VIENIDMY Masuk Mulai latihan

Beranda › Materi › Manajemen Operasi Produksi Kelas 3 生産管理オペレーション (BC検定)

Dasar Manajemen & Pemeliharaan Peralatan

Manajemen Operasi Produksi Kelas 3 生産管理オペレーション (BC検定) · ビジネス・キャリア検定 生産管理オペレーション3級 · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

1. Tujuan Manajemen Peralatan, LCC, Keandalan (MTBF / MTTR), dan Hukum Heinrich

"Manajemen peralatan" adalah kegiatan pengelolaan terpadu untuk memanfaatkan peralatan secara paling ekonomis sepanjang seluruh "siklus hidup peralatan (Life Cycle)"—mulai dari survei, riset, desain, pembuatan, dan pemasangan hingga pengoperasian, pemeliharaan, peremajaan, dan pembuangan—demi meningkatkan produktivitas perusahaan.

Total biaya seumur hidup yang tidak hanya mencakup biaya perencanaan dan pengadaan awal (Initial Cost), tetapi juga biaya operasi, energi, perbaikan/pemeliharaan, serta pembuangan setelah beroperasi (Running Cost) disebut "Life Cycle Cost (LCC)"; meminimalkan LCC merupakan tujuan besar manajemen peralatan.

Tiga karakteristik yang dituntut dari peralatan yang baik adalah: ① Ekonomis (LCC rendah dan efektivitas investasi tinggi), ② Keandalan / Reliability (jarang rusak dan beroperasi stabil), serta ③ Kemudahan Pemeliharaan / Maintainability (mudah diperiksa dan diperbaiki).

Indikator keandalan yaitu "MTBF (rata-rata waktu antar kerusakan)" dihitung dengan "Total Waktu Operasi ÷ Jumlah Kerusakan" (semakin panjang semakin baik), sedangkan indikator kemudahan pemeliharaan yaitu "MTTR (rata-rata waktu perbaikan)" dihitung dengan "Total Waktu Perbaikan ÷ Jumlah Kerusakan" (semakin singkat semakin baik).

Selain itu, sebagaimana ditunjukkan "Hukum Heinrich (aturan 1:29:300)", di balik 1 kecelakaan berat (kerusakan besar) tersembunyi 29 kecelakaan ringan (kerusakan kecil) dan 300 kejadian nyaris celaka / Hiyari-Hatto (cacat mikro atau gejala abnormal), sehingga sangat penting untuk memberantasnya sejak tahap cacat mikro.

Poin penting


  • LCC (Life Cycle Cost) = Biaya perencanaan & pengadaan awal peralatan (Initial Cost) + Biaya operasi, pemeliharaan & pembuangan (Running Cost) selama siklus hidup.

  • MTBF (Rata-rata waktu antar kerusakan = Waktu Operasi ÷ Jumlah Kerusakan) adalah indikator Keandalan / MTTR (Rata-rata waktu perbaikan = Waktu Perbaikan ÷ Jumlah Kerusakan) adalah indikator Kemudahan Pemeliharaan.

  • Hukum Heinrich = 1 kecelakaan berat (kerusakan besar) : 29 cedera ringan (kerusakan kecil) : 300 kejadian Hiyari-Hatto (cacat mikro).

  • Contoh: Biaya pengadaan peralatan 15 juta yen, biaya operasi & pemeliharaan 10 tahun 12 juta yen, biaya pembuangan 1 juta yen → Life Cycle Cost (LCC) = 15 + 12 + 1 = 28 juta yen

  • Contoh: Selama 315 jam beban rencana terjadi 5 kali kerusakan dengan total waktu perbaikan 15 jam → Total waktu operasi = 315 − 15 = 300 jam, MTBF = 300 ÷ 5 = 60 jam, MTTR = 15 ÷ 5 = 3 jam
KosakataArti
Life Cycle Cost (LCC: total biaya siklus hidup)
MTBF (Mean Time Between Failures: keandalan)
MTTR (Mean Time To Repair: kemudahan pemeliharaan)
Hukum Heinrich (rasio 1 : 29 : 300)

2. Klasifikasi Metode Pemeliharaan (Preventif PM, Kerusakan BM, Korektif CM, Pencegahan Pemeliharaan MP)

Metode pemeliharaan peralatan dibagi secara garis besar menjadi kegiatan pemertahanan dan kegiatan perbaikan (kaizen). Wakil dari kegiatan pemertahanan adalah "Pemeliharaan Preventif (PM: Preventive Maintenance)", yaitu metode pemeriksaan, penggantian suku cadang, dan perbaikan secara terencana sebelum kerusakan atau berhentinya mesin terjadi.

Pemeliharaan preventif dibagi lagi menjadi "Time-Based Maintenance (TBM: pemeliharaan berkala)" yang mengganti suku cadang atau melakukan turun mesin (overhaul) tanpa syarat setiap jam operasi atau siklus tertentu, dan "Condition-Based Maintenance (CBM: pemeliharaan prediktif)" yang mendiagnosis kondisi keausan melalui getaran, suhu, atau suara asing lalu mengambil tindakan sebelum mencapai batas.

Sebaliknya, metode melakukan perbaikan dan pemulihan setelah kerusakan atau penghentian fungsi terjadi disebut "Breakdown Maintenance (BM: pemeliharaan setelah rusak)". Selain perbaikan darurat atas kerusakan mendadak, untuk peralatan yang memiliki mesin cadangan atau berdampak kecil bila rusak seperti lampu penerangan, terkadang BM dipilih secara terencana demi penghematan biaya.

Sebagai kegiatan perbaikan, terdapat "Corrective Maintenance (CM: pemeliharaan korektif/perbaikan)" yang memodifikasi struktur atau material peralatan yang ada agar kerusakan tidak terulang (atau agar mudah diperiksa/diperbaiki), serta "Maintenance Prevention (MP: pencegahan pemeliharaan)" yang memasukkan data kerusakan masa lalu sejak tahap desain peralatan baru guna mengejar "peralatan bebas perawatan (maintenance-free) yang tidak rusak".

Poin penting


  • Pemeliharaan Preventif (PM) = Time-Based Maintenance (TBM: penggantian berkala sesuai siklus) + Condition-Based Maintenance (CBM: pemantauan kondisi keausan / pemeliharaan prediktif).

  • Breakdown Maintenance (BM) = metode memperbaiki setelah kerusakan terjadi (bisa lebih ekonomis untuk peralatan dengan tingkat kepentingan rendah).

  • Corrective Maintenance (CM) = memodifikasi peralatan yang sudah ada agar tahan rusak dan mudah diperbaiki / Maintenance Prevention (MP) = merancang peralatan baru sejak tahap desain agar tidak rusak dan bebas perawatan.
KosakataArti
Pemeliharaan Preventif (PM: TBM dan CBM)
Breakdown Maintenance (BM: pemeliharaan pascakerusakan)
Corrective Maintenance (CM: pemeliharaan korektif/modifikasi)
Maintenance Prevention (MP: pencegahan pemeliharaan sejak desain)

3. Pemeliharaan Harian (Pembersihan, Pelumasan, Pengencangan Baut, Inspeksi) dan Langkah Jishu Hozen

Kegiatan garda terdepan untuk mencegah penurunan fungsi peralatan adalah "Pemeliharaan Harian (inspeksi harian)" yang dilakukan sebelum, selama, dan sesudah operasi setiap hari. Tiga syarat dasarnya adalah "Pembersihan (Seisou), Pelumasan (Kyuuyu), dan Pengencangan Kembali baut/mur yang kendor (Mashijime)", ditambah "inspeksi harian" dengan pancaindra.

Kegiatan di mana operator bagian produksi sendiri memiliki kesadaran "Peralatanku kujaga sendiri" lalu melakukan pemeliharaan harian dan servis ringan disebut "Pemeliharaan Mandiri (Jishu Hozen / Autonomous Maintenance)" (berpasangan dengan pemeliharaan khusus oleh departemen maintenance).

Prinsip yang sangat penting dalam pemeliharaan mandiri adalah "Pembersihan adalah inspeksi". Dengan mengelap setiap sudut peralatan menggunakan tangan sendiri, operator dapat menemukan cacat mikro (ketidaknormalan) seperti baut kendor, retakan, kebocoran oli, panas berlebih, dan suara asing sejak dini menggunakan pancaindra (penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman).

Pemeliharaan mandiri diterapkan bertahap dalam 7 langkah: dimulai dari Langkah 1 "Pembersihan awal (penemuan dan pemulihan ketidaknormalan)", lanjut ke Langkah 2 "Penanggulangan sumber kotoran dan area sulit dibersihkan", Langkah 3 "Pembuatan standar sementara pemeliharaan mandiri", Langkah 4 "Inspeksi menyeluruh", Langkah 5 "Inspeksi mandiri", Langkah 6 "Standardisasi", hingga Langkah 7 "Manajemen mandiri penuh".

3. Pemeliharaan Harian (Pembersihan, Pelumasan, Pengencangan Baut, Inspeksi) dan Langkah Jishu Hozen

Poin penting


  • Tiga syarat dasar peralatan (pemeliharaan harian pencegah keausan) = "Pembersihan, Pelumasan, Pengencangan Baut" + inspeksi harian dengan pancaindra.

  • Pemeliharaan Mandiri (Jishu Hozen) = kegiatan operator "menjaga peralatan sendiri" dengan semboyan "Pembersihan adalah inspeksi" untuk menemukan dan memulihkan cacat mikro.

  • Langkah 1 Pemeliharaan Mandiri adalah "Pembersihan awal", Langkah 2 "Penanggulangan sumber kotoran & area sulit", dan Langkah 3 "Pembuatan standar sementara".
KosakataArti
pemeliharaan harian (pembersihan, pelumasan, pengencangan baut)
Pemeliharaan Mandiri / Jishu Hozen (menjaga mesin sendiri)
pembersihan adalah inspeksi
penanggulangan sumber kotoran dan area sulit

4. Definisi TPM (Total Productive Maintenance) dan 8 Pilar Utamanya

"TPM (Total Productive Maintenance: Pemeliharaan Produktif dengan Partisipasi Semua Orang)" adalah kegiatan partisipasi seluruh karyawan untuk mencegah segala kerugian seperti Nol Kecelakaan, Nol Produk Cacat, dan Nol Kerusakan Mesin guna membangun budaya perusahaan yang mengejar efisiensi sistem produksi secara maksimal.

TPM memiliki 3 ciri utama: ① Melibatkan "seluruh departemen di perusahaan" bukan hanya produksi tetapi juga pengembangan, penjualan, dan administrasi; ② Mencakup "seluruh tahapan" siklus hidup peralatan; ③ Dijalankan dengan "partisipasi semua orang" dari manajemen puncak hingga pekerja lini depan melalui kegiatan kelompok kecil yang saling bertautan (overlapping small-group activities).

TPM dikembangkan melalui "8 Pilar". Empat pilar lapangan meliputi: ① Perbaikan Terfokus / Kobetsu Kaizen (pemberantasan 16 kerugian besar), ② Pemeliharaan Mandiri (pemeliharaan harian oleh operator), ③ Pemeliharaan Terencana (pemeliharaan ahli oleh bagian maintenance), dan ④ Pendidikan & Pelatihan (pembinaan keahlian operasi dan perawatan).

Empat pilar tingkat perusahaan meliputi: ⑤ Manajemen Tahap Awal (vertical startup produk/mesin baru dan desain MP), ⑥ Pemeliharaan Kualitas / Hinshitsu Hozen (pengaturan kondisi mesin untuk nol cacat), ⑦ Efisiensi Departemen Administrasi & Tak Langsung (TPM Kantor), serta ⑧ Manajemen Keselamatan, Kesehatan & Lingkungan (nol kecelakaan dan pengurangan beban lingkungan).

Poin penting


  • TPM = Pemeliharaan produktif menuju "Nol Kecelakaan, Nol Cacat, Nol Kerusakan" dengan "partisipasi seluruh karyawan" dari pimpinan puncak hingga pekerja lapangan melalui kelompok kecil bertautan.

  • 8 Pilar TPM: ① Perbaikan Terfokus, ② Pemeliharaan Mandiri, ③ Pemeliharaan Terencana, ④ Pendidikan & Pelatihan, ⑤ Manajemen Awal, ⑥ Pemeliharaan Kualitas, ⑦ Efisiensi Bagian Tak Langsung, ⑧ Keselamatan & Lingkungan.

  • "Vertical startup (mempersingkat waktu dari desain hingga uji coba produksi massal serta mencegah masalah awal)" adalah peran pilar ke-5 yaitu "Manajemen Tahap Awal".
KosakataArti
TPM (Total Productive Maintenance)
kegiatan kelompok kecil bertautan (overlapping small groups)
8 Pilar TPM
Manajemen Tahap Awal (vertical startup)
Pemeliharaan Kualitas (Quality Maintenance)

5. Enam Kerugian Besar Peralatan (6 Big Losses) dan Perhitungan OEE

Faktor-faktor yang menghambat efisiensi peralatan disebut "6 Kerugian Besar Peralatan (6 Big Losses, atau 7 Kerugian Besar bila kerugian penggantian pahat dipisah)", yang dikelola serta dihitung dalam 3 kategori.

Kategori ke-1 "Kerugian Berhenti (Downtime Loss)" mencakup ① Kerugian Kerusakan (berhenti akibat rusak mendadak/kronis) dan ② Kerugian Setup & Penyesuaian (berhenti akibat ganti tipe produk atau ganti pahat). Waktu Beban dikurangi Kerugian Berhenti menghasilkan "Waktu Operasi", dan "Rasio Waktu Operasi (Availability) = Waktu Operasi ÷ Waktu Beban".

Kategori ke-2 "Kerugian Kinerja (Performance Loss)" mencakup ③ Kerugian Berhenti Sesaat (Chokotei) & Putaran Kosong (berhenti sebentar akibat sensor atau benda kerja macet) dan ④ Kerugian Penurunan Kecepatan (beroperasi lebih lambat dari kecepatan standar desain). Proporsi setelah dikurangi kerugian kinerja adalah "Rasio Kinerja Operasi (Performance Rate) = (Cycle Time Standar × Jumlah Diproses) ÷ Waktu Operasi".

Kategori ke-3 "Kerugian Cacat (Defect Loss)" mencakup ⑤ Kerugian Produk Cacat & Pengerjaan Ulang serta ⑥ Kerugian Rendemen Awal (Startup Loss). Proporsi produk baik terhadap jumlah yang diproses adalah "Rasio Produk Sesuai (Quality Rate) = Jumlah Produk Baik ÷ Jumlah Diproses".

Hasil perkalian ketiga rasio tersebut adalah "Efektivitas Peralatan Keseluruhan (OEE) = Rasio Waktu Operasi × Rasio Kinerja Operasi × Rasio Produk Sesuai", yang menunjukkan proporsi waktu peralatan benar-benar menghasilkan nilai (Waktu Operasi Bernilai ÷ Waktu Beban).

5. Enam Kerugian Besar Peralatan (6 Big Losses) dan Perhitungan OEE

Poin penting


  • Kerugian Berhenti (kerusakan, setup/penyesuaian) → Rasio Waktu Operasi = (Waktu Beban - Waktu Kerugian Berhenti) ÷ Waktu Beban.

  • Kerugian Kinerja (berhenti sesaat Chokotei/putaran kosong, penurunan kecepatan) → Rasio Kinerja Operasi = (Cycle Time Standar × Jumlah Diproses) ÷ Waktu Operasi.

  • Efektivitas Peralatan Keseluruhan (OEE) = Rasio Waktu Operasi × Rasio Kinerja Operasi × Rasio Produk Sesuai (Rasio Produk Baik).

  • Contoh: Waktu beban 500 menit, rugi berhenti 50 menit, waktu siklus standar 0,5 menit/unit dengan jumlah diproses 720 unit → Waktu operasi = 500 − 50 = 450 menit, Rasio operasi waktu = 450 ÷ 500 × 100 = 90%, Rasio operasi kinerja = (0,5 × 720) ÷ 450 × 100 = 80%

  • Contoh: 684 produk baik dari 720 unit yang diproses (rasio operasi waktu 90%, rasio operasi kinerja 80%) → Rasio produk sesuai = 684 ÷ 720 × 100 = 95%, Efektivitas Peralatan Keseluruhan (OEE) = 0,90 × 0,80 × 0,95 × 100 = 68,4%
KosakataArti
6 Kerugian Besar peralatan (kerugian berhenti, kinerja, dan cacat)
kerugian berhenti sesaat (Chokotei) dan putaran kosong
Efektivitas Peralatan Keseluruhan (OEE)
rasio waktu operasi, rasio kinerja operasi, dan rasio produk baik

6. Klasifikasi Penurunan Fungsi Peralatan (Fungsional vs. Ekonomis, Alami vs. Paksa)

Menurunnya nilai atau performa mesin yang disebut "penurunan fungsi (deteriorasi) peralatan" dibagi dari sudut pandang teknis dan ekonomis menjadi "Deteriorasi Fungsional" dan "Deteriorasi Ekonomis".

Di dalam "Deteriorasi Fungsional", menurunnya performa fisik atau kepresisian mesin itu sendiri akibat aus, korosi, kelelahan logam, atau patah disebut "Deteriorasi Absolut (penurunan fisik / penuaan)".

Sebaliknya, meskipun mesin masih dapat bergerak, munculnya mesin model baru berkinerja tinggi akibat inovasi teknologi atau berubahnya kebutuhan pasar sehingga mesin lama tampak tertinggal disebut "Deteriorasi Relatif (keusangan / obsolescence)"; sedangkan membengkaknya biaya perawatan hingga tidak lagi menguntungkan disebut "Deteriorasi Ekonomis".

Sementara itu, klasifikasi terpenting dalam manajemen pemeliharaan di lapangan adalah "Deteriorasi Alami" dan "Deteriorasi Paksa". "Deteriorasi Alami" adalah keausan yang berjalan perlahan seiring waktu sesuai umur pakai aslinya walaupun peralatan telah digunakan dan dirawat dengan benar.

Sebaliknya, "Deteriorasi Paksa" adalah kerusakan yang dipercepat secara buatan oleh ulah manusia jauh lebih cepat dari seharusnya akibat lalai membersihkan, melumasi, dan mengencangkan baut, atau akibat beban berlebih dan salah pengoperasian. Peran utama pemeliharaan harian adalah "menghilangkan deteriorasi paksa" ini.

Poin penting


  • Deteriorasi Absolut (keausan fisik dan penuaan) vs. Deteriorasi Relatif (keusangan akibat munculnya teknologi baru atau perubahan pasar).

  • Deteriorasi Alami = keausan seiring usia meski dipakai dengan benar / Deteriorasi Paksa = keausan yang dipercepat secara buatan akibat kurang pembersihan, pelumasan, pengencangan baut, atau salah operasi.

  • Menjalankan pemeliharaan harian (pembersihan, pelumasan, pengencangan baut) secara tuntas untuk menekan "Deteriorasi Paksa" menjadi nol adalah dasar pemeliharaan.
KosakataArti
deteriorasi absolut (penuaan) dan deteriorasi relatif (keusangan)
deteriorasi ekonomis
deteriorasi alami (keausan wajar)
deteriorasi paksa (percepatan keausan akibat ulah manusia)

7. Tiga Periode Kurva Kerusakan (Kurva Bathtub) dan Langkah Penanggulangannya

Apabila dibuat grafik dengan "waktu penggunaan (waktu berjalan)" peralatan pada sumbu horizontal dan "laju kerusakan (failure rate)" pada sumbu vertikal, terbentuk kurva menyerupai penampang bak mandi Barat sehingga disebut "Kurva Bathtub (kurva kerusakan)". Kurva ini terbagi menjadi 3 periode.

Periode ke-1 "Periode Kerusakan Awal (Initial Failure)" menunjukkan laju kerusakan tinggi sesaat setelah mulai digunakan akibat kesalahan desain, produksi, atau instalasi, komponen cacat awal, maupun ketidakterampilan operator, lalu menurun drastis seiring waktu. Solusinya adalah uji coba jalan (debugging, aging, screening) dan manajemen awal yang ketat.

Periode ke-2 "Periode Kerusakan Acak (Random Failure)" adalah masa ketika cacat awal telah habis muncul sehingga laju kerusakan berada pada titik terendah, hampir konstan, dan stabil. Karena penyebab utamanya adalah beban lebih mendadak atau salah operasi, solusinya adalah kepatuhan prosedur operasi standar, Poka-yoke, dan pemeliharaan harian.

Periode ke-3 "Periode Kerusakan Aus (Wear-Out Failure)" adalah masa ketika laju kerusakan melonjak tajam kembali karena komponen mencapai batas umur pakai akibat keausan, kelelahan logam, dan penuaan. Solusinya adalah pemeliharaan preventif (penggantian suku cadang berkala, overhaul, pemantauan kondisi) atau peremajaan mesin.

7. Tiga Periode Kurva Kerusakan (Kurva Bathtub) dan Langkah Penanggulangannya

Poin penting


  • Kurva Bathtub = sumbu horizontal "Waktu", sumbu vertikal "Laju Kerusakan", bergerak berurutan: ① Periode Kerusakan Awal (menurun) → ② Periode Kerusakan Acak (rendah & konstan) → ③ Periode Kerusakan Aus (meningkat).

  • Solusi periode kerusakan awal = uji coba jalan, debugging, manajemen awal sebelum serah terima / Solusi periode kerusakan acak = pencegahan salah operasi (Poka-yoke) dan inspeksi harian.

  • Solusi periode kerusakan aus = Pemeliharaan Preventif (penggantian berkala & overhaul melalui TBM, pemeliharaan prediktif melalui CBM).
KosakataArti
Kurva Bathtub (kurva laju kerusakan)
periode kerusakan awal (uji coba jalan dan debugging)
periode kerusakan acak (stabil pada tingkat rendah)
periode kerusakan aus (pemeliharaan preventif dan penggantian berkala)

8. Pemilihan Peralatan Prioritas (Peringkat A / B / C) dan Manajemen Suku Cadang

Mengeluarkan biaya dan tenaga yang sama besarnya untuk melakukan pemeliharaan preventif tingkat tinggi pada seluruh peralatan di dalam pabrik sangatlah tidak ekonomis. Oleh sebab itu, pabrik menilai tingkat kepentingan peralatan berdasarkan besarnya dampak saat rusak dan membaginya ke dalam peringkat A, B, dan C—disebut "Pemilihan Peralatan Prioritas".

Kriteria evaluasi tingkat kepentingan menggunakan tolok ukur "PQCDSME": yaitu sudut pandang Produksi (P: apakah tidak ada mesin pengganti sehingga bila berhenti seluruh lini ikut mati?), Kualitas (Q: apakah memicu cacat fatal?), Biaya/Cost (C: apakah biaya perbaikan dan kerugiannya mahal?), Pengiriman/Delivery (D), serta Keselamatan & Lingkungan (S, E: apakah menimbulkan kecelakaan atau polusi?).

Pada "Peralatan Peringkat A" (prioritas utama) diterapkan CBM, TBM, dan pemeliharaan korektif secara intensif; pada "Peralatan Peringkat B" diterapkan pemeliharaan preventif umum; sedangkan pada "Peralatan Peringkat C" yang berdampak ringan cukup diterapkan inspeksi harian + Breakdown Maintenance (BM) agar biaya pemeliharaan optimal.

Selain itu dalam "Manajemen Suku Cadang (Spare Parts)" untuk perbaikan, komponen diklasifikasikan menjadi suku cadang khusus ber-lead time panjang, suku cadang habis pakai yang selalu disediakan, dan suku cadang standar pasaran, lalu dikelola stoknya dengan metode titik pemesanan (reorder point) guna mencegah berhentinya mesin terlalu lama akibat kehabisan stok maupun stok berlebih.

Poin penting


  • Pemilihan peralatan prioritas = membagi peralatan ke peringkat A, B, dan C berdasarkan dampak kerusakan terhadap Keselamatan (S), Produksi (P), Kualitas (Q), Pengiriman (D), dan Biaya (C).

  • Peringkat A (prioritas tertinggi) menerapkan pemeliharaan preventif (CBM, TBM) dan korektif secara ketat / Peringkat C (dampak ringan) dikelola secara ekonomis dengan Breakdown Maintenance (BM).

  • Manajemen suku cadang = membedakan barang stok tetap dan barang beli sesuai kebutuhan berdasarkan lead time pengadaan, frekuensi pakai, dan tingkat kepentingan guna mencegah mesin berhenti lama akibat stok kosong.
KosakataArti
peralatan prioritas (evaluasi peringkat A, B, C)
evaluasi peralatan dengan kriteria PQCDSME
manajemen suku cadang (spare parts management)
suku cadang stok tetap dan suku cadang pesan saat butuh

Poin yang Sering Keluar dalam Ujian dan Cara Mengingatnya

Soal hitungan pada bab Manajemen Peralatan hampir pasti keluar dalam 2 pola. Pola pertama adalah "MTBF = Total Waktu Operasi ÷ Jumlah Kerusakan (Keandalan)" dan "MTTR = Total Waktu Perbaikan ÷ Jumlah Kerusakan (Kemudahan Pemeliharaan)". Hati-hati jangan lupa mengurangi waktu perbaikan saat menghitung waktu operasi.

Pola kedua adalah "Efektivitas Peralatan Keseluruhan (OEE) = Rasio Waktu Operasi × Rasio Kinerja Operasi × Rasio Produk Sesuai". Wajib hafal pengelompokan 6 Kerugian Besar: "Kerusakan & Setup adalah Kerugian Berhenti (Rasio Waktu Operasi)", sedangkan "Berhenti Sesaat (Chokotei) & Penurunan Kecepatan adalah Kerugian Kinerja (Rasio Kinerja Operasi)".

Untuk metode pemeliharaan, waspadai jebakan pertukaran definisi antara "TBM (berbasis waktu = ganti berkala) vs. CBM (berbasis kondisi = pemeliharaan prediktif)", serta antara "CM (Corrective Maintenance = memodifikasi mesin yang sudah ada) vs. MP (Maintenance Prevention = merancang mesin baru sejak tahap desain agar tidak rusak)".

Lebih lanjut, pasangan istilah "Deteriorasi Alami vs. Deteriorasi Paksa (kerusakan buatan akibat kurang pembersihan, pelumasan, dan pengencangan baut)" serta "3 periode Kurva Bathtub (Awal → Acak → Aus) beserta solusinya" juga hampir selalu muncul di setiap ujian.

Poin penting


  • MTBF = Waktu Operasi ÷ Jumlah Kerusakan (Keandalan, makin besar makin baik) / MTTR = Waktu Perbaikan ÷ Jumlah Kerusakan (Kemudahan Pemeliharaan, makin kecil makin baik).

  • OEE = Rasio Waktu Operasi (rugi rusak & setup) × Rasio Kinerja Operasi (rugi Chokotei & turun kecepatan) × Rasio Produk Sesuai (rugi cacat & startup).

  • CM (modifikasi mesin yang ada) vs. MP (pencegahan pemeliharaan sejak desain mesin baru) / Deteriorasi Paksa = ditekan menjadi nol lewat Pembersihan, Pelumasan, dan Pengencangan Baut.
KosakataArti
perhitungan MTBF dan MTTR
6 Kerugian Besar dan Efektivitas Peralatan Keseluruhan (OEE)
CM (Corrective Maintenance) dan MP (Maintenance Prevention)
penghilangan deteriorasi paksa

Manajemen Peralatan (Perawatan, TPM, OEE)

Latihan soal bab ini di aplikasi

Referensi resmi

Zalo