VIENIDMY Masuk Mulai latihan

Beranda › Materi › Perencanaan Produksi Kelas 3 生産管理プランニング (BC検定)

Dasar Manajemen Waktu Pengiriman (Delivery)

Perencanaan Produksi Kelas 3 生産管理プランニング (BC検定) · ビジネス・キャリア検定 生産管理プランニング3級 · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

1. Makna Manajemen Waktu Pengiriman, Dampak Buruk Keterlambatan, dan "Dampak Buruk Pengiriman Terlalu Cepat"

"Waktu pengiriman / jatuh tempo (Nouki)" adalah "Tanggal Pengiriman Kontrak (tanggal janji pengiriman)" yang disepakati setelah memeriksa kapasitas produksi dan ketersediaan material terhadap "Tanggal Pengiriman Permintaan" yang ditentukan pelanggan atau proses berikutnya. "Manajemen Waktu Pengiriman (Delivery Management)" adalah kegiatan pengelolaan untuk menyerahkan barang dan jumlah yang ditentukan ke lokasi yang dijanjikan tepat pada tanggal yang dijanjikan.

Menimbulkan "Keterlambatan Pengiriman" bukan hanya menghentikan lini produksi pelanggan dan meruntuhkan kepercayaan sosial, tetapi juga mengakibatkan kerugian besar seperti denda penalti, hilangnya pesanan berikutnya, serta membengkaknya biaya akibat pengiriman kilat dan kerja lembur.

Sebaliknya, anggapan bahwa "asalkan tidak terlambat, semakin cepat dikirim semakin baik" adalah keliru. Memproduksi terlalu cepat atau menyerahkan barang lebih awal daripada tanggal yang ditentukan—"Produksi Dini / Pengiriman Dini (Early Delivery)"—juga menimbulkan dampak buruk yang besar.

Produksi dini dan pengiriman dini akan mempersempit ruang gudang pelanggan maupun gudang sendiri, memperbesar biaya penyimpanan stok, membekukan modal lebih awal (memperburuk arus kas), menimbulkan kerugian pengerjaan ulang bila terjadi perubahan desain, serta memperlambat produksi barang lain yang benar-benar mendesak. Aturan mutlak waktu pengiriman adalah "Tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat (Just-In-Time)".

Poin penting


  • Manajemen Waktu Pengiriman = kegiatan mematuhi secara ketat "Tanggal Pengiriman Kontrak" (hasil penyesuaian antara "Tanggal Permintaan Pelanggan" dan kapasitas pabrik) sekaligus memperpendek lead time produksi.

  • Dampak buruk keterlambatan pengiriman = hilangnya kepercayaan pelanggan, denda penalti/ganti rugi, lepasnya pesanan, dan lonjakan biaya akibat lembur serta angkutan khusus.

  • Dampak buruk produksi dini / pengiriman dini = gudang penuh sesak, biaya simpan stok naik, arus kas memburuk, barang menjadi cacat saat ada perubahan desain, dan menghambat produk lain.
KosakataArti
Tanggal Pengiriman Permintaan dan Tanggal Pengiriman Kontrak
dampak buruk keterlambatan pengiriman
dampak buruk produksi dini dan pengiriman dini
Just-In-Time (tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat)

2. Karakteristik Manajemen Pengiriman Menurut Bentuk Produksi (Make-to-Stock vs. Make-to-Order)

Titik berat manajemen waktu pengiriman sangat berbeda menurut bentuk produksinya. Pertama, pada "Produksi untuk Stok / Make-to-Stock (produksi kontinu sedikit jenis banyak jumlah)", barang langsung dikirim dari stok barang jadi sehingga lead time pengiriman ke pelanggan sangat singkat.

Oleh karena itu, manajemen pengiriman pada produksi Make-to-Stock berfokus pada "Peramalan Permintaan" berakurasi tinggi, penetapan "Safety Stock (pencegahan kehabisan stok)" yang tepat, serta "Pengendalian Progres (dengan kurva aliran kumulatif, dll.)" untuk menjaga produksi harian tetap rata tanpa terlambat.

Sebaliknya, pada "Produksi Berdasarkan Pesanan / Make-to-Order (produksi satuan atau lot banyak jenis sedikit jumlah)", desain, pengadaan material, dan produksi baru dimulai setelah pesanan diterima, sehingga seluruh lead time sejak pesanan masuk hingga penyerahan berdampak langsung pada waktu pengiriman.

Dengan demikian, manajemen pengiriman pada produksi Make-to-Order sangat mengutamakan pemendekan lead time di seluruh departemen—"Sales → Desain → Perencanaan Produksi → Pembelian Material → Manufaktur → Inspeksi & Pengiriman"—serta "Pengendalian Jadwal dan Kapasitas Sisa (dengan Gantt chart, dll.)" untuk tiap pesanan.

Poin penting


  • Manajemen pengiriman Make-to-Stock = berfokus pada akurasi peramalan permintaan, menjaga stok barang jadi yang tepat (cegah stockout), dan menjaga ritme produksi kontinu.

  • Manajemen pengiriman Make-to-Order = berfokus pada "pemendekan lead time seluruh proses" (desain, pembelian, produksi, pengiriman) dan "kendali progres/kapasitas per pesanan".

  • Pada produksi Make-to-Order, "keterlambatan turunnya gambar desain" atau "keterlambatan datangnya material" sebelum masuk ke bengkel produksi sering menjadi penyebab terbesar keterlambatan pengiriman.
KosakataArti
manajemen pengiriman Make-to-Stock (pencegahan stockout dan peramalan permintaan)
manajemen pengiriman Make-to-Order (pemendekan lead time seluruh departemen)
lead time pengadaan, desain, dan manufaktur

3. Penyebab dan Solusi Keterlambatan per Departemen ① (Departemen Desain & Perencanaan Produksi)

Keterlambatan pengiriman memiliki penyebab dan solusi di 5 departemen dari hulu ke hilir. Pertama, di "Departemen Desain", penyebab keterlambatan adalah lambatnya kesepakatan spesifikasi dengan pelanggan, "keterlambatan penerbitan gambar kerja (Shutsuzu okure)" dan BOM, seringnya "perubahan desain" akibat salah gambar, serta terlalu banyak memakai komponen khusus.

Solusi di Departemen Desain meliputi: ① "Standardisasi dan penggunaan bersama (modularisasi)" komponen serta pemanfaatan CAD 3D, ② Penerapan "Concurrent Engineering" dan "Design Review (DR: tinjauan desain)", serta ③ "Penetapan Checkpoint (titik pemeriksaan)" pada tiap tahapan jadwal desain dan pemberian "Waktu Penyangga (Buffer Time)" pada jadwal untuk menyerap perubahan atau keterlambatan tak terduga.

Kedua, di "Departemen Perencanaan Produksi (Pengendalian Proses)", penyebabnya adalah jadwal tidak realistis yang mengabaikan kapasitas produksi nyata (kapasitas sisa) di lapangan, kekacauan pabrik akibat masuknya "pesanan dadakan/kilat (rush order)" tanpa aturan dari bagian sales, kelupaan instruksi order, atau salah estimasi lead time.

Solusi di Departemen Perencanaan Produksi meliputi: ① Memahami waktu standar dan kapasitas proses secara akurat, ② Meratakan beban dengan "Metode Yamazumi dan Yamakuzushi (penumpukan & perataan beban)" serta mengatasi proses bottleneck, dan ③ Mengadakan "Rapat Koordinasi Produksi-Penjualan" secara berkala serta membuat aturan penerimaan pesanan dadakan.

3. Penyebab dan Solusi Keterlambatan per Departemen ① (Departemen Desain & Perencanaan Produksi)

Poin penting


  • Solusi Departemen Desain = standardisasi & penyeragaman komponen, Design Review (DR), penetapan Checkpoint jadwal, dan pengaturan Waktu Penyangga (Buffer Time).

  • Penyebab Departemen Perencanaan Produksi = rencana yang mengabaikan kapasitas lapangan, masuknya pesanan dadakan tanpa aturan.

  • Solusi Departemen Perencanaan Produksi = pengendalian kapasitas sisa (Yamazumi & Yamakuzushi), penyelesaian bottleneck, dan aturan koordinasi Produksi-Penjualan.
KosakataArti
keterlambatan gambar kerja, Checkpoint jadwal, dan Waktu Penyangga (Buffer Time)
standardisasi dan penggunaan bersama komponen (desain modular)
Concurrent Engineering dan Design Review (DR)
aturan pesanan dadakan dan koordinasi Produksi-Penjualan

4. Penyebab dan Solusi Keterlambatan per Departemen ② (Pembelian Material, Manufaktur, Logistik/Pengiriman)

Ketiga, di "Departemen Material, Pembelian & Subkontrak", penyebab keterlambatan adalah lambatnya prosedur pemesanan, kehabisan stok mendadak akibat selisih stok buku vs. fisik, serta keterlambatan pengiriman atau cacat penerimaan dari pemasok dan subkontraktor.

Solusi Departemen Material & Pembelian meliputi: ① "Penagihan/konfirmasi awal sebelum jatuh tempo (dengan Come-Up System, dll.)" beberapa hari sebelum tanggal pengiriman, ② Audit proses dan pembinaan teknis ke subkontraktor (cegah cacat dan terlambat), serta ③ Pembelian dari beberapa pemasok (multi-sourcing) untuk membagi risiko dan memperpendek lead time.

Keempat, di "Departemen Manufaktur (Lantai Produksi)", penyebabnya adalah kerusakan mesin mendadak, pengerjaan ulang/pembuatan ulang akibat cacat mutu, waktu setup/ganti cetakan yang lama, serta macetnya pekerjaan saat pekerja mahir tertentu absen karena hanya dia yang bisa mengerjakan.

Solusi Departemen Manufaktur meliputi: ① Nol kerusakan mesin lewat pemeliharaan harian dan preventif, ② Nol cacat lewat Poka-yoke dan kepatuhan standar kerja, ③ Pengecilan ukuran lot lewat Single Setup (setup cepat), serta ④ Membangun sistem saling bantu melalui "Pembinaan Pekerja Multi-Skill (Tanoukou-ka)".

Kelima, di "Departemen Logistik & Pengiriman", penyebabnya adalah salah picking (salah kirim barang atau kurang jumlah), kurangnya bahan kemas, salah pesan truk, atau kemacetan lalu lintas; solusinya adalah pemeriksaan barcode/handheld terminal untuk mencegah salah kirim dan berbagi jadwal pengiriman lebih awal.

Poin penting


  • Solusi Departemen Material & Pembelian = "Penagihan awal sebelum jatuh tempo (Come-Up System)", pembinaan teknis/proses subkontraktor, dan pemesanan ke beberapa pemasok.

  • Solusi Departemen Manufaktur = pemeliharaan preventif (cegah mesin rusak), Poka-yoke (cegah cacat/rework), pemendekan waktu setup, dan pekerja multi-skill (fleksibel saat beban berubah atau ada yang absen).

  • Solusi Departemen Logistik & Pengiriman = cegah salah picking/salah kirim lewat verifikasi barcode dan siapkan armada angkut lebih awal.
KosakataArti
penagihan awal (advance expediting) dan pembinaan subkontraktor
pekerja multi-skill (Tanoukou-ka) dan pemendekan waktu setup
pencegahan salah kirim barang (kesalahan picking)

5. Metode Pengadaan Material (MRP, Gudang Keran/Cock, VMI) dan Kendali Fisik / Progres (POP, RFID, Seiban, Oiban)

Sebagai metode pengadaan dan pengisian ulang material, pertama "MRP (Material Requirements Planning)" menghitung mundur dari tanggal pengiriman produk akhir berdasarkan jadwal induk produksi (MPS), daftar komponen (BOM), stok, dan lead time guna menentukan jumlah pesanan bersih dan waktu pemesanan tiap komponen.

Sebagai metode pengadaan kolaborasi antarperusahaan, terdapat: ① "Metode Gudang Keran / Cock Warehouse (Metode Stok Konsinyasi / Titipan)"—di mana pemasok menempatkan stok milik pemasok di dalam pabrik pembeli, dan pembeli hanya membayar sejumlah barang yang diambil/dipakai (seperti membuka keran air)—serta ② "VMI (Vendor Managed Inventory)", di mana pemasok memantau data stok dan pemakaian pelanggan untuk mengisi ulang secara proaktif.

Sebaliknya, "POP (Point of Production: Manajemen Informasi Titik Produksi)" adalah "sistem manajemen progres dan hasil aktual" yang mengumpulkan data produksi secara real-time dari mesin dan terminal di pabrik (Waspadai jebakan ujian Planning: "POP BUKAN metode pengadaan material"). Dalam pengendalian barang fisik (Genpin Kanri), dimanfaatkan barcode serta "RFID (IC tag)" yang dapat membaca banyak tag sekaligus tanpa kontak dan menulis ulang data.

Adapun metode nomor pengaturan di lapangan meliputi "Pengendalian Seiban (Nomor Manufaktur)" yang memberi nomor unik untuk tiap pesanan individual, serta "Pengendalian Oiban (Nomor Urut Kumulatif)" yang memberi nomor urut berlanjut sejak unit ke-1 pada produksi kontinu.

Poin penting


  • Metode pengadaan material: MRP (hitung mundur dari BOM & stok), Metode Gudang Keran / Cock Warehouse (stok titipan pemasok di dalam pabrik pembeli, dibayar sesuai pemakaian), dan VMI (pengisian ulang oleh pemasok).

  • Perhatian: POP (Point of Production) adalah sistem pengumpul hasil/progres produksi real-time di dalam pabrik, dan "BUKAN metode pengadaan material".

  • Kendali barang fisik memanfaatkan barcode dan RFID (IC tag) / Kendali Seiban = cocok untuk produksi pesanan individual; Kendali Oiban = cocok untuk produksi kontinu.
KosakataArti
Metode Gudang Keran (Cock Warehouse / stok konsinyasi) dan VMI
MRP (Material Requirements Planning)
POP (Point of Production) dan RFID (IC tag)
pengendalian Seiban (nomor manufaktur) dan Oiban (nomor urut)

6. Prosedur Pemecahan Masalah Keterlambatan Pengiriman (Tindakan Darurat, Tindakan Permanen & Cegah Terulang)

Apabila terjadi (atau diperkirakan akan terjadi) keterlambatan proses maupun keterlambatan pengiriman, penanganan cepat dilakukan mengikuti prosedur pemecahan masalah yang sistematis. Pertama, "pahami kondisi saat ini secara akurat"—pesanan mana dan proses mana yang terlambat berapa hari (berapa unit)—serta segera hubungi pelanggan dan departemen terkait untuk penyesuaian jadwal.

Pada saat bersamaan, segera jalankan "Tindakan Darurat (Tindakan Sementara)" untuk mengejar keterlambatan di depan mata: kerja lembur atau masuk hari libur, mengerahkan bantuan personel dari bagian lain, memanfaatkan subkontrak, pemecahan lot (mengirim lebih dulu sebagian barang yang sudah selesai ke proses berikutnya atau pelanggan), serta pengiriman ekspres.

Namun, bila hanya berhenti pada tindakan darurat, keterlambatan yang sama akan terulang. Oleh sebab itu, data keterlambatan dikelompokkan (stratifikasi) "per departemen, produk, dan penyebab" ke dalam Diagram Pareto, lalu dicari "Akar Penyebab Sebenarnya" memakai Diagram Sebab-Akibat dan "Analisis 5 Whys" (Perhatian: opsi "menghentikan seluruh produksi pabrik secara total demi menyelidiki penyebab keterlambatan" adalah SALAH karena justru memperparah keterlambatan).

Selanjutnya, laksanakan "Tindakan Permanen (Pencegahan Terulang)" yang memutus akar penyebab tersebut, pastikan efektivitasnya, lalu lakukan "Standardisasi" dengan meninjau ulang standar pemesanan, SOP kerja, dan pengaturan lead time.

Poin penting


  • Saat terjadi keterlambatan: pahami kondisi aktual, hubungi bagian terkait & pelanggan, lalu kejar keterlambatan dengan "Tindakan Darurat" (lembur, bantuan personel, pecah lot).

  • Berikutnya, stratifikasi data keterlambatan (Diagram Pareto) dan temukan "Akar Penyebab" lewat Analisis 5 Whys serta Diagram Tulang Ikan (Perhatian: menghentikan total produksi pabrik untuk investigasi adalah tidak tepat).

  • Jalankan "Tindakan Permanen (cegah terulang)" terhadap akar penyebab, konfirmasi hasilnya, lalu revisi aturan kerja dan standar operasi untuk "Standardisasi".
KosakataArti
tindakan darurat / sementara (lembur, bantuan, pemecahan lot)
tindakan permanen (pencegahan terulang)
Analisis Mengapa-Mengapa (5 Whys) dan identifikasi akar masalah
standardisasi dan pemantapan pengendalian

7. Manajemen Pengiriman Visual ① (Come-Up System, Papan Sashitate, Toyota Production System & Kanban)

Metode khas "Manajemen Visual" untuk mencegah keterlambatan adalah "Come-Up System". Salinan surat pesanan atau slip pengiriman dimasukkan ke dalam rak yang memiliki kantong (kotak) per tanggal dari tanggal 1 sampai 31 pada "kantong tanggal jatuh tempo (atau tanggal penagihan awal)"; setiap hari saat memeriksa kantong tanggal hari itu, slip yang harus ditagih otomatis muncul (Waspadai jebakan ujian: Come-Up System BUKAN "grafik progres dengan waktu pada sumbu horizontal").

Di lantai produksi, digunakan "Papan Sashitate (Papan Kontrol)" yang menyelipkan tiket instruksi kerja tiap mesin atau pekerja untuk mengelola urutan kerja dan keterlambatan, serta "Andon" yang menampilkan target produksi, aktual, dan gangguan mesin secara real-time dengan lampu.

Lebih lanjut, dalam "Toyota Production System (TPS)" yang bertujuan menurunkan biaya melalui penghapusan pemborosan secara tuntas, terdapat 2 pilar utama: ① "Just-In-Time (JIT: memproduksi hanya apa yang diperlukan, pada saat diperlukan, dalam jumlah yang diperlukan)" dan ② "Jidouka / Autonomation (otomatisasi berunsur manusia: mesin berhenti otomatis saat terjadi ketidaknormalan agar barang cacat tidak mengalir ke proses berikutnya)".

Alat untuk mewujudkan Just-In-Time adalah "Sistem Kanban (metode tarik oleh proses hilir = Pull System)". Proses berikutnya (hilir) mengambil komponen dari proses sebelumnya hanya sejumlah yang telah dipakai menggunakan "Kanban Pengambilan (Withdrawal Kanban)", dan proses sebelumnya hanya memproduksi ulang sejumlah yang diambil sesuai "Kanban Instruksi Produksi" (dengan syarat mutlak adanya "Heijunka / Perataan Produksi").

7. Manajemen Pengiriman Visual ① (Come-Up System, Papan Sashitate, Toyota Production System & Kanban)

Poin penting


  • Come-Up System = metode penataan slip di dalam kotak/file per tanggal agar slip otomatis muncul saat tiba tanggal penagihan atau jatuh tempo (Perhatian: ini BUKAN grafik!).

  • Dua pilar Toyota Production System (TPS) = ① Just-In-Time (JIT: apa yang diperlukan, saat diperlukan, sejumlah yang diperlukan) dan ② Jidouka / Autonomation (berhenti otomatis saat abnormal agar tidak membuat cacat).

  • Sistem Kanban = metode tarik oleh proses berikutnya (Pull System) memakai "Kanban Pengambilan" dan "Kanban Instruksi Produksi", dengan prasyarat mutlak "Produksi Merata (Heijunka)".
KosakataArti
Come-Up System (penagihan awal dengan file per tanggal)
Papan Sashitate (papan kontrol) dan Andon
Just-In-Time (JIT) dan Jidouka / Autonomation (Toyota Production System)
Sistem Kanban (Kanban Pengambilan dan Kanban Instruksi Produksi)

8. Manajemen Pengiriman Visual ② (Gantt Chart, Kurva Aliran Kumulatif, Diagram Segitiga Manufaktur)

Tiga grafik utama untuk memvisualisasikan jadwal dan progres adalah "Gantt Chart", "Kurva Aliran Kumulatif", dan "Diagram Segitiga Manufaktur". Pertama, "Gantt Chart" menempatkan waktu (tanggal) pada sumbu horizontal dan membandingkan rencana vs. aktual tiap pesanan atau mesin dengan batang horizontal—paling cocok untuk pengendalian progres produksi pesanan individual.

Kedua, "Kurva Aliran Kumulatif" menempatkan waktu (tanggal) pada sumbu horizontal dan "jumlah kumulatif" pada sumbu vertikal, menggambar garis input kumulatif dan garis selesai kumulatif; selisih vertikal menunjukkan "jumlah stok WIP", selisih horizontal menunjukkan "rata-rata hari tinggal (lead time)", dan selisih terhadap garis rencana menunjukkan "maju/mundurnya produksi".

Ketiga, "Diagram Segitiga Manufaktur (Seizou Sankakuzu)" menerapkan kurva aliran kumulatif dengan menempatkan "Waktu (periode)" pada sumbu horizontal dan "Jumlah Produksi (kumulatif)" pada sumbu vertikal, lalu menggambar ① Garis Rencana Produksi, ② Garis Aktual Input Bahan (Mulai Kerja), dan ③ Garis Aktual Selesai (Penyerahan) untuk suatu lot dalam bingkai berbentuk segitiga.

Dengan melihat Diagram Segitiga Manufaktur, dapat didiagnosis dalam sekali pandang seberapa jauh garis mulai dan garis selesai tertinggal dari sisi miring (garis rencana) segitiga siku-siku periode rencana dan jumlah rencana, berapa unit WIP yang menumpuk di dalam proses, serta apakah kecepatan saat ini akan sempat mengejar tanggal pengiriman.

Poin penting


  • Gantt Chart = menempatkan waktu pada sumbu horizontal dan membandingkan rencana vs. aktual dengan batang mendatar (optimal untuk kendali progres produksi individual/lot).

  • Kurva Aliran Kumulatif = memahami "jumlah WIP (selisih vertikal)" dan "waktu tinggal / lead time (selisih horizontal)" dari garis input kumulatif dan garis selesai kumulatif.

  • Diagram Segitiga Manufaktur = menempatkan waktu di sumbu horizontal dan jumlah di sumbu vertikal, menggambar garis rencana, garis mulai, dan garis selesai dalam grafik segitiga untuk memvisualisasikan progres dan WIP.
KosakataArti
Gantt Chart (perbandingan rencana vs. aktual dengan batang horizontal)
Kurva Aliran Kumulatif (kumulatif input dan kumulatif selesai)
Diagram Segitiga Manufaktur (garis rencana, garis mulai, garis selesai)

Poin yang Sering Keluar dalam Ujian dan Cara Mengingatnya

Pada bab Manajemen Waktu Pengiriman, soal benar/salah yang paling sering keluar adalah: "Pengiriman dini (membuat atau mengirim terlalu cepat) BUKAN hal yang baik, karena menimbulkan dampak buruk berupa membengkaknya stok, sempitnya gudang, tertahannya modal, dan terlambatnya produk lain". Selain itu, pernyataan "menghentikan seluruh produksi pabrik secara total demi menyelidiki penyebab keterlambatan" juga SALAH.

Berikutnya, dalam "Solusi keterlambatan 5 departemen", ujian sangat sering menanyakan Departemen Desain yaitu "Standardisasi komponen, Design Review (DR), penetapan Checkpoint, dan pengaturan Waktu Penyangga (Buffer Time)", serta Departemen Pembelian yaitu "Penagihan awal (Come-Up System)".

Waspadai jebakan metode pengadaan material: "MRP, Metode Gudang Keran (Cock Warehouse: menaruh stok titipan pemasok di pabrik pembeli dan membayar hanya yang dipakai), dan VMI" adalah metode pengadaan/pengisian stok; sedangkan "POP (Point of Production) adalah sistem pengumpul hasil kerja di pabrik dan BUKAN metode pengadaan material".

Selain itu, ingat baik-baik jebakan bahwa "Come-Up System adalah metode menyusun slip di kantong per tanggal, BUKAN grafik dengan waktu di sumbu horizontal (seperti Gantt chart, kurva aliran kumulatif, atau diagram segitiga manufaktur)", serta "2 Pilar Toyota Production System (Just-In-Time & Jidouka) dan Sistem Kanban (tarikan proses hilir)".

Poin penting


  • Produksi dini / pengiriman dini memicu kenaikan stok dan modal tertahan / Solusi keterlambatan Departemen Desain = DR, penetapan Checkpoint, dan Waktu Penyangga (Buffer).

  • Metode Gudang Keran (Cock Warehouse) = pemasok menaruh stok di pabrik pembeli dan dibayar sesuai pemakaian / POP adalah manajemen informasi titik produksi, BUKAN metode pengadaan material.

  • Come-Up System = metode penagihan awal dengan menata slip di file per tanggal (BUKAN grafik!) / Toyota Production System = JIT + Jidouka (Kanban = tarik oleh proses hilir).
KosakataArti
dampak buruk pengiriman dini dan solusi keterlambatan Departemen Desain
perbedaan Metode Gudang Keran, VMI, dan MRP dengan sistem POP
Come-Up System, Diagram Segitiga Manufaktur, dan Kurva Aliran Kumulatif
Toyota Production System (JIT, Jidouka) dan Sistem Kanban

Manajemen Waktu Pengiriman

Latihan soal bab ini di aplikasi

Referensi resmi

Zalo