VIENIDMY Masuk Mulai latihan

Beranda › Materi › Perencanaan Produksi Kelas 3 生産管理プランニング (BC検定)

Perencanaan Produksi, Pengendalian Proses & Manajemen Persediaan (Beban Kerja, Jadwal, MRP, Sistem Pemesanan)

Perencanaan Produksi Kelas 3 生産管理プランニング (BC検定) · ビジネス・キャリア検定 生産管理プランニング3級 · Disusun oleh Tokutei Pass berdasarkan materi resmi; tidak disalin kata per kata.

1. Sistem Keseluruhan Pengendalian Proses (3 Bidang Perencanaan Produksi, 5 Bidang Pengendalian Produksi & Formulir)

Pengendalian proses adalah kegiatan merencanakan (Plan) dan mengendalikan (Do, Check, Act) aliran pekerjaan serta kapasitas produksi di tempat kerja untuk mencapai tenggat pengiriman (D) dan jumlah yang diminta pelanggan secara pasti di bawah kualitas (Q) dan biaya (C) yang telah ditetapkan.

Fungsi perencanaan—yaitu Perencanaan Produksi—terbagi menjadi 3 bidang: (1) Perencanaan prosedur/urutan kerja yang menentukan urutan pemrosesan, mesin yang digunakan, dan metode; (2) Perencanaan beban kerja (man-hour) yang menyeimbangkan volume pekerjaan (beban) dengan kapasitas tempat kerja; serta (3) Perencanaan jadwal yang menentukan kapan mulai dan selesai membuat.

Fungsi pelaksanaan, pemeriksaan, dan tindakan—yaitu Pengendalian Produksi—terdiri atas 5 bidang: (1) Pengaturan kerja / persiapan perintah (menerbitkan surat perintah produksi dan slip pengeluaran barang); serta (2) Dispatching (menginstruksikan urutan mulai kerja di lapangan).

Selanjutnya ditambah dengan (3) Pengendalian kemajuan / progres (memantau keterlambatan atau kemajuan terhadap rencana); (4) Pengendalian fisik barang (mencocokkan keberadaan dan jumlah aktual barang setengah jadi); serta (5) Pengendalian kapasitas sisa (menyesuaikan kelebihan atau kekurangan antara beban dan kapasitas tiap tempat kerja).

Poin penting


  • 3 bidang Perencanaan Produksi: (1) Perencanaan prosedur (peta proses, standar kerja), (2) Perencanaan beban kerja (tabel penumpukan beban), (3) Perencanaan jadwal (tabel jadwal standar, grafik Gantt).

  • 5 bidang Pengendalian Produksi: (1) Pengaturan kerja (surat perintah produksi, tiket instruksi kerja, slip keluar gudang, slip perpindahan), (2) Dispatching, (3) Pengendalian progres, (4) Pengendalian fisik barang, (5) Pengendalian kapasitas sisa.

  • Perencanaan prosedur memutuskan 'bagaimana cara membuat', perencanaan beban kerja memutuskan 'berapa banyak volume pekerjaan', dan perencanaan jadwal memutuskan 'kapan membuat'.
KosakataArti
Perencanaan Produksi (Perencanaan prosedur, beban kerja, dan jadwal)
Pengendalian Produksi (Pengaturan kerja, Dispatching, Progres, Fisik barang, Kapasitas sisa)
Surat perintah produksi, Tiket instruksi kerja, Slip pengeluaran barang, Slip perpindahan

2. Supply Chain Management (SCM) dan 3 Penyangga terhadap Fluktuasi Permintaan (Barang, Kapasitas, Waktu)

Metode mengelola secara terpadu seluruh rangkaian Pengadaan—Produksi—Logistik—Penjualan mulai dari pemasok bahan baku dan komponen, pabrik manufaktur, pusat distribusi, pedagang grosir dan eceran hingga konsumen akhir (pelanggan) demi optimalisasi menyeluruh disebut Supply Chain Management (SCM).

Di sepanjang rantai pasok, titik batas peralihan antara produksi dorong (Push) berdasarkan peramalan permintaan dan produksi tarik (Pull) berdasarkan permintaan aktual (pesanan pasti)—tempat meletakkan stok secara strategis—adalah Decoupling Point.

Untuk menyerap fluktuasi permintaan pasar dan kesalahan peramalan guna menjaga pasokan tetap stabil, terdapat 3 jenis penyangga (buffer): (1) Penyangga dengan barang, (2) Penyangga dengan kapasitas, dan (3) Penyangga dengan waktu.

(1) Penyangga dengan barang adalah memegang stok pengaman barang jadi atau komponen (utama pada produksi untuk stok); (2) Penyangga dengan kapasitas adalah memberi kelonggaran kapasitas produksi melalui lembur, kerja hari libur, subkontrak, atau peralatan cadangan; (3) Penyangga dengan waktu adalah menyesuaikan melalui lead time pengiriman yang ditunggu pelanggan.

Poin penting


  • SCM = Mengelola aliran informasi dan barang secara terpadu dari pengadaan komponen hingga produksi, penjualan, dan pengiriman ke pelanggan untuk menekan stok dan memperpendek lead time.

  • 3 penyangga penyerap fluktuasi permintaan: (1) Penyangga barang (stok produk/komponen), (2) Penyangga kapasitas (lembur, subkontrak, peralatan cadangan), (3) Penyangga waktu (penyesuaian tenggat kirim dan lead time).

  • Produksi untuk stok terutama menggunakan penyangga barang (stok), sedangkan produksi berdasarkan pesanan terutama menggunakan penyangga kapasitas dan penyangga waktu.
KosakataArti
Supply Chain Management (SCM: Manajemen Rantai Pasok)
3 penyangga (Penyangga barang, Penyangga kapasitas, Penyangga waktu)
Decoupling point dan Efek cambuk (Bullwhip effect)

3. Hierarki Perencanaan Produksi menurut Periode (Jadwal Besar, Menengah, Kecil) dan Rolling Plan

Perencanaan produksi disusun secara bertingkat menurut panjang periode sasaran. Pertama, berdasarkan rencana bisnis dan rencana penjualan, dibuat Rencana produksi jangka panjang (rencana produksi dasar / jadwal besar) dalam satuan 1 tahun hingga setengah tahun untuk menetapkan kuota produksi per kelompok produk, investasi peralatan, dan rencana personel.

Berikutnya, dalam satuan 3 hingga 6 bulan atau bulanan (1 bulan), disusun Rencana produksi jangka menengah (rencana produksi agregat / jadwal menengah) yang menetapkan jumlah produksi bulanan per produk, tingkat stok, dan jam kerja yang dibutuhkan, beserta Jadwal Induk Produksi (MPS).

Kemudian, dalam satuan 1 minggu hingga 1 hari, rencana tersebut diturunkan menjadi Rencana produksi jangka pendek (rencana produksi detail / jadwal kecil) yang mengalokasikan secara spesifik tempat kerja mana, mesin mana, kapan, serta memproses produk atau komponen apa sebanyak berapa buah.

Selain itu, untuk merespons perubahan permintaan secara fleksibel, metode meninjau kembali rencana bulanan untuk 3 bulan ke depan setiap bulan—memastikan 1 bulan terdekat sambil memperbarui rencana bulan berikutnya secara berurutan berdasarkan realisasi pesanan terbaru—disebut Rolling Plan (rencana bergulir).

Poin penting


  • 3 tingkatan periode rencana: Jadwal besar (jangka panjang: tahunan/semesteran) → Jadwal menengah (jangka menengah: bulanan / 3–6 bulan) → Jadwal kecil (jangka pendek: mingguan/harian).

  • Jadwal Induk Produksi (MPS: Master Production Schedule) = Menetapkan jumlah produksi per periode untuk setiap produk akhir dan menjadi titik awal MRP (perencanaan kebutuhan material).

  • Rolling plan = Metode perencanaan yang secara berkala mencerminkan hasil aktual dan peramalan permintaan terbaru untuk meninjau ulang dan memperbarui rencana secara berurutan.
KosakataArti
Jadwal besar, Jadwal menengah, Jadwal kecil
Rencana produksi agregat dan Jadwal Induk Produksi (MPS)
Rolling plan (peninjauan rencana secara berkala)

4. Perencanaan Beban Kerja (Loading & Leveling) serta Perhitungan Beban Kerja dengan Rasio Cacat & Kapasitas Produksi

Dalam Perencanaan beban kerja (perencanaan muatan / perencanaan kapasitas sisa), dihitung dan dibandingkan antara Jam beban kerja (orang-jam atau mesin-jam)—yaitu volume pekerjaan yang diperlukan untuk mencapai rencana produksi—dengan Jam kapasitas produksi yang dimiliki tempat kerja.

Apabila terjadi produk tidak sesuai (produk cacat) di dalam proses, untuk memperoleh jumlah produk baik yang dibutuhkan secara pasti maka harus memasukkan jumlah lebih banyak dengan memperhitungkan porsi cacat; oleh karena itu Beban kerja = (Waktu proses per unit × Jumlah produk baik yang dibutuhkan + Waktu setup) ÷ Rasio produk baik (1 - Rasio produk cacat).

Di sisi lain, Kapasitas produksi manusia dihitung dengan: Jumlah pekerja × Jam kerja terjadwal per orang × Rasio kehadiran × Rasio operasi (proporsi waktu kerja langsung) × Efisiensi kerja; sedangkan Kapasitas produksi mesin dihitung dengan: Jumlah mesin × Jam operasi per mesin × Rasio ketersediaan (proporsi siap jalan).

Menjumlahkan beban kerja per tempat kerja dan per periode lalu membuatnya menjadi grafik disebut Penumpukan beban (Loading / Yamazumi), sedangkan menyesuaikan bagian puncak beban yang melebihi kapasitas agar rata di dalam batas kapasitas melalui lembur, bantuan, subkontrak, atau penggeseran jadwal maju/mundur disebut Pemerataan beban (Leveling / Yamakuzushi).

Poin penting


  • Beban kerja yang memperhitungkan produk cacat = Waktu proses bersih yang dibutuhkan ÷ Rasio produk baik (= 1 - Rasio produk cacat). Poin terpenting: dibagi dengan rasio produk baik, bukan dikali.

  • Kapasitas produksi manusia = Jumlah pekerja × Jam kerja × Rasio hadir × Rasio operasi × Efisiensi / Kapasitas produksi mesin = Jumlah mesin × Jam operasi × Rasio ketersediaan.

  • Loading (rekapitulasi beban kerja) → Perhitungan kapasitas sisa (Kapasitas - Beban) → Leveling (pemerataan ketidakseimbangan antara kapasitas dan beban).

  • Contoh: Butuh 950 produk baik, waktu proses 1 unit 0.2 jam, rasio produk cacat 5% (rasio produk baik 0.95) → Beban kerja = (950 × 0.2) ÷ (1 - 0.05) = 190 ÷ 0.95 = 200 jam. Jika ada 2 pekerja, 160 jam/bulan, rasio hadir 100%, rasio operasi 80%, efisiensi 100%, maka kapasitas manusia = 2 × 160 × 1.0 × 0.8 × 1.0 = 256 jam (kapasitas sisa = 256 - 200 = 56 jam)
KosakataArti
Beban kerja dan Kapasitas produksi (Kapasitas sisa = Kapasitas - Beban)
Penumpukan beban (Loading) dan Pemerataan beban (Leveling)
Kapasitas produksi manusia, Kapasitas produksi mesin, dan Rasio produk baik

5. Perencanaan Jadwal (Forward / Backward, 4 Elemen Jadwal Standar) dan Aturan Dispatching

Ada 2 metode penyusunan jadwal: Forward Scheduling mengambil tanggal mulai kerja yang memungkinkan (saat ini) sebagai titik awal lalu menjumlahkan maju secara berurutan dari Proses 1 untuk mencari perkiraan tanggal selesai; Backward Scheduling mengambil tenggat kirim pelanggan sebagai titik awal lalu menghitung mundur dari proses terakhir untuk mencari tanggal mulai tiap proses.

Jadwal standar (lead time manufaktur)—waktu standar yang diperlukan untuk melewati setiap proses—tersusun dari total 4 elemen: (1) Waktu pemrosesan (waktu setup + waktu proses bersih), (2) Waktu pemeriksaan, (3) Waktu pengangkutan, dan (4) Waktu henti/tunggu (waktu kelonggaran dan antrean antarproses).

Ketika banyak pekerjaan (job) sedang menunggu di lapangan, aturan prioritas yang menentukan pekerjaan mana yang dimasukkan lebih dulu ke mesin disebut Aturan Dispatching.

Aturan utama meliputi: (1) First-Come, First-Served (FCFS) yang memproses sesuai urutan datang; (2) Aturan Waktu Proses Terpendek (SPT) yang memprioritaskan pekerjaan dengan waktu proses paling singkat untuk meminimalkan rata-rata waktu tinggal; (3) Aturan Tenggat Tercepat (D.Date / EDD) yang memprioritaskan pekerjaan dengan tenggat paling awal; serta (4) Aturan Slack Minimum yang memprioritaskan pekerjaan dengan kelonggaran waktu Slack (= Sisa waktu hingga tenggat - Sisa waktu proses) paling kecil.

5. Perencanaan Jadwal (Forward / Backward, 4 Elemen Jadwal Standar) dan Aturan Dispatching

Poin penting


  • Metode Forward = Menghitung maju dari tanggal mulai untuk mencari tanggal selesai paling awal / Metode Backward = Menghitung mundur dari tenggat kirim untuk mencari tanggal mulai paling lambat (dasar JIT dan MRP).

  • 4 elemen penyusun jadwal standar: (1) Waktu proses (setup + kerja utama), (2) Waktu pemeriksaan, (3) Waktu pengangkutan, (4) Waktu tunggu (kelonggaran).

  • Aturan Dispatching utama: FCFS (datang pertama dilayani pertama), SPT (prioritas waktu proses terpendek), D.Date (prioritas tenggat tercepat), Slack Minimum (prioritas sisa waktu longgar terkecil).

  • Contoh: Saat ini Hari ke-0, Pekerjaan A (tenggat 10 hari lagi, sisa waktu proses 7 hari) dan Pekerjaan B (tenggat 8 hari lagi, sisa waktu proses 3 hari) → Slack A = 10 - 7 = 3 hari, Slack B = 8 - 3 = 5 hari. Menurut aturan tenggat tercepat B diprioritaskan, menurut aturan Slack minimum A diprioritaskan
KosakataArti
Forward Scheduling dan Backward Scheduling
4 elemen jadwal standar (Waktu proses, pemeriksaan, pengangkutan, tunggu)
Aturan Dispatching (FCFS, SPT, Tenggat tercepat, Slack minimum)

6. Daftar Komponen (BOM: Tipe Struktur vs Tipe Ringkasan) dan MRP (Perhitungan Stok Tersedia & Kebutuhan Bersih)

Daftar komponen (BOM: Bill of Materials) yang menunjukkan komponen dan bahan baku apa serta berapa banyak yang dibutuhkan untuk membuat 1 unit produk memiliki 2 jenis: BOM tipe struktur (Structure BOM) yang menggambarkan struktur hierarki induk-anak perakitan setingkat demi setingkat apa adanya, dan BOM tipe ringkasan (Summary BOM) yang merangkum total jumlah seluruh komponen untuk 1 produk tanpa memandang tingkatan.

MRP (Material Requirements Planning: Perencanaan Kebutuhan Material) adalah mekanisme yang menggunakan Jadwal Induk Produksi (MPS), BOM tipe struktur, dan informasi persediaan untuk menghitung secara otomatis komponen mana, kapan, dan berapa buah yang dibutuhkan. Pertama, jumlah produksi item induk dikalikan angka pemakaian komponen untuk mencari Kebutuhan Kotor (Gross Requirements).

Berikutnya, Stok di Tangan (On-Hand Inventory) yang ada di gudang saat ini ditambah dengan Rencana Penerimaan (sisa pesanan pembelian yang sudah dipesan dan akan datang), lalu dikurangi Jumlah yang Telah Dialokasikan serta Stok Pengaman yang harus dijaga untuk menghitung Stok Tersedia (Available Inventory) yang benar-benar bisa dipakai.

Kemudian, Kebutuhan Kotor dikurangi Stok Tersedia untuk mendapatkan Kebutuhan Bersih (Net Requirements: kekurangan sesungguhnya yang harus diadakan), lalu dikelompokkan dalam lot dan dipesan atau dimulai pembuatannya pada tanggal yang dimajukan sejauh lead time pengadaan.

6. Daftar Komponen (BOM: Tipe Struktur vs Tipe Ringkasan) dan MRP (Perhitungan Stok Tersedia & Kebutuhan Bersih)

Poin penting


  • BOM tipe struktur = Menggambarkan hubungan hierarki induk-anak antara produk, unit, dan komponen (cocok untuk perubahan desain dan penjabaran MRP) / BOM tipe ringkasan = Menjumlahkan total pemakaian komponen per 1 unit produk.

  • Stok Tersedia = Stok di tangan + Rencana penerimaan (sisa pesanan) - Jumlah yang telah dialokasikan (dan stok pengaman).

  • Kebutuhan Bersih = Kebutuhan kotor - Stok tersedia (untuk komponen umum yang dipakai di beberapa unit induk, jumlahkan semuanya untuk memperoleh kebutuhan kotor).

  • Contoh: Produksi 100 unit Produk X; 1 unit X butuh 2 Unit A dan 1 Komponen a; selain itu 1 Unit A butuh 3 Komponen a → Kebutuhan kotor Komponen a = 100 × (2 × 3 + 1) = 700 buah. Jika stok di tangan 150 buah, rencana masuk 80 buah, telah dialokasikan 30 buah, maka stok tersedia = 150 + 80 - 30 = 200 buah, dan kebutuhan bersih = 700 - 200 = 500 buah
KosakataArti
BOM tipe struktur (Structure BOM) dan BOM tipe ringkasan (Summary BOM)
MRP (Perencanaan Kebutuhan Material) dan Kebutuhan kotor
Stok tersedia, Kebutuhan bersih, dan Perhitungan lead time

7. Dasar Manajemen Material & Stok (Barang Stok Tetap vs Non-Stok, Sistem Pemesanan Kuantitas Tetap vs Periodik)

Material yang ditangani di pabrik terbagi menjadi Barang persediaan tetap / stock items (komponen standar, material umum, dll. yang selalu disimpan dalam jumlah tertentu di gudang karena dipakai berulang kali secara umum pada banyak produk) dan Barang non-persediaan tetap / non-stock items (komponen khusus, dll. yang hanya diadakan sejumlah yang dibutuhkan setiap kali ada rencana produksi atau pesanan).

Dua metode pengisian ulang utama untuk barang persediaan tetap adalah Sistem pemesanan kuantitas tetap (sistem titik pemesanan kembali) dan Sistem pemesanan periodik. Sistem pemesanan kuantitas tetap memesan jumlah tetap yang sama (seperti kuantitas pesanan ekonomis EOQ) setiap kali jumlah stok turun mencapai Titik Pemesanan Kembali (Reorder Point) yang telah ditentukan.

Sistem pemesanan kuantitas tetap memiliki waktu pemesanan tidak tetap dan jumlah pemesanan tetap; karena prosedur administrasinya mudah, sistem ini cocok untuk item B dan C yang harga satuannya murah dan permintaannya stabil. Metode dua kotak (Double-bin)—membagi stok ke dalam 2 kotak dan memesan saat kotak pertama habis—adalah penerapan praktis dari pemesanan kuantitas tetap.

Sebaliknya, Sistem pemesanan periodik memeriksa peramalan permintaan dan stok saat ini pada setiap interval pemesanan tetap (siklus pemesanan, misal setiap tanggal 1 atau setiap hari Senin) lalu menghitung jumlah kebutuhan yang berbeda tiap kali pesan; cocok untuk item A yang mahal dan penting yang stoknya ingin ditekan secara ketat.

7. Dasar Manajemen Material & Stok (Barang Stok Tetap vs Non-Stok, Sistem Pemesanan Kuantitas Tetap vs Periodik)

Poin penting


  • Barang persediaan tetap = Material yang selalu disimpan stoknya karena dipakai berulang / Barang non-persediaan tetap = Material yang hanya dipesan sesuai jumlah kebutuhan tiap ada pesanan atau rencana produksi.

  • Sistem pemesanan kuantitas tetap = Waktu pesan tidak tetap, jumlah pesan tetap (memesan jumlah tetap saat stok mencapai titik pesan kembali; cocok untuk item B & C; metode double-bin termasuk jenis ini).

  • Sistem pemesanan periodik = Waktu pesan tetap, jumlah pesan berubah setiap kali (cocok untuk item A yang mahal dan memiliki fluktuasi permintaan).

  • Contoh: Pada sistem pemesanan periodik dengan siklus pesan 30 hari, lead time pengadaan 10 hari, perkiraan permintaan selama periode (40 hari) = 800 buah, stok pengaman 100 buah, stok di tangan saat ini 180 buah, sisa pesanan 120 buah → Jumlah pemesanan kali ini = 800 + 100 - (180 + 120) = 600 buah
KosakataArti
Barang persediaan tetap, Barang non-persediaan tetap, dan Analisis ABC
Sistem pemesanan kuantitas tetap (Sistem Reorder Point / Metode Double-bin)
Sistem pemesanan periodik (Sistem siklus pemesanan)

8. Rumus Perhitungan Titik Pemesanan Kembali, Rata-rata Stok, Economic Order Quantity (EOQ), dan Stok Pengaman

Titik Pemesanan Kembali (Reorder Point) pada sistem pemesanan kuantitas tetap adalah perkiraan konsumsi selama periode pengadaan (lead time sejak memesan hingga barang diterima) ditambah stok pengaman: Titik Pemesanan Kembali = Rata-rata permintaan harian × Lead time pengadaan (hari) + Stok pengaman.

Jika jumlah pemesanan sekali pesan adalah Q, karena stok naik turun membentuk gigi gergaji di antara (Stok pengaman + Q) dan Stok pengaman, maka Rata-rata Stok = Jumlah sekali pesan Q ÷ 2 + Stok pengaman.

Jumlah pemesanan optimal sekali pesan yang meminimalkan total Biaya pemesanan dan Biaya penyimpanan stok tahunan (total biaya) disebut Economic Order Quantity (EOQ / Kuantitas Pesanan Ekonomis), yang dihitung dengan: EOQ = √(2 × Permintaan tahunan D × Biaya sekali pesan S ÷ Biaya simpan tahunan per unit H), di mana H = Harga beli satuan P × Rasio biaya simpan tahunan i.

Lebih lanjut, Stok Pengaman (Safety Stock) untuk mencegah kehabisan stok akibat fluktuasi permintaan dihitung dengan: Faktor keamanan α × Simpangan baku permintaan harian (atau per satuan periode) σ × √(Lead time pengadaan L + Siklus pemesanan T) (pada pemesanan kuantitas tetap, T = 0). Dalam ujian, 'rasio kehabisan stok yang diizinkan 5% memiliki faktor keamanan α = 1.65' sangat sering muncul.

Poin penting


  • Titik Pemesanan Kembali = Rata-rata permintaan harian × Lead time pengadaan + Stok pengaman / Rata-rata Stok = Jumlah pemesanan ÷ 2 + Stok pengaman.

  • Economic Order Quantity (EOQ) = √(2 × Permintaan tahunan × Biaya sekali pesan ÷ (Harga satuan × Rasio biaya simpan tahunan)) (titik di mana biaya pesan sama dengan biaya simpan).

  • Stok Pengaman = Faktor keamanan (1.65 jika rasio kehabisan stok 5%) × Simpangan baku permintaan σ × √(Periode pengadaan L + Interval pesan T) (pemesanan kuantitas tetap: T = 0).

  • Contoh: Pemesanan kuantitas tetap dengan rata-rata permintaan harian 50 buah, simpangan baku 10 buah, periode pengadaan 4 hari, rasio kehabisan stok diizinkan 5% (faktor 1.65) → Stok pengaman = 1.65 × 10 × √4 = 33 buah, Titik pesan kembali = 50 × 4 + 33 = 233 buah. Selain itu jika permintaan tahunan 12,000 buah, biaya sekali pesan 1,500 yen, harga satuan 500 yen, rasio biaya simpan tahunan 20% (biaya simpan 100 yen/buah), maka EOQ = √(2 × 12,000 × 1,500 ÷ 100) = √360,000 = 600 buah
KosakataArti
Titik Pemesanan Kembali (Reorder Point) dan Rata-rata Stok
Economic Order Quantity (EOQ: Kuantitas Pesanan Ekonomis)
Stok Pengaman dan Rasio kehabisan stok diizinkan 5% (Faktor keamanan 1.65)

Poin yang Sering Keluar dalam Ujian dan Cara Mengingatnya

Bab 3 (Soal 9 sampai Soal 18) mencakup 10 dari 25 soal pengetahuan khusus—bab terpenting tempat berkumpulnya soal hitungan. Pertama, bedakan dengan pasti 3 bidang Perencanaan Produksi (prosedur, beban kerja, jadwal) dan 5 bidang Pengendalian Produksi (pengaturan kerja, dispatching, progres, fisik barang, kapasitas sisa) beserta formulir yang digunakan.

Pada hitungan perencanaan beban kerja, ketika diberikan rasio produk cacat r, poin terpenting adalah membagi beban kerja dengan rasio produk baik (1 - r). Rumus kapasitas produksi manusia (perkalian jumlah orang, waktu, rasio hadir, rasio operasi, efisiensi) dan kapasitas produksi mesin juga sering keluar.

Pada perencanaan jadwal dan MRP, 4 elemen jadwal standar (proses, pemeriksaan, pengangkutan, tunggu), aturan dispatching Slack Minimum (sisa waktu hingga tenggat dikurangi sisa waktu proses), serta hitungan Kebutuhan Kotor dari pohon BOM beserta Stok Tersedia (di tangan + rencana masuk - telah dialokasikan) dan Kebutuhan Bersih keluar di setiap ujian.

Pada manajemen stok, kuasai perbandingan antara Pemesanan kuantitas tetap (pesan jumlah tetap pada titik pesan kembali, item B/C) dan Pemesanan periodik (hitung jumlah pesan setiap periode tetap, item A), serta 4 rumus utama: Titik Pemesanan Kembali, Rata-rata Stok, EOQ, dan Stok Pengaman (faktor keamanan 1.65 saat rasio kehabisan stok 5%).

Poin penting


  • 3 Rencana (prosedur, beban kerja, jadwal) & 5 Pengendalian (pengaturan kerja, dispatching, progres, fisik barang, kapasitas sisa), serta 3 penyangga fluktuasi permintaan (barang, kapasitas, waktu).

  • Saat ada produk cacat, bagi beban kerja dengan rasio produk baik (1 - rasio cacat). Dalam MRP: Kebutuhan bersih = Kebutuhan kotor - (Stok di tangan + Rencana masuk - Telah dialokasikan).

  • 4 rumus besar persediaan: (1) Titik Pemesanan Kembali, (2) Rata-rata Stok, (3) EOQ (Kuantitas Pesanan Ekonomis), (4) Stok Pengaman (faktor keamanan = 1.65 untuk rasio kehabisan stok 5%).
KosakataArti
3 Rencana, 5 Pengendalian, dan 3 Penyangga
Beban kerja, Slack Minimum, dan Kebutuhan Bersih
Rumus Titik Pemesanan Kembali, EOQ, dan Stok Pengaman

Perencanaan Produksi, Proses & Persediaan (MRP)

Latihan soal bab ini di aplikasi

Referensi resmi

Zalo