contoh: 5 pekerja × 8 jam kerja aktual/hari × 10 hari kerja × 90% asumsi tingkat operasi (beban 320 jam) → Kapasitas jam kerja tersedia = 5 × 8 × 10 × 0,9 = 360 jam, Kelebihan kapasitas = 360 − 320 = 40 jam
KosakataArti
perencanaan jam kerja (perencanaan beban)
metode Yamazumi (penumpukan) dan Yamakuzushi (perataan beban)
pengendalian kapasitas sisa (Yoryoku Kanri)
jam kerja kapasitas tersedia

6. Pengendalian Produksi 1 (Perintah Produksi, Dispatching/Sashitate, Pengendalian Barang Fisik, Gantt Chart)

Langkah pertama pengendalian produksi yaitu "penyiapan perintah (Tehai)" mencakup "perintah pembuatan (perintah produksi resmi)" kepada bagian produksi dan pembelian, serta "penyiapan operasi (Sashitate / dispatching)" yang menginstruksikan urutan kerja spesifik dan waktu mulai kepada tiap pekerja sambil melihat progres lapangan dan ketersediaan mesin.

Dalam Sashitate (pembagian kerja), dokumen seperti tiket instruksi kerja, slip pengeluaran bahan, tiket perpindahan, dan tiket inspeksi diterbitkan lalu diselipkan pada "papan dispatching (papan kontrol)" menurut mesin dan urutan tanggal untuk mengelola urutan kerja lapangan secara visual.

"Pengendalian barang fisik (Genpin Kanri)" adalah kegiatan menjaga agar "fisik barang aktual (nama barang, jumlah, lokasi berada)" dari bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi yang mengalir di pabrik selalu cocok dengan "informasi pada dokumen dan komputer". Pada barang wajib ditempelkan "tiket barang fisik (Genpin-hyou)", "tiket pindah", atau "Kanban" guna mencegah kehilangan dan tercampurnya bahan.

Sementara itu, "Gantt chart" yang paling luas dipakai dalam "pengendalian progres" menyusun mesin, pekerja, atau pesanan pada sumbu vertikal dan waktu (tanggal) pada sumbu horizontal, lalu membandingkan jadwal rencana dan progres aktual dengan batang horizontal; jika ujung batang aktual berada di sebelah kiri garis vertikal tanggal pemeriksaan saat ini berarti "terlambat", dan jika di sebelah kanan berarti "lebih cepat".

Poin penting


  • Perintah pembuatan = perintah produksi ke bagian produksi/pembelian / Sashitate (dispatching) = penentuan urutan kerja di lapangan dan instruksi kerja konkret.

  • Pengendalian barang fisik = memakai tiket barang fisik, tiket pindah, dan Kanban agar barang aktual (nama, jumlah, lokasi) selalu cocok dengan informasi dokumen/data.

  • Gantt chart = menempatkan waktu pada sumbu horizontal dan membandingkan rencana vs. aktual dengan batang horizontal untuk memahami secara visual pekerjaan yang maju atau terlambat.
KosakataArti
Sashitate / dispatching (pembagian dan instruksi kerja)
pengendalian barang fisik dan tiket barang fisik (Genpin-hyou)
pengendalian progres (kemajuan kerja)
diagram Gantt (Gantt chart)

7. Pengendalian Produksi 2 (Membaca Kurva Aliran Kumulatif serta Menghitung Stok WIP dan Waktu Tinggal)

Grafik utama untuk mengelola progres dan kondisi barang setengah jadi secara kuantitatif pada proses produksi massal adalah "Kurva Aliran Kumulatif (Ryuudousuu Kyokusen)". Dengan waktu (tanggal) pada sumbu horizontal dan "jumlah kumulatif" pada sumbu vertikal, digambarkan dua garis: "kurva jumlah input kumulatif" (garis atas) dan "kurva jumlah output/selesai kumulatif" (garis bawah).

Pada suatu titik waktu tertentu (tanggal tertentu pada sumbu horizontal), "selisih arah vertikal (Jumlah Input Kumulatif - Jumlah Output Kumulatif)" di antara kedua kurva menunjukkan "jumlah stok barang setengah jadi (WIP)" yang masih berada di dalam proses pada saat itu.

Sebaliknya, pada suatu jumlah kumulatif tertentu, "selisih arah horizontal (selisih hari sejak tanggal input hingga tanggal jumlah kumulatif yang sama selesai dikeluarkan)" di antara kedua kurva menunjukkan "rata-rata waktu tinggal (waktu lintas proses / manufacturing lead time)".

Oleh karena itu, semakin melebar jarak kedua kurva berarti barang setengah jadi semakin menumpuk dan lead time semakin panjang (kemacetan proses memburuk); sebaliknya semakin rapat kedua garis berarti stok setengah jadi sedikit dan aliran berjalan lancar dalam waktu singkat.

7. Pengendalian Produksi 2 (Membaca Kurva Aliran Kumulatif serta Menghitung Stok WIP dan Waktu Tinggal)

Poin penting


  • Kurva Aliran Kumulatif menempatkan "Waktu (hari)" pada sumbu horizontal dan "Jumlah kumulatif" pada sumbu vertikal, menggambarkan garis input kumulatif (atas) dan output kumulatif (bawah).

  • "Selisih vertikal (jarak tegak lurus)" antara kedua kurva = "Jumlah stok barang setengah jadi / WIP (Input Kumulatif - Output Kumulatif)" pada saat itu.

  • "Selisih horizontal (jarak mendatar)" antara kedua kurva = "Rata-rata waktu tinggal (jumlah hari melewati proses / lead time)".

  • Contoh: Pada kurva aliran kumulatif, hari ke-5 input kumulatif 500 unit dan output kumulatif 350 unit; angka kumulatif 350 unit dicapai pada hari ke-2 input dan hari ke-5 output → Persediaan WIP (selisih vertikal) = 500 − 350 = 150 unit, Rata-rata waktu tinggal (selisih horizontal) = 5 − 2 = 3 hari
KosakataArti
Kurva Aliran Kumulatif (Ryuudousuu Kyokusen)
jumlah input kumulatif dan jumlah output kumulatif
jumlah stok barang setengah jadi / WIP (selisih vertikal)
rata-rata waktu tinggal / lead time (selisih horizontal)

8. Perhitungan Indikator Produktivitas & Efisiensi (Rasio Rendemen, Efisiensi Kerja, Rasio Operasi, Tingkat Utilisasi)

Pengendalian produksi mengevaluasi efisiensi lapangan dengan empat indikator kuantitatif. Pertama, "Rasio rendemen / hasil baik (Budomari-ritsu %)" adalah proporsi produk baik yang dihasilkan terhadap total bahan baku atau komponen yang dimasukkan: "Rasio Rendemen (%) = (Jumlah Output Baik ÷ Total Input Bahan) × 100".

Bila melewati beberapa proses secara berurutan, "rasio rendemen gabungan (overall yield)" adalah "hasil kali (perkalian) rasio rendemen tiap proses (Rendemen Proses 1 × Rendemen Proses 2...)" (Contoh: Proses 1 = 90% dan Proses 2 = 90%, maka 0,9 × 0,9 = 81%).

Kedua, "Efisiensi kerja (Sagyou Nouritsu %)" menunjukkan seberapa banyak pekerjaan dalam konversi waktu standar yang diselesaikan terhadap waktu kerja aktual: "Efisiensi Kerja (%) = (Jumlah Produksi × Waktu Standar per Unit) ÷ Waktu Kerja Aktual × 100 = Total Waktu Standar ÷ Total Waktu Kerja Aktual × 100".

Ketiga, "Rasio operasi (rasio operasi pekerja %)" adalah proporsi "waktu kerja aktual" dari jam kerja terjadwal setelah dikurangi waktu non-kerja seperti menunggu bahan, apel pagi, atau menunggu mesin rusak: "Rasio Operasi (%) = Waktu Kerja Aktual ÷ Jam Kerja Terjadwal × 100".

Keempat, "Tingkat utilisasi kapasitas (Sougyoudo %)" adalah rasio volume produksi aktual terhadap kapasitas produksi maksimum atau standar dari peralatan pabrik: "Tingkat Utilisasi (%) = Volume Produksi Aktual ÷ Kapasitas Produksi Standar × 100".

Poin penting


  • Rasio Rendemen (%) = (Jumlah produk baik ÷ Total jumlah input) × 100 / Rasio rendemen gabungan lintas proses = hasil kali rasio rendemen tiap proses.

  • Efisiensi Kerja (%) = (Jumlah produksi × Waktu standar per unit) ÷ Waktu kerja aktual × 100 (Penyebutnya adalah waktu kerja aktual, BUKAN jam kerja terjadwal!).

  • Rasio Operasi (%) = Waktu kerja aktual ÷ Jam kerja terjadwal × 100 (Waktu kerja aktual = Jam kerja terjadwal - waktu non-kerja seperti tunggu bahan/mesin rusak).

  • Contoh: Input 500 bahan menghasilkan 400 produk baik di Proses 1 (rendemen Proses 2: 95%); produksi aktual 400 unit terhadap kapasitas standar 500 unit → Rendemen Proses 1 = 400 ÷ 500 × 100 = 80%, Rendemen gabungan = 0,80 × 0,95 × 100 = 76%, Tingkat utilisasi kapasitas = 400 ÷ 500 × 100 = 80%

  • Contoh: Dari 400 menit waktu kerja terjadwal terdapat 40 menit waktu menganggur, dan dihasilkan 132 unit produk berwaktu standar 3 menit/unit → Waktu kerja aktual = 400 − 40 = 360 menit, Rasio kerja aktual = 360 ÷ 400 × 100 = 90%, Efisiensi kerja = (132 × 3) ÷ 360 × 100 = 110%
KosakataArti
rasio rendemen / hasil baik (rasio rendemen gabungan)
efisiensi kerja (Sagyou Nouritsu)
rasio operasi dan waktu kerja aktual
tingkat utilisasi kapasitas (Sougyoudo)

Poin yang Sering Keluar di Ujian & Cara Mengingat

Kurva Aliran Kumulatif hampir selalu keluar di setiap periode ujian. Waspadai soal jebakan yang menukar "Selisih vertikal = Jumlah stok barang setengah jadi / WIP (unit)" dengan "Selisih horizontal = Waktu tinggal / jumlah hari lintas proses (hari)", serta soal tabel yang meminta perhitungan Input Kumulatif dikurangi Output Kumulatif.

Saat menghitung "Efisiensi Kerja", kesalahan yang sering terjadi adalah langsung memasukkan "Jam kerja terjadwal (misal 480 menit)" sebagai penyebut. Wajib mengurangi waktu tunggu dan waktu mesin rusak terlebih dahulu untuk mendapatkan "Waktu kerja aktual", baru menghitung "Total Waktu Standar ÷ Waktu Kerja Aktual × 100".

Hafalkan berpasangan untuk penjadwalan dan dispatching: "Forward = hitung maju dari tanggal bisa mulai", "Backward = hitung mundur dari tanggal kirim"; "SPT (waktu proses terpendek) = meminimalkan rata-rata waktu tinggal & WIP", "EDD (jatuh tempo terawal) = meminimalkan keterlambatan maksimum".

Poin penting


  • Titik percabangan antara Make-to-Stock (produksi ramalan) dan Make-to-Order (produksi setelah pesanan) = Decoupling Point.

  • Forward scheduling = merencanakan maju dari tanggal bisa mulai / Backward scheduling = menghitung mundur dari tanggal kirim untuk menentukan batas mulai kerja.

  • Aturan dispatching: SPT (waktu proses terpendek) = rata-rata waktu tinggal terkecil / EDD (jatuh tempo terawal) = keterlambatan maksimum terkecil.

  • Kurva Aliran Kumulatif: Di antara garis input kumulatif dan output kumulatif, "Selisih vertikal = Stok WIP", "Selisih horizontal = Rata-rata waktu tinggal (lead time)".

  • Rumus efisiensi: Efisiensi Kerja = Total ST ÷ Waktu Kerja Aktual × 100 / Rasio Operasi = Waktu Kerja Aktual ÷ Jam Terjadwal × 100 / Rendemen = Produk Baik ÷ Input × 100.
KosakataArti
selisih vertikal dan selisih horizontal pada Kurva Aliran Kumulatif
efisiensi kerja dan rasio operasi
SPT (waktu proses terpendek) dan EDD (jatuh tempo terawal)
Yamazumi (penumpukan beban) dan Yamakuzushi (perataan beban)

Pengendalian Proses & Jadwal

Latihan soal bab ini di aplikasi

Referensi resmi

Zalo