VIENIDMY Masuk Mulai latihan

Beranda › Materi › Perencanaan Produksi Kelas 3 生産管理プランニング (BC検定)

Dasar Manajemen Biaya (Harga Pokok)

Perencanaan Produksi Kelas 3 生産管理プランニング (BC検定) · ビジネス・キャリア検定 生産管理プランニング3級 · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

1. Sistem Manajemen Biaya (Perencanaan, Pemertahanan, Perbaikan Biaya) dan Tujuan Akuntansi Biaya

"Biaya / Harga Pokok (Genka / Cost)" adalah nilai ekonomi (barang maupun jasa) yang dikonsumsi perusahaan untuk memproduksi dan menjual produk yang dinyatakan dalam satuan uang.

"Manajemen Biaya" bukan sekadar menghitung biaya aktual masa lalu, melainkan rangkaian kegiatan siklus PDCA yang menetapkan "Biaya Standar (Biaya Target)", menganalisis selisihnya terhadap "Biaya Aktual", lalu menghilangkan pemborosan guna menurunkan biaya.

Manajemen biaya terpadu modern terdiri atas 3 tahap: ① "Perencanaan Biaya / Target Costing (Genka Kikaku)" yang merancang biaya sejak tahap perencanaan dan desain produk baru; ② "Pemertahanan Biaya (Genka Iji)" yang mencapai serta menjaga biaya standar pada tahap produksi massal; dan ③ "Perbaikan Biaya (Genka Kaizen)" yang merevisi dan menurunkan standar itu sendiri demi penghematan lebih lanjut.

Adapun "Lima Tujuan Akuntansi Biaya" adalah: ① Menyusun laporan keuangan (Laporan Laba Rugi dan Neraca), ② Menentukan harga jual, ③ Pengendalian biaya (cost control), ④ Penyusunan dan pengendalian anggaran, serta ⑤ Pengambilan keputusan rencana dasar manajemen (investasi peralatan, keputusan buat sendiri atau subkontrak).

Poin penting


  • Manajemen Biaya = kegiatan siklus PDCA yang menetapkan biaya standar (target), menganalisis selisih terhadap biaya aktual, dan mengambil tindakan perbaikan.

  • Tiga pilar Manajemen Biaya: ① Perencanaan Biaya (tahap desain & pengembangan) → ② Pemertahanan Biaya (pematuhan standar saat produksi massal) → ③ Perbaikan Biaya (penurunan standar saat produksi massal).

  • Karena sekitar 80% biaya produk ditentukan pada tahap perencanaan dan desain, "Perencanaan Biaya (Genka Kikaku)" di hulu dianggap paling penting.
KosakataArti
Perencanaan Biaya (Genka Kikaku), Pemertahanan Biaya, dan Perbaikan Biaya
Biaya Standar dan Biaya Aktual
Lima Tujuan Akuntansi Biaya

2. Klasifikasi Biaya (3 Unsur Bentuk Biaya, 4 Kategori Beban Keihi, Langsung vs. Tak Langsung, Variabel vs. Tetap)

Biaya produksi menurut bentuk terjadinya (apa yang dikonsumsi) dibagi menjadi 3 unsur: "Biaya Bahan (konsumsi barang)", "Biaya Tenaga Kerja (konsumsi tenaga kerja: upah, gaji, bonus, jaminan sosial wajib, dll.)", dan "Biaya Lain / Beban Pabrik (Keihi: selain bahan dan tenaga kerja)".

Dalam ujian Planning Tingkat 3, "4 Kategori Beban Lain (Keihi)" menurut cara perhitungannya sangat sering keluar: ① "Beban Pembayaran (Shiharai Keihi: ongkos subkontrak luar, biaya reparasi, ongkos angkut, biaya perjalanan dinas)" yang dicatat menurut jumlah pembayaran; ② "Beban Bulanan (Tsukiwari Keihi: penyusutan/depresiasi, asuransi kebakaran, pajak bumi bangunan, biaya sewa)" yang membagi rata beban 1 tahun ke dalam 12 bulan; ③ "Beban Terukur (Sokutei Keihi: tarif listrik, gas, air)" yang dihitung dengan meteran; dan ④ "Beban Kejadian / Timbul (Hassei Keihi: penyusutan selisih stok opname bahan, biaya barang cacat/spoilage)" yang diakui saat kejadian.

Menurut keterkaitannya dengan produk tertentu dibagi menjadi "Biaya Langsung" dan "Biaya Tak Langsung". Biaya yang jelas jumlah konsumsinya untuk produk tertentu disebut "Biaya Langsung" dan dibebankan langsung ke produk ("Chokka / Fuka"); sedangkan "Biaya Tak Langsung (Overhead)" yang timbul bersama untuk banyak produk dibagikan ke tiap produk menggunakan "Dasar Alokasi" seperti jam kerja langsung ("Alokasi / Haifu").

Menurut hubungannya dengan perubahan volume produksi, biaya dibagi menjadi "Biaya Variabel (biaya bahan langsung, ongkos subkontrak luar, dll.)" yang berubah sebanding dengan volume produksi, dan "Biaya Tetap (penyusutan garis lurus, gaji tetap, asuransi kebakaran, pajak aset tetap, dll.)" yang tetap konstan tanpa dipengaruhi perubahan volume produksi.

Poin penting


  • Tiga unsur biaya menurut bentuk = Biaya Bahan, Biaya Tenaga Kerja, dan Biaya Lain / Keihi (ongkos subkontrak luar, penyusutan, serta listrik/air masuk ke dalam "Biaya Lain / Keihi").

  • 4 kategori Beban (Keihi): Beban Pembayaran (subkontrak, reparasi, ongkos angkut), Beban Bulanan (penyusutan, asuransi, pajak, sewa), Beban Terukur (listrik, gas, air), dan Beban Kejadian (susut stok opname, barang rusak).

  • Biaya Langsung dibebankan langsung ("Chokka") ke produk dan Biaya Tak Langsung dialokasikan ("Haifu") / Biaya Variabel proporsional dengan jumlah produksi sedangkan Biaya Tetap selalu konstan.
KosakataArti
Biaya Bahan, Biaya Tenaga Kerja, dan Biaya Lain / Keihi (3 unsur biaya)
Beban Pembayaran, Beban Bulanan, Beban Terukur, dan Beban Kejadian
Biaya Langsung (pembebanan langsung) dan Biaya Tak Langsung (alokasi)
Biaya Variabel dan Biaya Tetap

3. Hierarki Struktur Biaya (Biaya Produksi Langsung, Overhead Pabrik, Harga Pokok Produksi, Total Biaya, Harga Jual)

Apabila 3 unsur bentuk biaya digabungkan dengan sifat langsung dan tak langsung, struktur berjenjang biaya menjadi jelas. Pertama, penjumlahan "Biaya Bahan Langsung (bahan utama, komponen beli jadi) + Biaya Tenaga Kerja Langsung (upah operator langsung) + Biaya Langsung Lainnya (ongkos subkontrak luar, biaya cetakan/mold khusus, royalti paten, dll.)" adalah "Biaya Produksi Langsung".

Sementara itu, penjumlahan "Biaya Bahan Tak Langsung (bahan pembantu, barang habis pakai pabrik) + Biaya Tenaga Kerja Tak Langsung (upah pekerja tak langsung, upah waktu tunggu, gaji staf pabrik) + Biaya Tak Langsung Lainnya (penyusutan pabrik, listrik, asuransi pabrik, dll.)" adalah "Biaya Produksi Tak Langsung (Overhead Pabrik)".

Kemudian "Biaya Produksi Langsung + Biaya Produksi Tak Langsung" merupakan "Harga Pokok Produksi / Manufacturing Cost (Biaya Pabrik)" untuk membuat produk di pabrik. Unsur biaya selain biaya bahan langsung sering pula digabung dan disebut "Biaya Konversi (Biaya Pengolahan / Kakouhi)".

Selanjutnya, "Harga Pokok Produksi" ditambah "Beban Penjualan, Umum, dan Administrasi (SG&A: gaji staf sales, biaya iklan promosi, ongkos kirim pengiriman, gaji direksi kantor pusat, dll.)" menghasilkan "Total Biaya (Total Harga Pokok)", dan "Total Biaya + Laba" menjadi "Harga Jual".

3. Hierarki Struktur Biaya (Biaya Produksi Langsung, Overhead Pabrik, Harga Pokok Produksi, Total Biaya, Harga Jual)

Poin penting


  • Biaya Produksi Langsung = Biaya Bahan Langsung + Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Langsung Lainnya (ongkos subkontrak luar, royalti paten, dll.).

  • Harga Pokok Produksi (Manufacturing Cost) = Biaya Produksi Langsung + Biaya Produksi Tak Langsung (total biaya yang timbul di dalam pabrik).

  • Total Biaya = Harga Pokok Produksi + Beban Penjualan & Administrasi Umum (SG&A) / Harga Jual = Total Biaya + Laba (biaya iklan adalah SG&A, BUKAN Harga Pokok Produksi!).

  • Contoh: Biaya bahan langsung 500 yen, tenaga kerja langsung 300 yen, beban langsung 100 yen, overhead pabrik 200 yen, beban penjualan & admin 150 yen, laba 250 yen → Biaya produksi langsung = 900 yen, Harga pokok produksi = 1.100 yen, Total biaya = 1.250 yen, Harga jual = 1.500 yen
KosakataArti
Biaya Produksi Langsung dan Biaya Produksi Tak Langsung (Overhead)
Harga Pokok Produksi / Manufacturing Cost (Biaya Pabrik)
Beban Penjualan, Umum, dan Administrasi (SG&A / Hankanhi)
Total Biaya dan Harga Jual

4. Prosedur Perhitungan Biaya (Per Jenis → Per Departemen → Per Produk dan Metode Alokasi Langsung)

Perhitungan biaya dilakukan melalui 3 langkah. Langkah ke-1 adalah "Perhitungan Biaya per Jenis / Elemen (Rekapitulasi Tahap 1)", yang mengelompokkan serta menjumlahkan biaya yang timbul selama periode tertentu menurut pos biayanya seperti biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik.

Langkah ke-2 adalah "Perhitungan Biaya per Departemen (Rekapitulasi Tahap 2)", yang mengumpulkan biaya produksi tak langsung (overhead) menurut tempat terjadinya (departemen biaya). Departemen biaya terbagi atas "Departemen Produksi (pemesinan, perakitan, pengecatan, dll.)" yang langsung membuat produk, dan "Departemen Pembantu / Jasa (tenaga listrik/uap, pemeliharaan, pengangkutan, inspeksi, administrasi pabrik, dll.)" yang mendukungnya.

Biaya yang terkumpul di departemen pembantu pada akhirnya dialokasikan ke departemen produksi. Metode yang mengabaikan pemberian jasa antardepartemen pembantu dan langsung membagikan biaya departemen pembantu "hanya kepada departemen produksi" disebut "Metode Alokasi Langsung"—soal hitungan yang paling sering keluar dalam ujian.

Langkah ke-3 adalah "Perhitungan Biaya per Produk (Rekapitulasi Tahap 3)", yang mengalokasikan overhead pabrik dari tiap departemen produksi ke masing-masing produk, lalu menjumlahkannya dengan biaya produksi langsung untuk menghitung harga pokok produksi per unit produk.

Poin penting


  • Tiga langkah akuntansi biaya: ① Per Jenis Biaya → ② Per Departemen (pengumpulan overhead pabrik per departemen) → ③ Per Produk.

  • Departemen Produksi = bagian yang langsung memproduksi barang (mesin, perakitan) / Departemen Pembantu = bagian pendukung produksi (tenaga, bengkel reparasi, angkut, kantor pabrik).

  • Metode Alokasi Langsung biaya departemen pembantu = tidak melakukan alokasi antardepartemen pembantu, melainkan langsung mengalokasikannya ke departemen produksi sesuai rasio dasar alokasi departemen produksi.

  • Contoh: Alokasi biaya departemen daya 900.000 yen (Produksi 1: 4.000 kWh, Produksi 2: 2.000 kWh, Dept pembantu perbaikan: 1.000 kWh) dengan metode alokasi langsung → dibagi proporsional terhadap total departemen produksi 6.000 kWh: Produksi 1 = 600.000 yen, Produksi 2 = 300.000 yen
KosakataArti
perhitungan per jenis biaya, per departemen, dan per produk
Departemen Produksi dan Departemen Pembantu (Jasa)
Metode Alokasi Langsung (alokasi biaya departemen pembantu)

5. Biaya Pesanan (Job-Order) dan 5 Klasifikasi Biaya Proses (Unit Ekuivalen WIP Akhir Bulan)

Perhitungan biaya per produk terbagi menjadi dua menurut bentuk produksinya. Pada "produksi pesanan individual" banyak jenis sedikit jumlah (pembuatan kapal, mesin pesanan khusus, cetakan/mold, dll.) digunakan "Perhitungan Biaya Pesanan (Job-Order Costing)" per "Surat Perintah Produksi". Sebaliknya, pada "produksi massal kontinu untuk stok" digunakan "Perhitungan Biaya Proses (Process Costing)" yang membagi total biaya periode (misal 1 bulan) dengan jumlah produk selesai.

"Perhitungan Biaya Proses (Sougou Genka Keisan)" dibagi menjadi 5 jenis menurut jenis produk dan prosesnya: ① "Biaya Proses Sederhana (Tanjun)" untuk produksi massal 1 jenis produk tunggal dalam 1 proses; ② "Biaya Proses per Kelas/Grade (Toukyuubetsu)" yang memakai koefisien ekuivalen untuk produk sejenis yang berbeda ukuran/spesifikasi; ③ "Biaya Proses per Kelompok/Lot (Kumibetsu)" untuk memproduksi beberapa jenis produk berbeda secara kontinu per grup/lot; ④ "Biaya Proses per Tahap Proses (Kouteibetsu)" untuk 2 proses berurutan atau lebih; dan ⑤ "Biaya Proses per Tahap Khusus Biaya Konversi" bila seluruh bahan dimasukkan di awal proses ke-1.

Dalam perhitungan biaya proses, bila di akhir bulan terdapat "Barang Dalam Proses (WIP) Akhir Bulan" yang belum selesai, maka "Biaya Bahan Langsung" yang dimasukkan seluruhnya di awal proses dibagi secara proporsional menurut "rasio jumlah fisik apa adanya" antara jumlah produk selesai dan jumlah WIP akhir bulan.

Sebaliknya, untuk "Biaya Konversi / Pengolahan (tenaga kerja + beban pabrik)" yang dikeluarkan bertahap sesuai kemajuan proses, digunakan "Unit Ekuivalen WIP Akhir Bulan = Jumlah WIP Akhir Bulan × Tingkat Penyelesaian (%)", lalu biaya konversi dibagi menurut rasio antara jumlah produk selesai dan unit ekuivalen WIP akhir bulan tersebut.

Poin penting


  • Job-Order Costing = cocok untuk produksi pesanan (per surat perintah produksi) / Process Costing = cocok untuk produksi massal kontinu (membagi biaya 1 bulan antara produk selesai dan WIP akhir bulan).

  • 5 klasifikasi Process Costing: Sederhana (produk tunggal), Per Kelas/Grade (produk sama beda ukuran), Per Grup/Lot (produk beda dalam lot), Per Proses, dan Per Proses Khusus Biaya Konversi.

  • Biaya pengolahan (konversi) pada Process Costing dibagi menggunakan "Unit Ekuivalen WIP Akhir Bulan = Jumlah WIP Akhir Bulan × Tingkat Penyelesaian (%)".

  • Contoh: Produk jadi 400 unit, barang dalam proses (WIP) akhir bulan 200 unit (biaya bahan langsung masuk di awal 600.000 yen) → Biaya bahan WIP akhir bulan = 600.000 × 200 ÷ (400 + 200) = 200.000 yen (bagian produk jadi 400.000 yen)

  • Contoh: Produk jadi 400 unit, WIP akhir bulan 200 unit (tingkat penyelesaian konversi 50%), biaya konversi bulan berjalan 500.000 yen → Unit ekuivalen produk jadi = 200 × 0,5 = 100 unit, biaya konversi WIP akhir bulan = 500.000 × 100 ÷ (400 + 100) = 100.000 yen (bagian produk jadi 400.000 yen)
KosakataArti
Job-Order Costing / Perhitungan Biaya Pesanan (surat perintah produksi)
Process Costing Sederhana, per Kelas/Grade, per Grup/Lot, dan per Proses
Barang Dalam Proses (WIP) akhir bulan dan tingkat penyelesaian pengolahan
Unit Ekuivalen produk selesai (Equivalent Units)

6. Perhitungan Biaya Standar dan Analisis Selisih Biaya (Selisih Biaya Bahan & Tenaga Kerja)

Biaya target yang dihitung dari "Harga Satuan Standar × Kuantitas Pemakaian Standar" per produk berdasarkan kajian ilmiah dan statistik disebut "Biaya Standar"; selisihnya dengan "Biaya Aktual" yaitu "Selisih Biaya / Cost Variance (Biaya Standar - Biaya Aktual)" dianalisis menurut penyebabnya (bila biaya aktual lebih besar daripada standar disebut "Selisih Tidak Menguntungkan / Unfavorable = negatif").

"Selisih Biaya Bahan Langsung" diuraikan menjadi 2 penyebab. Pertama adalah "Selisih Harga = (Harga Satuan Standar - Harga Satuan Aktual) × Kuantitas Pemakaian Aktual" akibat kenaikan atau penurunan harga beli.

Kedua adalah "Selisih Kuantitas = (Kuantitas Standar - Kuantitas Aktual) × Harga Satuan Standar" akibat memburuknya rendemen atau pemakaian berlebih di lapangan.

Serupa dengan itu, "Selisih Biaya Tenaga Kerja Langsung" juga dibagi menjadi dua untuk memperjelas tanggung jawab: "Selisih Tarif Upah = (Tarif Upah Standar - Tarif Upah Aktual) × Jam Kerja Aktual" dan "Selisih Jam Kerja (Selisih Efisiensi) = (Jam Kerja Standar - Jam Kerja Aktual) × Tarif Upah Standar".

Poin penting


  • Bila biaya aktual melampaui biaya standar (biaya membengkak) disebut "Selisih Tidak Menguntungkan / Unfavorable (negatif)"; bila lebih hemat daripada standar disebut "Selisih Menguntungkan / Favorable (positif)".

  • Biaya Bahan Langsung: Selisih Harga = (Harga Standar - Harga Aktual) × Kuantitas Aktual / Selisih Kuantitas = (Kuantitas Standar - Kuantitas Aktual) × Harga Standar.

  • Biaya Tenaga Kerja Langsung: Selisih Tarif Upah = (Tarif Standar - Tarif Aktual) × Jam Aktual / Selisih Jam Kerja = (Jam Standar - Jam Aktual) × Tarif Standar.

  • Contoh: Biaya bahan langsung (harga standar 400 yen/kg, harga aktual 420 yen/kg; kuantitas standar 500 kg, kuantitas aktual 480 kg) → Selisih harga = (400 − 420) × 480 = −9.600 yen (tidak menguntungkan), Selisih kuantitas = (500 − 480) × 400 = +8.000 yen (menguntungkan)

  • Contoh: Biaya tenaga kerja langsung (tarif upah standar 1.500 yen/jam, tarif aktual 1.600 yen/jam; jam standar 200 jam, jam aktual 210 jam) → Selisih tarif upah = (1.500 − 1.600) × 210 = −21.000 yen (tidak menguntungkan), Selisih jam kerja = (200 − 210) × 1.500 = −15.000 yen (tidak menguntungkan)
KosakataArti
Perhitungan Biaya Standar dan Selisih Biaya (menguntungkan vs. tidak menguntungkan)
Selisih Harga dan Selisih Kuantitas (biaya bahan langsung)
Selisih Tarif Upah dan Selisih Jam Kerja (biaya tenaga kerja langsung)

7. Analisis CVP (Titik Impas / BEP, Margin Kontribusi) dan 5 Tahapan Laba pada Laporan Laba Rugi

Metode menganalisis hubungan antara Biaya (Cost), Volume Penjualan (Volume), dan Laba (Profit) disebut "Analisis CVP (Analisis Titik Impas / Break-Even Point)". Pertama kita hitung "Margin Kontribusi (Laba Marjinal) = Penjualan - Biaya Variabel (= Biaya Tetap + Laba)" dan "Rasio Margin Kontribusi = Margin Kontribusi ÷ Penjualan = 1 - Rasio Biaya Variabel (Biaya Variabel ÷ Penjualan)".

Nilai penjualan saat laba tepat sama dengan nol (Penjualan = Total Biaya, artinya Margin Kontribusi = Biaya Tetap) disebut "Penjualan Titik Impas (Break-Even Sales) = Biaya Tetap ÷ Rasio Margin Kontribusi = Biaya Tetap ÷ (1 - Rasio Biaya Variabel)". Adapun "Penjualan untuk Mencapai Target Laba = (Biaya Tetap + Target Laba) ÷ Rasio Margin Kontribusi".

Sementara itu, dalam "Laporan Laba Rugi (P/L)" akuntansi keuangan, 5 tahapan laba dimulai dari: ① "Laba Kotor (Gross Profit) = Penjualan - Harga Pokok Penjualan", ② keuntungan bisnis utama yaitu "Laba Usaha / Operasi (Operating Profit) = Laba Kotor - Beban Penjualan, Umum & Administrasi (SG&A)", dan ③ "Laba Biasa / Ordinary Profit (Keijou Rieki) = Laba Operasi + Pendapatan Non-Operasi - Beban Non-Operasi".

Lebih lanjut dalam ujian Planning Tingkat 3, diujikan hingga tahap ④ "Laba Bersih Sebelum Pajak = Laba Biasa + Laba Luar Biasa (keuntungan penjualan aset tetap, dll.) - Rugi Luar Biasa (kerugian bencana, dll.)", serta tahap ⑤ laba akhir yaitu "Laba Bersih Tahun Berjalan (Net Income) = Laba Bersih Sebelum Pajak - Pajak Penghasilan Badan, Pajak Penduduk, dan Pajak Usaha".

7. Analisis CVP (Titik Impas / BEP, Margin Kontribusi) dan 5 Tahapan Laba pada Laporan Laba Rugi

Poin penting


  • Margin Kontribusi = Penjualan - Biaya Variabel / Penjualan Titik Impas (BEP) = Biaya Tetap ÷ Rasio Margin Kontribusi / Penjualan Target Laba = (Biaya Tetap + Target Laba) ÷ Rasio Margin Kontribusi.

  • 5 tahapan laba Laporan Laba Rugi: ① Laba Kotor → ② Laba Operasi → ③ Laba Biasa (Ordinary Profit) → ④ Laba Sebelum Pajak (tambah/kurang laba/rugi luar biasa) → ⑤ Laba Bersih Setelah Pajak.

  • Rasio Titik Impas = Penjualan BEP ÷ Penjualan Aktual (semakin rendah semakin aman; Rasio Batas Keamanan / Margin of Safety = 1 - Rasio Titik Impas).

  • Contoh: Penjualan 50 juta yen, biaya variabel 30 juta yen, biaya tetap 12 juta yen, target laba 4 juta yen → Laba kontribusi = 50 − 30 = 20 juta yen (rasio laba kontribusi = 20 ÷ 50 = 40%), Penjualan titik impas (BEP) = 12 ÷ 0,4 = 30 juta yen, Penjualan untuk target laba = (12 + 4) ÷ 0,4 = 40 juta yen

  • Contoh: Penjualan 40 juta yen, HPP 25 juta yen, SG&A 8 juta yen, pendapatan non-operasi 0,5 juta yen, beban non-operasi 1,5 juta yen, rugi luar biasa 1 juta yen, pajak badan 2 juta yen → Laba kotor 15 juta, Laba operasi 7 juta, Laba biasa 6 juta, Laba sebelum pajak 5 juta, Laba bersih 3 juta yen
KosakataArti
Margin Kontribusi (laba marjinal) dan Rasio Margin Kontribusi
Penjualan Titik Impas / Break-Even Point (Analisis CVP)
Laba Kotor, Laba Operasi, dan Laba Biasa (Ordinary Profit)
Laba Bersih Sebelum Pajak dan Laba Bersih Tahun Berjalan (Net Income)

8. Target Costing (Metode Pengurangan vs. Akumulasi), VA/VE, dan Ekonomi Teknik Pemilihan Peralatan

Dalam "Perencanaan Biaya (Target Costing)" pengembangan produk baru, terdapat 3 metode penetapan biaya target: ① "Metode Pengurangan (Koujohou / Waritsuke-hou)" secara top-down mengurangi perkiraan harga jual dengan target laba untuk mencari "Allowable Cost = Perkiraan Harga Jual - Target Laba"; ② "Metode Akumulasi (Tsumiage-hou)" secara bottom-up menjumlahkan biaya desain/produksi saat ini untuk mencari "Drifting Cost (biaya estimasi)"; dan ③ "Metode Kompromi (Integrasi)" yang mempertemukan keduanya.

Metode penurunan biaya untuk mencapai biaya target adalah "VA (Value Analysis: untuk produk yang sudah ada) / VE (Value Engineering: untuk tahap desain pengembangan)". Dengan mendefinisikan "Nilai (V) = Fungsi (F: kegunaan) ÷ Biaya (C)", nilai V ditingkatkan dengan memangkas fungsi berlebih atau mewujudkan fungsi yang sama memakai bahan alternatif yang lebih murah.

Selain itu, ujian Planning Tingkat 3 mengujikan "Ekonomi Teknik (Perhitungan Keekonomisan)" untuk memilih alternatif peralatan produksi (atau buat sendiri vs. beli) yang paling ekonomis (total biaya terkecil). Total biaya tahunan tiap mesin dinyatakan dengan "Total Biaya = Biaya Tetap + (Biaya Variabel per Unit × Jumlah Produksi Q)".

"Jumlah Produksi Titik Impas (Titik Cabang) Q" saat dua peralatan A dan B memiliki total biaya yang sama dihitung dengan "Q = Selisih Biaya Tetap ÷ Selisih Biaya Variabel per Unit". Bila jumlah produksi kurang dari titik Q maka "peralatan dengan Biaya Tetap lebih murah" lebih menguntungkan; bila lebih besar dari titik Q maka "peralatan dengan Biaya Variabel per Unit lebih murah (berkinerja tinggi)" lebih menguntungkan.

Poin penting


  • Metode Pengurangan = "Allowable Cost = Perkiraan Harga Jual - Target Laba" / Metode Akumulasi = "Drifting Cost" dari teknologi saat ini / VA・VE = "Nilai V = Fungsi F ÷ Biaya C".

  • Jumlah produksi titik cabang pemilihan alat Q = Selisih Biaya Tetap ÷ Selisih Biaya Variabel per Unit (produksi sedikit untung alat biaya tetap rendah; produksi banyak untung alat biaya variabel rendah).

  • Contoh: Perkiraan harga jual 3.000 yen, target laba 600 yen, biaya berjalan (drifting cost) 2.650 yen → Biaya yang diizinkan = 3.000 − 600 = 2.400 yen (target pengurangan biaya = 2.650 − 2.400 = 250 yen)

  • Contoh: Peralatan X (biaya tetap 2 juta yen, biaya variabel 500 yen/unit) dan Peralatan Y (biaya tetap 5 juta yen, biaya variabel 200 yen/unit) → Jumlah produksi titik cabang Q = (5 juta − 2 juta) ÷ (500 − 200) = 10.000 unit (di bawah 10.000 unit pilih X, di atas 10.000 unit pilih Y)
KosakataArti
Metode Pengurangan (Allowable Cost) dan Metode Akumulasi (Drifting Cost)
VA (Value Analysis) dan VE (Value Engineering: V = F ÷ C)
perhitungan keekonomisan (jumlah produksi titik cabang pemilihan peralatan)

Poin yang Sering Keluar dalam Ujian dan Cara Mengingatnya

Bab Manajemen Biaya penuh dengan soal hitungan dan klasifikasi. ① Pada "Harga Pokok Produksi = Biaya Produksi Langsung + Overhead Pabrik", aturan mutlaknya adalah JANGAN memasukkan biaya iklan atau gaji staf penjualan (itu adalah SG&A!) ke dalam Harga Pokok Produksi; sebaliknya, ongkos subkontrak luar wajib dimasukkan ke Harga Pokok Produksi sebagai "Biaya Langsung Lainnya (Beban Pembayaran)".

② Untuk klasifikasi khas Planning, bedakan dengan pasti "4 Kategori Beban Keihi (Pembayaran = subkontrak/reparasi, Bulanan = penyusutan/asuransi/pajak, Terukur = listrik/gas/air, Kejadian = susut stok opname/barang rusak)" serta "5 Klasifikasi Process Costing (Sederhana, per Kelas/Grade, per Grup/Lot, per Proses, per Proses Khusus Biaya Konversi)".

③ Pada "Metode Alokasi Langsung Biaya Departemen Pembantu", abaikan pemakaian oleh sesama departemen pembantu dan bagi hanya menurut rasio departemen produksi; ④ Pada "Process Costing", bagi biaya pengolahan (konversi) menggunakan Unit Ekuivalen WIP akhir bulan (jumlah WIP akhir bulan dikalikan persentase penyelesaian).

⑤ Kuasai "5 Tahapan Laba pada Laporan Laba Rugi (Laba Kotor → Laba Operasi → Laba Biasa → Laba Sebelum Pajak → Laba Bersih Setelah Pajak)", ⑥ "Penjualan Titik Impas (membagi Biaya Tetap dengan Rasio Margin Kontribusi)", serta ⑦ "Jumlah Produksi Titik Cabang Pemilihan Peralatan (membagi selisih Biaya Tetap dengan selisih Biaya Variabel per Unit)" untuk meraih nilai sempurna.

Poin penting


  • 4 Kategori Beban (Keihi): Pembayaran (subkontrak, reparasi), Bulanan (penyusutan, asuransi, pajak), Terukur (listrik, gas, air), Kejadian (susut stok opname, barang rusak).

  • Laporan Laba Rugi: Laba Kotor → Laba Operasi → Laba Biasa → Laba Sebelum Pajak (tambah/kurang pos luar biasa) → Laba Bersih Setelah Pajak (dikurangi pajak badan).

  • Penjualan BEP = Biaya Tetap ÷ Rasio Margin Kontribusi / Titik Cabang Pemilihan Peralatan = Selisih Biaya Tetap ÷ Selisih Biaya Variabel per Unit.
KosakataArti
4 Kategori Beban (Keihi) dan 5 Klasifikasi Process Costing
Harga Pokok Produksi, Total Biaya, dan 5 Tahapan Laba
pembagian biaya pengolahan dengan Unit Ekuivalen
Titik Impas (BEP) dan perhitungan keekonomisan pemilihan peralatan

Referensi resmi

Zalo